episode 15

2460 Words
Untuk pertama kalinya New merasa canggung berbicara dengan Gunn. Karena Gunn yang sejak tadi menatap New menunggu jawaban atas pertanyaannya. Namun New tak kunjung bicara juga. Bukannya New tidak ingin bicara, hanya saja New bingung harus menjelaskannya bagaimana. "Dokter.. kenapa diam saja? Aku sudah menunggu dari tadi kenapa pertanyaanku belum dijawab?" Merasa diabaikan Gunn mengguncang pundak New hingga New tersadar dari lamunannya. "Pertanyaan apa?" Dengan wajah polosnya New menanyakan pertanyaan yang sebenarnya sudah ia tahu. Hanya saja New harus memastikan lagi jika telinganya tidak salah dengar. Dengan kesal Gunn menghela nafas, dan menyilangkan kedua tangannya didepan d**a "Dengarkan baik-baik dokter New. Apa benar dokter kekasih kakak ku?" tanya Gunn lagi dengan penuh penekanan, sehingga New tidak bisa mengelak. Tatapan Gunn membuat New tersenyum canggung. "Emm.. ituu.. sebenarnya...." "Sebenarnya apa????" "Sebenarnya aku tidak yakin kami memiliki hubungan seperti apa. Hanya saja dia selalu memaksaku untuk menjadi kekasihnya. Namun aku belum menerimanya" ujar New pada akhirnya, New melirik ke arah Gunn untuk melihat reaksi Gunn saat ini, namun Gunn terlihat berfikir dengan dahinya yang berkerut. "Lalu kenapa dokter tidak menerimanya?" Pertanyaan Gunn membuat raut wajah New menjadi muram, hatinya sakit saat mengingat apa yang dikatakan oleh Grey sebelumnya. Memang New sudah sedikit luluh dengan semua kebaikan yang Tay berikan, namun setelah kebohongan Tay satu persatu terbongkar New menjadi berfikir dua kali untuk menerimanya. Gunn yang melihat raut wajah New berubah kini menjadi merasa bersalah, Gunn yakin jika New masih kepikiran tentang ucapan Grey. Tiba-tiba sekelebat bayangan muncul dalam memori Gunn, Gunn mencoba untuk memperjelas bayangan itu, tapi semakin diperjelas bayangan itu malah semakin kabur membuat kepala Gunn terasa sangat sakit. "Aaarrggghhhh.." teriak Gunn sambil memegang kepalanya. ia berguling-guling diatas kasur mencoba untuk mengenyahkan rasa sakit yang tak kunjung mereda. "Gunn.. apa yang terjadi?" New yang melihat Gunn kesakitan itu terkejut mencoba untuk memenangkan. "Dokter... ke..pala..ku..sakit..sekali" "Tenanglah Gunn.. hentikan" New semakin panik saat melihat Gunn memukul-mukul kepalanya. New mencoba meraih tangan Gunn untuk menghentikannya namun Gunn berteriak semakin keras. New memeluk Gunn dengan erat, hingga akhirnya Gunn tidak sadarkan diri. *** Di ruang tamu sudah berkumpul beberapa orang yang sebelumnya memang dihubungi oleh Off, mereka berkumpul untuk membantu mencari keberadaan Gunn dan New atas perintah Tay. Namun hingga saat ini orang yang mereka tunggu belum muncul juga, tentu saja mereka menunggu Tay untuk menyusun rencana selanjutnya. "Jadi, ada apa kamu memanggilku kesini?" tanya Lee sesaat setelah Tay memasuki ruang tamu. Sebelum menjawab Tay duduk disalah satu sofa yang memang khusus untuknya. Tay menatap satu persatu orang yang ada diruangan itu. Setelah dirasa sudah datang Tay berucap "Aku ingin meminta bantuan kalian untuk mencari keberadaan adikku dan kekasihku" Ucapan Tay membuat seseorang tertawa sangat keras hingga membuat Off kesal, namun Tay hanya mengabaikannya. "Kau meminta bantuan pada kami? Apa kau terlalu frustasi karena tidak berhasil menemukan mereka? apa gunanya memiliki bawahan yang sangat banyak dibelakang mu itu? apa mereka cuman pajangan?" "Apa kau tidak bisa menjaga mulutmu Lee? Atau mulutmu ingin ku jahit saat ini juga?" Ucap Off karena merasa kesal atas ucapan Lee. Walaupun memang benar boss nya itu sudah terlalu frustasi karena kekasih dan adiknya diculik secara bersamaan dan juga rencana mereka yang gagal membuat Tay menjadi semakin frustasi. Namun Off tidak suka jika orang lain menghina Tay meskipun orang itu sahabatnya sendiri. "Aku hanya bertanya, apa salah?" tanya Lee yang langsung disambut pelototan oleh Off agar berhenti bicara. "Sudahlah kalian berhenti berdebat. Kita disini untuk membantu, bukan untuk memperkeruh keadaan. Jadi apa rencanamu selanjutnya tuan Tay? Apa kamu tahu siapa yang menculik mereka?" tanya seseorang yang mengenakan seraga polisi tingkat tinggi, ia adalah Arm. salah satu polisi dengan pangkat komisaris jenderal polisi. orang yang selalu membantu Tay untuk menutupi semua pekerjaan ilegalnya. tentu saja Arm juga mendapatkan komisi yang setimpal. "Grey" ucap Tay dengan dingin. Off menatap Tay tidak percaya "bukankah dia pemilik Grey Land? Barang yang kita rampas beberapa waktu lalu?" "benar" Arm dan Lee menatap Tay dan Off dengan heran, pasalnya mereka tidak tahu siapa itu Grey dan arah pembicaraan mereka. "Tunggu dulu, aku masih belum mengerti. Jadi Grey menculik adikmu, karena kamu merampas barangnya? Apa maksudnya?" "Itu bukan urusanmu kapten, yang terpenting sekarang kita harus menemukan mereka. Sebelum tua bangka itu melakukan hal buruk pada mereka" ucap Off saat melihat Tay diam saja tidak bermaksud untuk menjawab. "bisakah kau berhenti memanggilku kapten. aku saat sudah menjadi perwira bukan kapten lagi!" eluh Arm yang hanya dianggap angin lalu oleh Off. Mereka pun kembali berdiskusi untuk menyusun rencana, walapun diskusi mereka hampir berakhir dengan saling bunuh (karena Off yang terlalu emosi dengan rencana Lee sehingga Off hampir memotong lidahnya) akhirnya setelah berjam-jam mereka sepakat dengan rencana yang sudah mereka susun. Tay mempercayakan rencana ini pada mereka bertiga karena Tay akan memberikan imbalan besar jika rencana mereka berhasil. Setelah rencana penyelamatan berhasil disusun, Lee dan Arm pergi untuk menyiapkan hal-hal yang diperlukan. "Apa kamu sungguh akan mempercayakan semuanya pada ku?" Tanya Off pada Tay beberapa saat ketika Lee dan Arm pergi. Tay yang masih duduk disofa itu bangkit dan menepuk pundak Off. "Aku tahu kamu sangat mengkhawatirkan Gunn, dan aku yakin kamu bisa menyelamatkannya. Bawa mereka kembali padaku" ujar Tay kemudian pergi menuju kamarnya. "Aku pastikan akan menyelamatkan mereka" lirih Off. *** New terbangun saat merasakan hawa dingin menembus kulitnya, seluruh tubuhnya sakit, kepalanya juga terasa pening, entah apa yang sebenarnya terjadi New tidak tahu. Namun yang New tahu saat ini dia berada disebuah jeruji besi yang sangat kecil hanya cukup untuk dirinya saja setiap sisinya dilapisi kain berwarna putih. Dan yang membuat New syok adalah dia tidak mengenakan pakaian sama sekali. Tubuhnya telanjang bulat tanpa kain sehelai pun. Saat New ingin menyentuh kakinya karena merasakan sakit, New sedikit terhentak karena kedua tangannya yang terborgol di sisi jeruji. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku seperti ini?" Ucapnya lirih, bahkan untuk bicara pun tenggorokannya terasa sakit. Tiba-tiba New teringat sesuatu, dimana Gunn? Kenapa dia hanya sendiri? Saat fikiran New mulai berkecamuk, sedikit demi sedikit kain yang berada disetiap sisi jeruji besi itu terangkat. New baru tersadar saat mendengar suara sorak sorai dari arah depannya, bahkan kini cahaya lampu menyorot ke arahnya membuat matanya silau. "Para hadirin sekalian, inilah b***k yang terakhir. Seperti yang kalian lihat, wajahnya sangat tampan, tubuhnya sangat indah, akan sangat memuaskan untuk menjadi partner seks kalian. Itu sebabnya kami akan memulai dengan harga 100 juta" Suara seseorang yang sangat lantang itu membuat New semakin syok, apa maksud dari orang itu? New sungguh tidak mengerti. "150 juta, aku ingin mendengar suaranya" Suara lain mulai menyahuti, kemudian 2 orang mendekat ke arah New dari arah kanan dan kirinya. Orang yang ada disebelah kanan New mulai menjamah setiap jengkal tubuhnya yang polos, New ingin melawan namun tangannya yang terborgol itu membuatnya tidak bisa melakukan perlawanan. Kemudian orang yang ada disebelah kiri New menggenggam penisnya, lalu mengocoknya hingga membuat New mendesah "aakhhhh" Suara decak kagum dari beberapa orang membuat kedua orang itu semakin menjamah tubuh New. New menangis tanpa suara saat suara orang-orang yang mulai menaikan harga satu per satu untuk mendapatkannya. Hingga akhirnya suara seseorang yang menawar dengan harga sangat tinggi membuat orang lain tidak berani untuk menawar dengan harga lebih tinggi lagi. "Oke 10 miliyar, terjual" Kini kain putih kembali melapisi setiap sisi jeruji, hingga New tidak mendengar suara lagi. New menekuk kakinya hingga keningnya bersandar dilututnya, New kembali menangis. Namun kini New menangis dengan suara yang memilukan. Membuat siapa saja yang mendengarnya akan merasa iba. Tapi tidak dengan orang orang yang ada ditempat ini, mereka tidak peduli dengan apa yang terjadi pada New yang mereka pedulikan hanya uang. New menangis hingga tertidur, tanpa New sadari kini dia sudah dikeluarkan dari jeruji besi dan sudah mengenakan pakaian lengkap tertidur dikasur yang sangat empuk dan nyaman. Bahkan seseorang yang duduk disampingnya menatap New dengan penuh kasih sayang, mengelus pipinya perlahan membuat New semakin nyenyak tertidur. *** "Aku dimana?" tanya Gunn pada dirinya sendiri. karena saat ia terbangun ia kembali berada ditempat asing. "Kamu sudah bangun rupanya" ucap seseorang sambil mendekat membawa nampan berisi makanan dan minuman. "Siapa kamu? Kenapa aku ada disini? Dimana dokter New?" tanya Gunn dengan panik. "Hey.. tenanglah.. aku ada disini sekarang. apa kamu tidak merindukanku? Kita sudah lama tidak bertemu kenapa kamu menatapku seperti itu?" Gunn menatap pria itu dengan heran, "Siapa kamu?" "Apa sekarang kamu sudah melupakanku? Aku Earth mantan kekasihmu saat di universitas" Ucapan pria itu semakin membuat Gunn bingung "universitas apa maksudmu? Aku bahkan belum lulus sekolah" "Jangan pura-pura bodoh Gunn, aku tahu kamu masih sangat mencintaiku, seperti aku yang sangat mencintaimu. Aku minta maaf saat itu sudah menyakitimu. Tapi kakak mu juga sudah keterlaluan, dia menyiksaku hingga aku terluka parah. Kamu harus bertanggung jawab" "Lepaskan aku, aku tidak mengerti maksudmu. Aku bahkan tidak mengenalmu" Gunn mencoba untuk melepaskan cengkeraman Earth, namun tenaga Earth lebih besar membuat tangannya semakin sakit. "Asal kamu tahu, aku sudah membelimu dari pria