episode 2

2355 Words
Di pagi yang cerah, seorang pria mengenakan jas putih berjalan menyusuri rumah sakit yang ramai. Pria itu selalu tersenyum ramah menyambut para pasien yang ditemuinya. Terkadang dia terlihat beberapa kali bercanda dengan pasien yang sedang mengeluh karena tidak kunjung sembuh. Pria itu memasuki ruang rawat seorang pasien yang masih sangat kecil. Gadis kecil itu menderita patah tulang di kakinya karena terjatuh dari tangga, tapi gadis kecil itu tidak pernah menangis dia selalu tersenyum saat pria yang merupakan seorang dokter itu memeriksa keadaannya. "Dokter, kapan aku bisa pulang? Aku ingin bermain bersama temanku lagi" kata gadis kecil itu setiap kali dokter mengunjunginya. "Sebentar lagi kamu akan pulang, tunggulah beberapa hari dan kamu bisa bermain bersama teman-teman mu lagi. Saat sembuh nanti kamu harus berhati-hati agar tidak jatuh lagi oke" kata dokter berwajah tampan yang bernama New itu menyodorkan jari kelingkingnya dan disambut dengan semangat oleh gadis kecil itu. New merupakan salah satu dokter yang sangat ramah, selalu disukai oleh pasiennya karena bisa membuat pasiennya merasa nyaman saat berbicara dengannya. Sejak kecil New sudah bertekad untuk menjadi seorang dokter yang baik karena berharap bisa menyembuhkan ayahnya yang saat itu sedang sakit. bolak balik kerumah sakit pun tidak mampu menyembuhkan sang ayah. hal itu membuat New berjuang mati-matian agar bisa berkuliah di universitas kedokteran. Namun siapa sangka saat New baru saja masuk di universitas kedokteran, ayahnya meninggal dunia. Meninggalkan New dan ibunya membuat New tidak memiliki semangat untuk melanjutkan study nya. Namun dua sahabat New yang tidak pernah lelah memberi New semangat mampu membuat New memiliki semangat lagi dan akhirnya menyelesaikan study nya bersama kedua sahabatnya. Bahkan mereka kini bekerja di rumah sakit yang sama. Saat New sedang berjalan untuk menuju ruangannya, seorang dokter wanita menghampirinya dan menarik tangan New menuju ruang UGD. "Kenapa kamu menarikku Jane? Ada apa?" Tanya New pada wanita yang bernama Jane salah satu sahabatnya yang kini terlihat sangat gelisah. "Tadi aku mendengar dari suster jika Oab terluka dan berada di UGD sekarang. Ayo cepat kita kesana" "Sabar Jane, jalanlah pelan-pelan. Nanti kamu jatuh" ucapan New diabaikan oleh Jane, Jane masih saja berjalan cepat dengan menarik tangan New. Dan setibanya diruang UGD Jane membuat kegaduhan untuk mencari Oab, New yang melihat sahabatnya seperti sedang kesurupan itu langsung menarik Jane agar tidak membuat ulah. Dan berjalan menuju ranjang tempat Oab berada. New tahu jika itu ranjang Oab karena melihat Gunn yang merupakan kekasih Oab sedang duduk disampingnya. "Ohh my baby, kenapa kamu bisa terluka seperti ini? apa yang terjadi padamu?" Kata Jane yang langsung menghampiri Oab kemudian memeluknya mengabaikan Gunn yang sedang duduk disamping ranjang. "Berhenti Jane, kamu bisa membuat luka Oab terbuka lagi" ucap New yang dihiraukan oleh Jane. "Apa yang terjadi pada Oab?" Tanya New pada Gunn. Mengabaikan Jane yang masih memeluk Oab walaupun Oab belum sadar. "Maafkan aku New, ini semua salahku. Aku yang membuatnya terluka seperti ini" ucap Gunn tanpa melihat ke arah New karena merasa bersalah. "Jangan menyalahkan dirimu Gunn, yang sudah terjadi biarlah terjadi. aku yakin jika Oab juga tidak akan menyalahkan mu. kalau begitu aku dan Jane pergi dulu karena banyak pasien yang harus kami tangani. Karena kamu sedang libur, kamu temani saja Oab sampai dia sadar lalu hubungi aku. Ayo Jane" ucap New kemudian menarik Jane untuk pergi. Tapi New aku masih ingin disini sampai Oab sadar" rengek Jane saat New menarik Jane untuk pergi. "Diamlah Jane, Gunn yang akan menemaninya karena dia sedang bebas tugas. Dan kamu masih banyak pasien yang harus ditangani" "Gunn, jaga Oab untukku jika sudah sadar cepat hubungi kami okeyy" ucap Jane sebelum dibawa pergi oleh New. walaupun Jane tahu Gunn merupakan kekasih sahabatnya tapi Jane tetap saja melakukan hal itu untuk menggoda Gunn. "Apa Oab akan baik-baik saja?" Tanya Jane pada New saat mereka meninggalkan UGD dan menuju ruangan mereka masing-masing. "Tentu saja, dia orang yang kuat. Dan ada Gumn yang akan selalu menjaganya. Jadi dia pasti akan baik-baik saja" ucap New dan dibalas dengan anggukan oleh Jane. "Sepertinya rumor saat di universitas benar" kalimat Jane membuat New memasang wajah bingung. New tidak mengerti dengan maksud Jane. Membuat Jane menjelaskan maksud kalimatnya. "Waktu itu aku pernah mendengar dari salah satu teman mantan kekasih Gunn, dia berbeda jurusan dengan kita tapi aku mengenalnya dari temanku. pria itu putus dengan Gunn karena pernah hampir ditembak oleh kakak Gunn dan membuatnya trauma. semenjak itu dia keluar dari universitas dan tidak berani menemui Gun lagi" ucap Jane menjelaskan membuat mata New terbelalak kaget. "Sejak kapan Gunn punya kakak? Setahu ku dia anak tunggal direktur" "Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi melihat keadaan Oab yang seperti itu membuatku yakin jika dia disiksa oleh kakak Gunn" "Aku harap aku tidak pernah bertemu dengan kakaknya. Melihat keadaan Oab yang seperti itu saja sudah membuatku merinding" ucap Jane lagi sebelum akhirnya mereka berpisah setibanya didepan ruangan New. ** 'Oab sudah sadar' Sebuah pesan singkat dari Gunn membuat New yang sedang menulis laporan menghentikan kegiatannya. Dia langsung menuju UGD untuk melihat keadaan sahabatnya itu. Setibanya di UGD disana sudah ada Jane, namun New tidak melihat Gunn. New menghampiri Jane yang duduk disebelah Oab. "Bagaimana keadaanmu?" Tanya New yang saat ini memeriksa kondisi Oab. "Aku baik-baik saja, tadi Jane sudah memeriksa ku" kata Oab membuat Jane mendengus kesal. "Bagaimana bisa baik-baik saja dengan tubuh penuh luka seperti ini" kesal Jane dan menepuk tangan Oab yang diperban. "Sudahlah Jane, kamu bisa membuatnya terluka lagi" hardik New membuat Jane cemberut kesal dan Oab tertawa puas. "Jadi dimana Gunn? Kenapa aku tidak melihatnya?" Tanya Oab membuat New dan Jane bingung. Padahal Gunn yang mengirim pesan kepada mereka jika Oab sudah sadar tapi kenapa malah tidak ada disini? "Aku tidak tahu. Aku fikir dia ada disini karena dia mengirim pesan padaku jika kamu sudah sadar" kata Jane yang disambut anggukan oleh New. "Saat aku sadar hanya ada suster Lim yang memeriksa keadaan ku. Kemudian kalian datang, aku sama sekali tidak melihatnya" "Tenanglah, mungkin dia sedang ke kantin untuk makan. Tapi bisakah kamu cerita pada kami kenapa kamu bisa seperti ini?" Tanya New , membuat Oab terdiam, sedangkan Tay dan Jane menunggu penjelasan Oab. ~Flashback~ "Setelah ini kita mau kemana?" Tanya Oab pada Gunn yang saat ini sedang duduk didepannya menikmati cake di kafe favoritnya. "Aku ingin ke taman. Cuaca hari ini sangat bagus, dan aku ingin berkencan dengan mu lebih lama" jawab Gunn sambil memasukkan cake kemulutnya membuat Oab terkikik geli melihat tingkah Gunn. "Kenapa kamu tertawa? Apa ada yang lucu?" Tanya Gunn keheranan melihat Oab tertawa. "Aku seperti sedang berkencan dengan anak kecil, kenapa kamu makan seperti ini? Lihat bibirmu penuh dengan cokelat" Oab mengulurkan telunjuknya untuk menghapus sisa cokelat dibibir Gunn lalu mengarahkan telunjuknya pada mulutnya dan menjilati sisa cokelat itu. "Manis" ucapnya. Membuat Gunn tersipu malu. Tidak berani melihat kearah Oab. "Hey kenapa mukamu merah seperti ini? Apa kamu sakit?" Tanya Oab saat melihat wajah dan telinga Gunn memerah. Gunn cemberut kesal. "Aku tidak sakit, tapi aku malu bodoh" ucapnya membuat Oab tertawa terbahak-bahak. Membuat pengunjung didalam kafe memperhatikan mereka. "Kenapa kamu ketawa? Kita jadi pusat perhatian" ucap Gunn yang semakin malu dilihat oleh seisi kafe karena Oab yang tertawa sangat kencang. "Maaf, tapi kamu lucu sekali" Oab mencubit pipi Gunn dengan Gemas. "Aku mau pulang, aku lelah" Gunn bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Oab yang tersenyum. Saat hampir tiba didepan pintu Gunn berbalik melihat Oab yang masih duduk dikursi sambil tersenyum kearahnya. Gunn melangkahkan kakinya kembali ke arah Oab dan menarik paksa Oab agar mengikutinya keluar. "Bukankah kita mau ke taman?" Tanya Oab saat Gunn membuka pintu mobil disamping pengemudi. "Tentu saja kita ketaman dulu, baru kita pulang" ucapnya membuat Oab geleng-geleng kepala. Oab tidak habis pikir akan jatuh cinta pada seorang pria yang kekanakan seperti ini. Tapi itulah yang membuat Oab semakin cinta pada Gunn, karena sifatnya yang selalu ekspresif. Dengan mengendarai mobil akhirnya Gunn dan Oab tiba di taman. Suasana ditaman sangat ramai karena hari ini merupakan hari libur jadi banyak keluarga yang mengajak anak-anaknya bermain. Gunn dan Oab pun berkeliling taman untuk mencari kursi yang kosong agar mereka bisa duduk. Setelah beberapa saat akhirnya mereka memutuskan untuk duduk disalah satu kursi yang kosong didekat sungai. Namun bukannya duduk, Gunn hanya berdiri didepan Oab yang sudah duduk. "Kenapa berdiri saja? Duduklah disampingku" ucap Oab meraih tangan Gunn agar duduk disampingnya. Gunn menggelengkan kepalanya dan tersenyum menatap Oab. "Aku ingin melihat wajahmu seperti ini. kamu terlihat tampan" Gunn menyentuh wajah Oab mengusapnya perlahan. Lalu Oab menarik pinggang Gunn agar duduk dipangkuannya, tubuh mereka saling bersentuhan. Gunn mengalungkan tangannya pada leher Oab. Wajah mereka semakin dekat tanpa disadari satu sama lain bibir mereka sudah menempel. Hanya beberapa saat tapi mampu membuat jantung keduanya berdetak sangat cepat. Setelah ciuman mereka terlepas, mereka tersenyum bahagia dan saling berpelukan. Membuat siapa saja yang melihatnya gemas dengan tingkah mereka. "Tunggu lah disini, aku ingin mengambil sesuatu di mobil" Oab memindahkan Gunn untuk duduk dikursi kemudian Oab bangun dan pergi menuju mobil meninggalkan Gunn sendirian yang tersenyum sangat manis. Saat Oab sedang menuju mobil, ada seorang wanita yang menghadangnya. Oab tidak mengenalnya dan berusaha mengabaikannya, tapi wanita itu malah mengikuti Oab hingga sampai di mobil. "Apa yang kamu inginkan?" Tanya Oab pada wanita itu karena merasa risih diikuti terus. "Aku menyukaimu. Maukah kamu menjadi pacarku?" Kata wanita itu blak-blakan. Membuat Oab kaget dan berusaha menghindari wanita itu. Tapi wanita itu malah semakin mendekati Oab bahkan menempelkan payudaranya pada Oab. Oab yang sebenarnya tidak tega menyakiti wanita itu menjadi kesal dan mendorongnya hingga wanita itu terjatuh. Namun wanita itu tidak menyerah dan malah mencium bibir Oab, Oab semakin memberontak dan akhirnya Oab lari untuk menjauhi wanita itu dan syukurlah wanita itu tidak mengikutinya. Saat Oab tiba dikursi tempatnya meninggalkan Gunn tadi, Gunn sudah tidak ada. Oab berusaha untuk menelepon Gunn tapi tidak ada jawaban, bahkan Oab mencari sekeliling taman namun tidak ada juga. Akhirnya Oab memutuskan untuk kembali ke mobil mungkin saja Gunn sudah ada disana. Bukan Gunn yang didapat malah seseorang yang tidak Oab kenal sedang berdiri didepan mobilnya. Orang itu tersenyum sinis pada Oab dan saat Oab akan menghampirinya dia merasakan sesuatu menancap di lehernya. Tanpa di duga Oab pun pingsan. Saat Oab sadar dia sudah berada didalam ruangan yang sangat gelap, Oab merasakan hawa dingin menembus kulitnya. Ketika Oab ingin bangun tubuhnya tidak bisa digerakkan. Dia merasa sangat lemas dan sakit disekujur tubuhnya. Oab merasakan ada sesuatu yang mendekati nya, Oab tidak tahu apa itu karena sangat gelap. Namun tiba-tiba lampu diruangan itu menyala membuat Oab pusing dan mengedipkan matanya berkali-kali agar fokus. Saat sudah fokus Oab melihat seorang pria berdiri didepannya sedang memegang cambuk. Tidak tahu untuk apa cambuk itu tapi Oab merasa ngeri karena tatapan pria itu sangat menakutkan. "Kamu kah pacar adikku?" Tanya pria itu yang tidak lain adalah Tay kakak Gunn. "Siapa kamu?" Tanya Oab tanpa menjawab pertanyaan Tay. Ctaarr.. "Aarggghhh" teriakan Oab menggema diseluruh ruangan saat Tay mencambuknya. "Aku bertanya padamu. Apa kamu pacar Gunn?" Tanya Tay lagi. Mengabaikan teriakan kesakitan dari Oab. "Ya, aku pacarnya. Memang kenapa?" Ucap Oab menahan rasa sakit ditubuhnya. Srakk.. Tay melempar beberapa foto ke arah Oab membuat Oab terkejut, difoto tersebut terpampang jelas saat Oab sedang dicium oleh seorang wanita, dan saat wanita itu menempelkan payudaranya dilengan Oab. Ada juga beberapa foto saat Oab sedang berciuman dengan Gunn di taman, dan saat Oab dan Gunn sedang berada di kafe. Yang paling membuat Oab terkejut adalah foto Gunn saat melihat Oab sedang berciuman dengan wanita itu. Gunn terlihat sedih dan menahan air matanya agar tidak keluar. Oab merasa sangat bersalah karena membuat Gunn sedih, bukan maksud Oab melakukan itu. Hanya saja wanita itu yang memaksa Oab. "Kamu lihat. Karena kelakuanmu itu adikku menjadi sedih. Kamu memang tidak pantas untuk hidup" Tay kembali mencambuki Oab tanpa mendengarkan alasannya. Tay geram melihat adiknya sedih karena seorang pria seperti Oab. Oab yang sudah tidak memiliki tenaga hanya bisa memohon ampun agar Tay berhenti mencambuknya. Kemudian Oab pun tidak sadarkan diri. Saat bangun Oab sudah berada didalam kamar dengan Gunn yang sedang mengobatinya. ~Flashbak off~ "Jadi begitulah ceritanya" kata Oab mengakhiri cerita. raut wajah New dan Jane terlihat kesal. kesal dengan kesalahpahaman mereka dan kesal dengan tingkah kakak Gunn yang tidak mau mendengar penjelasan Oab. "Bagaimana bisa dia melakukan hal seperti ini padamu tanpa mendengarkan penjelasan darimu. Kejam sekali" ucap Jane yang pertama berkomentar. "Mungkin dia punya alasan tersendiri. Dia melakukan hal itu karena sangat menyayangi adiknya" kata New realistis mengabaikan pelototan Jane. "Kenapa kamu malah membelanya?" Tanya Jane memicingkan matanya kearah New. "Aku tidak membelanya, aku hanya bilang mungkin dia punya alasan. Bukan berarti aku membelanya" kata New membela diri. "Sudah-sudah kenapa kalian malah ribut. Kalian pergilah aku ngantuk" ucap Oab mengusir Jane dan New. New pergi meninggalkan Jane yang masih setia duduk disamping Oab. ** "Apa kamu langsung pulang?" Tanya New pada Jane saat jam kerja mereka telah selesai New masuk keruangan Jane. "Tentu saja, aku akan pulang untuk mandi dan ganti baju, lalu aku akan kesini lagi untuk menemani Oab" kata Jane yang sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. "Bukankah sudah ada Gunn yang menemani?" Tanya New lagi memperhatikan Jane yang menggerutu. "Tadi Gunn mengirimku pesan jika dia tidak bisa menemani Oab, jadinya dia menyuruhku untuk menemaninya" "Yasudah kalau begitu, aku pulang dulu. Sampai jumpa" Setelah kepergian Jane, New membereskan barangnya untuk dibawa pulang. New sangat lelah karena seharian ini banyak pasien yang harus ditangani. Dia ingin segera pulang untuk membersihkan badannya yang sangat lengket. New melangkahkan kaki menuju parkiran mobil, saat sudah masuk didalam mobil tiba-tiba hujan turun sangat deras. Mengabaikan hujan yang sangat deras New tetap melajukan mobilnya untuk segera sampai rumah. Sudah pukul 10 malam tapi jalanan kota Bangkok masih sangat ramai. New berusaha mencari jalan alternatif untuk menghindari kemacetan agar bisa sampai rumah dengam cepat, jalan alternatif yang dilalui New sangat sepi karena berbatasan langsung dengan hutan membuatnya mempercepat laju mobilnya. Hingga tanpa sadar ketika akan berbelok New menabrak sesuatu, New pun turun untuk melihat apa yang dia tabrak. New terkejut saat dia melihat yang ditabraknya adalah seseorang. Lebih tepatnya seorang pria. Pria itu tidak sadarkan diri dan bajunya berlumuran darah walaupun terhapus air hujan. New yang panik mengabaikan hujan yang semakin deras langsung membawa pria itu ke dalam mobilnya. Karena rumah New lebih dekat, New memutuskan untuk membawa kerumahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD