episode 7

1365 Words
Pernahkah kalian merasakan benci pada seseorang yang bahkan tidak kalian kenal? lebih tepatnya pada orang yang baru kalian temui beberapa kali? Jika pernah, seperti itulah perasaan New saat ini. New sangat benci pada orang itu, orang yang mengaku menyukainya, orang yang sudah menciumnya, orang yang sudah membuat new hilang fokus hingga selalu membuat kesalahan saat bekerja, ya orang itu adalah Tay. Orang yang baru New temui 3 kali itu sudah berani mencuri ciuman pertamanya. Seumur hidup New tidak pernah berkencan karena terlalu fokus mengejar cita-cita nya menjadi seorang dokter hingga tidak memiliki waktu untuk memikirkan percintaan. Banyak wanita yang sudah menyatakan perasaan padanya namun New tidak pernah menerimanya. Walaupun New tidak pernah berkencan dengan seorang wanita bukan berarti New harus berkencan dengan pria. Memikirkannya saja sudah membuat New panas dingin. Tapi pria itu sudah menciumnya, apa yang harus New lakukan jika bertemu pria itu lagi? Tidak, New tidak ingin bertemu dengannya lagi, bahkan New tidak ingin melihat pria itu lagi. New masih yakin jika dia menyukai seorang wanita dan akan berkencan dengan wanita, tidak saat ini karena New masih sibuk mengurusi pasien yang semakin banyak. New bahkan tidak punya waktu untuk mengurus dirinya sendiri bagaimana bisa berkencan dengan wanita. "Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu memukul kepala mu seperti itu?" Suara seorang pria yang masuk kedalam ruangan New membuat New menghentikan kegiatannya yang sedang melamun sambil memukuli kepalanya. "Gunn? Ah aku hanya pusing. Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada direktur?" Tanya New pada Gun yang kini duduk didepannya. "Papa ku baik-baik saja. Aku hanya ingin bertanya padamu, apa kamu tahu yang terjadi pada Oab saat ini? Atau dia menceritakan sesuatu padamu?" "Tidak, dia tidak menceritakan apa-apa padaku. Memangnya kenapa?" "Aku hanya merasa akhir-akhir ini dia bertingkah aneh. Dia bahkan menghindariku" "Apa kamu sudah mencoba bicara padanya?" "Belum, sejak papa masuk rumah sakit dia selalu menghindar bahkan dia tidak membalas pesanku. Diruangan nya juga tidak ada" "Nanti akan ku coba tanyakan padanya. Kamu tenang saja. Jangan terlalu difikirkan" Gun mengangguk "terima kasih New. Aku pergi dulu" "Tunggu dulu Gun" New menghentikan Gun yang akan pergi membuat Gun mengurungkan niatnya dan kembali duduk dihadapan New. "Ada apa?" "A..Aku ingin bertanya sesuatu" ucap New dengan gugup membuat Gun semakin penasaran. "Katakanlah" "Bagaimana perasaanmu berkencan dengan pria?" Gun sedikit terkejut mendengar pertanyaan New, namun Gun malah tersenyum dan menjawab "Ya seperti berkencan dengan wanita pada umumnya. Berkencan dengan wanita atau pria tidak ada bedanya. Hanya gendernya saja yang berbeda. Perasaan kita pada orang lain tidak bisa kita paksakan. Dan aku merasa nyaman berkencan dengan pria walaupun aku juga pria. Kami juga melakukan hal-hal yang dilakukan oleh pasangan lainnya. Memangnya kenapa? Tiba-tiba bertanya seperti itu?" Penjelasan Gun membuat New merasa sedikit bersalah. Ya benar, perasaan kita pada orang lain memang tidak bisa dipaksakan, New tidak punya hak untuk membenci orang yang menyukainya. Hanya saja hati New tidak rela sudah dicium oleh seorang pria. "New ada apa? Apa yang terjadi?" Gun yang melihat tingkah aneh sahabat kekasihnya itu semakin dibuat penasaran. Pasalnya New tidak pernah bertingkah seperti itu, karena dimata Gun New selalu menjadi orang yang mampu mencairkan suasana dan tidak akan diam saja melamun seperti ini. "Tidak apa-apa, terima kasih Gun" "Yasudah aku pergi dulu" *** New memutuskan untuk pulang saat melihat jam sudah cukup malam, dia membuat semua orang yang mengenalnya terheran karena sikap New yang berubah drastis. Bagaimana tidak jika biasanya New akan menyapa semua orang yang ditemuinya namun saat ini New sedang berjalan menuju parkiran mobilnya dia hanya diam saja melewati semua orang, bahkan orang yang menyapanya pun tidak digubrisnya. "Apa yang terjadi pada dokter New? Kenapa dia diam saja saat aku menyapanya?" Tanya salah satu pasien yang tadi menyapa New pada suster yang sedang mendorong kursi rodanya. Suster itu hanya tersenyum dan menjawab "dokter New hanya kelelahan. Besok pasti akan menyapa kita lagi" New tidak mendengar percakapan antara pasien dan suster itu karena terlalu sibuk dengan fikirannya sendiri tanpa sadar New sudah tiba diparkiran mobilnya. Saat New masuk kedalam mobil , mobilnya tidak bisa dinyalakan, sudah berkali-kali New coba mobilnya tetap tidak mau menyala juga. Karena kesal akhirnya New keluar dari mobilnya dan membanting pintu mobilnya dengan kasar, kemudian