tua itu dengan harga mahal. Kini kamu sudah menjadi milikku. Kita bisa seperti dulu lagi. Kita bisa b******a kapanpun kita mau tanpa ada orang yang menganggu" Earth melepas kancing baju nya satu per satu lalu melepas bajunya dan melempar ke sembarang arah. Gunn bangkit dan berlari ke arah pintu, namun Earth menarik tangan Gunn dan mendorongnya hingga tertidur ke kasur. Earth membuka laci meja yang ada didekat kasur dan mengambil pisau yang ada disana, mengarahkan tepat diwajah Gunn. "Sudah ku katakan, kamu milikku sekarang, jika kamu tidak menurut pisau ini akan melukaimu" Gunn sangat ketakutan hingga tubuhnya bergetar saat ujung pisau itu menyentuh wajahnya. Earth tersenyum puas saat dirasa Gunn sudah menurut lalu menaruh pisau itu kembali kedalam laci. "Aku tidak akan melukaimu jika kamu menurut seperti ini" Earth mencium kening Gunn, mencium kedua pipi Gunn, dan melumat bibir Gunn dengan penuh nafsu. Gunn hanya bisa menangis tanpa berani melawan. Bahkan saat Earth mulai menciumi lehernya Gunn hanya diam saja. Gunn mendesah saat Earth mengigit gigit kecil lehernya hingga meninggalkan bekas kemerahan, dan juga tangan Earth yang masuk kedalam baju Gunn memilin putingnya hingga menbuatnya semakin mendesah. Suara desahan Gunn meningkatkan nafsu Earth, Earth melepas seluruh pakaian Gunn hanya tersisa celana dalamnya saja lalu Earth kembali menindih Gunn dan menciumi seluruh tubuh Gunn penuh nafsu. "aakkhhhhh" Gunn berteriak saat Earth menggigit lehernya. Braaakkkk... Suara pintu yang didobrak itu membuat Earth menghentikan kegiatannya untuk melihat siapa yang berani menganggunya. Saat Earth berbalik, tiba-tiba seseorang menerjangnya dan menusuk perutnya, Earth pun kehilangan keseimbangannya lalu terjatuh ke lantai. "Siapa kau..." tanya Earth dengan menahan perutnya yang mengeluarkan darah. "Kau ingin tahu siapa aku? Aku akan memberitahumu nanti, di neraka" orang itu kembali menusuk Earth diseluruh tubuhnya hingga Earth tewas mengenaskan, bahkan saat Earth sudah tewas pun orang itu masih menusuki tubuh Earth dengan penuh amarah hingga tersadar saat Gunn menjerit histeris melihat tubuh Earth yang sudah tidak berbentuk itu. "Aaaarrrgghhh.. phi Off apa yang kamu lakukan?" Gunn menatap Off dengan takut karena seluruh tubuh Off penuh dengan darah. "Maaf aku terlambat. Ayo kita pulang" *** "Gunn" "Phi Tay" Gunn berlari memeluk Tay setibanya dirumah. Tay merasa sangat bersyukur Gunn baik-baik saja. "Aku takut" lirih Gunn dengan air mata yang mengalir dalam pelukan Tay. "Maafkan aku" Tay memeluk Gunn semakin erat, karena takut jika semua ini tidak nyata. Gunn teringat sesuatu dan melepas pelukan Tay "bagaimana dengan dokter New? apa phi berhasil menemukannya? bagaimana keadaannya?" Tanya Gunn. Tay mengusap air mata Gunn kemudian menepuk pipinya perlahan. "Dia baik-baik saja. Sekarang ada kamarku. Kamu bisa menjenguknya" ujar Tay sambil mengusap air mata dipipi Gunn. Mata Gunn berbinar bahagia, ia bersyukur jika New bisa selamat. namun wajahnya kembali murung "aku tidak tahu dimana kamar phi Tay" ujar Gunn. Tay menepuk kepalanya, ia lupa jika Gunn sedang hilang ingatan dan tidak mengingat tentang rumah ini. "dilantai dua. kamu bisa kesana lebih dulu nanti aku akan menyusul. ada hal yang harus kami bicarakan" ujar Tay mengusap rambut Gunn lembut. setelah kepergian adiknya, Tay mengajak Off duduk diruang keluarga. "berikan mereka berdua imbalan yang besar. mereka berhak mendapatkannya karena sudah melakukan pekerjaan dengan baik" titah Tay yang langsung diangguki oleh Off. dengan segera Off mengetik sesuatu diponselnya. "dan untukmu, sepertinya sudah saatnya aku merestui mu sebagai adik iparku. kau pantas mendapatkannya. dia lebih baik bersama mu daripada bersama pria b******k yang hanya bisa menyakitinya. saat ini satu-satunya perjuangan mu adalah berusaha untuk mendapatkannya. jika dia mau denganmu aku tidak akan mengekang mu sebagai bawahan ku lagi. aku akan menganggap mu setara denganku" ujar Tay. Off membelalakkan matanya mendengar ucapan Tay yang sangat menyentuh hatinya itu. akhirnya perjuangannya selama ini mendapatkan restu dari Tay membuahkan hasil. dengan reflek Off memeluk tubuh Tay membuat Tay menegang. "b******k ini mau mati? beraninya memeluk ku seenaknya. kau masih bawahanku, aku belum menganggap mu setara denganku" ujar Tay ketus. ia mengabaikan Off yang bersujud mohon maaf dan pergi ke kamarnya untuk melihat keadaan kekasihnya. Tay berjalan melangkah menuju kamarnya di lantai 2 untuk menemui Gunn dan New. Saat sudah tiba didepan pintu kamar mereka berada, Tay mengurungkan niat untuk masuk karena mendengar percakapan New dan Gunn. "Apa dokter sudah bertemu dengan phi Tay?" "Belum. Hingga sekarang aku belum bertemu dengannya" "Apa dokter masih marah padanya?" "Aku tidak marah padanya. Aku hanya kecewa karena dia tidak mengatakan yang sebenarnya padaku. Aku bahkan baru tahu kamu adiknya saat kamu hilang dirumah sakit saat itu" Tay sudah tidak sanggup mendengar percakapan mereka, Tay pun masuk ke dalam membuat kedua orang yang sedang mengobrol itu terkejut. "Gunn istirahatlah dikamarmu, aku ingin bicara dengannya" Gunn yakin jika kakaknya itu mendengar percakapannya dengan New, entah apa yang akan Tay lakukan tapi Gunn merasa jika Tay terlihat sangat marah. Tanpa menunggu lebih lama, Gunn pergi menuju kamarnya walaupun ia tidak tahu dimana kamarnya berada. Kini tersisa Tay dan New saja didalam kamar itu. "Ada apa?" Tanya New dengan enggan tanpa menatap Tay. Tay geram dengan kelakuan New yang tidak mau menatap nya sejak dia masuk kedalam ruangan ini. "Lihat aku New, apa kamu marah padaku?" Tay berdiri disamping New yang sedang duduk dikasur. Tapi New masih enggan menatap Tay. "Aku bilang lihat aku, apa kamu tuli?" Tay menarik dengan paksa wajah New hingga kini mata mereka bertemu. "Apa yang kamu lakukan, lepaskan aku" "Jawab aku" "Ya aku marah padamu, aku benci padamu. Sekarang lepaskan aku, aku ingin pulang" teriak New dan melepas tangan Tay yang mencengkeram wajahnya. Namun bukannya marah Tay malah terduduk didepan New, Tay melepas semua egonya dihadapan New. "Maafkan aku, kumohon jangan pergi. Tetaplah disini bersamaku. Jangan tinggalkan aku" New heran karena Tay tiba-tiba bersikap aneh, Tay yang biasanya selalu memaksanya itu kini memohon padanya? Apa New sedang bermimpi? New mengusap kepala Tay yang sedang menunduk itu, dengan perlahan hingga akhirnya Tay menatap New. "Aku memaafkanmu. Tapi aku tidak bisa disini lebih lama. Aku harus pulang" "Tidak, kamu kekasihku. Kamu harus tinggal disini" ucap Tay kembali memerintah. "Sejak kapan aku menerimamu menjadi kekasihku?" "Apa maksudmu New? Jadi selama ini kamu tidak menganggapku kekasihmu?" "Tidak" "Apa???"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD