SAMPAI KITA MELAKUKANNYA DENGAN BENAR

582 Words
Diandra menatap Rajendra yang terlelap memeluk Narend. Tentu tidak nyaman di ranjang kecil itu, tapi wajahnya sedamai wajah Narend yang memeluk erat ayahnya. Dan rasa bersalah itu kembali menghantamnya. *Rasa itu masih ada, sejauh aku mengenalmu ... aku melihat kamu mencintainya. Aku laki laki, aku pernah jadi seorang ayah dan suami ... aku bisa merasakan cinta dan tanggung jawab Rajendra pada kalian, bukan sekedar menebus rasa bersalah. * *Narend berhak tumbuh di keluarga yang utuh, dan bukannya Rajendra tidak keberatan sama sekali tentang itu ?Kamu bisa bertahan menjalani semuanya sendiri, tapi coba jujurlah pada hatimu ... bukan ini yang kamu inginkan. Kamu membutuhkan Jendra sebesar Narend membutuhkannya ... * *Pulang bagimu bukan hanya kembali ke Indonesia Nak, tapi ke pelukan Jendra.Kamu sudah sekian lama berjuang untuk bertahan, sekarang waktunya kamu berjuang untuk meraih kebahagiaan. * Diandra mendesah putus asa menyadari ia tidak bisa menolak semua yang dikatakan Thomas dan kedua orangtuanya. Namun ketakutan besar masih menggayuti langkahnya, tanpa pernah yakin apa yang membuatnya takut. Mungkin ini rasanya seorang pecundang yang melarikan diri dan dipaksa menghadapi realita. Dinyalakannya lampu dapur untuk membuat segelas minuman hangat yang mungkin bisa membantunya terlelap. Kehadiran Rajendra begitu terasa, mau tidak mau ia merasa tanggung jawabnya untuk menjaga rumah banyak berkurang. Rasa aman itu muncul tanpa dapat dicegah, seakan tahu bahwa lelaki itu bertanggung jawab atasnya. “ Belum tidur, Ndra ?” Rajendra menggerakkan bahu dan lehernya yang terasa pegal,” Mau juga.” Ujarnya sambil duduk dihadapan Diandra. Diusapnya leher yang terasa kaku “ Capek ya tidur di ranjang kecil Narend ?” “ Mau nawarin ranjang yang lebih besar ?” tanyanya tersenyum jahil. Tertawa ketika Diandra cemberut dengan wajah memerah. “ Kalian  pindah ke kamarku, aku yang di kamar Narend.” Diulurkannya segelas teh herbal. “ Bukan itu maksudku. Ayah Narend harusnya diranjang ibunya khan ?” Diandra membuang muka ,” Gak usah diperjelas seperti itu juga.”  Gerutunya. “ Makanya jangan pura pura gak ngerti mauku.” Diraihnya tangan Diandra ,” Demi Narend, aku dan kamu sendiri ..... itu yang terbaik untuk semuanya.” Didekatkannya wajah ,” Itu juga kalau kamu mau jujur.” Diandra memajukan bibirnya, lelaki ini terlalu mengenalnya. “ Belum siap untuk pulang, Ndra ?” Diandra menatapnya sekilas. “ Ijinkan aku menjaga kalian, Ndra .... Setelah bertahun tahun aku melewatkannya.” Ujarnya sungguh sungguh. Rajendra bangkit dan berjalan memutari meja, merengkuh Diandra ke dalam pelukannya ,” Aku, kamu dan Narend sudah berhasil menjalani ini sendiri sendiri .... Please, Ndra ... kita bisa menjalani hari selanjutnya bersama sama.” Diandra menarik nafas panjang. Tidak mudah ..., tapi dia bisa menjalaninya selama ini, hanya bersama Narend ... sedangkan Rajendra benar benar sendiri dalam ketidaktahuannya. Lalu, apakah ada yang lebih sulit lagi kalau mereka bisa menghadapinya bersama sama ? Apa lagi yang bisa membuatnya merasa utuh ? Ditariknya tubuh menjauh dari rasa amannya ,” Pindahkan Narend ke kamarku.” Rajendra menghela nafas nyaris putus asa, beranjak mengangkat Narend dan membaringkannya di ranjang besar Diandra. Ditatapnya perempuan yang berdiri tegak dengan keyakinan kuat terpancar dari matanya. “ Kalian tidur disini, aku di kamar Narend.” Tangannya bergerak mematikan lampu ,” Sampai kita melakukannya dengan benar.” Lanjutnya sambil menutup pintu. Tersenyum mendengar Rajendra menghembuskan nafas dan tertawa. " Kita pulang sayang .... Ayah janji, ayah akan menebus semua waktu yang hilang dalam keluarga kita. Ayah tidak akan pernah membiarkan ibumu menghadapinya sendiri." Rajendra mencium seluruh wajah Narend sebelum memeluknya erat. " Ayah ....." Narend menggeliat karena merasa sesak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD