Gunn sedang duduk seorang diri didalam kafe dekat rumah sakit, Oab menyuruhnya untuk menunggu disana karena ada sesuatu yang ingin Oab bicarakan padanya. Gunn tidak tahu hal apa yang ingin Oab bicaran, hanya saja perasaan Gunn sejak kemarin tidak enak. Gunn merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Sejak Jane dirawat dirumah sakit beberapa hari yang lalu Gunn kesulitan untuk menemui Oab bahkan Gunn tidak bisa menghubunginya. Gunn juga sudah bertanya pada New tapi New tidak mau memberitahu dan malah menghindari Gunn. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah alasan Oab ingin bicara padanya ada hubungannya dengan sakitnya Jane? Gunn sungguh tidak tahu, dan membuatnya semakin penasaran saat Oab mengajaknya bertemu disini.
Sudah setengah jam menunggu tapi Oab belum datang juga, bahkan makanan dan minuman yang Gunn pesan sudah habis. Gunn sudah mengirim pesan pada Oab tapi belum dibalas juga. Tiba-tiba Gunn merasakan seseorang menepuk pundaknya membuat Gunn terkejut.
"Maaf aku telat tadi ada pasien yang harus kutangani lebih dulu" ucap Oab kemudian duduk didepan Gunn.
"Tidak apa-ap Oab aku mengerti. Jadi apa yang ingin kamu bicarakan padaku? Kenapa akhir-akhir ini aku tidak bisa menghubungimu?" Tanya Gunn langsung membuat Oab terdiam. Raut wajahnya terlihat sedih.
"Ada apa Oab? Kenapa kamu diam saja?" Gunn menyentuh pipi Oab namun Oab malah menundukkan wajahnya. Gunn bangun dari duduknya dan pindah duduk disamping Oab lalu menyentuh wajah Oab dengan kedua tangannya memaksa Oab menatap wajah Gunn.
"Katakan apa yang terjadi? Kenapa kamu jadi seperti ini?"
Oab masih diam. Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari tas yang dia bawa dan memberikannya pada Gunn. Gunn membelalakkan matanya saat melihatnya.
"Apa maksudnya ini Oab? Kenapa didalam undangan ini ada namamu dengan Jane? Apa kalian akan menikah? Jawab" suara Gunn bergetar menahan tangis. Ini tidak mungkin kan?
"Ya aku akan menikah dengan Jane, maafkan aku Gunn" Oab kembali menunduk, tidak tega melihat wajah Gun yang terlihat sangat sedih. Oab sudah menduganya, pada akhirnya dia seperti mantan kekasih Gunn yang hanya bisa menyakitinya.
"Tapi kenapa? Bukankah kamu sudah berjanji tidak akan meninggalkanku? Apakah kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" Air mata Gunn sudah mengalir. Ia terisak, hatinya sangat sakit.
Oab memeluk Gunn yang saat ini sedang menangis, Oab tidak tega membuat Gun seperti ini namun Oab juga tidak bisa membatalkan pernikahan itu.
"Maafkan aku Gunn, aku sangat mencintaimu. Tapi aku harus melakukan ini demi orang tuaku juga. Sebenarnya orang tua ku tidak setuju jika aku menyukai pria, itu sebabnya mereka selalu mempertemukan ku dengan wanita dan memaksaku untuk menikahinya. Dan saat tahu Jane hamil karena Fin, dan Fin tidak mau bertanggung jawab Jane meminta pada orang tua ku agar menikahinya dan orang tua ku setuju walaupun itu bukan anak ku. Aku tidak ingin mengecewakan orang tua ku lagi Gunn, dan juga Jane adalah sahabat ku aku tidak ingin anaknya tidak memiliki seorang ayah. Jadi aku ingin membuat mereka bahagia" ucap Oab panjang lebar, membuat Gunn berhenti menangis. Namun dadanya sangat sakit mendengar ucapan Oab.
"Kamu ingin membuat mereka bahagia dengan menyakitiku? Jadi selama ini kamu menghindari ku karena kamu akan menikah dengan w***********g itu? Atau mungkin ini balasan mu karena kakak ku sudah menyiksamu? Baiklah, kalau ini yang kamu inginkan. Semoga kalian semua bisa bahagia" Gunn mengambil undangan itu dan pergi dari kafe penuh emosi meninggalkan Oab seorang diri.
***
Sudah sebulan kehidupan New kembali seperti sebelumnya karena tidak ada pria gila yang mengganggunya lagi, siapa lagi kalau bukan Tay. New juga tidak tahu kemana pria itu, sejak malam saat Tay mengantar New pulang kerumah New tidak pernah melihatnya lagi.
'Mungkinkah Tay sakit?' Batin New. Tidak tidak New tidak mengkhawatirkannya, New hanya bersyukur Tay tidak muncul dihadapannya lagi. Hidupnya menjadi lebih damai.
Masalah Jane juga sudah terpecahkan, pada akhirnya Fin tidak mau bertanggung jawab, dan membuat Oab menikahi Jane tapi New senang karena akhirnya Jane mendapatkan pria yang sangat baik. Walaupun New tahu Oab sama sekali tidak menyukai Jane dan menikahi Jane karena terpaksa tapi New tetap bersyukur. Hanya saja New merasa bersalah dengan Gunn karena sudah menyembunyikan semua ini darinya. Pasti Gunn sangat sakit hati saat tahu kekasihnya yang sangat dia cintai itu malah menikahi orang lain dan itu seorang wanita.
Hari ini New bermalas-malasan diatas kasurnya karena libur bekerja, tidak ingin kemana-kemana. Tapi stok makanannya sudah habis membuat New harus pergi keluar untuk belanja. New bersiap berganti pakaian lalu mengambil kunci mobilnya dan keluar dari rumahnya untuk menuju mobil. Namun saat New membuka pintu rumah, New terkejut karena seseorang yang selama sebulan ini menghilang kini muncul dihadapannya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya New yang terkejut melihat Tay didepan pintunya membawa sebuah paper bag cukup besar.
"Aku membawakanmu makan siang" ucap Tay menunjukkan paper bag yang dibawanya kemudian masuk kedalam rumah New, New hanya terdiam didepan pintu menatap Tay yang sedang duduk disofa ruang tamu mengeluarkan makanan yang dia bawa.
Tay yang melihat New masih berdiri itu berjalan ke arah New menarik tangannya, "Kenapa berdiri saja? Kemarilah"
New sebenarnya syok karena orang ini muncul lagi dihadapannya, pasti hidup New akan kembali menderita, namun New berusaha tenang dihadapan Tay.
"Sebenarnya apa yang kamu lakukan?" Tanya New saat duduk disamping Tay.
"Sudah ku katakan aku membawakanmu makan siang" ucap Tay lagi.
"Bukan itu maksudku, kenapa kamu muncul lagi setelah 1 bulan menghilang?"
"Apa kamu merindukanku?"
"Tidak" New memalingkan wajahnya karena saat ini wajah Tay sangat dekat dengannya. Tay tersenyum saat melihat wajah New memerah.
"Aku baru saja perjalanan bisnis keluar negeri, aku tidak menyangka akan selama ini. Kalao tahu akan lama aku pasti sudah mengajakmu" ujar Tay menjelaskan. New hanya diam mendengarkan.
"Aku tidak tahu makanan kesukaanmu. Tapi aku membelikan makanan yang sama saat kamu memesannya waktu itu. Ini makanlah" Tay menyodorkan sendok berisi nasi dan lauk ke depan mulut New untuk menyuapinya. Namun New mengambil sendok itu dan memakannya sendiri.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa kamu tidak ingin makan?" New bertanya disela-sela makannya.
"Aku akan makan saat kamu sudah selesai"
"Kenapa?" Tanya New lagi dan mengambil botol air yang ada didepannya lalu meminumnya.
"Karena aku tidak bisa memakanmu jika kamu sedang makan seperti ini"
Byuuurrr...
New menyemburkan air yang ada didalam mulutnya tepat ke wajah Tay. Membuat wajah Tay basah kuyub. Tay ingin marah namun berusaha tersenyum saat New menatapnya dengan horor.
"Ahh maafkan aku, tunggu sebentar" New berlari ke arah kamarnya mengambil tisu untuk mengelap wajah Tay. Tay mengenggam pergelangan tangan New yang saat ini sedang mengelap wajahnya.
"Cepatlah habiskan makananmu, aku sudah lapar" ucap Tay ditelinga New membuat New merinding.
"Aku harus bekerja, aku sudah telat" New gugup lalu berjalan kembali ke dalam kamarnya. Namun Tay malah mengikutinya masuk kedalam kamar lalu mengunci pintu kamar itu.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya New terkejut karena Tay mengikutinya.
"Aku tahu kamu libur hari ini. Itu sebabnya aku menemuimu disini" Tay masih berdiri didepan pintu sedangkan New berjalan mundur hingga menabrak meja.
New mengambil sebuah gunting yang ada diatas meja, mengarahkan pada Tay "Pergi, atau aku akan membunuhmu"
"Aku tidak yakin kamu bisa membunuhku. Sebelum kamu berhasil membunuhku, kedua sahabat dan ibumu yang akan ku bunuh lebih dulu" ucap Tay sambil berjalan melangkah mendekati New. Sedangkan New masih menodongkan gunting ke arah Tay.
"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu selalu mengancam akan membunuh mereka? Dan kenapa kamu menginginkanku?"
"Aku kekasihmu, apa kamu sudah lupa?" New terlihat berfikir, kesempatan itu Tay gunakan untuk mengambil gunting yang New pegang, melemparnya ke sembarang arah kemudian mendorong New hingga terjatuh diatas kasur.
Tay yang masih berdiri itu ikut berbaring disamping New lalu memeluknya.
"Jangan pernah bertanya lagi aku ini siapa, mengerti"
"Kenapa kamu tidak pernah menceritakan tentang dirimu padaku?"
"Aku akan menceritakan semuanya jika kamu sudah menerimaku seutuhnya"
New sangat kesal dan berusaha untuk melepas pelukan Tay "Lepasss, aku harus membereskan sisa makan tadi"
"Biarkan saja aku ingin seperti ini lebih lama"
Kring.. kringg.. kringg..
Suara ponsel Tay berbunyi, Tay mengambil ponsel yang ada disakunya lalu mengangkat panggilan itu.
"Ada apa?"
"Aku baru saja tiba dirumah, dan para pengawal mengatakan jika Gunn mengurung diri dikamar sejak beberapa hari yang lalu. Aku sudah berusaha masuk kedalam kamarnya dengan kunci cadangan tapi dia malah melemparku dengan gelas. Aku tidak tahu apa yang terjadi, dia terlihat sangat kacau" Off berteriak dari seberang telepon membuat Tay menjauhkan ponselnya. New menatap Tay dengan penuh rasa ingin tahu.
"Baiklah aku akan pulang" ucap Tay kemudian memutuskan sambungan telepon itu.
"Aku pulang dulu, jagalah dirimu baik-baik. Dan ingat jangan pernah kabur dariku" titah Tay lalu mencium bibir New singkat, New hanya terdiam melihat kepergian Tay.
"Kenapa aku jadi luluh seperti ini bodoh" New memukul-mukul bantal dengan kesal. Jantungnya menjadi berdebar tidak karuan saat Tay mencium bibirnya. New berbaring diatas kasur, menatap langit-langit kamar, tangan kanannya menyentuh bibirnya. Ia kembali teringat raut wajah Tay yang sedang tersenyum. Membuat New tanpa sadar ikut tersenyum juga.
***
Tok.. Tok.. Tok..
"Gunn, ini phi.. phi baru saja tiba. buka pintunya. Apa kamu tidak merindukan ku?" tay mengetuk pintu kamar Gunn namun tidak ada tanggapan dari dalam, Tay kembali mencoba memanggil Gunn.
"Baby,, kamu ada didalam kan? Tolong buka pintunya" tetap tidak ada jawaban.
Kemudian Off datang dengan membawa kunci cadangan dan membukakan pintu kamar Gunn. Setelah terbuka Tay dan Off masuk kedalam kamar. Suasana didalam kamar sangat berantakan, bahkan serpihan kaca bertebaran dimana-mana, namun yang membuat Tay terkejut adalah di atas meja terdapat botol obat yang pernah Tay berikan pada New dan isinya yang penuh kini tinggal separuh, padahal Tay baru memakai 3 obat, 1 untuk New dan 2 untuk pengawalnya. Bagaimana bisa botol obat itu ada disini? Kenapa Tay bisa tahu botol itu? Karena botol itu sangat berbeda dari botol lainnya, dan botol itu terdapat nama Sun yang berarti milik Tay.
"Bagaimana obat ini bisa ada disini?" Tanya Tay pada Off saat mengambil botol itu.
Off menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu "Aku juga tidak tahu boss, bukankah botol itu ada dikamarmu?" Off yang juga baru tiba dengan Tay pun ikut bingung.
"Sial. Jangan sampai Gunn memakannya"
"Tapi dimana dia? Kamarnya seperti kapal pecah namun orangnya tidak ada" Off melihat sekeliling saat sadar Gunn tidak ada dikamarnya.
Tay berlari ke arah kamar mandi, dan terkejut saat melihat Gunn terbaring didalam bathub dengan mulut penuh busa.
"Gunn.. Gunn.. apa yang terjadi?" Tay menepuk pipi Gunn namun tidak ada sahutan darinya. Wajahnya sangat pucat dengan nafas yang lambat.
Tay yang panik langsung berteriak ke arah Off "Cepat siapkan mobil, kita harus kerumah sakit"
Teriakan Tay membuat Off tersadar dari rasa terkejutnya, bagaimana Off tidak terkejut jika orang yang sangat Off cintai terbaring lemah dengan mulut penuh busa?