episode 12

2116 Words
Setelah kepergian Tay yang tiba-tiba itu membuat New termenung, kenapa setelah mendapatkan pangggilan raut wajah Tay jadi berubah dan dia langsung pergi begitu saja? Apakah ada hal yang sangat penting? Namun New berusaha mengenyahkan pikiran itu, New mengalihkan pikirannya dan sekarang New malah berfikir bagaimana bisa dia menjadi lemah seperti ini dihadapan Tay? Apakah New sudah luluh dan berusaha untuk menerima Tay menjadi kekasihnya? New sangat bingung, disatu sisi dia tidak ingin berkencan dengan pria dan disisi lain dia merasa kehilangan saat Tay tidak ada. Apa mungkin New juga menyukainya? "Ooyyyyy" teriak New sambil membenturkan kepalanya di atas bantal. Tiba-tiba New teringat sesuatu lalu bangkit dari atas kasur dan menuju ruang tamu. Sisa makanan yang Tay bawa masih sangat banyak, karena New tidak suka membuang buang makanan, makanan itu New simpan dikulkas. Kring.. kring.. kring... Suara ponsel berbunyi saat New tertidur, New berusaha untuk mengabaikannya karena masih sangat mengantuk. Namun suara ponsel yang tak kunjung berhenti itu akhirnya membuat New membuka matanya dan mengangkat panggilan telepon itu. "Halo" sapa New dengan suara khas orang bangun tidur. Orang yang diseberang sambungan terkikik geli. "Apa Ibu mengganggu tidurmu nak?" Suara seorang wanita yang sangat New kenal membuat rasa kantuknya menghilang. Dengan tersenyum New berkata "tidak, ada angin apa Ibu menghubungiku? Biasanya aku yang harus menghubungi Ibu terlebih dahulu" "Ibu hanya merindukan anak Ibu satu-satunya. Apa tidak boleh?" "Tentu saja boleh Bu. Aku juga merindukan Ibu" "Kalau begitu pulanglah, sudah lama sejak terakhir kali kamu pulang" "Aku belum bisa pulang Bu, nanti kalau ada waktu aku akan pulang oke" "Hahh.. baiklah jaga dirimu baik-baik nak. Jangan sampai telat makan, dan segeralah cari kekasih. Ibu sudah tua, Ibu ingin sekali menimang cucu sebelum meninggal. Sampai jumpa" "Tunggu Bu..." Tuutt... tuut.. tuuttt.. Sambungan telepon pun terputus, New menyimpan ponselnya di atas meja dan kembali merenungkan apa yang Ibunya katakan tadi. "Kenapa setiap menelpon Ibu selalu menyuruhku mencari kekasih" ucap New mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. New bangun dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi, saat melihat jam di dinding kamarnya New terkejut. "Astaga sudah pukul 9 malam. Sudah berapa lama aku tertidur?" gumamnya sambil masuk ke kamar mandi. **** Sudah seminggu Tay berada dirumah sakit untuk menemani Gunn, karena sampai saat ini Gunn belum sadar juga. Dokter mengatakan jika Gunn mengalami overdosis dan saat ini sedang koma. Untung saja Tay membawa Gunn kerumah sakit dekat rumahnya bukan rumah sakit milik Papanya sehingga tidak ada yang tahu jika Gunn seperti ini. Tay tidak tahu alasan Gunn melakukan hal nekat seperti ini, membuat Tay menyalahkan dirinya sendiri karena sudah meninggalkannya dan membuat adik kesayangannya koma. Entah kapan Gunn bisa sadar lagi. Semua pekerjaan Tay serahkan pada Off, agar Tay bisa dengan tenang menunggu Gunn. Bahkan hingga saat ini pun Off belum pernah datang untuk sekedar menjenguk Gunn, Off selalu menanyakan kabar hanya lewat telepon. Namun Tay yakin jika Off sangat mengkhawatirkan keadaan Gunn. Tay duduk disofa melihat data yang dikirim oleh Off lewat ponselnya, tanpa Tay sadari orang yang selama ini Tay tunggu sudah membuka matanya dengan lebar namun tubuhnya masih sangat lemah. "Phi Tay..." ucapnya lirih. Tay terkejut saat mendengar suara lemah itu. Tay langsung mendekat ke arahnya. "Gunn.. Gunn.. kamu sudah sadar? Apa kamu mengingatku?" Dengan panik Tay memencet tombol untuk memanggil dokter. Beberapa