Dan akhirnya agenda tour tidak berubah, dengan menyertakan Diandra dan Narend di dalamnya. Kebahagiaan Narend untuk berlibur bersama keluarga barunya ... kebahagiaan orangtua Rajendra memanjakan cucu laki lakinya, dan kerinduan Rajendra yang teramat jelas membuat Diandra merelakan hatinya sedikit tertekan ketika harus berusaha bahagia untuk mereka.
Rajendra menghentikan langkah, menurunkan kameranya. Ditunggunya Diandra yang berjalan lambat di belakang sambil merekam dengan ponselnya ," Hai." diarahkannya wajah ke depan kamera ponsel Diandra.
Diandra tertawa kecil dan menyudahi rekamannya ," Sadar kamera banget." ditatapnya Rajendra sekilas sebelum memandang Narend yang tengah asyik dengan opa, oma dan sepupunya membuat coklat. Senyum lebar diwajah yang belepotan coklat itu jadi alasan kuat untuk bertahan diantara rasa tersisihkan. Dua hari perjalanan ini, Narend lebih memilih bersama opa oma atau ayahnya, bahkan om dan tante serta sepupunya. Hanya saat tidur lelaki kecil itu mencari pelukannya.
" Maaf kami memonopoli Narend." Rajendra memeluk bahu luruh itu ," Kamu selalu memisahkan diri, menempatkan diri sejengkal diluar batas ..." Dirasakannya perempuan itu menghela nafas ," Sesuatu yang masih kamu lakukan ketika merasa tidak nyaman."
" Maaf." Diandra mengusap tengkuknya ," Egois banget aku merasa tersisih dalam beberapa hari ini, setelah bertahun tahun aku memisahkan kalian."
" Selama ini kalian hanya berdua, memiliki satu sama lain." Rajendra menarik nafas, sepenuhnya mengerti ," Beberapa hari lagi kami harus pulang, aku akan kembali secepatnya ... begitu schedule ku memungkinkan."
Diandra menghela nafas ," Ya ... kamu bisa datang kapanpun."
" Setelah hasil tes keluar, dan surat kelahiran Narend beres ... lalu apa ?"
" Membuat ID untuknya ... semua bisa diurus dari sini."
" Biar gak gaduh ?" potong Rajendra ," Apakah aku hanya boleh mengakuinya secara hukum, Ndra ?"
Diandra menggigit bibir mendengar nada sedih dari lelaki disampingnya ," Maaf Jen .... maksud aku ..."
" Dia anakku, Ndra ... aku akan mengatakan pada semua orang kalau itu anakku. Narend berhak atas pengakuan itu kan ?"
" Pasti itu akan mengganggu kehidupanmu, Jen." Diandra memejamkan mata membayangkan hebohnya fans, hater dan media. Sedikit saja berita tentang lelaki ini, selalu menuai banyak reaksi.
" Aku sudah belajar untuk mengacuhkan yang tidak perlu didengar dan ditanggapi." Duh Gusti .... dia masih peduli ," Aku akan mulai memperkenalkan Narend setelah semua lengkap. Tapi kamu benar, sebaiknya semua dilakukan disini. Biar semua sedikit reda sebelum kalian pulang."
Diandra menatap Rajendra dengan mulut terbuka.. pulang ... kalian pulang ! Apakah ini artinya Rajendra akan menggunakan haknya sebagai seorang ayah ?
" Apakah proses pengesahan pernikahan disini juga sesederhana proses kemaren, Ndra ?"
Diandra ternganga untuk kedua kalinya ," Per ni kah an ?"
Rajendra memutar tubuh Diandra sampai keduanya berhadapan. Dibukanya kacamata gelap yang digunakan Diandra untuk menutupi mata sedihnya ," Narend anakku ... kamu ibunya ... berarti kamu istriku kan, Ndra ?"
" Entahlah, Jen ..."
" Atau ada orang lain yang sudah atau akan mengisi posisi itu ?"
Diandra menggeleng ," Hidupku cuma buat Narend, cuma cukup untuk itu." dicobanya membuang muka dan menjauh ketika Rajendra menarik kedalam pelukannya, tetapi lengan kokoh itu begitu kuat menahannya ... memberikan perlindungan dan kenyamanan tanpa kata kata.
" Kita benahi satu persatu. Aku tau ini semua terlalu mengejutkan buat kita semua." diusapnya rambut legam itu ," Rasa itu masih tersimpan di hati kita, Ndra ... walaupun terselip diantara sakit, sedih dan ketidakpastian."
Diandra memejamkan mata lebih erat, menahan air matanya menetes. Perlahan, tangannya bergerak memeluk pinggang Rajendra erat dan menyandarkan semua bebannya disana.
Bram menurunkan kamera, mengusap ujung matanya yang sedikit basah ," salah satu foto sederhana yang emosional banget."
Laras tersenyum tipis, memeluk suaminya ," Abang memang tertutup, tapi aku gak nyangka bertahun tahun abang menutupi dan memendam sendiri masalah ini. Sekarang aku faham mengapa tidak satupun perempuan disana yang membuatnya bergeming."
" Dan menimbulkan berita miring." Bram tertawa mengejek ," media selalu membesarkan kabar angin."