Tap.. tap.. tap..
Suara langkah kaki seorang pria menggema didalam gudang kosong yang saat ini terbengkalai. Pria itu membawa pisau ditangan kanannya. Darah yang menghiasi pisau dan disekujur tububnya membuatnya semakin semangat untuk menghabisi para musuh. Hingga saat ini pria itu sudah menghabisi puluhan musuh seorang diri. Namun musuh utamanya belum bisa dia dapatkan karena bawahan musuhnya sangat merepotkan, pria itu harus menghabisi semuanya membuat sang musuh mempunyai waktu untuk kabur. Pria itu duduk dibalok kayu yang ada dilantai melempar pisaunya kemudian mengambil ponsel yang ada disaku celananya untuk menghubungi seseorang.
Tuuttt... tuuuttt...
"Dia kabur boss, tapi barangnya sudah ada ditanganku" ucap pria itu saat sambungan telepon terhubung.
"Oke boss, siap meluncur" ucapnya lagi dan sambungan telpon terputus.
"Uhh bajuku jadi kotor. Sepertinya aku harus beli baju baru" pria itu pun pergi meninggalkan gudang kosong yang saat ini berisi puluhan mayat dengan bersenandung gembira sesekali menginjak mayat musuh yang tergeletak tanpa memedulikannya.
Saat sedang berjalan menuju mobil ponsel pria itu berbunyi tanda panggilan masuk. Tanpa melihat id pemanggil pria itu langsung mengangkatnya.
"Ada apa?" Tanya nya to the point.
"Terus ikuti mereka, jangan sampai kehilangan jejak. Jangan lupa untuk mengambil foto sebanyak-banyaknya" ucap pria itu dengan seringaian menakutkan.
"Tunggu dulu, aku punya ide yang lebih baik. Cepat kamu sewa jalang wanita untuk menggoda kekasihnya. Sepertinya akan menarik. Aku akan segera kesana" dengan senyum misterius pria itu memutusnya sambungan ponselnya dan berjalan menuju mobilnya.
Sebuah taman di pusat kota adalah tempat yang dituju. Suasana yang sangat ramai membuatnya kesulitan mencari orang yang sedang menunggunya. Pria itu menghubungi seseorang untuk menghampirinya diparkiran. Setelah beberapa saat orang itu datang membawa kamera di tangannya. Pria itu tersenyum senang dengan apa yang dia lihat, sepertinya rencananya akan berhasil. Dia pun mengirim foto-foto yang sudah dia pilih kepada bos nya. Bos nya langsung memberikan perintah untuk membawa orang yang ada didalam foto itu kehadapannya. Pria itu pun menunggu didekat mobil targetnya. Dari jauh pria itu bisa melihat targetnya berjalan semakin dekat membuatnya tersenyum sinis. Hingga pria itu memberikan kode kepada seseorang dibelakang targetnya untuk menyuntikkan obat bius. Target langsung terjatuh dan tidak sadarkan diri. Kemudian pria itu membawa target untuk menghadap bos nya.
*
Tiba dirumah bos dan juga merupakan rumah pria tersebut, dia langsung membawa targetnya menuju ruangan yang sudah disiapkan. Ruangan yang selalu digunakan jika bos nya ingin menyiksa atau membunuh musuhnya.
"Kerja bagus Off, istirahatlah. Aku yang akan menyelesaikannya" kata bos pria itu yang tidak lain adalah Tay.
Pria yang dipanggil Off itu pun tertawa dan meninggalkan Tay yang kini sudah memasukin ruangan penyiksaan. Mengabaikan jeritan kesakitan didalam sana. Off saat ini sedang duduk diteras rumah memainkan game diponselnya. Tidak lama kemudian orang yang ditunggunya datang.
"Phi Off apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya seseorang yang kini duduk disamping Off.
"Aww.. Gunn, baru pulang?" Tanya Off mengabaikan pertanyaan Gun.
"Tentu saja. Ah apa phi Tay sudah pulang?"
"Ya, dia sedang bersenang-senang dengan kekasihmu" ucapan Off membuat Gunn langsung berlari menuju ruangan tempat Tay menyiksa kekasihnya itu meninggalkan Off yang tersenyum senang.
"Waktunya makan malam bossssss" teriak Off dari depan pintu kamar Tay . Setelah berteriak Off pergi untuk menuju kamar Gunn. Namun saat Off ingin memanggil Gunn untuk makan malam Off melihat adegan yang membuat hatinya panas. Bukan ini yang Off harapkan, kenapa mereka malah semakin dekat? Harusnya Gunn sudah memutuskan pria itu seperti pria-pria sebelumnya. Tanpa melakukan niat awal memanggil Gunn untuk makan malam Off langsung pergi dan menuju ruang makan. Karena saat Off sedang kesal dia butuh makan yang banyak.
Off merupakan tangan kanan sekaligus sahabat yang sangat Tay percaya. Karena sejak Tay mengenal Off, Off tidak pernah sekalipun berkhianat padanya. Malah Off selalu membereskan kekacauan yang dulu selalu Tay buat. Hingga kini Off selalu membereskan musuh-musuh Tay atau bahkan orang-orang yang berkhianat pada Tay. Hanya saja Off yang gila dan brutal saat membunuh itu membuatnya selalu diincar polisi, namun berkat kekuatan Tay para polisi itu tidak berani untuk menangkapnya, ya karena Tay juga bekerja sama dengan beberapa polisi untuk melancarkan pekerjaan kotornya.
Namun ada satu rahasia yang tidak pernah Off beri tahu kepada siapapun, Off sangat menyukai Gunn. Sejak pertama kali Off mengenal Gunn, tingkah lucunya, keras kepala, dan manja Gunn itu selalu sukses membuat Off semakin jatuh cinta. Itu sebabnya Off selalu melakukan berbagai cara untuk membuat Gunn putus dengan kekasihnya agar Off bisa memiliki kesempatan. Hanya saja Gunn tidak pernah mempedulikannya, Gunn hanya mengganggap Off sebagai seorang kakak.
**
'ada masalah saat pengiriman barang di pelabuhan. Cepat bereskan'
Sebuah pesan perintah dari Tay membuat Off langsung bergegas untuk pergi ke tempat tujuan. Tanpa membalas pesan, Off melempar ponselnya ke sembarang arah dan langsung ganti baju, tidak lupa membawa pisau karena Off sangat suka jika mencabik-cabik musuhnya menggunakan pisau.
Setibanya ditempat tujuan, Off sudah disambut oleh salah satu bawahannya yang sebelumnya sudah melapor tentang kejadian ini. Lalu orang itu membawa Off kesalah satu ruangan yang berisi beberapa anak buah lainnya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Off saat melihat didalam ruangan itu hampir semua bawahannya babak belur, dan ada juga yang hampir sekarat.
"Geng Black Hole menyerang kami, dan mereka membawa barang yang akan dikirim ke China malam ini" ucap salah satu orang yang terluka.
"Hah.. mereka berulah lagi"
"Kalau begitu kalian pergilah ke rumah sakit, aku yang akan mengejar mereka. Dan kamu ikut aku" ucap Off menunjuk salah satu orang yang tidak terluka kemudian pergi dari ruangan itu. Off sudah tau dimana markas Black Hole berada, jadi Off langsung menuju kesana.
"Tikus kecil... dimana kalian?" Suara Off menggelegar didalam rumah bertingkat dua yang sangat sepi, sebelum masuk tadi Off sudah dihadang oleh beberapa orang yang mencoba untuk membunuhnya tapi mereka semua sudah tewas mengenaskan. Kini Off bebas masuk tanpa harus berhadapan dengan orang-orang merepotkan itu lagi. Namun suasana di dalam rumah ini sangat sepi. Seperti tidak ada penghuninya. Tapi Off yakin mereka semua hanya bersembunyi untuk memancing Off agar masuk ke perangkap mereka.
Dorrr..
Suara tembakan terdengar ke arahnya, untung saja Off cepat menghindar jadi tidak terkena peluru.
"Kenapa kalian menggunakan pistol? Apa kalian tidak tahu jika peluru mengenai tubuh kalian itu akan sangat menyakitkan?" Tanya Off pada ruang kosong tempatnya berada sekarang. Tidak ada tanda-tanda keberadaan seseorang disana.
"Baiklah kalau kalian ingin main-main, tapi aku akan serius sekarang" ucap Off dengan seringaian yang sangat mengerikan. Tiba-tiba lampu didalam rumah itu mati. Suasana menjadi sangat gelap, tapi dalam kegelapan itu Off mampu merasakan keberadaan seseorang. Karena Off lebih peka terhadap gelap daripada terang itu sebabnya Off lebih suka bekerja saat malam hari.
Off berjalan perlahan mendekati musuh yang bersembunyi dibalik tembok, tanpa aba-aba Off langsung menikam musuh yang dia temui. Satu persatu musuh pun tewas tanpa sempat melakukan perlawanan. Saat dirasa semua musuh sudah dihabisi Off menelpon seseorang dan kemudian lampu kembali menyala. Off mendekati mayat-mayat yang tergeletak dan memeriksanya.
"Ah sayang sekali, harusnya aku menikamnya lebih ke atas pasti ginjal nya bisa diselamatkan. Yang ini juga, haruskah ku ambil hatinya? Tapi apa hati seperti ini ada yang berminat?" Ucap Off bermonolog. Setelah selesai memeriksa mayat-mayat itu Off berkeliling rumah untuk mencari barang dagangan yang sempat diambil oleh geng Black Hole.
***
Tok.. tok.. tok..
"Bos, apa didalam?" Tanya Off dari balik pintu.
"Masuklah" perintah Tay dari dalam kamar. Kemudian Off masuk dan berdiri didepan Tay.
"Semuanya sudah beres bos. Para pemberontak yang membawa kabur barang dagangan sudah tewas. Dan barang-barang nya sudah ku kirimkan pada pembeli"
"Bagus, kamu boleh pergi. Ah satu lagi jangan sampai polisi menggagalkan kegiatan kita nanti malam"
"Siap boss"
Saat Off baru saja keluar dari kamar Tay, tanpa sengaja menabrak seseorang yang akan memasuki kamar Tay.
"Gunn, apa yang kamu lakukan?" Tanya Off pada Gunn yang menabraknya tadi.
"Maaf phi Off, apa phi Tay sudah bangun?" Tanya Gunn.
"Boss baru saja tidur. Lebih baik temui nanti siang" kata Off membuat Gunn cemberut sedih.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Off dan menggiring Gunn menuruni tangga untuk mengantar ke kamar Gunn.
"Bisakah Phi Off membantu ku membawa Oab kerumah sakit? Aku sudah mengobati lukanya tapi itu tidak cukup dan lukanya semakin parah. peralatan ku tidak mencukupi. Ayoo phi Off bantu aku" ujar Gun dan menarik Off untuk memasuki kamarnya, tempat Oab berada sekarang.
"Iya aku akan membantu, jangan menarikku heyyy jangan menarikku seperti ini" teriakan Off menggema didalam kamar Gunn karena Gunn menyeret kerah baju Off membuat Off harus menahan rasa sakit dilehernya. Kegaduhan itu membuat Oab yang sedang tertidur di ranjang Gunn terbangun, Gun melepas kerah baju Off dan langsung menghampiri Oab. Off yang masih menahan sakit dilehernya hanya terdiam melihat Gunn yang sangat mempedulikan kekasihnya itu. Melihat Gunn kesulitan untuk membangunkan Oab, Off pun membantunya dan membawa Oab ke mobil untuk dibawa kerumah sakit.
Setibanya dirumah sakit, Gunn langsung berlari menuju UGD meninggalkan Off yang masih didalam mobil dengan Oab. Off langsung membawa Oab yang digendong dipunggungnya lalu membaringkan Oab di ranjang yang sudah disiapkan. Melihat Gunn yang dibantu beberapa suster untuk memeriksa keadaan Oab membuat hati Off panas. Off berdiri agak jauh.
Off tidak tega jika melihat Gunn bersedih seperti itu. Tapi Off juga tidak mau jika Gunn berhubungan dengan pria lain selain dirinya. Off melihat Gunn sedang duduk di samping Oab. Off pun menghampiri Gunn untuk menanyakan keadaannya.
"Gun.."
Gunn terdiam mengabaikan Off. apa mungkin suaranya terlalu kecil sehingga Gunn tidak mendengarnya? batin Off.
"Gunn aku..."
"Aku tahu phi Off yang bilang ke phi Tay tentang Oab hingga membuat Oab seperti ini. Aku tidak akan bertanya alasannya, aku hanya ingin phi Off tidak melakukan hal seperti ini lagi" ucap Gunn memotong kalimat yang akan keluar dari mulut Off.
"Tapi..."
"Pergilah phi, aku tidak ingin mendengar apa-apa lagi" ucap Gunn tanpa melihat ke arah Off. Off mereka kecewa dengam dirinya sendiri, ternyata Gunn tahu atas perbuatannya dan membuat Gunn bersedih karena kesalahannya. Off pun pergi meninggalkan Gunn, dan memutuskan untuk kembali kerumah.
***
Pukul 7 malam Tay bersama dengan Off sedang mengarahkan beberapa bawahannya agar acara pelelangan yang Tay buat nanti akan berjalan dengan lancar. Acara pelelangan tersebut merupakan acara tahunan yang selalu Tay adakan untuk menjual berbagai barang dagangannya, seperti b***k, organ tubuh, hewan langka, n*****a, senjata dan masih banyak lagi. Hanya saja, tahun lalu acara itu gagal karena ada salah satu musuh Tay yang melakukan p*********n dan membuat semua budaknya kabur dan Tay tidak ingin hal itu terjadi lagi. Beberapa anak buah Tay sudah pergi untuk menyiapkan semua keperluan acara.
Pukul 9 malam Tay sudah rapi mengenakan setelan jas berwarna navy dengan celana yang senada, kemeja berwarna putih tanpa dasi dan sepatu hitam membuatnya terlihat sangat tampan. Kemudian Tay berangkat ke tempat acara bersama dengan Off dan beberapa pengawal lainnya.
"Apa semua tamu sudah datang?" Tanya Tay pada Off saat mobil mereka sudah mendekati tempat tujuan. Salah satu gedung milik Tay di pinggiran kota yang baru Tay beli beberapa hari yang lalu hanya untuk acara ini.
"Yaa semua sudah datang boss, tapi sepertinya ada beberapa wajah baru" ucap Off sambil mengulurkan tablet milik nya pada Tay untuk menunjukkan foto-foto tamu yang sudah datang.
"Dia.. datang dengan siapa?"
"Datang bersama tuan Leo boss, sepertinya dia memaksa tuan Leo agar bisa ikut" ucap Off namun tidak ada balasan dari Tay. Tay masih memandangi foto yang ada ditablet itu.
Setibanya ditempat tujuan, Tay langsung disambut oleh rekan-rekan bisnisnya, namun Tay hanya menjawab sekedarnya saja karena Tay tidak terlalu suka banyak bicara. Tay memandang sekeliling untuk sekedar memantau jalannya acara ini. Kemudian Tay berjalan menuju salah satu meja judi yang tersedia bersama pengawalnya, karena sejak masuk tadi Off sudah pergi entah kemana.
"Tuan Sun, apakah anda ingin bermain?" Tanya salah satu orang yang berada dimeja judi. Sun adalah nama samaran Tay di bisnis gelapnya. Tay hanya memandang sekilas, tanpa menjawab Tay pergi dari meja judi kemudian berjalan ke arah tempat pameran b***k.
"Apa hanya ini?" Tanya Tay pada pengawalnya.
"Ya boss, yang lainnya sudah terjual" kata pengawalnya itu. Setelah melihat-lihat b***k, Tay berjalan ke arah tempat organ manusia, disana sangat ramai membuat Tay penasaran. Namun seseorang menghadang Tay, membuatnya berhenti.
"Apa kamu masih mengingatku?" Tanya seorang wanita yang sangat cantik yang kini berdiri didepan Tay.
"Tidak" ucap Tay singkat dan pergi meninggalkan wanita itu. Namun wanita itu mengejar Tay dan berjalan disampingnya.
"Jahat sekali. Padahal aku sudah susah payah agar bisa datang kesini. Tapi kamu pura-pura tidak mengenalku" kalimat wanita itu membuat Tay berhenti, lalu mengambil pistol disaku jas nya dan mengarahkan kepada wanita itu membuatnya terkejut.
"Saat itu aku meninggalkanmu agar kamu tidak muncul lagi dihadapanku. Tapi melihatmu disini, sepertinya kamu sudah tidak sayang nyawamu lagi Namtan" ucap Tay pada wanita cantik bernama Namtan itu.
"Aku memang tidak sayang nyawaku, tapi aku masih sayang padamu. Bisakah kita seperti dulu?" Namtan mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Tay namun langsung ditepis oleh Tay membuatnya tersenyum miris.
"Berhenti, atau aku akan menembakmu" Tay menodongkan pistolnya ke kepala Namtan membuat orang-orang yang melihatnya terkejut dengan sikap berani Namtan yang membuat Tay marah.
"Heyy tenang dulu boss. Jangan kasar pada wanita" seorang pria datang menengahi Tay yang masih mengarahkan pistolnya pada Namtan, pria itu pun meraih tangan Tay yang memegang pistol agar memasukkannya kembali ke dalam jasnya.
"Apa kamu yang membawanya Leo?" Tanya Tay pada Leo dengan tatapan yang mematikan. Mengabaikan Namtan yang masih berdiri dibelakang Leo.
"Aku hanya mengajak adikku bersenang-senang, apa aku salah?"
Drapp. Drapp.. Drapp..
Belum sempat Tay menjawab Off datang tiba-tiba dengan nafas yang tidak beraturan dan keringat yang bercucuran.
"Hoshhh.. hosshhh.. hossshhh.. boss kita harus lari, polisi datang" ucapan Off membuat para tamu heboh dan berlari keluar gedung agar tidak ditangkap oleh polisi.
"BRENGSEK.. bagiamana mereka bisa datang? Apa polisi itu tidak bisa mengurus anak buahnya dengan benar?" Kesal Tay dan menendang kursi-kursi yang ada dekatnya. padahal Tay sudah mewanti-wanti agar acaranya tidak gagal. namun sayangnya harapannya itu tidak berjalan dengan lancar.
"Kapten Arm tidak bisa menjangkau daerah ini boss, ini bukan kekuasaannya. Kita harus segera pergi sebelum mereka sampai"
Belum sempat Off dan Tay keluar dari gedung, para polisi sudah memblok pintu keluar. Membuat Tay dan Off pergi lewat pintu tersembunyi yang mengarah langsung ke hutan dibelakang gedung itu. Off berlari terlebih dahulu untuk melihat situasi apakah dipintu belakang ada polisi atau tidak. Tay yang berada dibelakang pun mengejar Off, tapi saat hampir sampai di pintu belakang seorang polisi menembak pundak Tay membuatnya tersungkur. Off yang melihatnya berusaha membantu Tay dan berlari ke arah hutan. Beberapa polisi berhasil mengejar mereka, hingga adu tembak terjadi. Hujan yang sangat deras itu tidak mampu membuat mereka berhenti saling kejar, hingga Off menyuruh Tay berlari terlebih dahulu agar Off bisa membereskan polisi yang mengejarnya. Berlari ditengah hutan dengan hujan yang deras dan pundak yang bersarang peluru itu membuat Tay kewalahan, tidak sanggup berlari lagi. Namun Tay melihat jalan raya membuatnya memaksakan diri untuk terus berlari menyusuri jalanan tersebut. Saat Tay berlari sesekali melihat kebelakang tanpa sadar sebuah mobil berbelok ke arahnya dan menabraknya. Tay yang sudah kehabisan tenaga itu jatuh dan tidak sadarkan diri, dengan darah yang membasahi tubuhnya walaupun terhapus air hujan.