melangkahkan kakinya menuju jalan raya untuk mencegat taxi. Sudah menunggu cukup lama tapi tidak ada taxi yang lewat, tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti tepat didepan New 2 orang pria berbadan kekar keluar dan menarik New untuk masuk ke dalam mobil. New memberontak ingin keluar tapi salah satu orang itu menyuntikkan sesuatu keleher New membuatnya tidak sadarkan diri. *** New tersadar didalam ruangan yang sangat asing baginya, ruangan itu bernuansa putih ada lemari berukuran besar disudut kamar dan meja kecil disamping kasur yang saat ini New tempati. Tunggu, New berada di kasur? New pun bangkit saat sadar dia berada diatas kasur berukuran sedang, namun New tidak bisa bangun karena kedua tangan dan kedua kakinya terikat disetiap sudut kasur. "Tolong.. siapa saja tolong lepaskan akuu.." Hening... "Tolonnngggg..." Cklekk.. "Kamu sudah bangun rupanya" "Kamu... Tay?" New sadar jika dia saat ini dalam bahaya, namun New tidak bisa bangkit dan Tay semakin mendekat ke arah New. "Lepaskan aku, kenapa kamu mengikatku seperti ini?" Tay hanya diam saja, duduk dipinggir kasur dengan salah satu tangannya menyentuh wajah New. "Lepaskan aku, apa kamu tuli?" "Tidak. Aku bisa mendengarmu dengan sangat jelas" "Lalu kenapa kamu diam saja? Cepat lepaskan aku. Biarkan aku pergi" "Aku tidak akan melepaskanmu" ucapan Tay membuat New merinding ketakutan, tatapan mata Tay juga sangat menusuk bahkan mampu membuat seluruh tubuh New merasa sakit. "Apa maumu? Kenapa kamu melakukan ini padaku?" New meraung meronta namun Tay masih diam saja dia hanya melihat tanpa melakukan apapun hingga membuat New kelelahan. "Sudah kukatakan bukan, aku menyukaimu. Saat aku melihatmu jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Sebenarnya aku tidak ingin memaksamu seperti ini tapi karena tadi kamu memukulku, sepertinya aku harus membuatmu menjadi milikku bagaimanapun caranya" Ucapan Tay bagai bomerang ditelinga New, New hanya bisa menangis karena tidak tahu harus melakukan apa dengan tangan dan kaki yang terikat seperti ini. Sebenarnya New ingin sekali memukuli orang yang ada di depannya ini, namun New tidak bisa melakukan apapun. "Shuss... kenapa kamu menangis? Apa ada yang sakit?" Tay terkejut saat melihat New menangis tanpa suara, tapi Tay tidak bisa melepaskan New begitu saja sebelum New mau menjadi miliknya. "Ku mohon lepaskan aku" ucap New lirih. "Aku akan melepaskanmu jika kamu mau menjadi kekasihku" "Tidak. Aku bukan gay. Aku tidak akan pernah menjadi kekasihmu" "Kalau begitu aku tidak akan melepaskanmu sampai kapanpun. Dan sepertinya aku akan bersenang-senang malam ini" Tay memandangi tubuh New dari kepala hingga kaki dengan senyum licik menghiasi wajahnya. New tidak mengerti apa maksud dari senyuman itu sebelum Tay menimpa tubuhnya memegang kedua pipinya lalu mencium bibirnya. "Eemmmppphhh.. emmpphhhh..." New meronta berusaha untuk memukul dan menendang Tay namun ikatan talinya malah membuat tangan dan kaki New sakit bahkan tanpa menyentuh Tay sedikitpun. New hanya bisa menghindari ciuman Tay dengan menggelengkan kepalanya kekanan dan kiri, tapi Tay malah semakin menekan tubuh New menjambak rambut New dengan salah satu tangannya satu tangannya lagi mencengkeram pundak New dan memperdalam ciumannya. Tay menggigit bibir bawah New membuat New membuka mulutnya lalu memasukkan lidahnya hingga bertemu dengan lidah New. Beberapa saat kemudian Tay melepaskan ciumannya karena merasa sesak kehabisan nafas, melihat keadaan New yang kacau dengan rambut berantakan, mata memerah, bibir bengkak hingga air liur yang mengaliri lehernya membuat Tay tersenyum senang. Tay kembali mendekatkan wajahnya pada wajah New membuat New menutup matanya, Tay mencium kening New lalu menjilati pipi New hingga ke leher. Tay masih betah menjilati leher New hingga membuat New mendesah lalu menggigitnya dengan keras dan meninggalkan bitmark di leher New. New hanya bisa berteriak karena kesakitan dan kembali mengeluarkan air matanya "Arrgghhh... Kumohon jangan lakukan ini padaku" Tay menulikan telinganya, lalu membuka satu persatu kancing kemeja yang digunakan New. Tok.. tok.. tok.. "Boss semuanya sudah siap. Kita harus berangkat sekarang" Suara Off yang berada didepan pintu membuat New menghela nafas lega karena Tay menghentikan kegiatannya. "Aku akan pergi dulu. Dan kamu harus fikirkan lagi untuk menjadi kekasihku. Jika tidak, aku akan membuatmu tidak bisa berjalan lagi dan mengurungmu selamanya disini" New kembali ketakutan mendengar kalimat ancaman Tay. Lalu Tay bangkit dan pergi dari kamar meninggalkan New yanh kini menangis histeris hingga kelelahan dan tertidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD