Walaupun sempat menolak, tapi Nabila akhirnya melakukan perintah Arfan. Dia ke dapur dan menyiapkan makanan untuk suaminya itu, bahkan memasak sendiri terlebih dahulu. Semua itu, dia kerjakan karena diancam kembali oleh Arfan.
'Adikmu masih ditanganku, jangan membantah!'
Akibatnya Nabila yang tidak berdaya pun memasak dengan setengah hati. Namun, malam itu seorang wanita tua menghampirinya. Nabila sedikit kaget, walaupun amat sangat mengenalnya.
"Wah, pengantin baru! Bukannya harusnya kamu di kamar melayani suamimu. Malam-malam begini kamu masih masak, buat siapa?" tegur wanita tua itu dengan nada yang ramah.
Dia adalah Sarah ibu kandung Keenan mantan calon suaminya itu, atau ibu tiri dari Arfan yang justru menjadi suaminya sekarang. Sebelum menikah, wanita tua itu sebenarnya hampir tidak menyukainya. Bersikap kasar dan bahkan menghinanya. Tak jarang bicara keras, juga mengomelinya tanpa sebab.
Alasannya adalah perbedaan status antara Nabila dan Keenan. Keenan dibesarkan di keluarga kaya, berlebih dan memiliki segalanya. Sementara Nabila dari keluar sederhana. Hal itu pun menciptakan pandangan buruk yang tak terelakkan. Bagi Sarah, Nabila hanya mengejar harta anaknya saja. Mendekatinya untuk mendapatkan status.
Namun, sekarang wanita itu justru tersenyum dan hangat padanya. Mungkin dia lega, sebab orang miskin seperti Nabila gagal bersanding dengan anak kandungnya, meski akhirnya justru bersanding dengan anak tirinya.
"Mas Arfan lapar, jadi aku membuatkan masakan sederhana untuknya," jelas Nabila adanya.
Sarah mengangguk paham, dan Nabila segera merasa aneh, sebab wanita tua itu malah tersenyum. "Kamu memang istri yang baik. Arfan sangat beruntung mendapatkanmu. Kalian serasi!" ungkap Sarah serius.
Entahlah, dia sedang memuji atau meledek Nabila yang gagal bersama anaknya. Namun, dari pernikahan yang berganti mempelai pria, wanita tua itu sudah menjadi orang yang keliatan paling senang.
Beberapa saat kemudian, Keenan masuk ke dapur dan mendengar sedikit perkataan ibunya. Dia kesal dan menatap Nabila sinis. Perasaannya semakin memanas saat menyadari kompor yang menyala dan Nabila yang kelihatan sibuk dengan masakannya.
Selama menjadi kekasihnya, belum sekalipun Keenan melihat pemandangan seperti itu, meskipun sudah pernah mencicipi masakan Nabila, tapi tetap saja pemandangan perempuan yang pernah dicintainya memasak adalah hal yang belum disaksikannya secara langsung. Begitu dia melihat, perempuan itu malah memasak untuk laki-laki lain.
Tak bisa menahan, perasaan kecewa pun menggrogoti Keenan. Dia tak suka, tapi di saat yang sama dia tak punya hak melarang Nabila. Perempuan itu sudah menjadi milik orang lain, milik kakak tirinya sendiri.
"Kamu masih bangun jam segini, Ken? Ngapain, haus ..." tegur Sarah.
Sebelum anaknya menjawab, wanita tua itu mengambil gelas dan menuangkan air dingin, lalu menyerahkannya pada Keenan. Sementara Nabila tampak berusaha mengabaikan itu semua, dan dia terlihat berusaha tenang. Walaupun perasaannya masih ingin meronta-ronta menjelaskan semuanya pada Keenan, tapi sepertinya perempuan itu tengah memberi ruang dan jeda supaya laki-laki itu lebih tenang.
"Apa kamu lapar juga, Ken?" tanya Sarah sambil kemudian melirik Nabila singkat. Dia sepertinya sadar ketegangan berada diantara keduanya, tapi malah sengaja untuk memancingnya. "Keliatannya Nabila memasak banyak untuk Arfan. Kakakmu pasti tidak keberatan membaginya untukmu. Bagaimanapun juga kamu adik kesayangannya dan bahkan rela memberi Nabila untuknya."
