Pagi itu, suara berisik berhasil membuat Nabila yang baru saja bisa tertidur, pun terbangun. Dia sedikit kaget menatap sosok laki-laki di sana, tapi setelah ingat sudah menikah, perempuan itu pun pasrah. Meski letih yang usai kembali menyelimuti tubuhnya.
'Dari tadi bolak-balik, kapan selesainya?' batin Nabila yang gemas sendiri dengan Arfan.
Dia ingin tidur, tapi suara berisik Arfan yang sedang bersiap membuatnya tak bisa memejamkan mata. Benar-benar mengganggu dan tak bisa membuatnya tenang. Apalagi saat laki-laki itu menyemprotkan parfum, Nabila dalam seketika merasa mabuk. Perutnya bergejolak dan kepalanya pusing. Bukan alergi, hanya saja beberapa orang yang kurang tidur mengalami hal demikian.
"Huekk!!"
Hal itu pun membuat Nabila spontan bangkit dan masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut. Lalu memuntahkannnya dan mencuci muka setelahnya. Dia keluar dari sana setelah beberapa saat kemudian.
"Perasaan aku belum pernah menyentuhmu, termasuk kejadian malam itu, tapi kau sudah hamil. Apa kau dan Keenan sudah sejauh itu?"
Nabila langsung menatapnya geram. Haruskah dia menjawab itu karena parfumnya, tapi tidak, ternyata Nabila memilih klarifikasi. "Aku masih perawan, puas?!"
Arfan tak menjawab, tapi Nabila juga tidak butuh kepercayaan dari laki-laki itu. Akan tetapi, walau sudah muntah, ternyata perutnya masih terasa tak enak. Perempuan itu pun keluar hendak ke dapur untuk minum air hangat dan berharap hal itu akan meredakan gejalanya.
Namun, ternyata Arfan mengikutinya di belakang, lalu saat melewati meja makan, dia melihat anggota keluarga sudah bekumpul di sana, termasuk Keenan. Nabila pun canggung dan bersalah begitu tak sengaja beradu pandang dengan laki-laki yang masih tak rela dia lepaskan.
'Maafkan aku, Ken ... aku juga tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi, dan pernikahan ini, aku juga tak berdaya,' batin Nabila merasa sedih.
Keenan pun sepertinya tak jauh beda, pun merasakan hal yang sama. Bahkan orang-orang yang ada di sana, sepertinya juga mengetahui apa yang mereka rasakan. Hanya saja, mereka acuh dan pura-pura tidak tahu. Terutama Arfan, selain tidak kasihan, laki-laki itu malah bereaksi seolah menyiram minyak ke dalam api.
"Tidak perlu menyiapkan apapun, aku tahu semalam kamu sudah sangat lelah," ucap Arfan dengan tiba-tiba. Mengatakan sesuatu yang membingungkan Nabila.
"Menyiapkan apa? Aku hanya ingin mengambil a—"
Belum selesai dengan kalimatnya, Arfan memotong Nabila seolah memang sengaja dan tak ingin Nabila menyelesaikannya kalimatnya. "Aku tahu, kamu memang perhatian, tapi aku benar-benar terburu-buru," jelas Arfan membuat Nabila jengah.
Dia mendesah kasar sebelum kemudian menuntut maksud kalimat Arfan, namun sebelum kalimatnya usai, kini malah giliran ibu mertuanya yang memotong kalimatnya.
"Aku ti—"
"Tidak apa-apa Nabila. Suamimu itu memang sudah kebiasaan seperti ini. Jarang mau bergabung sarapan karena kecintaan dengan pekerjaan. Bahkan baru kemarin kalian menikah, tapi lihatlah, dia masih saja tetap berangkat kerja," ucap Sarah sembari melirik singkat ke arah Keenan. Dia ingin tahu bagaimana reaksi anaknya itu.
"Mama ini bagaimana, pernikahan kami mendadak. Aku mana tahu akan menjadi suami Nabila, jadi tidak bisa bersiap dan sekarang harus tetap kerja. Kalau tidak bagaimana aku akan menghidupi istri dan anakku nanti," jelas Arfan dengan sengaja menekan kalimat istri dan anak.
Membuat Keenan yang sejak tadi diam dan menyimak, menjadi geram. Meskipun dia masih belum bersuara, tapi dari sorot mata, urat lehernya yang muncul, juga wajahnya yang memerah cukup untuk menunjukkan ada emosi yang siap meledak, namun masih ditahan olehnya. Walaupun bunyi dentingan sendok dan garpu yang beradu ke piring, cukup mengungkapkan dia sedikit kelepasan akibat perasaannya itu.
Nabila pun kembali menatapnya karena bunyi tersebut, tapi tiba-tiba Arfan menyentuh wajahnya, dan mengarahkan Nabila supaya balas menatapnya.
"Sudah-sudah, kamu berangkatlah kalau pekerjaanmu memang tak bisa ditunda. Urusan sarapan, Arfan bisa makan di kantor. Nabila bisa mengantarnya sekalian juga mengantar makan siangnya nanti, dan kalau sudah ada waktu luang, kalian pergi bulan madu. Papa yang akan menyiapkan tiketnya!" ungkap pria paruh baya menengahi pembicaran itu.
Dia adalah Marvin, ayah kandung Arfan dan Keenan. Suaminya Sarah yang artinya kepala keluarga di rumah itu.
"Wah-wah, Papa bijak sekali, pasti ingat masa muda ya?" timpal Sarah.
Marvin hanya mengangguk dan tersenyum singkat, tapi hal itu malah membuat Keenan semakin terbakar, dan Arfan menyeringai puas tanpa sepengetahuan mereka.
"Baiklah, Na. Antar aku ke depan ada yang mau aku bicarakan," ungkap Arfan sambil menarik pergelangan tangan Nabila dengan lembut.
*****
"Mama tahu kamu kecewa, tapi jangan membenci, Nak. Arfan tidak bersalah dan Nabila sekejam itu karena cinta. Dia sepertinya memang sudah lama menaruh perasaan pada kakakmu. Lihatlah betapa akrabnya mereka. Baru sehari, tapi sudah tak canggung," ucap Sarah seperginya Arfan dan Nabila.
Marvin masih di sana, tapi kali ini dia memilih diam dan menikmati sarapannya saja. Sementara Keenan yang sejak tadi terus dipancing semakin dibuat emosi. Sampai perasaan itu sudah terasa tak terkendali.
"Cukup, Maa ... aku tidak mau mendengar apapun! Terlebih soal wanita mura-han dan penghianat itu!!" balas Keenan berapi-api.
Sarah menggeleng sembari menatap putra kandungnya serius. "Tapi sekarang dia kakak iparmu, Sayang. Nabila menantu keluarga ini, istri dari kakakmu. Mama tahu dan paham bagaimana perasaanmu. Terlepas dari kebencian, Mama harap kamu jangan mendekatinya lagi. Biarkan dia dengan pilihannya. Mungkin ini yang terbaik."
Keenan mendengus kasar diiringi dengan dentuman sendok yang sengaja terpelanting ke piring. Lalu diapun berdiri. "Aku tidak peduli! Mulai sekarang, aku tidak ada urusannya dengan wanita itu!! Aku juga tidak sudi berdekatan dengannya!"
"Maafkan Mama, Sayang. Mama benar-benar tidak bermaksud membuatmu marah. Kamu tahu sendiri, bagaimana Mamamu ini sangat menyayangimu. Mama selalu ingin kamu mendapatkan yang terbaik, dan sekarang terbukti Nabila bukan yang terbaik. Kamu harus sadar, Keenan! Lupakan istri kakakmu! Mama yakin kamu pasti bisa melakukannya."
Keenan yang mendengar itupun tak menjawab, malah berbalik, dan pergi begitu saja. Tampaknya dia masih menghormati ibunya, sehingga masih menahan diri dan tak meledak dihadapan ibunya. Sementara itu Marvin ayahnya sudah menghabiskan sarapannya. Pria itu menatap istrinya serius setelah menghela nafas panjang.
"Jangan terlalu menekan anak itu dan berlebihan. Kamu tahu sendiri apa yang Keenan alami tidaklah mudah. Biarkan dia sedikit lebih tenang, baru bicara lagi baik-baik padanya," tegur Marvin angkat bicara.
Namun, Sarah malah berdehem kesal seolah menunjukkan kurang sukanya dengan teguran suaminya. "Tau apa kamu, Mas?! Aku yang melahirkan Keenan, jadi sebagai ibunya, aku paling tahu bagaimana anakku itu. Dia tidak boleh berlama-lama memikirkan Nabila walaupun dalam kebencian, karena perasaannya bisa kembali."
Sarah menatap tajam ke arah suami. "Apa kamu mau mereka mengkhianati Arfan?!" sarkas Sarah sambil kemudian memberi jeda sebentar pada kalimatnya itu untuk melihat reaksi suaminya. "Arfan bukan anak kandungku, bukan aku yang membesarkannya, dia bahkan tumbuh di tangan pengasuh. Meski begitu, sebagai ibu tirinya, aku tetap tidak rela dia dikhianati. Cukup Keenan yang dipermainkan Nabila, jangan sampai Arfan merasakannya juga!"
Marvin pun mengangguk pasrah. Menghindari pertengkaran karena dia tahu sifat istrinya yang tak mau kalah. "Terserahmu saja, lakukan apapun yang kamu anggap benar. Jika, itu yang terbaik, yasudah."
Namun, bukanya kelar, ternyata Sarah malah dibuat emosi karena kepasrahannya. "Kamu meledekku, Mas?"
"Sarah ... oh, astaga sudah berapa tahun kita bersama? Kenapa kamu masih saja meributkan hal-hal sepele, hah?!" Marvin tampak kesal, tapi tetap berusaha mengendalikan situasi. "Aku tidak meledekmu, aku hanya menyarankan! Lagipula memang benar bukan, Keenan bisa gila kalau kamu mengungkit masalahnya terus. Lihat tadi bagaimana reaksinya ...."
"Tidak meledek apanya? Nada bicaramu saja seperti itu, Mas ... apa kau sudah bosan padaku, hah? Kau ingin mencari yang ketiga?"
*****