Bab 2

1034 Words
"Pa ...." Nada suara Nabila lirih berhasil menghentikan langkah ayahnya. Pria itu hampir pergi setelah berhasil menikahkan putrinya sendiri. "Aku bukan perempuan seperti itu, aku nggak mungkin melakukannya, Papa sendiri tahu seperti apa aku bukan ... aku nggak mungkin ngecewain Papa!" Namun, pria itu hanya berhenti, dia sama sekali tak memalingkan pandangannya atau sedikit saja berbalik untuk menengok wajah putrinya. Lalu saat Nabila sudah berhenti berbicara, pria itu kembali berjalan menjauh sampai tak terlihat dari pandangan putrinya. Membuat Nabila bertambah hancur, meratapi nasibnya yang kian memburuk. Membuatnya hampir merasa tak berarti. Sampai akhirnya dari belakangnya muncul sosok perempuan tua yang sejak tadi memperhatikannya. Dia ibunya Nabila, wanita yang penuh kasih yang sudah melahirkannya ke dunia. "Jangan terlalu dipikirkan. Ayahmu hanya butuh waktu untuk menenangkan dirinya," ungkap wanita tua itu sambil mengelus lengan putrinya. Tatapannya sama sekali tak bisa menyembunyikan, kalau ada kegelisahan dan kekhawatiran terhadap putrinya. Namun, dia juga tak berdaya. Bukti terlalu kuat untuk bersaksi menyatakan Nabila seorang yang licik dan murah*n. Pernikahan satu-satunya solusi, meski dia pun tak yakin hal itu berhasil mengembalikan nama baik putrinya. "Maa, ak-kku bukan perempuan seperti itu. Percayalah ..." ujar Nabila getir berusaha mendapatkan kepercayaan ibunya, dan sepertinya hal itu berhasil. "Mama tahu sayang, bagaimana mungkin Mama ragu pada putri yang Mama lahirkan dan besarkan dengan tangan sendiri. Mama yakin dan sangat percaya, kamu tidak mungkin melakukan hal sekeji itu," terang Ibunya membuat sedikit beban dihatinya terkikis. Perempuan itu pun berhambur memeluk ibunya erat. Tak kuasa menangis dan mengeluarkan air matanya. Begitu juga wanita tua yang memeluknya, tampak sangat prihatin dengan anaknya itu. ***** "Aku tidak tahu apa yang terjadi dan aku sama sekali tidak mempercayainya, walaupun aku merelakan putriku menikah denganmu dan bukannya Keenan. Aku juga tahu masalah ini belum selesai walaupun kalian menikah, tapi sekarang kamu dan putriku Nabila adalah sepasang. Walau bagaimanapun cara kalian disatukan. Kalian terikat satu sama lain mulai hari ini. Aku menyerahkan putriku padamu, dan kumohon jaga dia dan perlakukanlah dengan baik," ujar Ibunya Nabila pada Arfan. Laki-laki yang sekarang telah menyandang status suaminya. Nabila mengulum bibirnya rapat setelah mendengar kalimat itu, sebab setelah dia dan suaminya ditemukan di kamar yang sama dalam kondisi yang membuat mereka menikah sekarang. Nabila sudah tak yakin pada laki-laki itu, bahkan menganggapnya ancaman. "Jangan khawatir, Arfan pasti menjaga putri kesayangan Mama dengan baik," jawab laki-laki itu nyaris tanpa celah, sehingga siapapun yang mendengarnya pasti percaya dengan ucapannya. Namun, Nabila malah mengangkat kepalanya, menatap laki-laki yang kini jadi suaminya itu dengan geram, karena dia tak suka Arfan membohongi ibunya. Benar saja, setelah hampir satu jam berlalu. Tepat sesaat Nabila dan Arfan memasuki kamar pengantin mereka, atau tepatnya kamar Arfan yang dijadikan kamar pengantin. Laki-laki itu langsung menunjukkan gelagat ingkar dan tak memperdulikan ucapan ibu mertuanya sendiri. "Aku hanya sedikit prihatin pada perempuan menyedihkan sepertimu. Jangan pikir aku akan melakukan janjiku pada ibumu. Karena siapapun yang mempunyai hubungan dengan Keenan tidak pantas diperlakukan baik!" kecam Arfan dengan tegas. Nabila menghela nafas, menoleh sebentar ke arah suaminya, sebelum kemudiaan menghampiri kasur, sebab selain lelah batin ternyata tubuhnya juga teramat melelahkan. Sayang, belum sampai di kasur, dan baru saja