"Jangan pergii.. hiksss... jangan tinggalkan aku kak Nay" New kecil menangis tersedu-sedu didepan pintu rumah saat melihat orang yang sangat dia sayangi akan pergi meninggalkannya. Orang tua New yang berada disampingnya berusaha untuk menenangkan sang anak. Namun New malah menangis semakin histeris.
"Aku tidak akan pergi, aku hanya akan pulang kerumahku. Nanti aku akan main kesini lagi" ucap anak lebih dewasa yang di panggil kak Nay itu.
"Iya sayang, kak Nay hanya pulang sebentar agar orang tuanya tidak cemas. Nanti kita bisa main kerumahnya lain kali" ibu New berusaha membujuk agar New tidak menangis lagi. New mengusap air matanya terlihat matanya yang sangat merah karena menangis sejak semalam. New berjalan menghampiri Nay yang masih berdiri tidak jauh darinya.
"Kak Nay janji ya nanti kesini lagi"
"Iya kakak janji, kakak akan menemui New lagi nanti"
Dengan tersenyum New memeluk Nay sangat erat, orang tua New juga ikut tersenyum karena akhirnya New bisa dibujuk. Karena sejak semalam saat Nay berkata akan pulang kerumahnya, New tidak terima dan mengurung diri dikamar menangis tanpa henti, namun kini akhirnya New bisa mengerti dan merelakan Nay untuk pulang, walaupun masih ada rasa sedikit tidak rela. Sebenarnya ayah New ingin mengantar Nay pulang, tapi Nay tidak mau karena tidak ingin merepotkan mereka lagi. Taksi yang akan membawa Nay pulang pun tiba, New mengantar Nay hingga masuk kedalam mobil.
"Kakak janji kan nanti kesini lagi?" Dengan raut wajah yang menggemaskan New bertanya lagi untuk memastikan jika Nay benar-benar akan datang lagi. New takut jika nanti Nay bohong tidak menepati janjinya.
"Iyaa adik kecil, kakak janji. Jangan nakal ya selama kakak tidak ada. Nanti setibanya dirumah, aku akan menghubungimu"
"Aku sayang kak Nay"
Sekali lagi New memeluk Nay, Nay pun membalas pelukan New mengusap rambut New lembut membuat New merasa tenang.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa"
Dengan melambaikan tangan, New menatap kepergian Nay dengan sedih. Walaupun senyuman terlihat jelas dibibirnya namun sorot mata New terlihat sangat sedih, entah kenapa perasaan New tidak rela jika Nay pergi dari rumahnya walaupun dia hanya akan pulang kerumahnya sendiri.
"Breaking News.. telah terjadi kecelakaan di jembatan Rama pada saat ini karena jembatan yang putus mengakibatkan beberapa mobil terjatuh kedalam sungai dan kendaraan yang masih berada di jembatan berhenti mendadak membuat kendaraan lain mengalami kecelakaan beruntun"
Ayah New yang sedang menonton berita itu terkejut dengan apa yang terjadi. Namun berbeda dengan New, New menatap layar televisi dengan tatapan kosong bahkan tidak merespon saat ibunya yang sudah duduk disampingnya kini menepuk pundak New. Tiba-tiba hati New merasa sakit air matanya jatuh perlahan saat melihat salah satu mobil yang terjatuh kedalam sungai sedang dievakuasi. Ya, itu adalah taksi yang membawa Nay untuk pulang. Bagaimana New bisa tau? Karena New melihat plat nomor mobil itu. Saat mobil itu pergi New sempat menghafal plat nomornya.
"Kak Nay.. jangan pergi.. hikss... hikss... jangan pergi"
***
"Kak Nay..."
Hosh.. hosh.. hosh..
New terbangun dari tidurnya dengan nafas tidak beraturan dan keringat dingin yang membasahi tubuhnya. Bahkan tubuh New kini bergetar hebat saat bayangan mimpi yang tadi dia alami berputar dikepalanya membuat New pusing. New berusaha untuk bangkit menuju kamar mandi namun saat kakinya menginjak lantai tubuh New tiba-tiba terjatuh karena kakinya lemas tidak mampu menopang tubuh New, hatinya sangat sakit mengingat kejadian itu. Karena itu bukan hanya mimpi, itu adalah kejadian yang New alami saat masih kecil.
"Kak Nay.. bagaimana kabarmu saat ini? Aku merindukanmu" tanpa sadar air mata New jatuh perlahan membasahi pipinya, hati New semakin sakit membuatnya memukul-mukul dadanya karena merasa sesak.
"Kamu sudah berjanji akan datang, tapi sampai saat ini kamu tidak datang juga.. hikss.. aku sudah lama menunggumu. Menunggu janjimu.. hikss" New semakin terisak, wajahnya sangat merah, air matanya turun tanpa henti.
Tingtong.. tingtong..
New tersadar saat mendengar suara bel berbunyi, berusaha untuk bangkit menuju arah pintu.
"Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu menangis?" Ucap seseorang yang berdiri dibalik pintu saat New sudah membukakan pintunya, orang itu adalah Tay. Tanpa mengucapkan sepatah katapun New berbalik masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu meninggalkan Tay yang masih berdiri didepan pintu. Kemudian Tay menyusul New masuk dan duduk disamping New.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
Tanya Tay lagi dengan mengusap air mata New yang masih membekas dipipinya.
"Tidak, hanya mimpi buruk"
Tay menatap New semakin dekat untuk memastikan bahwa New tidak berbohong New memalingkan wajahnya dengan sigap Tay menahan wajah New membuat mereka saling bertatapan.
Cup
Tay mengecup singkat bibir New, namun New hanya diam. New bahkan tidak terkejut karena dia sudah memprediksi jika Tay akan menciumnya. Namun diamnya New membuat Tay merasa diatas angin karena itu tandanya New tidak menolak. Karena biasanya jika Tay mencium New tiba-tiba seperti ini New akan marah, namun kini New hanya diam saja saat Tay kembali mencium New, kini dengan sedikit lumatan. Tay semakin memperdalam ciumannya hingga tanpa sadar mereka berdua sudah berbaring disofa dengan Tay yang berada di atas New.
"Emmppphhh" New memukul d**a Tay untuk melepaskan ciumannya karena New merasa sesak.
"Apa yang kamu lakukan bodoh. Kamu membuatku hampir mati kehabisan nafas" dengan kesal New bangkit dari sofa dan berjalan kearah kamar tanpa memedulikan Tay yang sedang tersenyum senang, Tay memang selalu senang jika melihat wajah New yang sedang kesal seperti itu, terlihat sangat menggemaskan.
***
Ceklek..
Suara pintu yang dibuka membuat Gunn tersadar dari lamunannya.
"Phi Tay.. dari mana saja?"
"Aku membeli ini" Tay berjalan menghampiri Gunn dengan menunjukkan sekantong plastik berisi makanan kesukaan Gunn.
"Aku tahu kamu bosan makanan rumah sakit. Ini makanlah"
Dengan sumringah Gunn menerima kantong plastik itu dan membuka setiap bungkus makanannya lalu memakannya dengan lahap.
"Phi.. kapan aku bisa pulang?" Tanya Gunn disela makannya. Tay yang sedang menuang air minum itu menghentikan kegiatannya menatap Gunn dengan sendu.
"Sebentar lagi. Kalau kamu sudah sembuh"
"Tapi aku mau pulang sekarang aku sudah sembuh, aku sudah merasa sehat. Tubuh ku tidak sakit lagi. Bahkan aku bisa makan sendiri"
"Iyaa nanti aku tanyakan pada dokter kapan kamu bisa pulang. Habiskan dulu makananmu"
Gunn menyantap makanannya dengan cemberut, merasa kesal karena kakaknya itu tidak mau menuruti keinginannya. Tay tahu jika Gunn sedang kesal namun pura-pura mengabaikan Gunn dengan berjalan ke arah sofa memeriksa ponselnya, sesekali Tay melirik ke arah Gunn yang masih cemberut namun sudah menghabiskan makanannya.
"Kalau begitu kenapa Papa dan Mama tidak pernah menjengukku disini?"
Pertanyaan tiba-tiba Gunn membuat Tay tertegun, benar saja karena orang tua mereka tidak tahu jika Gunn sedang dirawat dirumah sakit, namun Tay tidak berniat memberi tahu mereka. Tay mencoba mencari alasan untuk menutupi kebohongannya.
"Kenapa diam saja phi? Orang tua kita kemana? Apa mereka tidak khawatir padaku?"
Kring.. kring.. kring...
Disaat Tay akan menjawab pertanyaan Gunn, ponsel Tay berbunyi. Saat dilihat nomor tidak dikenal yang meneleponnya. Tanpa ragu Tay mengangkat panggilan itu, mungkin saja salah satu koleganya yang menghubungi. Namun raut wajah Gunn semakin muram karena merasa diabaikan dia memutuskan untuk tidur.
"Halo"
"Baiklah tunggu sebentar. Aku akan kesana"
Tuutt.. tuuttt..
"Gunn.. phi akan kebawah dulu sebentar ya"
Tanpa mendengar jawaban Gunn, Tay pergi dari kamar. Gunn juga tidak berniat untuk menjawab karena masih kesal dengan kakaknya itu.
Setengah jam setelah kepergian Tay, seorang dokter dan pengawal masuk ke dalam kamar Gunn.
"Selamat siang Tuan, hari ini anda sudah boleh pulang. Saya diutus oleh boss untuk menjemput anda dan mengantar pulang. Karena saat ini boss sedang ada urusan"
Raut wajah kesal yang tadi tercetak jelas diwajah Gunn kini tergantikan oleh senyum yang sangat lebar.
"Yess.. akhirnya aku bisa pulang" Gunn merasa senang karena akhirnya dia bisa pulang kerumah. Kakaknya memang selalu bisa diandalkan. Tanpa pikir panjang Gunn menyuruh pengawal itu untuk membereskan semua barang-barangnya agar tidak tertinggal. Dokter juga sudah pergi sejak tadi meninggalkan Gunn dan pengawal yang sedang beberes itu.
"Apakah phi Tay sangat sibuk?" Tanya Gunn saat sudah masuk kedalam mobil dan duduk dikursi belakang.
"Ya boss sangat sibuk. Dia sedang membatai orang-orang saat ini"
Gunn menatap pengawal itu dengan bingung, apa maksudnya membantai orang? Belum sempat Gunn bertanya, seseorang masuk kedalam mobil dan duduk tepat disamping Gunn membuat Gunn semakin heran, namun dengan sekejap mata orang yang duduk disampingnya itu menyuntikkan sesuatu dilehernya hingga Gunn kehilangan kesadarannya.
***
"Suster.. pasien dikamar ini kemana ya?" Tanya dokter yang baru saja tiba dikamar pasien.
"Eh dokter New, pasien itu sudah pulang"
New mengernyitkan dahinya, merasa tidak percaya dengan yang suster itu katakan. Tanpa pikir panjang New menelepon seseorang untuk memastikan.
"Halo prof, apa benar Gunn sudah boleh pulang?" Tanya New langsung saat telepon sudah terhubung.
"Apa maksudmu New? Aku belum memutuskan untuk memulangkannya. Bahkan masih ada beberapa tes lagi yang harus dijalanin"
New terdiam mendengar perkataan profesor dan menatap suster yang merawat Gunn, suster itu menunduk tidak berani melihat wajah New.
"Tapi prof, suster In bilang jika Gunn sudah pulang"
"Tidak mungkin. Aku akan kesana"
Tuutt.. tuut...
Sambungan telepon pun terputus. New masih menatap suster In untuk meminta penjelasan.
"Maaf dokter New, aku sebenarnya tidak yakin. Tapi tadi ada seorang dokter dari rumah sakit Grammyna dia mengatakan jika dokter New sudah memperbolehkan pasien untuk pulang. Dia bahkan membawa surat yang ditanda tangani langsung oleh profesor"
New memijat pelipisnya pening. Karena New tidak pernah menyuruh dokter lain, bahkan New tidak pernah memberitahu siapapun di rumah sakit Grammyna tentang keadaan Gunn. Bagaimana jika Gunn dalam bahaya? New merasa sangat bersalah.
Drap.. drap.. drap..
"Apa yang terjadi dengan adikku dokter? Dia kemana?"
Tay sangat panik saat suster menelponnya dan mengatakan jika Gunn menghilang, padahal Tay hanya meninggalkan Gunn sebentar. Setibanya didalam kamar Gunn pun tidak ada tanda-tanda keberadaannya, bahkan semua barangnya juga tidak ada. Hanya ada dokter profesor dan seorang suster yang biasa menangani Gunn.
"Maaf tuan, ini kesalahan saya. Saya fikir pasien sudah boleh pulang jadi saya memperbolehkan pengawal anda membawanya" tubuh suster In bergetar hebat saat melihat raut wajah Tay yang sangat menakutkan, tapi benar ini memang kesalahannya wajar jika suster In merasa sangat takut.
Tay menghampiri suster In, mencekik lehernya mendorongnya hingga sang suster menghantam tembok "Apa maksudmu? Sejak kapan adikku boleh pulang dengan keadaannya yang seperti itu hah? Apa kamu mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padanya?"
"Akhh.. to..long.. lep..as...khann"
Profesor yang sejak tadi hanya diam kini berusaha untuk melepaskan tangan Tay dari leher suster In. Namun kekuatan Tay malah semakin membuat suster In hampir kehilangan kesadaarannya, bahkan profesor tidak mampu melepaskan tangan Tay.
"Apa yang terjadi?"
Suara yang sangat familiar ditelinga Tay membuatnya melepaskan cekikan dileher suster itu membuatnya terjatuh dan kehilangan kesadaran. Tay berbalik, ia terkejut saat melihat New berada dihadapannya.
"New"
"Apa yang kamu lakukan disini? Astaga, apa yang terjadi pada suster In prof?" New segera menghampiri profesor yang sedang memapah suster In untuk diperiksa. Profesor hanya diam menatap Tay membuat New ikut menatap Tay juga.
"Apa kamu yang melakukannya?"
Tay tidak menjawab. Dia masih terkejut karena bertemu dengan New disini.
New meraih kerah baju yang Tay gunakan, memaksa Tay untuk menatap New.
"Jawab aku jangan diam saja. Apa kamu yang membuat suster In seperti itu?"
Tay meneguk Salivanya kasar "Ya"
"Apa yang sebenarnya kamu lakukan? Kenapa kamu berada dikamar Gunn dan melakukan hal ini pada suster In?" Cecar New meminta penjelasan.
"Gunn.. adikku" jawab Tay kaku.
"Apa? Jadi.. kamu... kamu yang sudah membuat Oab terluka saat itu?"
Dengan mata berkaca-kaca dan tubuh gemetar New memukul Tay hingga hampir tersungkur, namun saat New akan memukulnya lagi Tay menangkap tangan New dan memeluknya.
"Tenanglah New.. aku tidak bermaksud membohongimu. Tapi saat ini aku harus mencari Gunn lebih dulu. Dia dalam bahaya"
"Temukan Gunn, dan kita akan bicara lagi nanti"
New menghempas tangan Tay dan pergi begitu saja meninggalkan Tay yang masih berdiri didalam kamar menatap kepergian New dengan nanar.