Seorang anak lelaki berusia sekitar 13 tahun berlari tak tentu arah melewati derasnya hujan, sesekali dia melihat kearah belakang untuk memastikan jika tidak ada yang mengikutinya. Dia hanya ingin pergi sejauh-jauhnya menjauhi fakta yang baru saja dia dengar dari orang yang sangat dia hormati.
Sudah hampir 1 jam dia berlari hingga jatuh berkali-kali namun anak itu bangkit dan terus berlari. Saat dirasa sudah cukup jauh anak itu berhenti disebuah halte bus yang sangat sepi tidak ada seorangpun disana. Hujan yang tak kunjung berhenti membuat sang anak menggigil kedinginan. Badan yang basah kuyup, mata yang sembab karena menangis, bibir yang memutih karena air hujan bahkan kakinya yang tidak mengenakan alas kaki hingga kakinya penuh luka tidak membuat anak itu gentar. Dia hanya ingin pergi menjauhi rumahnya, rumah yang awalnya sangat nyaman dengan orang yang yang sangat dia cintai kini menjadi sangat menakutkan hingga tidak ingin kembali kerumah itu.
Dia semakin menggigil ketakutan saat sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat didepannya, dia tidak ingin jika orang-orang itu berhasil mengejarnya dan membawanya pulang. Dia berusaha untuk kembali berlari walaupun badannya sudah tidak kuat lagi tetap dia paksakan. Dia tidak ingin kembali kerumah itu lagi.
"Tunggu" suara seorang anak kecil membuatnya berhenti dan menengok ke arah mobil untuk memastikan siapa yang memanggilnya. ia bersyukur untungnya bukan mereka.
"Nak, apa yang terjadi denganmu? Kenapa badanmu basah kuyup seperti ini? Astaga kamu menggigil. Cepatlah masuk" seorang pria paruh baya menghampirinya dan membawanya masuk kedalam mobil. Saat didalam mobil dia duduk dikursi belakang dengan lelaki kecil yang usianya terlihat jauh lebih muda. Dan seorang wanita paruh baya duduk disamping pria paruh baya yang saat ini sedang menyetir.
"Pakailah jaketku, supaya badanmu hangat" lelaki kecil itu tersenyum saat memberikan jaket yang terlihat cukup kecil padanya. Dia pun menerimanya dan langsung memakai jaket itu yang tidak bisa menghangatkan tubuhnya.
"Kenapa kamu basah kuyup? Kemana orang tuamu? Kami antar kerumahmu ya" wanita paruh baya itu mencecarnya dengan berbagai pertanyaan membuatnya kembali menggigil. ia menggeleng ketakutan, tubuhnya kembali gemetar.
"Hey kenapa gemetar seperti itu? Apa ada yang sakit? Ibu ayo kita bawa kerumah" anak kecil itu kemudian memeluknya hingga dia tertidur.
*
Hoshh... hoshh... hoshh....
Tay terbangun dari mimpi buruknya dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Kenapa aku bermimpi seperti itu" Tay bermonolog kemudian memeriksa jam di meja samping tempat tidurnya. Baru pukul 6 pagi. Sedangkan Tay baru tidur pukul 4 tadi. Mimpi itu membuatnya enggan untuk kembali tidur, Tay memutuskan untuk mandi. Namun saat akan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, suara ponselnya berbunyi.
"Halo" ucap Tay saat mengambil ponselnya dan menerima panggilan telponnya.
"Phi Tay, papa sudah sadar" kata Gunn diseberang telpon suaranya terdengar bahagia.
"baguslah. kamu tidak mengatakan apapun tentang ku kan?" tanya Tay cemas. ia takut jika Gunn akan keceplosan dan menyebut namanya didepan orang tuanya. Tay sungguh tidak ingin bertemu dengan monster seperti mereka lagi. walaupun dirinya sendiri juga bisa dibilang seperti monster.
"tentu saja. saat ini aku sedang makan di kantin sehingga Papa tidak tahu jika aku meneleponmu. bisakah Phi datang kesini dan membawakan ku pakaian ganti? aku harus bersiap untuk shift hari ini" pinta Gunn yang langsung disetujui oleh Tay.
Panggilan pun berakhir. Tay terdiam dan kembali mengingat mimpinya. Siapa anak kecil itu? Kenapa Tay tidak pernah mengingatnya sebelumnya? Tanpa pikir panjang Tay berjalan ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk kerumah sakit.
"Mau kemana boss pagi-pagi sudah rapi?" Tay melihat Off sedang duduk disofa sambil menonton tv.
"Aku akan kerumah sakit mengantar pakaian ganti untuk Gunn. Apa kamu mau ikut?" Tawar Tay pada Off yang langsung membuat Off bersemangat.
"Bolehkah? tentu saja aku ikut. Akhirnyaa aku bisa melihatnya saat bekerja" ucapan Off membuat tay menaikkan sebelah alisnya dan memandang Off curiga.
"Dia siapa maksudmu?" Tatapan mematikan Tay membuat Off tidak bisa berkutik, dia menepuk mulutnya karena keceplosan dan membuat boss nya curiga.
"Ahh dia dokter cantik yang pernah ku temui sebelumnya" ucap Off bohong.
"Ku fikir kamu merindukan adikku" ucap Tay meninggalkan Off yang terdiam. bagaimana boss nya bisa selalu menebak dengan tepat?
Selama perjalanan Tay hanya diam memandang keluar jendela. Tay memikirkan apakah dia harus menemui orang tua nya yang selama ini sudah Tay tinggalkan? Tidak. Tidak. Tay tidak ingin bertemu mereka. Ah Tay ingat ada seseorang yang sangat ingin Tay lihat dirumah sakit, memikirkannya saja membuat Tay tersenyum.
Off yang sedang menyetir sesekali melihat ke arah Tay, dia penasaran apa yang sedang boss nya fikirkan dengan raut wajah seperti itu. Raut wajah yang menurutnya sangat sulit diperlihatkan oleh boss nya. Tapi Off tidak berani bertanya langsung, Off hanya diam dan menebak-nebak isi kepala boss nya itu.
Setibanya dirumah sakit Tay menyuruh Off ke ruangan Gunn untuk mengantar pakaiannya. sedangkan Tay ingin mencari kesempatan untuk melihat dokter tampan yang selalu membuat jantungnya berdebar. Namun saat memasuki rumah sakit sepertinya takdir selalu mengabulkan permintaannya. siapa sangka jika dokter itu saat ini sedang berbincang dengan seseorang dan terkejut saat melihat keberadaan Tay.
"Apa yang kamu lakukan disini? Apa kamu sakit? atau memeriksa bekas lukamu waktu itu?" tanya dokter itu yang tidak lain adalah New.
"Tidak aku hanya.."
"Ya boss ku sakit, tolong periksa dia dokter" Off memotong ucapan Tay membuat Tay melotot kearah Off, Off yang pura-pura tidak tahu apapun itu hanya mengangkat bahunya dan pergi meninggalkan Tay dengan New. berjalan menuju ruangan Gunn.
"Apa pundak mu masih sakit? Aku akan memeriksamu. Ayo" New menarik (menggandeng) tangan Tay membawanya keruangan New untuk diperiksa.
Saat tiba didalam ruangan New, Tay disuruh berbaring di ranjang yang disediakan untuk memeriksa pasien. Tay hanya diam saja saat tangan New memeriksa bekas luka di pundaknya dengan cermat. Namun New mengerutkan dahi nya saat dirasa lukanya sudah dalam proses membaik dan kini sudah baik-baik saja. New mengambil stetoskop untuk memeriksa tubuh Tay, juga tidak ada yang salah dengannya, hanya saja detak jantung Tay membuat New terheran.
"Apa kamu habis berlari? Detak jantungmu sangat cepat seperti orang yang telah berlari berjam-jam, bahkan nafasmu tidak beraturan seperti ini"
"Aku tidak habis berlari, hanya saja jantungku berdetak seperti ini saat melihatmu"
"Apa kamu mabuk setelah putus dengan kekasimu?" tanya New bingung. ia tidak mengerti dengan pernyataan Tay dan mengira jika Tay sedang melantur.
"Tidak, jantungku hanya berdetak seperti saat melihatmu. Sepertinya aku menyukaimu" ucapan Tay membuat New tersentak. ia mundur beberap langkah menghindari Tay.
"apa kamu Gay?" tanya New setelah berhasil menguasai rasa terkejutnya.
"tidak. tapi aku sungguh menyukaimu. sepertinya sejak pandangan pertama aku sudah menyukaimu" ucapan blak-blakan itu membuat kepala New sedikit pening.
"Maaf tapi aku bukan gay" ucap New pada akhirnya membuat Tay kesal, Tay bangun dan berdiri lalu membanting New ke ranjang.
"Aku juga bukan gay, aku tidak tahu kenapa aku seperti ini setiap melihatmu" Tay mencekal kedua tangan New, New melotot marah. ia tidak habis pikir dengan sikap Tay yang sangat memaksa.
"Lepaskan aku. Atau aku akan teriak" ancam New.
"Teriak saja jika kamu berani" tantang Tay.
"To.. eempppphhh"
Teriakan New terputus saat Tay memaksa menciumnya. New meronta dan memukul tubuh Tay, tapi Tay semakin menekan tubuh New yang berada dibawahnya dan memperdalam ciumannya, hingga New merasakan sesak karena kehabisan nafas dan kembali meronta hingga Tay melepas ciumannya.
Buuakkk..
"Brengsek.. apa yang kamu lakukan? Beraninya kamu melakukan hal seperti itu padaku" New memukul wajah Tay saat sudah berhasil mengendalikan kesadarannya dan menarik nafas sebanyak-banyaknya.
Tay tidak menyangka jika pukulan New sangat kuat hingga membuat wajahnya sakit sepertinya nanti akan ada lebam diwajahnya.
"Sudah ku katakan, aku hanya seperti ini padamu. Aku juga bukan gay. Tapi aku ingin memilikimu" ujar Tay, salah satu tangannya memegan pipinya dan satunya lagi berusaha menggapai New. New berlari menjauhi Tay namun Tay berhasil mengejarnya dan mencekal tangan New.
"Lepaskan aku, jangan lakukan hal seperti ini ku mohon" New berusaha melepaskan tangan Tay yang semakin kuat mencengkram nya membuat New meringis kesakitan. Tay yang melihat New kesakitan pun melepaskan cengkramannya, kesempatan itu membuat New berlari keluar ruangannya meninggalkan Tay sendiri.
"Ini sangat menarik. Aku harus mendapatkannya" ucap Tay yang kini tersenyum sambil memegang wajahnya yang terasa sangat nyeri.
Tay keluar dari ruangan New, kembali ke mobilnya untuk pulang. Sebelumnya Tay mengirim pesan pada Gunn dan berasalan tidak bisa datang lalu menelpon Off untuk segera ke parkiran agar Off yang menyetir.
"Boss apa yang terjadi dengan wajahmu? Bukankah tadi dokter ingin memeriksa keadaanmu? Tapi kenapa jadi semakin parah?" Rentetan pertanyaan Off membuat Tay menggeram kesal dan mencengkram kerah baju Off.
"Berhenti bertanya atau kamu akan ku jadikan makanan Lion" ucapan Tay membuat Off bergidik ngeri. Off tidak ingin menjadi santapan serigala peliharaan boss nya itu sebelum bisa mendapatkan Gunn.
**
"New, ada apa? Kenapa dari tadi diam saja?" Jane yang melihat keadaan New tidak seperti biasanya itu membuatnya penasaran. Karena biasanya New akan menjadi orang pertama yang menanyakan keadaan sahabatnya tapi kini saat sedang di kafe untuk makan siang New hanya diam saja memandangi makanan yang saat ini sudah tersaji didepannya tanpa menyentuhnya sedikitpun. Oab yang sudah sembuh sepenuhnya juga heran kenapa sahabatnya itu menjadi pemurung, padahal biasanya dia menjadi orang yang sangat ceria.
"Eh.. A.. aku baik-baik saja" New tergagap ketika Jane menepuk pundaknya.
"Sebenarnya ada apa New? Kenapa kamu diam saja?" Oab yang mulai penasaran pun kembali menanyakan keadaannya.
New masih diam. Haruskah New menceritakan kejadian tadi pada sahabatnya ini? Tapi New tidak ingin jika sahabatnya malah mengejeknya, atau mungkin mereka akan marah pada New karena sudah memukul orang itu. New bingung harus bagaimana. Disatu sisi New merasa bersalah dan disisi lain New merasa kesal karena orang itu.
"Aaahhh.. aku tidak tahu harus bagaimana. Aku bingung" New merasa frustasi pada dirinya sendiri. Jane dan Oab yang melihat New bertingkah aneh itu hanya saling pandang tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. New memutuskan untuk tidak menceritakan kepada kedua sahabatnya itu lalu memakan makanan yang sudah dia pesan tadi hingga habis tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Jam makan siang sudah selesai, mereka bertiga kembali kerumah sakit. Saat menangani pasien New tidak fokus hingga beberapa kali melakukan kesalahan, untung saja Jane yang melihat keanehan New itu cepat tanggap untuk membantu dan menyuruh New kembali ke ruangannya.
Saat dirasa sudah selesai memeriksa semua pasien, Jane ke ruangan New untuk melihat keadaanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi New? Kamu tidak pernah seperti ini sebelumnya" New terkejut melihat Jane yang tiba-tiba masuk. tidak siap dengan kedatangan Jane yang tiba-tiba. New yakin pasti Jane cemas padanya sehingga membuat Jane tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Aku juga tidak tahu Jane. Aku tidak tahu harus menceritakan ini atau tidak"
"Ceritalah, aku akan mendengarkannya" Jane duduk didepan New menunggunya bercerita.
Kemudian New memutuskan untuk menceritakannya dari awal dia bertemu dengan Tay hingga kejadian tadi. Jane masih setia mendengarkan cerita New tanpa mencela sekali pun. Saat dirasa New sudah menyelesaikan ceritanya dengan raut wajah yang muram itu Jane memeluk New untuk menenangkannya. inilah yang ia sukai dari Jane, karena Jane orang yang sangat logis dan pengertian.
"Kamu tidak salah New. Dia yang salah karena tidak seharusnya melakukan hal seperti itu padamu" ucap Jane menenangkan.
"Jangan ceritakan ini pada Oab, aku tidak ingin dia tahu apa yang terjadi padaku" karena New sangat tahu dengan apa yang akan Oab lakukan jika dia tahu tentang apa yang terjadi padanya.
"Iya aku tahu, jika dia tahu apa yang terjadi padamu dia pasti sudah membunuh orang itu"
"Terima kasih Jane"