mau duduk di sana, tiba-tiba tarikan kuat menyambar lengannya, sebelum kemudiaan dia merasakan dorongan keras yang membuatnya terbanting ke lantai. Brugh! "Arrghhh!" jerit Nabila reflek. Akan tetapi, orang yang melakukannya sama sekali tak merasa bersalah, Arfan bahkan tidak iba setelah melihat Nabila demikian. "Aku tidak suka barang-barangku disentuh siapapun, termasuk kamu. Jangan sekalipun mendekati tempat tidurku atau menyentuh apapun di kamar ini!" bentak Arfan memperingatkan. Nabila mengepalkan telapak tangannya, menatap tajam ke arah suaminya. "Lalu aku tidur di mana? Aku lelah, dan aku ingin beristirahat!" Arfan seketika berdesis kesal, menyadari ternyata Nabila sampai sekarang masih berani padanya. Nada suara perempuan itu tak gentar, meskipun Arfan menunjukkan wajah aslinya. "Aku tidak tahu. Terserah. Kamu boleh tidur dimanapun. Di lantai, atau mungkin di kamar mandi. Silahkan saja, aku tak perduli, asal jangan pernah menyentuh tempat tidurku!" Helaan nafas terdengar kasar dari bibir Nabila. Dia sangat lelah, dan hampir kehabisan tenaga, sehingga tak mampu melawan laki-laki itu. Lalu diapun menghampiri sofa panjang yang ada di dalam kamar tersebut. Duduk bersandar di sana, dan saat mencoba berbaring, Nabila pun menyadari kalau sofa tersebut tak cukup panjang, sehingga dia harus meringkuk dan berbaring tak nyaman di sana. "Pintar juga kamu memilih tempat tidur, langsung tahu kalau sofa itu pas untukmu berbaring!" cibir Arfan. Nabila hanya diam dan berusaha untuk mengabaikannya. "Tapi jangan tidur dulu, kamu masih harus terjaga sekarang, karena sejak tadi suamimu belum makan, dan ini tugas pertamamu!" Nabila mendengus, duduk dan menatap Arfan dengan tatapan jengah. "Jangan pikir aku akan menganggap laki-laki sepertimu pantas menjadi suamiku!" "Lalu laki-laki seperti apa yang pantas menjadi suamimu, seperti Keenan?" balas Arfan dengan sengit juga tatapan yang meremehkan. "Sayang sekali, adikku bahkan jijik padamu. Jijik pada wanita yang merangkak ke ranjang kakaknya sendiri. Kau menjijikkan, dimatanya kau terlalu hina dan tak pantas bersanding dengannya!" Seketika ucapan yang terasa seperti pisau tajam yang menusuknya, membuat Nabila mengulum bibirnya. Menahan diri supaya tak terlihat lemah dihadapan laki-laki kejam seperti suaminya. "Cih, menyedihkan. Kau benar-benar perempuan yang sangat tidak beruntung, tapi aku tak perduli. Lagipula itu nasibmu, bukan nasibku. Siapa suruh kau memperko-saku? Untung saja aku masih sedikit punya hati nurani, mau bertanggung jawab!" cibir Arfan semakin membuat Nabila tak tahan. Perempuan itupun berbalik, menyembunyikan wajahnya dari Arfan. Tepat saat itu, air mata yang sejak tadi ditahan, pun jatuh membasahi pipinya dengan deras, dan Arfan yang tak melihatnya, tetap tahu Nabila menangis, meski posisi perempuan itu membelakanginya. "Dasar cengeng, baru begini saja kau sudah menangis. Cih, sana lebih baik buatkan makan malam untukku!" cibir Arfan membuat Nabila tak tahan. "Apa kau tidak punya hati, hahh? Kau benar-benar kejam, manusia iblis yang tidak punya perasaan!" bentak Nabila kelepasan. "Lalu kenapa, kau tak suka? Aku tak perduli. Simpan saja air matamu, mungkin kau bisa gunakan dihadapan mantan kekasihmu, dihadapan Keenan untuk manarik simpatinya. Sana cepat, buatkan makanan!" "Tidak mau, kau pikir setelah berkata seperti itu aku masih mau melayanimu? Brengs*k!! Kau punya kaki dan tangan, kenapa tidak pergi saja ke dapur dan makan sendiri di sana?!" Arfan mendesah, tapi kemudian, dia berjalan ke arah pintu keluar, berhenti sebentar untuk mengatai Nabila, lalu membanting pintu dengan keras. "Dasar istri tidak berguna!!" Blam! *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD