Tay menggunakan topeng yang hanya menutupi mata dan hidungnya itu masuk kedalam sebuah bar yang sangat ramai, suara hingar bingar musik yang sangat keras hampir menulikan telinganya, bau asap rokok bercampur dengan alkohol pun menerpa indera penciumannya. Walaupun begitu Tay tetap melangkah masuk mengikuti Off yang juga mengenakan topeng berbeda warna menunjukkan arah tempat tujuan. Off dan Tay masuk kesebuah ruangan yang sudah ditentukan sebelumnya, disana sudah ada seorang pria yang sedang duduk meminum wine yang disediakan dengan pengawal yang berdiri di samping kanan dan kirinya.
"Selamat datang tuan Sun. Silahkan duduk" pria itu menjabat tangan Tay dan Tay pun membalasnya lalu duduk dikursi kosong tepat didepan pria itu.
Sun merupakan nama samaran Tay di dunia gelap, tidak ada seorang pun yang tahu siapa Tay sebenarnya. Bahkan banyak yang mencoba mencari tahu tentang kehidupan pribadi nya didunia nyata tapi semuanya menghilang tanpa jejak karena sudah dimusnahkan oleh anak buah Tay.
"Saya sangat terhormat bisa bertemu dengan seorang yang sangat terkenal di bisnis gelap seperti anda. Jadi apa saya boleh tahu siapa anda sebenarnya?"
"Jika hanya itu yang kau inginkan lebih baik aku pergi. Dan jangan harap kau bisa melihat matahari besok" Tay menatap tajam pria yang berada didepannya. Tay sangat tidak suka dengan pria yang terlalu ikut campur urusan pribadinya. Bagi Tay, di dunia bawah dan dunia atas itu sangat berbeda, Tay hanya ingin orang-orang yang berada di dunia bawah hanya tau jika namanya Sun dan tidak mengusik kehidupan pribadinya.
"Tenanglah tuan Sun. Saya bercanda. Saya hanya ingin menawarkan sesuatu pada anda"
"Apa yang kau tawarkan?"
Pria itu mengeluarkan sesuatu dari dalam koper yang diberikan salah satu pengawalnya, menunjukkan pada Tay,
"Obat ini pasti sangat berguna untuk bisnis anda"
"Apa maksudmu?" Tay memperhatikan obat kecil berbentuk pil yang berada dalam sebuah botol dengan seksama. Sedikit tertarik dengan obat tersebut karena berwarna warni seperti permen.
pria itu tersenyum licik melihat wajah antusias Tay walaupun tertutup topeng. Pria itu sangat yakin jika Tay akan menerima tawarannya, "Obat ini mampu membuat siapa saja yang meminumnya akan mengikuti semua perintah anda"
dengan mata berbinar Tay mengambil botol berisi obat dari tangan pria itu "aku terima. Sisanya bisa kau katakan padanya" lalu menunjuk Off yang berdiri disampingnya, kemudian Tay pergi dari ruangan itu meninggalkan Off yang mengurus semuanya.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari saat Tay tiba dirumahnya, Tay sudah tidak sabar ingin bertemu dengan seseorang yang sudah membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Setelah tiba dirumah Tay langsung bergegas menuju kamar yang saat ini New tempati, kamar di lantai paling atas yaitu lantai tiga, lantai yang tidak pernah dimasuki siapapun kecuali Tay dan Off. Bahkan Gunn tidak tahu apa yang ada dilantai tiga itu karena Tay melarang siapapun mendekati lantai tiga yang berisi barang bersejarah bagi kehidupan Tay. Dan juga tangga menuju lantai tiga berada tepat didepan kamarnya sehingga Tay akan tahu siapa yang yang berani naik ke lantai paling atas itu dengan cctv yang ada didepan pintunya. Namun kini ada seorang yang tahu apa yang ada dilantai tiga, karena sekarang orang itu berada disana, tertidur didalam kamar dengan tangan dan kaki yang terikat.
Tay melihat New tertidur dengan bekas air mata yang mengering diwajahnya menghampiri New mengelus pipinya, menyibak poni yang menutupi keningnya dan mengecupnya singkat.
"Aku tidak akan melakukan hal seperti ini jika kamu mau menerimaku" lirihnya. sorot mata hanya terkunci pada wajah tampan New.
New bergeming, dia tertidur dengan pulas karena terlalu lelah menangis dan mencoba melepaskan tali yang mengikatnya hingga kehabisan tenaga. Tay yang melihat keadaan tangan dan kaki New penuh luka itu Membuka talinya satu persatu sehingga New dapat tidur dengan bebas. Tay melangkah menuju lemari besar yang berada disudut kamar membukanya dan mengambil peralatan p3k yang ada disana melangkah kembali menghampiri New lalu mengobati tangan dan kakinya.
"Aku tidak akan melepaskanmu sampai kapanpun, karena kamu adalah milikku" ujar Tay dengan senyum jahatnya. sepertinya iblis didalam diri Tay sudah menguasai hati dan fikirannya.
New terbangun saat merasakan ada sesuatu yang melingkar di perutnya. New mencoba untuk memegang perutnya namun malah New dibuat terkejut karena diperutnya ada sebuah tangan dan New juga semakin dibuat terkejut saat melihat tangannya sudah tidak terikat. New berusaha untuk bangkit namun tangan yang melingkar diperutnya itu menahannya.
"Tidurlah lagi aku masih mengantuk" ucap seseorang yang kini tidur di sampingnya.
New tersentak saat melihat orang yang berada disampingnya itu adalah Tay.
"Lepas. Aku ingin pulang" hentak New berusaha menyingkirkan tangan Tay, tapi tenaga Tay malah bertambah kuat membuat tubuh keduanya semakin menempel.
"Jika aku melepaskanmu apakah kamu akan menjadi kekasihku?" Ucap Tay diceruk leher New membuat New merinding.
"Tidak, sampai kapanpun aku tidak akan menjadi kekasihmu"
Tay sudah menduga dengan penolakan ini, namun Tay tidak kehabisan akal. Tay sudah menyiapkan sesuatu yang akan membuat New tidak bisa menolaknya. Ya obat yang ditawarkan oleh pria yang Tay temui di bar tadi akan Tay coba berikan pada New. Sebelumnya Tay sudah coba memberikan pada bawahannya dan itu berhasil. Tay berharap kali ini akan berhasil juga.
"Baiklah, aku akan melepaskanmu.." ujar Tay. New langsung berbalik menatap kearah Tay dengan mata berbinar "Sungguh?" Tay mengangguk. New senang akhirnya dia bisa terbebas dari makhluk iblis ini.
"Tapi dengan satu syarat" Raut wajah yang tadi senang kini berubah menjadi muram.
"Apa syaratnya?" Ucap New dengan sedikit kesal.
Tay tersenyum sinis dan memberikan sebuah botol yang sudah Tay siapkan di atas meja pada New, "Jika kamu mau memakan ini, aku akan membebaskanmu"
"Aku tidak mau. Kamu pasti akan membunuhku dengan itu kan" tolak New. ia melibat butiran obat berwarna warni dengan penuh curiga. bahkan selama New menjadi dokter ia tidak pernah melihat obat aneh seperti itu.
"Aku tidak akan membunuh orang yang kusukai. Aku janji aku tidak akan membunuhmu. Makanlah"
Melihat raut wajah Tay yang terlihat sungguh-sungguh membuat New sedikit ragu. Walaupun ragu New mencoba mengambil satu obat lalu memakannya. sisi baik New yakin jika Tay tidak akan membunuhnya, hanya saja apakah setelah memakan obat ini Tay akan melepaskannya?
Beberapa detik sesaat memakan obat itu kepala New menjadi sedikit pusing, pandangan matanya tidak fokus. Tay tersenyum senang saat melihat reaksi yang terjadi pada New. Saat dirasa New sudah terpengaruh oleh obat itu Tay mencoba untuk mengetesnya apakah obat itu berhasil atau tidak.
"Apa kamu mengenalku?" Tanya Tay pertama untuk memastikan. New hanya mengangguk tanda dia mengenal Tay.
"Sebutkan namaku" ucapnya memerintah.
"Tay" ujar New dengan suara kaku seperti robot dan pandangan yang kosong.
Tay sangat senang mendengar New menyebut namanya dengan suara halus milik New membuat Tay semakin candu.
"Ucapkan lagi" pinta Tay dengan semangat.
"Tay"
"Mulai hari ini kamu menjadi kekasihku, mengerti?"
New hanya mengangguk tanda setuju. Tay pun memeluk New untuk mengekspresikan kebahagiaannya. New membalas pelukan Tay. Membuat Tay memeluknya semakin erat.
'Aku tidak akan melepaskanmu' ucap Tay dalam hati.
Tay melepas pelukannya lalu mencium New dengan penuh gairah, New tidak menolak seperti sebelumnya, namum New hanya diam saja menerima setiap ciuman yang Tay berikan.
***
Seorang dokter cantik berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang kini dipenuhi pengunjung, sesekali mengajak ngobrol untuk meringankan rasa khawatir mereka. Mereka adalah keluarga maupun kerabat dari para pasien yang saat ini sedang dirawat di UGD karena kejadian kebakaran. Sudah banyak dokter yang menangani sehinga dokter cantik itu hanya melihat sebentar kemudian pergi lagi menuju suatu tempat.
"Kenapa dia belum datang" lirihnya saat ruangan yang dia tuju kosong. Saat ini sudah pukul 10 pagi tapi orang yang mengisi ruangan ini belum datang. Kemudian dokter cantik itu keluar dari ruangan dan pergi menuju ruangan lainnya.
"Dia juga belum datang. Sebenarnya kemana mereka kenapa belum datang dan tidak bisa dihubungi" kesalnya menghentakan kakinya ke lantai.
Ketika keluar dari ruangan itu sang dokter bertemu dengan salah satu suster dan bertanya, "Suster Lim, apa kamu melihat Oab dan New?"
"Tidak dokter Jane, dokter Oab dan dokter New belum datang" jawaban suster membuat dokter cantik bernama Jane itu bingung harus mencari kedua sahabatnya kemana lagi.
"Terima kasih suster" Jane pun pergi meninggalkan sang suster yang heran dengan tingkah Jane. Karena Jane terlihat sedih.
Jane berkeliling rumah sakit untuk menghilangkan rasa kesal didadanya, saat ini Jane sangat butuh kedua sahabatnya untuk menceritakan sesuatu yang akan merubah hidup Jane dimasa depan namun mereka tidak bisa dihubungi bahkan jam segini mereka juga belum datang. Jane melangkah menuju parkiran mungkin saja saat ini sahabatnya itu sudah datang, dan benar saja Jane melihat New keluar dari sebuah mobil tapi itu bukan mobil New mobil itu terlihat asing dan seorang pria yang menyetir siapa dia? Saat mobil itu sudah menjauh Jane menghampiri New yang terlihat sangat lemas.
"New apa yang terjadi? Siapa pria itu?" Jane menghujani berbagai pertanyaan saat sudah menghampiri New. Namun New hanya diam saja tanpa mengucapkan sepatah katapun bahkan New tidak melirik ke arah Jane sama sekali. seperti boneka hidup.
Melihat tingkah New yang kelewat aneh itu membuat Jane memeriksa kening New dan melihat keadaan tubuh lainnya. Jane melihat sesuatu yang aneh dileher New seperti bekas gigitan namun Jane tidak yakin dan kembali bertanya, "New... kamu kenapa? Apa yang terjadi dengan lehermu?"
New masih bergeming, namun kini melihat ke arah Jane dengan tatapan sedih kemudian jatuh dan tidak sadarkan diri.
"New... New... bangun... tolonggg... siapa saja tolong bantu akuuu.. New kamu kenapa?" Jane panik melihat New yang tiba-tiba jatuh tidak sadarkan diri beberapa orang datang dan membantu membawa New masuk kedalam rumah sakit, namun saat tiba di UGD semua ranjang sudah penuh karena korban kebakaran tadi pagi, lalu Jane menyuruh untuk membawa New kedalam ruangannya karena disana ada ranjang yang disediakan untuk pasien.
Dengan dibantu beberapa suster, Jane memeriksa kondisi New dengan cekatan walaupun sangat khawatir karena takut terjadi apa-apa dengan sahabatnya itu Jane tetap profesional melakukan tugasnya.
"Jane apa yang terjadi dengan New?" Tiba-tiba Oab dan Gunn masuk lalu menghampiri New yang masih terbaring tidak sadarkan diri.
"Kamu kemana saja Oab? Aku sudah mencarimu kemana-mana tapi kamu tidak ada"
"Maaf Jane, jadi apa yang terjadi pada New?" Oab merasa bersalah. ia melirik kearah New cemas.
"Sepertinya dia kelelahan, aku tidak tahu kenapa dia bisa kelelahan seperti ini bahkan saat aku mengajaknya bicara pun dia diam saja" ucap Jane saat sudah selesai memeriksa New dan memberikannya infus.
Oab dan Gunn hanya bisa memandang iba, tidak pernah melihat New terbaring lemah seperti ini. Sebagai seorang sahabat Oab merasa dia tidak tahu apa-apa tentang New. Bahkan akhir-akhir ini mereka jarang berkumpul lagi.
"Apa New akan baik-baik saja?" Tanya Gunn pada Oab saat sudah meninggalkan ruangan Jane dan saat ini sedang menuju ruangan Oab.
"Aku yakin dia akan baik-baik saja"
Setibanya diruangan Oab, Gunn berhenti kemudian mengelus pipi Oab dan berkata "Kamu pasti mengkhawatirkannya, kalian sudah bersahabat sejak di sekolah menengah dan baru melihat New terbaring lemah seperti itu"
Oab hanya mengangguk dengan raut wajah sedih. Gunn memeluknya, menepuk punggung Oab untuk menenangkannya "Terima kasih Gunn, aku sangat mencintaimu"
"Setelah ini ayo kita makan siang. Tapi aku harus menemui Papa dulu"
"Baiklah"
***
Gunn keluar dari ruangan Oab dan menunju kamar Papanya. Sudah beberapa hari Papanya dirawat karena terjadi kecelakaan kecil saat mengendarai mobilnya menuju rumah dan membuat sakit jantung nya kambuh. Setibanya dikamar Papanya, Gunn melihat sang Papa sedang duduk membaca koran seorang diri.
"Pa.. Mama kemana?" Gunn heran karena Mama nya tidak ada didalam kamar.
"Mama mu sudah berangkat kerja sejak pagi tadi"
Gunn menghampiri sang Papa dan duduk disampingnya "Papa ingin makan siang apa? Nanti akan ku bawakan"
"Seperti biasa aja" ucapnya tanpa mengalihkan perhatian dari koran yang dibacanya.
"Paa.."
"Hemm.."
"Apa Papa merindukan phi Tay?"
Srakk..
Sang Papa menutup koran yang dibacanya dengan kasar "Aku tidak merindukan anak sialan itu, beraninya dia kabur meninggalkan keluargnya tanpa memberi kabar sedikitpun" ucapnya dengan nada kecewa. Gunn menunduk. merenungkan apakah harus menceritakan tentang keadaan kakaknya atau tidak.
"Jika phi Tay kembali apa Papa mau memaafkannya?" Tanya Gunn lagi meneliti ekspresi sang Papa.
"Asalkan dia mau memberikan alasan yang jelas. Apa kamu sudah menemukannya Gunn?" Pertanyaan sang Papa membuat Gunn gugup, bagaimana jika sang Papa tahu bahwa Gunn selama ini sudah menemukan kakaknya, bahkan sering tinggal dirumah sang kakak.
"Aku belum menemukannya Pa" jawab Gunn bohong. Gunn tidak berani mengatakan yang sebenarnya, apalagi kakaknya melarang Gun untuk mengatakan pada orang tua nya.
***
"New.. kamu sudah sadar? Apa kamu ingat yang terjadi?" Jane yang sejak tadi menunggu hingga New sadar langsung memberondong New dengan berbagai pertanyaan. New melihat Jane dengan ekspresi bingung.
"Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku ada disini?" Tanya New balik. ia memegang kepalanya yang sedikit pening.
"Tadi kamu pingsan diparkiran, aku langsung membawamu kesini karen UGD sedang penuh"
"Kenapa aku bisa pingsan?" Jane malah menatap New sambil melongo.
"Apa kamu ingat apa yang kamu lakukan sebelumnya?"
"Aku hanya ingat saat aku akan pulang karena mobilku mogok, lalu setelahnya aku tidak ingat" ujar New berusaha mengingat kejadian sebelumnya.
Jane menatap New tidak percaya. Bagaimana bisa New tidak ingat kejadian yang menimpanya semalaman ini.
"Apa kamu ingat tadi kamu diantar oleh seorang pria menggunakan mobil?"
New mengerutkan keningnnya tanda tidak mengerti apa yang Jane katakan.
"Astaga New... jangan bilang kamu tidak ingat juga?"
New hanya menggelengkan kepala, New benar-benar tidak mengerti apa yang Jane bicarakan.