Mata Diandra memanas merasakan kebahagiaan jagoan kecilnya yang meluap luap ...maafkan ibu nak .... ibu selalu berpikir bisa membahagiakanmu, tapi itu tidak cukup. Ditatapnya kedua lelaki yang tengah melompat lompat di atas trampolin sambil menunggu pesanan siap, tersenyum sedih menyadari rasa sepi dan terpinggirkan sedikit menghantuinya ... mengingat selama ini mereka hanya hidup berdua, tapi sekarang perhatian Narend teralihkan.
" Ibu .., haus."
Diandra mengulurkan dua gelas minuman, bergeser ketika Rajendra duduk di sampingnya. Masih dengan diam, diikutinya dua lelaki yang terlihat sangat bersemangat menghabiskan makan siangnya ," Pelan pelan makannya, sayang." tersenyum melihat Narend menyamakan kecepatan makannya dengan Rajendra ," Gk ada yang akan meminta makan siangmu."
Rajendra meliriknya, mecoba memahami apa yang berkecamuk di pikiran perempuan yang nampak berusaha keras untuk terlihat segembira anaknya. Pasti Diandra tidak pernah membiarkan Narend melihatnya sedih atau lelah ... begitupun saat ini ketika semua beban masa lalu dan kekhawatiran masa depan bertumpuk di bahunya. Diulurkannya tangan, meremas tangan Diandra diatas meja, tersenyum menenangkan ketika perempuan itu menatapnya sejenak.
" Aliya ....." Narend meletakkan makanannya.
Diandra menatap lelaki kecilnya merosot dari kursi dan berlari, menghampiri gadis kecil yang tak kalah bersemangat menyambutnya. Dan wajahnya berubah melihat sosok dibelakang gadis kecil itu ....
Rajendra merasa tangan di genggamannya membeku, dan bibir Diandra bergetar tanpa suara melihat keluarganya berdiri disana ," Ndra ...."
Diandra memejamkan mata sambil mengatur nafasnya. Dipaksanya diri untuk ikut berdiri ketika Rajendra berdiri sambil memeluk bahunya, kepalanya mengangguk kecil sambil tersenyum tipis.
Bu Hardy mendekat ," Maafkan mama, nak."
Diandra menatapnya dengan pandangan kabur. Bagaimanapun perempuan ini nenek dari Narend, ibu dari Rajendra dan dulu ... dulu sekali sosok ini sering ia serap kehangatannya.
Rajendra menahan nafas, kepalanya benar benar kosong saat ini, tidak tahu apa yang harus dilakukan selain mempererat pelukannya di bahu Diandra.
Diandra menariknafas panjang ... Lagipula, bukankah ia sudah memutuskan untuk berdamai dengan masa lalunya .... ," Tante ..." ragu diulurkannya tangan, membungkuk kecil untuk mencium tangan , seperti yang dulu kerap dilakukannya saat main ke rumah Rajendra.
Bu Hardy mengusap kepala Diandra sebelum menarik perempuan itu kedalam pelukannya. Tanpa kata kata keduanya berpelukan erat dengan air mata mengalir ... mencoba memahami dengan hati, karena bibir mereka terasa kelu untuk berucap.
Rajendra tertunduk menahan tangis melihat dua perempuan penting dalam hidupnya sama sama terluka karena perbuatannya.
" Ibu ...." Tarikan di lengan Diandra menyadarkan semuanya. Narend menatap sekelilingnya dengan bingung, menggenggam erat lengan Diandra sambil menarik ibunya menjauh, sebelum berdiri di depan ,” Kenapa ibuku menangis ?” tanyanya galak.
Rajendra terhuyung seakan kepalanya dihantam palu melihat lelaki kecilnya dengan sigap melindungi Diandra ... sesuatu yang seharusnya dia lakukan.
Setelah sekian detik mencoba memahami anaknya, Diandra jongkok memeluk Narend dan mengusap air matanya ," Sayang, beri salam yuk ... ini .." Diandra terdiam, menatap Rajendra sekan meminta bantuan.
" Ini oma, nak ... your grandma." Rajendra menyahut sambil ikut jongkok disamping Narend.
" Tapi kenapa ibu menangis ?"
" Karena kami lama tidak bertemu." sahut Diandra.
Narend kembali menatap sekelilingnya ... otak kecilnya mencoba mencerna perkataan ayah ibunya ... ," Wow ... my own grandma and grandpa ..." serunya gembira sebelum tenggelam di pelukan orang tua Rajendra.
Rajendra membantu Diandra berdiri, dipeluknya perempuan yang yang menutup wajah dengan kedua tangannya itu. Kembali dirasakannya tubuh kurus itu bergetar hebat seperti saat ayahnya berpulang ....