Saat ini Gunn sedang berdiri didepan rumah sakit tempatnya bekerja, bukannya masuk dia hanya memandang rumah sakit itu dengan sedih. Karena hari ini Gunn sedang cuti jadi dia tidak memiliki alasan untuk masuk. Hanya saja dia mencemaskan seseorang yang saat ini sedang dirawat disana. entah bagaimana kabarnya saat ini Gunn pun tidak tahu. sudah beberapa hari ia tidak menghubunginya, lebih tepatnya Gunn menghindari kekasihnya. karena rasa bersalahnya membuatnya takut untuk menemui kekasih yang sangat ia rindukan.
sampai beberapa saat kemudian tiga orang yang sangat Gunn kenal keluar dari rumah sakit. Mereka adalah Oab, New dan jane. segera Gunn bersembunyi disamping mobilnya agar mereka tidak melihatnya. Saat ini Gunn belum bisa menemui Oab, apalagi disaat Oab bersama kedua sahabatnya yang sepertinya sudah tahu penyebab Oab terluka. Saat dirasa mereka sudah cukup jauh, Gunn keluar dari persembunyiannya. Namun tiba-tiba seseorang memanggil namanya.
"Dokter Gunn. Apa yang dokter lakukan disini? Bukankah dokter sedang cuti?" Suara kencang dari orang itu membuat tiga orang yang sudah menjauh berhenti dan menengok ke asal suara. Oab membulatkan matanya saat dia melihat Gunn sedang bersembunyi disamping mobilnya. Oab yang baru sembuh itu berlari tertatih ke arah Gunn mengabaikan teriakan Jane yang menyuruhnya kembali.
"Gunn.. kenapa kamu tidak menjawab teleponku? Kemana saja kamu? Aku sangat merindukanmu" Gunn tersentak saat tiba-tiba orang yang sangat ingin dia hindari itu kini memeluknya erat. Gunn tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak mengira akan bertemu dengan Oab walaupun sudah mengantisipasinya.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menghindar. Hanya saja aku merasa bersalah" ucap Gunn dipelukan Oab dan membalas memeluknya. ego didalam hatinya kembali luluh saat ia akhirnya bisa memeluk sang kekasih. melampiaskan perasaan yang selama ini terpendam.
New yang melihat sahabatnya memadu rindu dengan kekasihnya itu menarik Jane untuk pergi, memberikan waktu untuk mereka bicara.
"New kenapa kamu menarikku? Aku ingin melihat mereka. Aku ingin tahu alasannya Gunn tidak menemui Oab" ucap Jane yang menyentak tangan New saat sudah jauh dari Oab dan Gunn.
"Itu bukan urusanmu Jane, biarlah mereka bicara. Kita tidak boleh mengganggu" ucap New kemudian pergi meninggalkan Jane yang masih menggerutu.
Sebenarnya tadi New ingin mengantar Oab pulang bersama Jane, namun karena kini Oab sudah bersama Gunn, New memutuskan untuk pulang kerumahnya. Sebelum pulang New mampir ke salah satu kafe di pusat kota yang merupakan kafe favoritnya bersama kedua sahabatnya. Setibanya di kafe New langsung memesan pesanannya untuk dibawa pulang karena sebentar lagi kafe akan tutup. Saat pesanannya sudah tiba New bergegas keluar. Namun ketika New membuka pintu kafe tanpa sengaja ditabrak seseorang membuat makanan yang dia pegang jatuh. Orang itu hanya meliriknya sekilas tanpa berniat untuk membantu. Membuat New kesal.
"Hey bukankah seharusnya kamu meminta maaf?" tanya New menarik tangan orang yang tidak tahu sopan santun itu. New tersentak saat melihat orang itu tidak asing baginya.
"Kamu.. orang yang kemarin ku rawat dirumahku bukan?" Tanya New untuk memastikan bahwa dia tidak salah orang. New bahkan masih ingat dengan jelas wajah tampan pria itu bagaimana New bisa lupa dengan orang yang sudah ia tolong? walaupun orang itu sama sekali tidak menunjukkan rasa terimakasihnya.
"Lepas" ucap orang yang sampai saat belum New ketahui namanya dan menghempaskan tangan New yang tadi memegangnya.
"Tunggu dulu. Setidaknya ganti makanan ku yang sudah kamu jatuhkan" ucap New saat orang itu hampir meninggalkannya. New menatap nanar makanan yang sudah ia beli. namun orang itu sama sekali terlihat tidak peduli, dia hanya berjalan ke tempat order mengabaikan New.
"Pesanlah, aku yang akan membayarnya" ucap pria itu sambil melihat menu, tidak melihat New sedikit pun. New sangat kesal dengan sifat arogannya, ingin sekali New memukul luka bekas tembakan dipundaknya.
"Maaf tuan kami sudah tutup karena semua pesanan sudah habis" ucap pelayan sebelum pria itu sempat memesan.
Pria itu pun pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun, New yang bingung hanya bisa mengejar pria itu untuk minta ganti rugi makanannya.
"Kenapa kamu mengikutiku?" Tanya pria itu saat melihat New mengikutinya.
"Bagaimana dengan makanan ku?" Tanya New yang kini berdiri disamping pria itu. Pria itu mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu. Namun New menolaknya.
"Aku ingin makanan, bukan uang" ucap New keras kepala. Pria itu menghela nafas kesal.
"Masuklah, kita cari di tempat lain" pria itu menyuruh New memasuki mobilnya. Namun New masih berdiri diluar saat pria itu sudah masuk.
"Aku membawa mobil sendiri" ucap New yang masih setia berdiri disamping mobil pria itu.
"Yasudah, aku akan mengikutimu dari belakang" ucap pria itu tanpa memandang New.
"Tidak, nanti kamu kabur. Sebaiknya kamu ikut ke dalam mobilku. Biar supirmu saja yang mengikuti kita" ucap New yang kini menarik tangan pria itu hingga pria itu keluar dari mobilnya. Dan mengikuti masuk kedalam mobil New.
"Merepotkan" sindir pria itu tapi New hanya diam saja, dia fokus mengemudikan mobilnya dan mencari kafe yang masih buka.
"Siapa namamu?" Tanya New memecah keheningan. Namun pria yang ditanya hanya diam saja tanpa berniat menjawab.
"Hey aku bicara padamu kenapa kamu diam saja?" Tanya New lagi yang kesal karena di abaikan.
"Namaku Tay" jawabnya singkat tanpa memandang New. sepertinya pemandangan kota dimalam hari lebih menarik baginya.
"Apa pundakmu masih sakit?" Tanya New lagi.
"Kenapa kamu ingin tahu sekali?" Balas Tay kini menatap New yang sibuk menyetir. New melirik sekilas Tay yang masih menatapnya membuatnya sedikit kikuk.
"Aku hanya ingin tahu keadaan pasienku"
suara New menyadarkan Tay dan membuatnya mengalihkan pandangannya.
New menghentikan mobilnya di sebuah kafe yang lumayan ramai.
"Ayo turun" ucapnya dan keluar dari mobil di ikuti Tay. Kemudian masuk ke dalam kafe memesan makanan untuk dibawa pulang. Setelah pesanan selesai Tay membayarnya dan pergi meninggalkan New.
"Hey tunggu, kenapa kamu tidak memesan juga?" Teriak New yang kini mengejar Tay.
"Aku tidak ingin"
"Apa kamu ingin kerumahku?" Pertanyaan New membuat Tay terdiam dan berbalik menatap New.
"Maksudku, untuk mengambil baju mu yang tertinggal dirumahku" ucap New menjelaskan.
"Berikan ponselmu"
"Untuk apa?"
"Cepat berikan"
New memberikan ponselnya pada Tay dan Tay mengetik beberapa nomor ke dalam ponsel New lalu mengembalikan lagi pada pemiliknya.
"Itu nomor ponselku, kamu bisa mengembalikannya lain kali. Sekarang aku sibuk" ucap Tay kemudian pergi meninggalkan New.
"Pria yang sangat aneh" New bermonolog sambil berjalan menuju mobilnya.
Disisi lain Tay tersenyum mengingat kejadian tadi, membuat sang sopir bingung kenapa boss nya tiba-tiba tersenyum dan senyuman itu baru pertama kali dia lihat. Deringan ponsel tanda panggilan masuk membuat senyum yang tercetak diwajah Tay terlihat semakin lebar. Tay pun mengangkat panggilan itu.
"Aku tidak bisa kesana. Langsung saja bawa semua nya kerumah" ucap Tay kemudian mematikan sambungan ponselnya dan menyuruh sang sopir untuk kembali kerumah.
***
"Penjagaan disana sangat lemah boss, hanya sekali serangan dan boom kita berhasil mengambil semuanya. Boss memang pintar memilih target" Off bicara dengan girangnya saat melihat Tay datang, karena sejak tadi Off sudah tiba dirumah dengan barang jarahannya menunggu kepulangan Tay.
"Bagus, besok langsung kirim semuanya ke Jepang mereka sudah menunggu" titah Tay yang langsung diangguki oleh Off.
"Aku pulaannngggg" obrolan Tay dan Off terhenti saat mendengar teriakan dari depan pintu.
"Gunn dari mana saja? Kenapa baru pulang?" Off berbicara lebih dulu saat Gunn tiba didepannya.
"Aku habis berkencan phi Off" ucap Gunn kemudian mendekati Tay dan menatap wajah Tay dengan seksama.
"Apa terjadi hal bagus hari ini? Phi Tay terlihat bahagia" ucap Gunn begitu saja membuat Tay tersenyum. apakah wajahnya terlihat sebahagia itu sehingga Gunn bisa menebaknya dalam sekali lihat?
"Tentu saja, pekerjaanku selesai dengan cepat jadi aku sangat bahagia"
"Tapi tidak biasanya phi Tay berekspresi seperti ini hanya karena pekerjaan. Apakah terjadi sesuatu yang bagus?" pertanyaan Gunn membuat Tay berfikir benarkah dia bahagia karena pekerjaan atau karena hal lain?
Off yang melihat boss nya terpojok itu langsung menghampiri Gunn dan membawa Gunn menjauhi Tay. Off tahu yang terjadi pada Tay, hanya saja Off tidak ingin memberitahukan pada Gunn. Off tahu dari mana? Tentu saja dari sopir Tay. Karena sebelum Off menghubungi Tay tadi Off mengirim pesan pada sopirnya terlebih dahulu untuk menanyakan keberadaannya. Dan Off dibuat tercengang saat tahu Tay mau mengikuti orang asing begitu saja. Dan sang sopir juga melapor pada Off saat melihat Tay tersenyum. Hal yang sangat asing bagi Off, karena setahunya Tay tidak pernah tersenyum pada orang lain selain adiknya.
"Apa phi Off tahu sesuatu tentang phi Tay? Aku tahu dia sedang bahagia tapi aku yakin bukan karena pekerjaan"
"Entalah aku juga tidak tahu. Tidurlah besok kamu kerja bukan?"
"Tentu saja. Selamat malam phi Off"
***
Tok. Tok. Tok. Tok.
"Phi Tay.. buka pintunya" suara teriakan dari luar kamar membangunkan Tay yang sedang tertidur nyenyak. ia baru tidur 3 jam dan sekarang harus mendengar teriakan adiknya yang terlihat tidak sabar. Tay bangun dengan enggan kemudian melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.
"Ada apa Gunn? Apa yang terjadi?" Tay yang melihat adiknya menangis itu kini memeluknya.
"Papa.. Papa kecelakaan. Dia sekarang berada dirumah sakit. Ayo antar aku kesana" Gunn melepaskan pelukannya dan menarik Tay untuk menuju mobil.
"kamu tahu kan aku tidak bisa menemui mereka? aku akan menyuruh Off untuk mengantarmu" ujar Tay sambil masuk kedalam kamarnya untuk mengambil ponsel.
"tapi kan phi Off dan beberapa orang lainnya sedang menjalan tugas yang phi Tay berikan. saat ini tidak orang yang bisa mengantarku. jadi phi Tay saja yang mengantar ku mohon" wajah sedih adiknya membuat Tay menghela nafas, ia tidak bisa menolak permintaan adiknya.
"Tunggulah dulu dimobil. Aku akan ganti baju" Tay kemudian masuk kedalam kamarnya untuk berganti pakaian. sedangkan Gunn berjalan kearah mobil yang terparkir di depan rumah.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit tidak hentinya Gunn menangis. Tay hanya bisa menenangkan adik kesayangannya itu dengan mengelus punggungnya perlahan. Setibanya dirumah sakit Gumn langsung berlari menuju tempat Papa nya berada sekarang meninggalkan Tay yang masih duduk didalam mobil untuk memarkirkan mobilnya. Tay langsung menuju kedalam rumah sakit saat mobilnya sudah diparkiran untuk sekedar melihat keadaan sang Papa yang sudah sangat lama tidak ia temui. Namun karena ini pertama kali nya Tay datang kesini dia bingung harus menuju kemana. Gunn tidak memberitahu dimana tempat Papa nya dirawat sekarang. akhirnya Tay bertanya pada salah satu suster yang ia temui.
Tay berjalan ke ruang operasi tanpa tergesa sedikit pun dan ia melihat beberapa orang sedang menunggu diluar ruang operasi orang itu tidak lain adalah Gunm bersama mamanya dan beberapa orang lainnya yang tidak Tay kenal. Tay berdiri dibalik tembok tidak terlalu jauh sehingga ia bisa melihat semua orang dengan jelas, tidak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruang operasi untuk memberitahu keadaan Papa nya saat ini. Namun yang membuat Tay terkejut adalah dokter itu merupakan orang yang semalam dia temui dan juga orang yang sama saat menolongnya beberapa hari yang lalu. Tay mengurungkan niat untuk pergi, ia menatap dokter itu dengan senyum diwajahnya lalu mengikuti dokter itu sampai tiba diruangannya. jadi dia dokter bedah dirumah sakit ini? pantas saja dia dengan mudah mengeluarkan peluru dipundak Tay.
Tay pergi setelah mendapat pesan dari Off. dalam perjalanan ia merasa ada yang salah dengan jantungnya, apalagi setiap kali Tay melihat New, jantungnya seperti berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Tay pernah merasakan hal seperti ini, itu beberapa tahun yang lalu dan orang yang membuat jantungnya berdebar itu wanita. Tapi kenapa dia bisa berdebar dengan seorang pria? Sepertinya terlalu lama berkutat dengan dunia kotor membuat otak Tay menjadi berdebu hingga bisa menyukai seorang pria. Menyukai? Tidak, Tay tidak menyukainya. Hanya saja jantung sialannya yang berkhianat.