Bab 06

1033 Words
"Kembalilah!" ucap Arfan dengan tegas. Membuat Nabila kaget dan bingung mengenai maksud laki-laki itu. Dia sendiri yang meminta atau tepatnya memaksa Nabila ke sana untuk mengantar makan siang, lalu sekarang dia malah berkata demikian. "Apa?!" Nabila geleng-geleng kepala. "Kau ingin aku pulang sekarang, lalu bagaimana dengan makan siangmu?" "Kau bisa letakkan di sana," jelas Arfan, tapi sesaat setelah Nabila pasrah dan melakukannya saja, laki-laki itu malah meralat ucapannya. "Tidak, sebaiknya kau bawa pulang. Aku tidak suka makanan dari luar, apalagi dari pinggir jalan. Itu sama sekali tak higenis!" Seketika Nabila mengepalkan telapak tangannya, mendesah kasar dan memelototi Arfan. " Breng-sek!!" umpatnya marah, dia tak tahan dan merasa dipermainkan. "Kau pikir siapa kamu, hah? Sudah mengganggu tidur siangku, membuatku jauh-jauh ke sini dengan terburu-buru demi menyanggupi permintaanmu, tapi apa? Semua ini cuma leluconmu!" Arfan tidak mempedulikannya, berjalan santai menghampiri singgasana kebesarannya. Duduk di sana seraya menatap Nabila acuh tak acuh. "Aku tidak menyuruhmu membeli makanan warteg. Kalau mau marah, salahkan saja dirimu." Emosinya naik sampai ubun-ubun, membuat Nabila secara spontan menggertakkan giginya. Lalu sambil mengepalkan tangan dan membawa kotak makanan itu, menghampiri Arfan. Bruk! Nabila melepaskan sedikit emosinya dengan membantingnya ke meja. "Aku membuatnya sendiri, lagipula apa yang salah dengan makanan warteg, bukannya asistenmu juga suka membeli makan siangmu sana?!" sarkas Nabila. Sebelum menikah, dia memang hampir tak tahu menahu soal Arfan, selain laki-laki itu merupakan kakak laki-laki dari Keenan kekasihnya. Namun, beberapa kali Nabila berpapasan di tempat yang sama dengan asisten pribadi Arfan. Di warteg, dan hal itulah yang membuatnya tahu sedikit kebiasaan dari Arfan laki-laki yang harusnya jadi kakak iparnya, tapi malah menjadi suaminya. "Kamu cuma salah lihat, jangan sok tahu. Enyahlah dan bawa makanan sialan yang kau bawa itu!" balas Arfan angkuh. Baru saja menyelesaikan kalimatnya, pintu ruangannya terbuka dan asistennya masuk dengan terburu-buru. Membawa sesuatu yang menarik perhatian Nabila. Kantung kresek yang Nabila yakin isinya nasi bungkus, untuk makan siangnya Arfan. Dia "Maaf, Pak. Sedikit lama, tadi lumayan rame dan harus antri!" beritahu asisten pribadi Arfan yang tidak tahu apa-apa, dan tak menyadari situasi. Mendengar itu Arfan langsung menatap asistennya tajam, membuat asistennya terlihat bingung. Dia belum bereaksi kembali, tapi Nabila tiba-tiba menyentak kantung kreseknya seraya melirik sinis ke arah suaminya. "Dia tidak suka makanan dari warteg, apa hal sesepele ini saja kau tidak tahu!" semprot Nabila ketus. Perempuan itu menjinjing kresek tersebut, beserta kotak makan siang yang dibawanya ke sana. "Sekalian saja tidak usah makan, biar lambungnya higenis!" ***** Nabila buru-buru keluar dari ruangan Arfan, tapi saat melewati ruang kerja Keenan. Langkahnya terdiam, untuk beberapa detik tubuhnya terpaku sambil menatap pintunya. Sesungguhnya dia ingin ke sana, menghampiri empunya lalu mengajak makan siang bersama, sebagaimana yang pernah biasanya mereka lakukan, sebelum hubungan mereka hancur akibat kejadian malam sebelum pernikahan. "Bagaimana caranya menyakinkan dan membuatmu percaya lagi padaku?" Kedua bola matanya segera berkaca-kaca, mengungkapkan betapa sesaknya perasaannya. "Aku bukan perempuan seperti itu, aku juga tidak mengerti, bagaimana bisa aku di sana dan bersamanya. Keenan aku mencintaimu ...." Nabila menarik nafasnya panjang, sambil mulai melangkah dengan berat. Setelahnya dia benar-benar pergi, tapi dia tak ingin pulang. Perempuan itu pun memutuskan untuk mengendarai kendaraan roda dua miliknya, mengelilingin jalanan