Saat New sedang membereskan barangnya untuk dibawa pulang, seorang suster datang memberitahu New jika direktur rumah sakit memanggilnya. New berfikir apa dia melakukan suatu kesalahan hingga seorang direktur memanggilnya? Atau karena dia sudah beberapa hari absen tanpa kabar? Entahlah New tidak tahu. Yang dia tahu dia harus bergegas untuk menghadap direktur. Setibanya didepan ruangan direktur, New mengetuk pintu hingga beberapa saat kemudian seseorang mempersilahkan masuk.
"Dokter New silahkan masuk, direktur sudah menunggu" ucap seorang wanita yang baru saja keluar dari ruangan direktur. New pun masuk dan didalam sudah ada direktur bersama dengan seorang wanita paruh baya yang New tahu jika wanita itu merupakan istri sang direktur dan juga ibu Gunn. walaupun New hanya melihatnya beberapa kali.
"Kau sudah datang rupanya. Silahkan duduk dokter New" suara khas direktur mempersilahkan New duduk didepan istri sang direktur yang sudah tiba lebih dulu.
"Ada apa direktur memanggil saya?" Tanya New dengan sopan. Walaupun New sudah mengenal direktur sejak masih di universitas karena dulu Gunn sering mengundang New kerumahnya. Namun New masih segan karena dia merupakan direktur rumah sakit.
"alasanku memanggilmu adalah apa kamu tahu keberadaan Gunn saat ini? Sudah beberapa hari ini dia tidak terlihat dirumah sakit. Bahkan kami tidak bisa menghubunginya"
Pertanyaan direktur membuat New terkejut. Bagaimana bisa orang tuanya tidak tahu keberadaan anaknya sendiri? Apa direktur tidak tahu yang sebenarnya terjadi pada Gunn? Tanpa pikir panjang New menjelaskan apa yang terjadi.
"Sebenarnya beberapa waktu lalu Gunn koma dan dirawat selama seminggu di rumah sakit harapan. Apa Tay tidak memberitahu anda?" Saat New menyebut nama Tay, raut wajah direktur berubah, bahkan istri direktur juga terlihat sangat marah. Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah mereka orang tua Tay juga? Tapi kenapa reaksi mereka seperti ini saat New menyebut namanya?
"Bagaimana bisa kau mengenal Tay? Dan dimana mereka saat ini?" Tanya direktur dengan suara dingin dan tatapan menusuk. Berbeda dengan sebelumnya. Kini direktur terlihat menjadi sangat menyeramkan. Membuat New hampir tidak bisa mengeluarkan suaranya.
Dengan gugup New berkata "saya.. Saya juga tidak terlalu mengenalnya. Saya hanya tau dia kakak Gunn. karena saat Gunn koma Tay selalu berada disampingnya. dua hari setelah Gunn sadar, Tay langsung membawanya pulang" ujar New. ia tidak mengungkapkan masalah penculikan itu karena New tidak ingin membuat direktur semakin cemas. apalagi saat New menyebut nama Tay membuat raut wajah kedua terlihat sangat marah, pasti ada sesuatu yang terjadi diantara mereka.
"apa kamu tahu dimana mereka tinggal sekarang?" tanya istri direktur yang berusaha bicara selembut mungkin, namun masih terlihat amarah diraut wajahnya.
"maaf aku juga tidak tahu" jawab New yang masih dengan kebohongan. New tidak ingin menempatkan Tay dalam kesulitan, walaupun New tidak tahu apa yang terjadi pada Tay dengan orang tuanya tapi New yakin jika Tay tidak mengungkapkan keadaannya saat ini karena suatu alasan.
tanpa mendapatkan reaksi apapun New memutuskan untuk pamit pulang. New bernafas lega setelah keluar dari ruangan direktur, kenapa mereka sangat aneh? Fikir New. Dia harus memberitahu semuanya pada Tay dan menanyakan alasannya. New harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Saat keluar dari rumah sakit pengawal yang ditugaskan untuk menjaganya sudah menunggu dengan pintu mobil yang sudah dibuka. Seketika New merasa sedikit tenang.
"Kita pulang sekarang" perintah New pada pengawalnya.
***
Saat Tay dan Off sedang berdiskusi tentang bisnis mereka yang semakin berkembang, New datang dengan membawa secangkir teh dan sepiring camilan. Karena merasa perbincangan mereka sudah selesai Off pamit untuk kembali ke kamarnya. Setelah kepergian Off, New duduk disamping Tay dan meletakkan teh dan camilan yang dia bawa ke atas meja dan menyuruh Tay untuk mencicipinya. Tay tersenyum senang karena tidak biasanya New membawa camilan untuknya, namun saat melihat raut wajah New yang terlihat gelisah Tay menjadi penasaran dengan apa yang terjadi padanya.
"Ada apa hemm? Kenapa kamu diam saja sejak tadi?"
New terlihat berfikir sejenak dan akhirnya bertanya "Apa kamu akan marah jika aku bertanya sesuatu padamu?"
"Tentu saja tidak. Kamu ingin bertanya apa?"
"Mungkin aku sedikit lancang tapi aku ingin tahu bagaimana hubungan mu dengan keluargamu? Maksudku dengan orang tuamu?" Tanya New sambil menatap Tay. Tubuh Tay sedikit menegang namun Tay bisa mengendalikan tubuhnya dan berusaha terlihat tenang.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Suara Tay lembut tapi tersirat kesedihan didalamnya.
"Tadi direktur memanggilku, saat aku menemuinya dia bersama ibumu dan menanyakan keadaan Gunn. Aku menceritakan jika beberapa hari yang lalu Gunn koma, tapi aku tidak menceritakan tentang penculikan itu. aku hanya mengatakan jika Gunn sudah pulang bersama mu. mereka bertanya tentang keberadaan mu"
"Apa kamu memberitahunya?"
"Tentu saja tidak. aku tahu pasti ada suatu alasan yang membuat mu bersembunyi dari mereka"
"Apa dia tahu jika kamu tinggal bersamaku?"
"Tidak, aku tidak memberitahunya. Sebenarnya apa yang terjadi katakan padaku? Kenapa kamu jadi seperti ini?" New terkejut karena tiba-tiba Tay mencengkram pundaknya, walaupun tidak terlalu sakit tapi dari reaksi Tay membuat New sedikit takut. Tay melepas cengkeraman nya dan memeluk New untuk meredakan emosinya. New hanya bisa menepuk pundak Tay dengan lembut tanpa bertanya apa-ap lagi.
Tay tahu jika suatu saat orang tua nya pasti akan menemukan keberadaannya. Namun kini Tay tidak bisa lari lagi, dia harus menghadapi mereka. Menghadapi orang yang sudah membuatnya seperti ini. Dulu memang Tay sangat takut, hingga membuatnya lari dari rumah dan meninggalkan Gunn. Namun kini Tay tidak takut lagi, walaupun ada rasa khawatir jika pada akhirnya mereka akan membuat seseorang yang sangat berharga bagi Tay terluka lagi.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya New setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Ya aku baik-baik saja"
CUP..
New mencium bibir Tay singkat, karena gugup New bangkit dari duduknya "Kalau begitu aku akan kekamar"
Namun Tay memegang tangan New membuatnya berhenti, setelah berhenti Tay memeluk pinggang New dengan erat dan menyandarkan kepalanya.
"Bagaimana bisa kamu menciumku dan pergi begitu saja hemm? Itu bahkan tidak cocok disebut ciuman"
"Lepaskan aku, aku ingin mandi dan beristirahat" New berusaha melepaskan pelukan Tay namun Tay malah memeluk New semakin erat dan membuatnya terduduk dipangkuan Tay.
"Apa yang kamu lakukan"
"Aku hanya ingin kamu menciumku dengan benar"
"Tidak. Tadi sudah cukup"
"Tapi tadi bukan ciuman, itu hanya sebuah kecupan. Jangan membuatku memaksamu New"
"Baiklah"
Dengan enggan New memegang kedua pipi Tay dan kembali menciumnya. Bukan ciuman singkat seperti sebelumnya, tapi ciuman basah yang semakin panas. Karena New memasukkan lidahnya dan bermain dengan lidah Tay.
Awalnya Tay hanya diam membiarkan New yang melakukannya, namun semakin lama Tay semakin bernafsu dan kini mendominasi ciumannya membuat New kewalahan. Bahkan kini tangan New memeluk leher Tay, Tay pun memeluk pinggang New semakin erat. Membuat tubuh keduanya saling bersentuhan. Saat dirasa New hampir kehabisan nafasnya Tay melepas ciumannya dan kini menciumi leher New membuatnya mengeluh nikmat. Tidak hanya menciuminya namun Tay juga menggigitnya hingga meninggalkan bekas kemerahan. Tangan Tay pun turun dari pinggang ke paha New dan akhirnya menyentuh penisnya. Saat Tay akan membuka celana New, New menghentikannya.
"Cukup sampai sini. Aku akan ke kamar"
"Tapi New..." belum sempat Tay menyelesaikan ucapannya, New sudah bangkit dan keluar dari ruang kerja Tay. Meninggalkan Tay yang masih penuh nafsu itu seorang diri.
***
Sudah pukul 1 malam Off baru saja kembali dari tugasnya, suasana rumah sudah sepi hanya ada beberapa pengawal yang berjaga didepan rumah. Sejak pulang dari mall kemarin malam Off belum bertemu dengan Gunn sama sekali. Sebenarnya Off penasaran kenapa Gunn berubah menjadi murung sejak malam itu namun Off belum menemukan kesempatan untuk bertanya. Karena pagi tadi Tay sudah memberikannya tugas yang harus diselesaikan dan baru kembali malam hari. Walaupun sebelumnya sempat pulang untuk melapor dan kembali pergi lagi.
Jika harus memilih antara sebelum dan sesudah Gunn hilang ingatan, Off lebih memilih sesudahnya. Kenapa? Karena Off seperti melihat Gunn yang pertama kali dia temui. Orang yang ceria dan aktif seperti anak kecil dan belum berkencan dengan siapapun. Itu sebabnya Off bersyukur sekali setelah tahu Gunn kehilangan ingatannya. Jadi Gunn tidak perlu mengingat orang-orang yang sudah menyakitinya dan memanfaatkannya hanya karena Gunn dari keluarga terpandang. Off sudah berjanji pada Tay akan menjaga Gunn dengan segenap jiwanya, bahkan jika dia harus mati pun Off rela.
Namun hingga saat ini belum ada kemajuan, Off belum bisa mendekati Gunn secara terang-terangan karena Off takut jika Gunn akan menolaknya dan menjadi membencinya. Off memang bodoh, dia belum pernah berkencan dengan siapapun dan hanya mengejar Gunn. Dulu Off dibohongi oleh Tay karena Tay bilang jika dia memiliki adik yang sangat cantik dan membuat Off berfikir jika adik Tay itu wanita. Tapi ketika Off melihat Gunn secara langsung saat pertama kalinya Off langsung jatuh cinta. Bahkan seorang wanita kalah cantik dari Gunn.
Hingga akhirnya saat masuk ke universitas, Gunn menjadi terkenal dan memiliki banyak kekasih membuat Off semakin takut mendekati Gunn. Tapi Off selalu menjaga Gunn dari jauh. Saat kekasih kekasih Gunn menyakitinya, Off selalu memberi pelajaran kepada mereka dan membuat mereka jera. Off sangat benci jika ada yang membuat Gunn menangis, kecuali kakaknya. tentu saja karena Tay tidak akan membuat Gunn menangis untuk menyakitinya, tapi membuat Gunn menangis karena merengek meminta sesuatu.
Saat Off berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman, Off dibuat terkejut karena seseorang tiba-tiba muncul dari balik tembok membawa segelas s**u.
"Astaga Gunn. Kamu membuatku kaget" ucap Off mengelus dadanya namun Gunn hanya tersenyum canggung bingung harus menjawab apa.
"Sedang apa kamu disini tengah malam begini?"
"Aku mengambil s**u. Aku tidak bisa tidur phi" ucap Gunn dengan raut wajah sedih. Off yang melihatnya pun dibuat penasaran dengan tingkah Gunn saat ini.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Off lagi dan kini membawa Gunn duduk disalah satu kursi yang ada didapur.
"Aku tidak tahu. Sejak malam kemarin aku merasa ada yang hilang dari diriku. Tapi aku tidak tahu itu apa"
"Jadi itu yang membuatmu murung sejak kemarin?"
"Iyaa. Dan pria yang kita temui di mall malam itu rasanya tidak asing. Aku seperti mengenalnya. Tapi aku tidak tahu kenal dimana. Aku bingung phi apa yang terjadi padaku?"
Off tidak tahu harus menjawab bagaimana. Off tidak ingin dia salah bicara dan membuat Gunn semakin terbebani. Yang bisa Off lakukan saat ini hanyalah menghiburnya dan menenangkannya.
"Nanti kita tanyakan pada kakak mu ya. Mungkin dia bisa menjelaskannya. Sekarang kamu tidurlah" Off bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kulkas untuk mengambil minum. Namun saat Off akan berjalan Gunn menggenggam tangannya.
"Bolehkah aku tidur dikamarmu phi Off?" Ucapan Gunn bagaikan petir disiang hari. Tubuh Off menjadi tegang.
"Apa aku tidak salah dengar? Gunn ingin tidur dikamarku? Bagaimana ini? Bagaimana jika aku kelewatan dan membuat kesalahan? Ahh masa bodo" gerutu Off dalam hati.
"Phi Off? Kenapa diam saja?" Tanya Gunn lagi dan mengguncang lengan Off membuatnya kembali tersadar.
"Ah itu.. emm.. baiklah. Ayo ke kamarku" setelah Off mengambil minum kini mereka pun menuju kamar Off.
Setibanya didalam kamar, Gunn dibuat takjub dengan kamar Off karena kamarnya sangat rapi, berbanding terbalik dengan penampilannya saat ini. Walaupun banyak benda-benda yang tidak Gunn mengerti kegunaannya, tapi Gunn sangat tertarik melihatnya.
"Phi Off ini apa?" Tanya Gunn sambil menunjuk sebuah kotak kayu berukuran sedang, saat Off akan melarangnya Gunn sudah lebih dulu membuka kotak tersebut.
"Astagaaaa" teriak Gunn sambil melihat kearah Off dan kotak kayu itu bergantian.
Sudah terlambat..
Sudah terlambat bagi Off untuk menghentikan Gunn, kini Gunn sudah melihat dengan jelas apa yang ada di kotak kayu itu. Off hanya berharap jika Gunn tidak menuduhnya macam-macam. Gunn mengambil salah satu benda yang ada didalam kotak itu, dan mengarahkannya pada Off.
"Ya ampun coba lihat ini, boneka ini imut sekali. Cocok sekali dengan mu. Hahahaha. Dan ini, apa ini surat cinta? Bolehkan aku membacanya?" Tanpa menunggu persetujuan dari Off, Gunn sudah membuka surat itu namun Off dengan cepat berlari dan merebut surat yang hampir saja Gunn baca.
"Sekarang sudah malam Gunn. Kamu harus istirahat. Jika kamu masih ingin tidur dikamarku maka tidurlah" ucapan Off membuat Gunn cemberut, walaupun Off menahan rasa malu karena rahasianya hampir terbongkar tapi Off masih mencoba untuk tidak marah pada Gunn. Off tidak ingin jika Gunn membaca surat itu dan mengetahui perasaan Off padanya. Ini bukan waktu yang tepat.
"Pelit sekali. Huh" dengan kesal Gunn berjalan menuju kasur dan tidur.
Off membereskan barang-barang yang tadi dibuka oleh Gunn dan meletakkannya kembali ke tempatnya lalu berjalan ke arah kasur yang kini sudah ditempati oleh Gunn. Off tidur disamping Gunn dengan tenang. Walaupun jantungnya berdebar tidak karuan tapi Off berusaha untuk menahan nafsunya. Saat dirasa Gunn sudah tidur terlelap Off menatap wajah Gunn dengan lembut dan mencium kening serta bibir Gunn singkat.
"Selamat malam nong Gunn"
***
Pagi harinya ruang makan kembali ramai dengan suara celotehan Gunn dan Off. Mereka selalu memperdebatkan makanan yang mereka makan. Tay dan New tidak merasa terganggu sama sekali. Mereka malah senang karena akhirnya Gunn kembali ceria.
"Phi Tay bolehkan aku ikut New kerumah sakit? Aku ingin bertemu Papa" sebuah pertanyaan dari Gunn membuat mereka berhenti makan dan suasana kembali hening.
New melirik Tay memberi kode agar Tay menjawab pertanyaan Gunn, namun suara Off membuat Tay dan New bernafas lega karena Off mampu mengalihkan perhatian Gunn dan melupakan keinginan Gunn untuk bertemu dengan Papanya. Karena Tay tidak ingin jika Gunn bertemu dengan Papanya dan membuat Gunn harus kembali tinggal dengan mereka. Memisahkan Gunn dan Tay seperti dulu. Dan juga Tay tidak ingin jika orang tua nya tahu apa yang terjadi pada Gunn yang sebenarnya.
Setelah selesai sarapan New segera berangkat bekerja, tidak lupa untuk pamit pada Tay dan membuat Tay memberikan ceramah yang membuatnya pusing.
"Iya iya aku tahu. Kamu membuatku sakit kepala" ucap New memegang kepalanya karena pening.
"Hey aku hanya memberi saran agar kamu tidak terluka. Dan ingat jangan menggoda suster yang ada disana. Kamu milikku mengerti?"
"Iya aku mengerti. Apa sudah selesai? Aku harus berangkat sekarang"
"Baiklah aku akan mengantarmu"
"Apa maksudmu? Aku akan berangkat dengan pengawal saja. Lebih baik kamu dirumah"
"Tidak, aku akan mengantar mu. Sekarang ayo berangkat"
Dengan pasrah New berjalan menuju mobil yang sudah ada didepannya. Tidak seperti biasanya kini Tay yang mengemudi mobilnya. Walaupun 1 mobil berisi beberapa pengawal mengikuti dibelakang untuk menjaga mereka New merasa takut. Yang membuat New takut adalah Tay mengemudikan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata bahkan dia menyalip semua mobil yang ada didepannya. New merasa jika dia sedang ada diarena balap mobil. Mobil pengawal yang ada dibelakangnya pun sudah tidak terlihat, sampai akhirnya beberapa menit kemudian mereka tiba dirumah sakit.
"Kau gila..." ucap New sambil memukuli tubuh Tay. Namun Tay hanya tertawa karena sudah berhasil melihat wajah New yang sangat ketakutan itu.
"Aku tidak akan naik mobil denganmu lagi b******k. Lepaskan aku, aku ingin keluar" Tay menarik tubuh New kedalam pelukannya namun New berontak dan memaksa Tay untuk melepaskannya.
"Diamlah. Aku ingin seperti beberapa saat. Aku hanya ingin kamu tahu jika kamu akan baik-baik saja selama ada disampingku" ucapan Tay membuat New berhenti berontak dan membalas pelukannya.
"Aku tahu aku akan baik-baik saja. Sekarang lepaskan aku, aku akan masuk oke"
"Hemm.. baiklah. Beri aku ciuman"
Cup.
Sebuah kecupan mendarat di pipi Tay, tanpa menunggu lama New langsung keluar meninggalkan Tay yang protes karena baginya itu bukan ciuman.
Dari jauh ada seseorang yang memotret mereka. Saat mobil Tay tiba hingga saat New mengecup Tay dan keluar dari mobilnya semuanya dipotret tanpa jeda sedikitpun.