Keenan tidak menjawab, tapi malah meneguk kasar air minum yang diberikan ibunya. Air itu dingin, tapi anehnya Keenan malah semakin terbakar. Dia mencengkram gelasnya erat lalu menghampiri meja dan menaruh gelasnya di sana dengan kasar. Sampi menciptakan bunyi seperti gertakan, meskipun tidak kuat.
"Baiklah, sepertinya kamu tidak lapar dan keliatan mengantuk. Pergilah tidur sayang dan bermimpi yang indah," ucap Sarah melanjutkan.
Keenan hanya menjawab dengan berdehem, menatap Nabila sekilas sebelum kemudian berlalu dari sana.
"Sepertinya saya sudah mengantuk juga, kalau begitu saya ke kamar juga, Nabila. Lanjutkan memasak, dan buat yang enak buat suamimu. Melayani suami pahalanya besar," jelas Sarah sebelum benar-benar berlalu dari sana.
*****
"Cerdas! Kamu memang selalu bisa Mama andalkan. Membuat Nabila dan Keenan sadar bahwa mereka tidak bisa bersama. Lanjutkan rencananya, buat mereka semakin kehilangan harapan untuk kembali bersama!" ujar Sarah yang kebetulan papasan dengan Arfan di tangga.
"Mama tenang saja, demi kebaikan keluarga kita, aku rela melakukan apapun. Termasuk menjebak Nabila dan menikahinya," ungkap Arfan datar.
Sarah mengangguk dan tersenyum singkat. "Kamu memang anak yang penurut, Fan. Maaf, demi adikmu, Mama malah membuatmu berkorban. Akan tetapi, setelah Keenan melupakannya, kamu boleh membuangnya. Jal-ang miskin itu selamanya tidak pantas menjadi anggota keluarga kita!"
Arfan tidak menjawab, tapi sepertinya Sarah pun tak mau mendengar jawabannya, sebab dia segera berlalu dan naik ke lantai kamarnya. Meninggalkan Arfan yang sepertinya mau ke dapur. Beberapa saat kemudian Arfan pun sudah di sana, mendekati Nabila yang hampir selesai dengan masakannya. Perempuan itu tinggal menghidangkan masakannya ke piring dan menaruhnya di meja.
Arfan segera mengambil tempat dan duduk dikursi. Dia menatap Nabila dengan tatapan yang mencurigakan dan membuat Nabila risih.
"Apa lagi yang kamu mau? Sudah aku masakan, sekarang makanlah!" ucap Nabila seraya menaruh piring dihadapan Arfan, tapi laki-laki itu malah menyeringai, lalu menggelengkan kepala.
"Aku hanya akan makan jika kamu suapi," ungkap Arfan membuat Nabila melotot.
"Apa?!! Tidak-tidak ... jangan gila, tanganmu masih berfungsi. Pakai itu dan makan sendiri!" geram Nabila.
Perempuan itu hampir berlalu dan meninggalkan dapur, tapi sayangnya Arfan sudah lebih dulu menahan tangannya. "Kalau melakukan sesuatu jangan setengah-setengah. Lagipula kau istriku sekarang, dan itu merupakan tugasmu. Lakukanlah atau buang saja makanan ini!"
Nabila mendengus lantas menghempaskan tangan Arfan yang memegangnya, seraya kemudian mengacungkan jari, menunjuk tepat ke arah Arfan. "Kau pikir aku takut?! Dengar, ya ... kalau kamu tidak mau makan silahkan. Masakanku dibuang pun tak masalah. Kau pikir aku akan peduli dengan status kita? Tidak! Bagiku kau hanya baji-ngan. Jika bukan karena kau ancam, akupun tidak sudi memasak untukmu!"
Arfan yang mendengar itu pun tak tahan dan mengumpat. "Breng-sek!" Dia menarik nafas panjang sebelum membuangnya kasar. "Baiklah, aku anggap kau suka diancam. Karena itu, suapi aku atau besok kau akan mendengar kabar kematian adikmu!"
Nabila segera mengeram dan mengepalkan telapak tangan, namun setelahnya dia malah pasrah. Lantas menuruti Arfan. Sayangnya dia harus lebih bersabar dan menahan diri, sebab Arfan tiba-tiba menariknya dan membuatnya jatuh kepangkuan laki-laki itu.
"Aaarrggh! Apa-apaan, kamu? Lepaskan!!"
Nabila menggerutu sambil memberontak, tapi Arfan justru memeluk pinggangnya erat. Kemudian berbisik pelan dengan mengancam Nabila kembali.
"Biarkan seperti ini dan lakukanlah tugasmu, atau kamu mau kita melakukan hal yang lebih?" Seringai puas terpancar jelas di wajah Arfan. "Menurutlah Nabila, atau setidaknya ingat keselamatan adikmu!"
Nabila tegang, memejamkan mata, sambil menarik nafasnya panjang. Sesungguhnya dia sangat keberatan, tapi Arfan sepertinya tidak main-main. Dalam ketidakrelaan, perempuan itu pun terpaksa patuh.
"Baiklah, buka mulutmu sekarang!" ucap Nabila ketus.
Arfan menggelengkan kepala, membuat Nabila mengerutkan dahi. "Bukan begitu caranya menyuapi suami, Nabila! Bersikap lembutlah sedikit ...."
"Banyak sekali maumu, tinggal makan apa susahnya sih?" kesal Nabila.
Arfan menyeringai lalu tersenyum meledek Nabila. "Ya, dan sebenarnya aku mau kamu sekalian mengunyah makanan itu untukku."
"Menjijikan!"
"Tidak usah protes, lakukanlah dengan tulus sebelum aku meminta lebih!"
Nabila pun menghela nafas, dan mencoba untuk pasrah. Dia mulai mengisi sendoknya dengan makanan sebelum mengarahkannya pada mulut Arfan, tapi pria itu memang menjengkelkan, bahkan sekarang dia kembali menggelengkan kepala.
"Disuapi, Nabila. Artinya aku mau kamu menggunakan tanganmu!"
Nabila mengalah dan meletakkan sendoknya begitu saja. Lalu mengambil makanan, tanpa mencuci tangannya sendiri. Sebenarnya makanan itu masih panas dan cukup membuat jarinya seperti terbakar, tapi dia sudah tak peduli. Nabila hanya ingin semua itu cepat berlalu.
"Tiup dulu! Kau pikir aku apa, hah?! Mulutku bisa melepuh dengan makanan panas itu!"
"b******k! Kau pikir tanganku tidak!"
Nabila kelepasan dan Arfan tidak menjawab. Meski begitu sudah di puncak batas kesabarannya, lagi-lagi Nabila menyerah dan patuh. Dia meniup makanannya dengan sigap. Lalu Arfan tersenyum, tapi sekali lagi dia masih tak jua membuka mulut.
"Apalagi sih? Kau benar-benar menguji kesabaranku!" geram Nabila.
"Kamu belum aba-aba, bilang 'aaaaa' dulu supaya aku tahu kapan membuka mulut," jelas Arfan dengan wajah tanpa dosa.
Meski sudah sangat geram, pada akhirnya, Nabila yang ingin cepat usai pun memutuskan untuk patuh. "Aaaa ... buka mulutnya, Mas!" ucap Nabila yang inisiatif memanggil laki-laki itu dengan manis. Dia melakukan itu supaya Arfan berhenti berdrama, namun keputusannya sepertinya salah.
Tepat saat itu, Keenan sudah berdiri di sana dengan waktu yang entah sejak kapan dia datang. Berdiri sambil menatap mereka dengan tajam. Tatapan kecewa beradu dengan tatapan tak suka dan penuh luka. Nabila kaget, dan reflek bangkit, tapi Arfan menariknya sampai terjatuh kepangkuannya. Lalu tanpa sengaja gerakan itu membuat Nabila mencium Arfan dihadapan Keenan.
"Keenan ... i–iini tidak seperti yang kamu lihat!" ucap Nabila langsung memberi penjelasan.
Namun, laki-laki itu malah berbalik dan pergi begitu saja. Membuat wajah Nabila muram dan bersalah. Saat dia berbalik dan menatap Arfan, laki-laki itu justru tersenyum puas di sana.
"Dia harus sadar, kamu adalah milikku yang sah, bukan kekasihnya lagi!" ucap Arfan santai, namun menyimpan makna lain dibalik intonasinya.
*****