Jakarta, 06.30 a.m
Suasana ruang makan keluarga Azekiel kini seperti biasa. Ada Melviano yang selalu sibuk makan sambil membaca berita online, dan Kaila sang mommy yang selalu sibuk mengomeli sang suami.
Lain hal dengan Shasa yang lebih memilih banyak diam karena merasa jika hidup yang dijalaninya saat ini sangatlah kejam juga sadis.
Entah kenapa sepupunya—Senja—bisa tega sekali menikah dengan Danis sang mantan kekasih. Apalagi dia tahu jika ia sangat mencintai Danis sejak lama. Dan, sekarang hanya menunggu hitungan bulan mereka akan menjadi pasangan resmi suami istri.
“Sha, kok enggak dimakan?” tegur Kaila saat mendapati sang putri yang sedang melamun saja sejak tadi. Kaila tahu betul jika sang putri tengah mengalami patah hati yang begitu parah. Namun, tidak mungkin ia mencegah pernikahan sang sepupu yang akan berlangsung kurang lebih sebulanan lagi itu.
Jujur saja Kaila tidak tega melihat sang putri kebanyakan murung dan diam seperti itu. Bahkan keluar kamar pun hanya untuk makan bersama dan selebihnya lebih memilih di dalam kamar.
“Daddy sudah telepon Uncle Damian. Anaknya setuju jika nanti Shasa magang di kantornya. Cuma kata Uncle Damian anaknya akan pindah ke Moskow. Otomatis nanti kamu ikut dia ke sana, Sha.”
Mendengar itu pun Shasa hanya diam dan mengangkat alisnya sebelah. Semoga saja dengan ia berlari jauh ke suatu negara kenangan manis bersama Danis bisa hilang dengan berjalannya waktu nanti.
“Iya, Dad.”
“Kamu gapapa, kan, kalau langsung terbang ke Moskow?”
“Hm.”
“Ya sudah nanti Daddy kasih tahu Uncle Damian untuk anaknya jemput kamu di bandara.”
Mendengar jika anaknya tidak jadi ke Los Angeles membuat Kaila semakin khawatir dan cemas. Kalau di Los Angeles setidaknya ia bisa tenang karena ada Aunty Kika yang akan ikut menjaga.
“Apa tidak di Los Angeles saja?” kini Kaila mulai mengutarakan pendapatnya.
“Tidak. Shasa lebih aman dijaga Darrel dibanding Aunty-nya.”
“Tapikan, kalau di Los Angeles banyak sanak family di sana.”
“Aku yakin Darrel akan bertanggung jawab dan lebih bisa diandalkan. Kau tahu sendiri kalau Kika sibuk bekerja di sana.”
“Iya juga sih.” Kaila pun tidak bisa menampik jika adik iparnya memang menjadi wanita sibuk di sana. Mikaila sibuk mengurus kantor di Los Angeles yang dulu sempat Melviano pegang dan sekarang posisi mereka saling bertukar. “Sha, apa kamu yakin? Misal enggak nyaman pergi ke sana kamu boleh tetap lanjut S2 di sini saja kok,” ujar Kaila, berharap.
Sebelum menjawab, Shasa mengembuskan napas panjang dan tersenyum tipis sambil menatap ke arah wajah Kaila. “Shasa yakin kok, Mom. Lagian dari kecil, kan, sudah tinggal di sini dan mungkin ini kesempatan Shasa untuk merantau.”
Kaila berdecih. “Iya sih, tapi sekalinya merantau langsung jauh begitu. Kalau Mommy kangen gimana?” tampak raut kesedihan di wajah Kaila yang tak bisa ditutupi. Gimanapun seorang ibu akan merasa berat juga sedih jauh dari seorang anak. Apalagi anak itu perempuan. Anak bontot pula. Jadi begini rasanya jauh dan akan ditinggal anak pergi jauh. Mendadak teringat Mama Rania yang mungkin berat dan sedih saat ia dibawa pergi Melviano.
“Kan, ada hape. Tinggal video call saja.” Kini Melviano langsung menyeletuk yang membuat Kaila melengos sebal.
Entah kenapa yang awalnya Melviano sangat begitu posesif kepada Shasa kini justru terbalik 100%. Dulu dia yang melarang Shasa pergi atau tinggal jauh dari jangkauannya, tapi sekarang dia juga yang mengirim dan mencarikan universitas untuk Shasa di negara Russia sana.
“Emang kau sudah mendaftarkan Shasa di universitas Russia sana?” tanya Kaila.
“Aku sudah serahkan ke Damian, dan dia sudah menyerahkan kepada Darrel. Kau tenang saja tidak usah khawatir.”
Mendengar itu justru membuat Kaila mendengkus sebal. “Dasar pria-pria menyebalkan.”
Mendengar kedua orangtuanya yang selalu berdebat dan habis itu romantisan lagi merupakan hal biasa bagi Shasa. Apalagi melihat sang daddy yang begitu mencintai sang mommy membuat dalam hatinya sangat iri.
Entah kenapa ia tidak bisa seperti mereka? Padahal Shasa sudah membayangkan akan menua bersama dengan Danis.
“Daddy berangkat dulu. Kalian berdua hati-hati di rumah.”
Shasa pun langsung cipika cipiki dengan daddy-nya. Dan, ia pun selalu tersenyum meski sedang galau juga merasa hampa saat ini. Rasanya ia sudah tak memiliki semangat hidup lagi.
Tak lama Kaila yang habis mengantar sang suami sampai depan pintu pun kini sudah kembali ke ruang makan. Ia kini memilih duduk tepat di samping Shasa.
Telapak tangannya mengusap bahu sang anak dengan sangat lembut dan tak lama suara isakan pun keluar dari bibir ranum Shasa.
“Sakit banget, Mom.” Tangisnya kini tambah terdengar menyayat hati Kaila. Bahkan ia belum pernah melihat sang anak sampai sesedih ini. Kaila tahu ini sangat menyakitkan di hati sang anak dan juga begitu berat berada di posisinya. “Shasa enggak kuat kalau harus melihat Kak Senja dan Danis duduk di pelaminan."
Tetesan air matanya pun kini sudah mengalir deras. Rasanya ia tak sanggup membendung lagi karena ini sangat sakit sekali.
“Kamu penginnya gimana? Mommy harus apa supaya kamu enggak sedih dan murung lagi, Sha?”
Shasa yang masih menangis pilu pun menoleh ke arah Kaila dengan wajah yang banjir air mata. Ia sepertinya tidak akan mampu dan sanggup jika harus menghadiri pesta pernikahan sang kakak sepupu sendiri. Padahal itu momen yang ditunggu-tunggu Shasa, tapi mengingat sang mempelai laki-laki itu mantan kekasih yang masih dicintainya membuat ia sangat tak sanggup.
“Shasa mau mempercepat pergi ke Moskow. Kalau dadakan nanti pasti nenek Rania akan melarangnya. Apalagi keluarga tidak ada yang tahu kalau Danis mantan Shasa. Yang tahu, kan, hanya Mommy sama Daddy dan Kak Mamat. Tapi, tampaknya Daddy masa bodoh jadi Shasa mau minta ajuin keberangkatan ke Moskow-nya.”
Sedih, pilu, kasihan semua itu yang Kaila rasakan saat ini. Bahkan meski ia tak mengalami apa yang Shasa alami pun ia paham rasanya gimana.
“Ya sudah nanti Mommy bicarakan sama Daddy lagi, ya.”
Shasa pun mengangguk dan akhirnya ia dipeluk Kaila erat. Kepala atasnya dicium Kaila sangat dalam dan tanpa sadar Kaila ikut menitikan air mata. Kenapa semua ini bisa terjadi dengan anaknya? Apa ini balasan yang Tuhan kasih karena suaminya dulu sering menyakiti hati perempuan? Jadi yang terkena imbas Shasa? Ya Tuhan … rasanya Kaila tak sanggup melihat sang putri tersakiti begini.
***
Los Angeles, 09.00 p.m waktu setempat.
Di sebuah kelab malam kini duduk seorang pria berusia paruh baya dengan pria muda yang sama-sama sedang menikmati minuman beralkohol di salah satu kelab ternama di kawasan pusat kota.
“Nanti Daddy titip anak teman Daddy di Moskow.”
Darrel langsung terkejut setelah daddy-nya mengatakan hal aneh kepadanya malam ini. Lagian tumben sekali daddy mengajak minum bersama dan ternyata dia mau ngomong itu.
“Dad, please … aku bukan penitipan anak.”
“Darrel … ayolah, Nak, aku tidak enak dengan Melvin jika menolaknya.”
“Kenapa mesti aku sih, Dad. Kan, ada Xander.”
“Kau gila, hah! Xander masih kuliah dan yang cocok menjaga anak dari sahabat Daddy itu kau Darrel. Sudah tidak usah menolak. Kau lakukan saja apa yang Daddy perintahkan.”
“Oh no ….” Pria berusia 24 tahun itu pun langsung menjambak rambutnya frustasi ketika harus menjaga seorang perempuan.
Pasalnya Darrel paling malas jika harus berurusan dengan makhluk berjenis perempuan itu. Kalau hanya untuk senang-senang saja, sih, tidak masalah karena habis dipakai juga langsung pergi dan tidak akan merecoki hidupnya.
“Daddy tidak mau tahu pokoknya nanti kalau kau sudah sampai Moskow akan Daddy kasih kabar jika harus menjemput anak sahabat Daddy itu. Tidak ada bantahan atau alasan apapun.”
Merasa percuma dan tidak bisa membantah pun membuat Darrel kesal dan pusing sendiri. Ia pun langsung menuangkan sampanye ke dalam gelas sloki miliknya yang sudah kosong.
Saat sudah terisi penuh, Darrel langsung menenggak hingga tandas tak tersisa dan kembali menuangkan lagi sampai Damian sang daddy menatapnya malas.
“Daddy padahal tidak pernah minta macam-macam kepadamu. Baru kali ini Daddy meminta sesuatu kepadamu, Darrel. Jadi, Daddy harap kau tidak akan mengecewakan.”
Darrel tak menjawab justru terus menuangkan sampanye-nya terus menerus ke dalam gelas sloki miliknya. Habis diminum tuang lagi hingga satu botol habis dan semua itu membuat Damian berdecih saja melihat kelakuan sang anak.
“Daddy pulang dulu.”
Darrel pun hanya mengangguk saja. Ia kembali melambaikan tangan ke arah bartender untuk memberikan satu botol sampanye lagi. Darrel ingin minum sampai mabuk malam ini.
Tak lama pelayan kelab datang membawakan minuman yang diinginkan oleh anak boss-nya. Darrel langsung menuangkan kembali ke dalam gelas sloki miliknya.
“Sepertinya sahabat Daddy sudah gila jika menitipkan anaknya kepadaku.” Darrel mulai merancau tidak jelas karena sudah mulai bereaksi minuman alkohol yang diminumnya itu. Apalagi Darrel sudah minum sangat begitu banyak hingga merasakan pusing, mual, dan kunang-kunang. “Kalau anaknya enak diajak kerjasama masih okelah, tapi kalau menyebalkan itu seperti neraka. Hahaha. Oh tentu aku akan menembaknya dengan pistol kesayanganku itu dan mengatakan kepada semua orang kalau anak itu mati terbunuh oleh musuh.”
Darrel terus merancau tak jelas. Dipikirannya saat ini bagaimana caranya membuat anak itu tidak betah hidup dengannya. Bila perlu baru sampai bandara dia meminta dan merengek untuk hengkang dan pulang ke negaranya.