saat kemudian seorang dokter dan suster datang untuk memeriksa keadaan Gunn. Setelah memeriksa dan memberitahu kondisi Gunn pada Tay, dokter dan suster itu pun pamit keluar. "Phi Tay, apa benar ini phi??" "Tentu sajaa ini aku" "Dimana aku sekarang phi?" Tanya Gunn sambil melihat sekeliling ruangan. "Kamu ada dirumah sakit sekarang" ujar Tay lembut. "Apa yang terjadi denganku?" Tanya Gunn saat melihat Tay masih terpaku menatapnya. Tay mengusap kepala Gunn dengan lembut "apa kamu tidak mengingatnya?" Pertanyaan Tay membuat Gunn mengerutkan keningnya kemudian menggelengkan kepalanya. Namun saat Gunn akan berucap Tay lebih dulu berkata "apa kamu lapar? Aku akan membelikan makanan untukmu" "Phi Tay..." Gunn menarik tangan Tay menghentikannya yang akan keluar. "Ada apa?" "Duduklah. Apa phi tidak merindukanku?" Tay duduk dikursi samping ranjang Gunn, lalu menggengam tangan Gunn. "Tentu aja aku merindukanmu" "Tapi kenapa selama ini phi tidak pernah mengunjungiku? Kenapa phi meninggalkan ku sendirian?" ucapan Gunn membuat Tay terkejut, apa maksudnya? Tidak mungkin kan jika Gunn kehilangan ingatannya saat pertama kali bertemu Tay? "Apa kamu tidak mengingat pertemuan pertama kita?" "Bukankah ini pertemuan pertama kita sejak phi Tay pergi dari rumah?" "Apa maksudmu Gunn? Tentu saja kita sudah bertemu kembali beberapa tahun yang lalu. Kamu bahkan sering menginap dirumahku" Suara Tay hampir bergetar melihat keadaan Gunn saat ini. Apa mungkin efek obat itu membuat sebagian ingatan Gunn menghilang? Gunn menautkan kedua alisnya, berfikir keras mencoba menafsirkan ucapan kakaknya. Sebelum Gunn mampu memahami perkataan kakaknya, suara Tay terdengar "Berapa umurmu saat ini?" Gun seakan berfikir "17 tahun" Bagaikan disambar ribuan petir, tubuh Tay menegang mendengar ucapan Gunn. Tay tidak menyangka Gunn akan kehilangan ingatan sebanyak ini. Tangan Tay gemetar saat mengelus rambut Gunn perlahan. Gunn sadar dengan perubahan ekspresi Tay membuat Gunn mengelus pipi Tay. "Ada apa phi? Kenapa phi jadi murung seperti ini?" "Tidak ada. Istirahatlah. Phi akan membeli makanan" Tay memaksakan senyumnya sebelum bangkit dari duduknya berjalan keluar kamar dengan cepat, Tay tidak mau jika Gunn akan menahannya lagi. Emosi Tay saat ini sedang memuncak, gara-gara obat itu adiknya menjadi seperti ini. Tay berjalan keluar rumah sakit lalu mengambil ponselnya yang berada disaku dan menghubungi seseorang. " Gunn sudah sadar, habisi orang sialan itu sekarang juga. Dia sudah membuat Gunn terluka, aku tidak akan membiarkannya lolos begitu saja" ucapnya tanpa mendengar jawaban dari orang yang dihubunginya. "Aaarrrgghhhhhh... brengsekkk" Tay berteriak histeris. membuat orang-orang yang berlalu lalang didepan rumah sakit menatapnya penuh minat. Apa yang terjadi padanya? Itulah yang orang-orang itu fikirkan. ** Gunn sedang tertidur saat Tay kembali ke dalam kamarnya, sudah satu jam sejak Tay meninggalkan Gunn untuk membeli makanan, karena lelah jadi Gunn tertidur. Tay meletakkan makanan yang tadi dia beli diatas meja dan duduk disamping Gunn. " Bagaimana perasaanmu jika kamu tahu umurmu saat ini 25 tahun?" Dengan raut wajah sedih Tay menggenggam tangan Gunn. Tay berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya. ia sadar sudah sangat lama ia tidak menangis. tapi melihat keadaan adiknya saat ini membuat Tay ingin menangis. Drapp.. drapp.. drapp.. brakk... "Boss" "Apa yang kamu lakukan bodoh? Apa kamu mau membuat Gunn terbangun hah?" Kesal Tay saat suara pintu terbuka dan Off masuk dengan hebohnya membuat Gunn terusik dari tidurnya namun tidak membuatnya terbangun. "Maaf boss, aku ada kabar penting. Sepertinya ini yang membuat Gunn hampir bunuh diri" Off menyodorkan sebuah surat undangan. Disana tertulis nama "Oab&Jane" membuat Tay menjadi geram. Tay meremas dan membuang undangan itu lalu segera pergi menuju suatu tempat. "Temani Gunn hingga aku kembali" ucap Tay sesaat sebelum meninggalkan kamar rawat Gunn. Off yang masih berdiri didepan pintu itu terpaku melihat Tay yang tiba-tiba pergi meninggalkannya. "Phi Tay.. sudah datang?" Suara Gunn membuyarkan lamunan Off, Off langsung mendekat ke arah Gunn. "Gunn sudah bangun? Apa ada yang sakit?" Tanya Off saat sudah duduk dikursi samping Gunn. Namun Gunn menatap Off dengan penuh tanda tanya. "Kamu siapa? Bagaimana bisa mengenalku?" Tanya Gunn membuat botol minum yang Off ambil dari meja terjatuh membasahi lantai. "Kamu tidak mengenalku?" Tanya Off yang disambut dengan gelengan kepala Gunn. Off kembali teringat efek obat yang Gunn minum itu mampu menghilangkan ingatan jangka pendek. Apalagi Gunn sudah meminum hampir setengah botol yang membuatnya overdosis pasti banyak ingatan Gunn yang hilang. Off berusaha menenangkan ekspresinya "Namaku Off, aku teman kakakmu" "Lalu dimana phi Tay sekarang? Kenapa hanya ada phi Off?" Gunn celingukan mencari kakaknya yang tak terlihat di mana pun. " boss... ah tidak maksudku Tay sedang ada urusan. Dia menyuruhku untuk menjagamu" Gunn hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti dan kembali tertidur. Setelah Gunn tertidur Off menatap Gunn dengan sedih. *** Tay menghubungi beberapa bawahannya untuk mencari keberadaan Oab saat ini, karena Tay akan membuat perhitungan pada Oab. Beberapa saat kemudian salah satu bawahan Tay memberikan kabar jika mereka sudah menemukan Oab dan saat ini sedang menuju rumah. Tay bergegas memacu mobilnya agar segera sampai rumah. Setibanya dirumah Tay langsung disambut bawahannya dan menunjukkan tempat Oab berada saat ini. Bukkk.. Satu tonjokan melayang dipipi Oab membuat Oab tersungkur. Saat Oab akan bangkit Tay menendang perut Oab hingga meringis kesakitan. "Apa yang kamu lakukan?" Raung Oab menahan sakit ditubuhnya. "Sakit?" Tanya Tay mengabaikan pertanyaan Oab sambil menarik kerah baju Oab hingga membuat tubuhnya terangkat. Namun Oab hanya membalas pertanyaan Tay dengan anggukkan. "Rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang adik ku terima" Tay mendorong tubuh Oab hingga terjatuh dilantai. Tay mengambil pistol yang sebelumnya sudah dia siapkan, mengarahkan ke tubub Oab. "Tunggu dulu, aku akan menjelaskan semuanya" Oab memohon sambil memeluk kaki Tay. "Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi" Dor.. "Akhhhh" Satu tembakan mengarah tepat di pundak Oab, Oab berteriak merasakan panasnya peluru bersarang dipundaknya. Namun teriakan itu tidak menghentikan Tay, Tay kembali mengarahkan pistolnya ke d**a Oab. Saat Tay akan menarik pelatuknya, tiba-tiba salah satu bawahan Tay datang dan membisikkan sesuatu pada Tay. Setelah selesai bawahan itu pamit pergi. "Aku akan membebaskanmu dengan syarat kamu tidak boleh muncul lagi dihadapan Gunn. Mengerti?" "Aku mengerti. Terima kasih" Kemudian Tay pergi dari hadapan Oab dan menyuruh beberapa bawahannya untuk membawa Oab pergi. Saat ini Tay harus kerumah sakit lagi. *** Tok.. tok.. tok.. "New.. apa kamu melihat Oab?" Jane masuk kedalam ruangan New yang saat ini sedang memeriksa laporan pasien. New menyuruh Jane duduk. "Tidak, aku belum melihatnya. Ada apa Jane?" "Aku tidak bisa menghubunginya sejak tadi. Perasaan ku tidak enak. Aku takut terjadi sesuatu padanya" "Tenanglah, mungkin dia sedang tertidur disuatu tempat. Maaf Jane aku akan ke rumah sakit harapan, aku harus menemui profesor Mame. Kamu istirahatlah, jangan terlalu cemas" ujar New yang sedang terburu-buru dan meninggalkan Jane. Setibanya New dirumah sakit harapan, New langsung menuju ruangan profesor Mame berada. Sebelumnya New memang sering kesini untuk menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan penyakit pasien. Saat ini pun New dihubungi oleh profesor Mame karena diberitahu suatu penyakit langka yang belum pernah New dengar sebelumnya. "New" Panggil seseorang setibanya New dilantai ruangan yang dia tuju. New melihat ke asal suara tersenyum menghampirinya. "Selamat siang profesor. Maaf aku terlambat" Sang profesor tersenyum menanggapi ucapan New. "Tidak masalah, aku baru akan kesana ayo ikut aku" New berjalan beriringan dengan profesor diikuti oleh beberapa suster dibelakang. "New kamu harus melihat ini, penyakitnya sangat unik dan sepertinya dia seumuran denganmu" New hanya menanggapi ucapan profesor seadanya, New memikirkan penyakit unik apa yang profesornya maksud. Mereka tiba dikamar pasien berada, profesor masuk lebih dulu disusul oleh New dan juga beberapa suster lainnya. Namun New tersentak saat melihat pasien yang profesornya katakan itu. "Gunn??? Apa yang terjadi denganmu?" New langsung menghampiri Gunn yang sedang duduk bercengkrama dengan Off, Off yang melihat New pun terkejut tidak menyangka akan melihat New disini karena ini bukan rumah sakit tempat New bekerja. Namun Gunn hanya menatap New dengan ekspresi bingung, bagaimana dokter itu bisa mengenalnya? Batin Gunn. "Anda siapa?" Tanya Gunn yang melihat ekspresi cemas New, namun Gunn tidak mengenalnya. "Gunn ini aku New, teman kuliahmu. Dan kita bekerja bersama dirumah sakit milik Papamu" ucapan New membuat Gunn semakin bingung. Gunn tidak mengerti apa yang New bicarakan. lagipula Gunn masih berumur 17 tahun bagaimana ia bisa kuliah dan bekerja dirumah sakit sebagai dokter? Profesor yang melihat keadaan mereka pun membantu untuk menjelaskan "Jadi pasien Gunn saat ini mengalani amnesia, namun anehnya amnesia yang dialami hanya sebagian. Pasien hanya mengingat kejadian yang terjadi sebelum umurnya 17 tahun. Sehingga pasien tidak mengenal orang-orang yang dia temui setelah umur itu" "Bagaimana bisa prof?" "Aku juga tidak tahu, kita harus berusaha membantu pasien untuk mengingatnya. itu satu-satunya jalan" "Apa yang dokter katakan? Aku amnesia? Tapi aku mengingat semua dokter" Gunn berseru tidak terima saat profesor mengatakan jika Gunn amnesia. "Gunn, apa kamu ingat umurmu saat ini?" Tanya New untuk memastikan. "Umurku 17 tahun. Kenapa kalian selalu bertanya umurku. Memangnya apa yang terjadi padaku?" New menganga tidak percaya dengan ucapan Gunn, profesor hanya menepuk bahu New untuk menyadarkan kondisinya. "Profesor..." "Aku tahu, sebaiknya kamu ajak dia bicara pelan-pelan. Aku akan meninggalkan kalian" Setelah kepergian profesor, New duduk dikursi yang tadi Off tempati karena sejak tadi Off sudah berdiri dan mempersilahkan New untuk duduk. "Gunn.. apa kamu sungguh tidak mengenalku?" "Sebenarnya kalian siapa? Kenapa sejak aku bangun kalian selalu bertanya seperti itu padaku?" New melirik ke arah Off namun Off menggeleng. Off tidak ingin terjadi apa-apa pada Gunn jika dia tahu yang sebenarnya saat ini. New mengerti, berusaha mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya New sedikit familiar saat melihat Off, tapi dia lupa pernah lihat orang itu dimana. New pun berusaha mengabaikannya dan kembali fokus pada Gunn. Namun saat ini ada seseorang yang sedang mengintip dari balik pintu melihat interaksi antara Gunn dan New, Off yang melihatnya langsung menghampiri meninggalkan Gunn dan New berdua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD