Pagi itu suasana rumah terasa hangat. Cahaya matahari masuk dari celah tirai kamar Alex, menyinari ruangan yang rapi dan maskulin. Udara masih dingin sisa hujan semalam. Kevin perlahan membuka mata, mengedip beberapa kali, lalu diam sejenak mengingat semalam. Kesya, hujan, pelukan, tangisan, dan senyum kecil sebelum tidur. Ia menghela napas pelan, senyum tipis muncul. “Gila… bisa-bisanya gue tidur di rumah calon mertua…” Ia duduk di tepi kasur, tepat saat pintu terbuka. “Udah bangun lo?” suara Alex. Kevin menoleh. Alex sudah rapi—kemeja putih, jas hitam, rambut tertata. Kevin langsung nyengir. “Pagi, bang.” Alex menyilangkan tangan, menatap Kevin dari atas sampai bawah, lalu smirk. “Adek ipar abang udah bangun.” Kevin ketawa kecil. “Mulai ya…” Alex duduk santai di kursi. “Makanya kal