tanpa tujuan yang jelas. Barulah berhenti di sebuah taman, ketika lelah menyelimutinya. Nabila segera mencari tempat yang sepi. Kemudian merenung di sana, sejenak untuk melegakan perasaannya. Sayangnya waktu yang dibutuhkan ternyata tidak cukup, sebab saat hari mulai mendung, Nabila tak segera beranjak. Tak sadar jika sudah terlalu lama di sana. Saat gerimis turun, barulah dia tersadar. Buru-buru mengendarai kendaraan roda duanya untuk pulang. Sayangnya baru setengah perjalanan, Nabila sudah sangat basah, diterpa gerimis yang kini menjadi hujan lebat. Sebuah mobil melaju cepat dari belakang, menyalip, dan tiba-tiba berhenti. Kejadian itu pun membuat Nabila tak siap dan terkejut. Kendaraan roda duanya tak sempat direm, menabrak body belakang mobil yang berhenti tepat di depannya, dan terjadilah kecelakaan. Nabila terjatuh dan terkapar di jalan begitu saja. Akibat hujan, dan sudah berada di daerah kawasan elit, menyebabkan tak ada siapapun yang melihatnya, tapi beruntunglah pemilik mobil tak kabur dan menghampirinya. "Sial! Apa kau tidak melihat mobil sebesar itu, apa kau tahu harganya, berapa biaya kerugian untuk perbaikannya?!" Nabila yang masih sadar, merasa pusing, dia bangkit dan berusaha memperhatikan orang yang mengomel padanya. Suaranya seperti tak asing, tapi hujan dan kecelakaan barusan mengaburkan pengelihatannya. Sementara pemilik mobil tersebut, terus mengomel, tak peduli jika dia sudah keluar tanpa payung, dan sekarang basah. Pengelihatannya juga sedikit kabur karena derasnya air hujan. Namun, warna pakaian yang Nabila kenakan tidak asing, bahkan saat berhasil berdiri dengan tertatih, pengemudi mobil itu memperhatikan dan akhirnya menyadari sesuatu. "Kalau tidak bisa mengemudi, jangan membawa kendara—ah, sial! Kau Nabila?" Pengemudi yang tak lain adalah Arfan langsung meraih lengan Nabila, menariknya mendekat untuk memastikan pengelihatannya tak salah. "Berani sekali kamu menabrak suamimu sendiri?!" Arfan kaget, tapi beberapa detik setelah mengatakan itu, Nabila yang masih syok hampir jatuh, jika tak ditahannya sigap. Kemudian matanya tertutup, dan akhirnya kehilangan kesadaran. "Nabila! Aku belum selesai. Keterlaluan. Bangun, hei, jangan tidur di sini ...." Arfan mendesah kasar, panik, tapi segera setelahnya pria itupun menggendong Nabila dan membawanya masuk ke dalam mobil. Sebenarnya mereka sudah di depan gerbang kediaman Abrisam, tepatnya rumah orang tuanya Arfan. Beberapa menit sebelumnya, sebenarnya Arfan tak mau menyalip kendaraan roda dua di depannya, tapi dia gemas dan tak tahan lagi, lantaran kendaraan itu melaju lambat. Akibatnya dia lupa sudah dekat, dan kecelakan itu pun terjadi atas dasar kesalahannya juga, mengerem untuk memelankan laju kendaraanya untuk berbelok. Akibatnya Nabila yang berkendara dibelakangnya tak memperkirakan hal itu dan kecelakaan pun terjadi. "Dasar perempuan merepotkan!" Arfan pun mengemudikan mobilnya masuk ke halaman kediaaman Abrisam, dan berhenti. Arfan buru-buru menggendong Nabila kembali dan membawanya masuk. Ternyata tidak ada siapapun di rumah, selain ART, yang mungkin juga tengah beristirahat di kamar masing-masing. Menyadari hal itu, Arfan terpaksa membawa Nabila sendiri ke kamarnya. Sesampainya di sana dia segera menaruh Nabila di kasurnya, sebelum kemudian menghubungi dokter kepercayaan keluarganya agar ke sana secepatnya. Namun, setelah itu, dia malah menjadi bingung. "Sekarang bagaimana, apa aku harus membuka pakaianmu untuk menggantinya?" Arfan menghela nafas, dia tidak yakin dengan keputusannya itu, tapi jika meminta bantuan ART-nya, laki-laki itu sadar bagaimana resikonya. Hubungannya dan Nabila bisa dipertanyakan, dan rencananya bisa gagal."Sepertinya tidak apa-apa, bukankah aku suamimu!" *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD