episode 19

1728 Words
"Boss gawat.. gudang penyimpanan yang ada di Korea digeledah polisi dan mereka menyita semua barang nya. Apa yang harus kita lakukan boss karena banyak pelanggan yang komplain barangnya belum dikirim juga" Tay yang sedang membaca laporan itu dibuat terkejut karena Off yang tiba-tiba datang membawa kabar buruk. "Sial. Kenapa mereka tidak bisa membereskan hal sekecil itu?" Kesal Tay menggebrak meja. "Kalau begitu biar aku saja yang kesana. Boss tetap disini" usul Off. Namun Tay menggeleng. "Tidak, aku harus melihatnya secara langsung. Pesankan tiket pesawat untuk hari ini. Kita harus berangkat secepatnya" Setelah mendapat perintah dari Tay, Off langsung bergegas keluar untuk memesan tiket pesawat dan menyiapkan hal lainnya selama berada di Korea. Gudang di Korea merupakan salah satu tempat penyimpanan barang-barang milik Tay, tentu saja barang ilegal. Semua barang ilegal yang Tay terima nantinya akan dikirim ke Korea, dan dari Korea baru dikirim ke para pelanggan. Kenapa Tay memilih Korea? Karena negara itu merupakan tempat yang menurutnya sangat aman. Namun Tay tidak menyangka jika hal ini akan terjadi meskipun gudang itu dijaga dengan sangat ketat. Tay mendapat pesan dari Off jika mereka akan berangkat nanti malam. Namun Tay lupa jika mereka pergi bagaimana dengan New dan Gunn? Tay pun mencoba untuk menelpon New berkali-kali tapi tetap tidak ada tanggapan, akhirnya Tay mengirim pesan kepadanya untuk menanyakan apakah New ingin ikut dengannya pergi ke korea apa tidak. *** Ruang UGD penuh dengan para korban tabrakan beruntun hingga suasana pun menjadi sangat ramai dengan teriakan kesakitan, teriakan keluarga korban yang meminta pertolongan, membuat dokter dan suster kewalahan. Tidak terkecuali New. New memeriksa keadaan pasien yang satu dan pasien yang lain, karena kurangnya dokter membuatnya harus kerja ekstra memperhatikan para pasien. New tidak ingin ada pasien yang tidak mendapatkan pengobatan dengan tepat. Sehingga setelah New selesai mengobati pasien dia akan berkeliling mencari pasien yang belum ditangani. Bahkan jam makan siang pun sudah terlewat, namun New masih belum beristirahat. Hingga akhirnya jam sudah menunjukkan pukul 4 sore saat semua pasien berhasil ditangani. Ada beberapa yang sudah diperbolehkan pulang dan ada juga beberapa yang masih harus dirawat di RS. Dengan langkah gontai New berjalan keruangannya. Tubuhnya sangat kelelahan karena belum makan siang dan kurangnya minum. Saat tiba di ruangannya Jane sudah duduk di kursi dengan membawa sekantong makanan dan memberikan nya pada New. "Terima kasih Jane, kamu sangat mengerti aku" ucap New disela sela makannya. "Aku tadi sempat lewat UGD dan melihat banyak sekali pasien, aku yakin kamu melewatkan makan siang lagi. Jadi aku menyuruh Oab untuk membelikan makan siang untukmu" Uhuk.. uhukk.. "Makanlah perlahan jangan buru-buru" Jane memberikan sebotol minuman pada New, New pun menerimanya dengan senang hati. "Maaf, aku sangat lapar" ujarnya dengan senyuman menggelikan. Kring.. Kring.. Kring.. Suara ponsel New berbunyi. "Halo?" "Maaf Tay aku belum melihat ponselku sejak tadi. Ada apa?" "benarkah? Tapi aku harus bekerja. Aku tidak bisa ikut" "Kamu berangkat jam berapa?" "Baiklah akan aku usahakan kesana. Aku sedang makan nanti ku telepon lagi" "Sampai jumpa" Sambungan telepon pun terputus. "Apa dia kekasihmu?" Tanya Jane menggoda. Membuat New tersipu malu. "He.em dia akan berangkat ke Korea nanti malam. Dia mengajakku tapi aku tidak bisa karena masih banyak pasien yang harus ku tangani" ucap New menjelaskan. "Kenapa kamu tidak ikut saja? Biar pasienmu aku yang urus" tawar Jane. Namun New menolak. "Tidak Jane, perutmu semakin membesar, aku tidak ingin merepotkan mu. Nanti Oab bisa membunuhku" "Hahaha kamu benar juga. Tapi aku penasaran dengan kekasihmu itu. Kenapa kamu tidak memperkenalkan pada kami?" "Belum saatnya. Mungkin nanti" ucap New dengan senyum canggung. Bagaimana jika Jane tahu kalau kekasihnya adalah orang yang sama dengan orang yang membuat Oab babak belur beberapa waktu yang lalu? Itu sebabnya New belum bisa memperkenalkan Tay pada sahabatnya. "Kalau begitu aku pergi dulu" Jane pun meninggalkan New yang kembali menghabiskan makanannya. *** Gunn sedang duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton TV dan memakan camilan. Karena bosan Gunn mengganti Chanel hingga akhirnya menemukan kartun yang sangat dia sukai, sesekali Gunn tertawa melihat tingkah konyol seekor kucing yang mengejar seekor tikus. Beberapa saat kemudian Off lewat dengan tergesa-gesa menuju luar rumah. Entah apa yang dilakukan Off, Gunn juga tidak tahu. Sampai akhirnya Off kembali lagi kedalam rumah dan kini menghampirinya. "Gunn.. apa kamu mau ikut denganku?" Tanya Off yang kini berdiri didepan Gunn. Menghalanginya yang sedang menonton kartun. "Ikut kemana? Aku sedang menonton, phi Off menghalangiku" "Nanti malam aku dan kakakmu akan pergi ke Korea apa kamu mau ikut denganku?" tanya Off lagi yang kini duduk di samping Gunn. "Ke Korea? Untuk apa?" Tanya Gunn tanpa minat. Bahkan Gun tidak menoleh ke arah Off. Gunn Masih asyik memasukkan makanannya ke dalam mulut sambil menonton kartun. "Ada urusan pekerjaan yang harus dilakukan. Sepertinya akan lama" "Apa dokter New juga ikut?" "Aku tidak yakin. Tapi sepertinya tidak" "Kalau begitu aku tidak ikut, aku akan menemaninya disini" Mendengar ucapan Gunn membuat Off sedikit kecewa. Walaupun dia pergi ke Korea untuk melakukan pekerjaan tapi Off juga ingin bersama dengan Gunn. Tapi sepertinya Gunn tidak bisa menangkap rasa kecewa itu. melihat Off yang diam saja Gunn mulai memperhatikan Off dan menyentuh pundak Off membuatnya menatap Gunn. "Phi Off dan Phi Tay pergi untuk pekerjaan, aku tidak ingin mengganggu kalian. Tapi setelah kalian kembali ayo kita pergi berdua saja" "Benarkah? Kamu serius?" "Tentu saja" Off tersenyum senang mendengar ucapan Gunn, dengan bersemangat Off memeluk Gunn. Namun beberapa saat kemudian Off tersadar dan melepaskan pelukannya, Gunn menertawakan tingkah konyol Off membuatnya tersenyum kikuk. "Kalau begitu aku akan siap-siap untuk berangkat nanti. Apa kamu mau ikut ke bandara?" "Tentu, aku akan mengantar kalian ke bandara" *** "apa semuanya sudah siap?" Tanya Tay pada Off saat mereka akan masuk mobil untuk berangkat ke bandara. "Sudah boss, aku juga sudah menghubungi pihak yang ada di Korea untuk segala keperluan disana" jawab Off dengan menenteng 2 koper besar, membuat Tay mengerutkan keningnya heran. "Untuk apa kamu membawa barang sebanyak itu?" Tanya Tay lagi sambil menunjuk koper koper milik Off yang kini sudah dimasuki ke dalam mobil. "Ahh itu, kurasa kita akan lama disana. Jadi aku harus membawa persediaan yang banyak" ucap Off dengan senyuman bodohnya, membuat Tay ingin sekali meninggalkan Off dirumah. Tapi tentu saja Tay tidak bisa melakukan itu, karena Off lah yang lebih tahu seluk beluk gudang yang ada di Korea. "Tunggu dulu, aku ikut" Gunn datang dengan berlari kecil menghampiri Tay dan Off yang baru saja akan masuk ke dalam mobil. "Kamu mau ikut ke Korea?" Tanya Tay yang disambut gelengan oleh Gunn. "Tidak phi Tay, aku hanya ingin ikut ke bandara" "Ohh, masuklah" Mereka pun masuk ke dalam mobil yang sama, Off duduk di samping sopir, Gunn dan Tay duduk dibelakang. Beberapa mobil mengikuti mereka dibelakang untuk menjaga perjalanan Tay dan Off. Dan beberapa pengawal juga akan ikut ke Korea. "Phi Tay tidak mengajak New?" Tanya Gunn memecah keheningan. "Aku mengajaknya tapi dia tidak mau" "Mungkin dia tidak mau mengganggu pekerjaan phi disana. Sama sepertiku" "Ya mungkin. Jaga dirimu baik-baik selama kami tidak ada. Dan aku harap kamu tidak pergi kemana-mana. Tetaplah dirumah. Mengerti?" "Iyaa aku mengerti, aku bukan anak kecil phi Tay. Dan berhenti mengacak rambutku, aku susah payah merapikannya" Gunn cemberut dan memukul-mukul pundak Tay dengan kesal membuat Tay dan Off tertawa melihat tingkah lucu Gunn. Mereka pun tiba di bandara, dan menunggu diruang tunggu keberangkatan. Karena Tay masih menunggu New, tadi New mengirim pesan jika dia sedang dalam perjalanan menuju bandara. "New.. disini" teriak Gunn saat melihat New yang menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari mereka. New pun menghampiri mereka. "Maaf aku terlambat" ucap New sedikit menyesal, namun Tay menepuk kepalanya perlahan. "Kamu tidak terlambat, masih ada beberapa waktu lagi sebelum keberangkatan" "Syukurlah kalau begitu" New menghela nafas lega. "Jaga dirimu baik-baik oke. Aku akan menambah pengawal untukmu, dan jika kamu ingin pergi kemanapun kamu harus memberi kabar padaku. Mengerti?" Titah Tay hanya disambut gerutuan New tanpa menjawab nya. "Dan juga jangan macam-macam dengan wanita atau pun pria lain selama aku tidak ada, karena aku memiliki mata-mata yang akan memantau mu selama 24 jam" Dengan kesal New mendorong Tay menjauh "Iya iya aku mengerti. Lebih baik sekarang kamu pergi, aku muak mendengar ocehanmu" Namun Tay malah semakin mendekati New hingga tubuh mereka tak berjarak. Tanpa malu Tay memeluk New dan hampir menciumnya didepan banyak orang, membuat New menginjak kaki Tay. "Kamu gila, jangan lakukan hal itu ditempat ramai seperti ini" "Apa kamu malu?" "Tentu saja aku malu, aku bukan orang tak tahu malu seperti mu" "Baiklah aku tidak akan melakukannya. Tapi janji satu hal padaku" "Apa?" "Setelah aku kembali nanti kita harus melakukannya" "Melakukan apa?" Tay tidak menjawab, dengan senyuman licik Tay memandangi tubuh New dari atas hingga bawah dan pandangan nya berakhir di antara paha New. Saat New melihat arah pandang Tay, New kembali ingin menginjak kakinya namun Tay berhasil menghindar. "Jika kamu tidak mau aku akan menciummu disini" ancam Tay, membuat New tidak bisa berkutik. Dan akhirnya membuat New menyerah. "Oke, jika kamu kembali dengan selamat aku akan melakukannya untukmu" "Sungguh?" "Heemmm" "tentu saja aku akan kembali dengan utuh" Dengan semangat Tay memeluk tubuh New, walaupun New memberontak tetap saja kekuatannya tidak bisa membuat Tay melepaskan pelukannya, dan akhirnya New membalas pelukan Tay. "Hati-hati Tay. Aku akan selalu menunggumu" "Terima kasih" ucap Tay tulus membuat New lengah, dan akhirnya Tay berhasil mencuri sebuah ciuman dibibir New. Tay pun berlari menghindari New yang kini mengejarnya. Membuat semua orang melihat ke arah mereka. Disisi lain Gunn dan Off hanya bisa tertawa melihat kekakuan mereka, bahkan kelakuan mereka tidak jauh berbeda dibandingkan Gunn dan Off sama-sama seperti anak kecil. "Gunn aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik yaa. Apa kamu ingin ku bawakan sesuatu dari sana?" Tawar Off. "Tenang saja phi Off aku akan baik-baik saja selama kalian tidak ada. Bawakan aku oleh-oleh yang banyak dari sana oke" "Okee, kalau begitu aku pergi dulu. Selamat tinggal" Off pun menjauh dari Gunn untuk menyusul Tay. Namun Gunn menghentikan Off dengan menggenggam tangannya. "Ada apa?" Tanya Off. Gunn tidak menjawab dan malah mencium pipi Off hingga membuatnya merona. Tubuh Off menjadi kaku tanpa bisa melakukan apapun. Off sangat terkejut karena Gunn menciumnya, walaupun hanya di pipi tapi tetap saja Off mendapatkan ciuman dari Gunn untuk pertama kalinya. "Selamat jalan phi Off, aku akan menunggumu sampai kamu kembali" Off bahkan tidak sadar saat Gunn sudah pergi menjauh, dengan masih setengah sadar Off memegang pipinya yang tadi dicium Gunn. Saat sudah tersadar Off berjingkrak senang dan berlari menyusul Tay dengan senyuman bahagia yang tercetak di bibirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD