Bab 07

1006 Words
Perlahan Nabila membuka kelopak matanya, di sambut dengan rasa pusing dan nyeri yang terasa hampir di seluruh bagian tubuhnya. Erangan kecil keluar pelan dari bibirnya. Segera setelahnya dia menoleh dan menyadari di mana dirinya berada. "Ahhh ... ssstt! Kenapa aku bisa di tempat tidurnya?" Wajahnya kebingungan, mencoba mengingat apa yang telah terjadi kepalanya. Lantas ingatan mengenai kecelakaan yang dialaminnya membuat Nabila sedikit paham. Mungkin karena sakit Arfan membiarkannyan di sana. Akan tetapi, dia masih tak tahu siapa yang menyelamatkannya. Ingatannya buram, tidak jelas mengingat siapa yang turun dari mobil, dan suara siapa yang mengomel padanya saat pingsan, tapi siapapun dia, Nabila pikir pasti bukan orang itu yang menolongnya. "Sudah bangun?" tanya Arfan masuk ke kamar. Dia masuk dengan membawa nampan berisi makanan dan juga buah. Melihat itu dahi Nabila mengerut, antara tak yakin dan aneh dengan perhatian suami barunya tersebut. Brak! Setelah meletakkan nampan di atas nakas sebelah tempat tidur, Arfan tiba-tiba membuka lebar pintu kamar mereka dan membuat Nabila heran. "Jangan menatapku seperti itu, kamu sedang sakit dan butuh udara segar," ucap Arfan sembari mendekatinya kembali. Laki-laki itu masih belum selesai dengan keanehannya, sebab dia tanpa alasan yang jelas, menyentuh dan mengelus kepala Nabila, lalu tersenyum manis sambil meraih mangkuk bubur. Menyadari ada yang tidak beres Nabila pun menatapnya curiga. "Sudah aku bilang, kamu tidak perlu memperhatikanku seperti itu. Nabila aku percaya kamu memang mencintaiku, terlepas dari caramu yang salah untuk membuat kita bersama, tapi percayalah, aku pasti belajar membalas perasaanmu itu," ujar Arfan membuat Nabila semakin curiga sekaligus bingung. Namun, jawabannya segera didapatkan, saat tatapannya tertuju pada pintu kamar yang terbuka. Keenan tiba-tiba di sana dan menatapnya dengan tatapannya yang sulit diartikan. Dia mengerti sekarang, beberapa kali saat Arfan tiba-tiba baik itu karena ada Keenan. Akan tetapi, Nabila masih sedikit bingung mengenai maksud Arfan melakukannya. Mereka bersaudara, dan sebelum menikah hubungan keduanya lumayan dekat. Jika, Arfan bermaksud menyakiti adiknya sendiri agaknya Nabila kurang percaya. "Kenapa malah melamun, hm? Apa kamu merasa sakit, bagian mananya yang sakit, apa kamu mau aku telepon dokter untuk memeriksamu kembali?" tanya Arfan dengan lembut. Kini laki-laki itu duduk di hadapan Nabila. Perempuan itu sudah duduk. Dia bangkit saat Arfan masuk ke kamar, lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran tempat tidur. Posisi Arfan membelakangi tempat pintu, meski begitu dia sepertinya tahu apa yang dibelakangnya. "Tidak perlu, aku—" Arfan tak memberinya kesempatan dan memotong ucapannya. "Baiklah, kalau begitu makan buburnya dan setelah itu kamu minum obat." Arfan mengulurnya sendok yang dipakainya mengambil bubur dan mengarahkannya ke arah bibir Nabila. Namun, melihat Keenan masih di sana, Nabila ragu membuka mulutnya. Tak ingin menambah kekecewaan orang masih sangat spesial di hatinya itu, tapi Arfan tiba-tiba menangkup wajahnya, memaksa Nabila menghadapnya dan menatap ke arahnya. "Apa yang kamu pikirkan sih, dari tadi melamun terus? Nabila kondisimu memang baik-baik saja setelah kecelakaan itu, tapi dokter bilang kamu harus segera minum obat untuk membantu memulihkan kondisimu. Jadi, makanlah–" Arfan mendekat mengikis jarak diantara mereka dan berbisik melanjutkan. "Atau adikmu harus membayar keras kepalamu ini?!" ancam Arfan melanjutkan. Di mata Keenan, kedua seperti melakukan sesuatu yang membuatnya salah paham. Diperkeruh dengan adegan Nabila yang membuka mulut setelah kejadian itu, menerima suapan dari Arfan, membuat Keenan semakin salah paham. Laki-laki itu mengepalkan tangan, mengeras, menatap Nabila tajam sebelum kemudian pergi dari sana. Nabila yang masih bisa melihatnya lewat lirikan dari sudut matanya, merasa bersalah dan menyesal. Dia menelan bubur yang baru saja disuapi masuk ke mulutnya dengan susah payah, padahal buburnya sangat lunak. "Kenapa kamu melakukan ini, setiap ada Keenan selalu bersikap manis seolah kita memang punya hubungan sebelum menikah. Apa maksud semua ini, kenapa membuatku seolah-olah menjadi tersangka, kau membuatku menyakiti Keenan?!" Nabila mendorong Arfan, sembari menatapnya dengan tatapan yang menuntut. Kedua matanya segera berkaca-kaca, tapi Arfan malah tersenyum seolah tak punya hati. Meletakkan mangkuk buburnya ke atas nakas, lalu mengusap pipi Nabila dengan lembut. "Akhirnya kamu sadar juga, istriku ternyata cerdas dan aku menyukainya. Akan tetapi, maaf kau tidak perlu tahu apa-apa. Patuh saja dan jangan berani melawan. Jika ada keganjilan, simpan, dan tahan. Jangan mencoba mencari tahu, jika kamu masih sayang pada keluargamu!" Seketika senyum Arfan pun berubah menjadi bengis, serius dan tajam. "Tapi kenapa, kau sepertinya bukan hanya ingin membuat aku dan Keenan berpisah, tapi menjadikanku pion?!" Nabila menaikkan nada suaranya, dan hampir menangis saat mengatakannya. "Sudahlah, memang apa salahnya jadi pion? Kamu akan baik-baik saja Nabila. Asal tidak melawan maka kau bisa menikmati keuntungan menjadi istriku. Kau bisa menggunakan uangku berapapun itu, hidup mewah, dan punya status!" ungkap Arfan. Nabila geleng kepala, lantas menghempaskan tangan Arfan yang masih di pipinya. "Aku tidak butuh semua itu, aku hanya ingin bersama Keenan. Hentikan semua ini, aku sama sekali tidak tertarik. Lagipula kalian adalah saudara, tidak seharusnya kau melakukan omong kosong ini, memisahkan kami tanpa alasan yang jelas. Dengar, aku dan Keenan saling mencintai!" "Cinta?!" Arfan mengerutkan dahi, dan mengeleng. "Tidak, justru kata cinta adalah omong kosong yang sesungguhnya. Jangan naif Nabila, di dunia ini manusia membutuhkan uang dan kekuasaan, bukan omong kosong seperti cinta. Itu tak ada dalam kamusku! Sudahlah, jangan mendebat lagi, kamu masih sakit, lebih baik beristirahat, makan bubur dan minum obatmu dengan baik." Dengan santainya, Arfan meraih mangkuk buburnya, bersiap memberi suapan bubur pada Nabila. Sementara itu, Nabila malah geleng-geleng kepala dan air matanya pun luruh membasahi pipinya. "Aku tidak sudi, sudah aku bilang aku tidak mau jadi pionmu!" Arfan mendengus, seolah mengejek Nabila, dan tersenyum lebar. "Mana mungkin, kamu masih sangat sayang pada adikmu bukan, apalagi kedua orangtuamu. Maksudku, memangnya kamu yakin mau mempertaruhkan mereka hanya untuk bisa bersama Keenan?" Nabila terdiam, menunduk memikirkan ucapan Arfan, sebelum kemudian sedikit mendongak dan menatap geram pada suaminya itu. "Baji-ngan!!" umpat Nabila kasar. "Apa kau gila?!" "Anggap saja begitu, aku tidak perduli pandanganmu tentang aku, tapi sekarang makanlah dan habis itu minum obat," jawab Arfan datar. Akan tetapi, Nabila malah diam dan membuat Arfan gemas. "Keras kepala! Ternyata kamu lumayan sulit diatur, tapi baiklah aku punya senjata pamungkas!" Arfan menaruh buburnya lagi, merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya. Dia segera membuka aplikasi pemutar video yang membuat Nabila tak berani mendebatnya lagi. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD