Jakarta, 10.00 p.m.
Dua minggu kemudian.
Setelah Kaila mengatakan apa yang diminta oleh Shasa pun membuat Melviano langsung setuju dan tak pernah mikir panjang.
Dan semua jawaban itu membuat Kaila semakin bingung dan merasa aneh dengan sang suami.
“Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku, kan?”
“Menyembunyikan apa?”
“Mana aku tahu. Biasanya kau paling over protektif soal Shasa kenapa sekarang kau seperti gampang sekali melepaskan dia pergi dari kita?”
Melviano diam. Apalagi tatapan sang istri yang terus menelisik seperti itu membuatnya tak nyaman hingga terpaksa ia harus berkilah.
“Karena aku ingin mencari pendidikan S2 yang terbaik untuk Shasa.”
“Jangan bohong, Mel.”
“Serius.”
Merasa akan percuma membuat Kaila tak memperpanjang pembicaraan dan lebih memilih pergi meninggalkan Melviano yang sedang duduk di atas ranjang untuk ke kamar Shasa.
“Kau mau kemana?”
“Cari suami baru.”
“Kupatahkan leher suami barumu itu nanti.”
Kaila tak memedulikan ocehan Melviano. Ia terus berjalan menuju ke kamar sang putri. Apalagi besok Shasa akan terbang ke Moskow sendirian tanpa didampingi Kaila maupun Melviano.
Awalnya Kaila ngotot ingin ikut dan mengantar sang putri. Namun, Melviano justru melarang dengan seribu satu alasan tak masuk akalnya.
Tak ingin menambah beban untuk Shasa pun akhirnya Kaila menurut untuk tidak ikut karena sang putri pun menginginkan pergi sendirian.
Tepat di depan pintu kamar Shasa, Kaila langsung mengetuk pelan dan memanggil nama sang anak.
Tok. Tok. Tok.
“Sha.”
“Masuk Mom nggak dikunci kok.”
Ceklek.
Kaila masuk dan langsung melebarkan senyumnya. Shasa yang memang sedang duduk di atas ranjang pun langsung ingin turun namun dicegah oleh Kaila.
“Nggak usah turun. Mommy hanya ingin melihatmu malam ini. Apalagi besok kamu sudah berangkat.”
Shasa tersenyum kecut. Ia sengaja memajukan jadwal penerbangan karena seminggu lagi Danis akan menikah dan semua itu membuat Shasa tak sanggup.
Kaila kini duduk di depan Shasa dan menatap sedih. “Mommy hanya mau katakan ini kepadamu. Jaga diri baik-baik di sana, ya. Kalau merasa tak betah atau sakit jangan pernah sungkan kasih kabar agar nanti Mommy sama Daddy bisa datang ke sana.”
Shasa pun tersenyum dan memegang telapak tangan Kaila. “Mommy tenang aja. Shasa pasti baik-baik saja dan akan selalu sehat.”
“Kalau merasa kesusahan jangan sungkan minta tolong sama anaknya Uncle Damian. Mommy pernah ketemu Darrel waktu dia kecil setelah itu tidak pernah melihatnya karena jarang ke Los Angeles.”
Shasa pun hanya mengangguk-angguk kecil saja. Jadi anaknya Uncle Damian namanya Darrel. Okelah Shasa paham meski belum pernah ketemu sama sekali dan semoga pria itu bisa berbaik hati kepadanya.
***
Awalnya Shasa merasa takut untuk terbang sendirian saat ini. Namun mengingat rasa sakit hati yang dialami pun membuatnya langsung semangat begitu menggebu-gebu dan melenyapkan rasa takut itu.
Shasa bahkan bisa melihat benak khawatir di wajah kedua orangtuanya. Apalagi sang mommy yang terus menangis saat pisah di bandara Soekarno Hatta pagi tadi.
Dan saat ini Shasa telah sampai di negara Rusia tepatnya kota Moskow. Shasa pun melihat arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 21.10 malam. Ia sengaja mengambil penerbangan pagi karena ingin sampai di sini nanti ia bisa langsung istirahat tidur.
Apalagi hanya ada satu maskapai yang bisa penerbangan pagi saat itu. Shasa pun bersukur karena sang daddy selalu berusaha yang diinginkan olehnya. Bahkan, Shasa mendengar jika sang daddy sempat memarahi bawahannya saat tidak mendapatkan tiket dengan penerbangan pagi.
Entah gimana caranya tiba-tiba daddy mendapatkan tiket itu. Tentu saja Shasa senang meski harus transit dulu tadi di Doha. Dan, katanya memang tidak ada maskapai yang langsung dari Indonesia ke Russia. Semuanya akan transit.
Saat keluar pintu Shasa melihat sebuah papan nama yang bertuliskan namanya dan asal negara. Shasa cukup senang dan terkejut kala yang menjemput seorang pria yang masih muda dan bisa Shasa taksir seusia kakaknya.
“Jadi itu yang namanya Darrel.”
Shasa langsung berjalan ke arah pria yang sedang berdiri mengenakkan setelah jas dan celana bahan dengan warna senada itu.
Tak lupa Shasa berdeham saat sudah berdiri di depan pria itu. “Kau Darrel?” tanya Shasa pakai bahasa inggris.
Pria berkaca mata hitam itupun langsung mengangguk dan berbalik badan kemudian jalan begitu saja yang membuat Shasa melongo.
“Hah, ini koper segede gaban tidak dibawakan? Gila!” makinya kesal.
Melihat pria itu sudah berjalan sangat cepat pun membuat Shasa langsung ikut menyusul dengan sangat terburu-buru bahkan seperti lari kecil.
Entah kenapa Shasa merasa kesal di pertemuan pertama dengan pria bernama Darrel ini. Belum apa-apa sudah sangat menyebalkan begitu. Bahkan rasa empati kepada perempuan tidak ada sama sekali. Beda sama Danis. Tuhkan jadi ingat Danis lagi. lupakan Sha. Lupakan!
“Kau jalan lama sekali.” Darrel pun langsung masuk mobil setelah mengatakan itu. Shasa yang baru sampai di depan mobil pun hanya diam terbengong. Bahkan deru napasnya masih sangat tersengal.
“Sumpah ini orang nggak ada belas kasihan banget,” gerutu Shasa kesal.
Kaca jendela mobil di bagian penumpang pun turun ke bawah dan sebuah suara Darrel membuat Shasa tersadar.
“Kau ingin menginap di bandara, hah!”
Mendengar suara yang sangat ketus dan menyebalkan membuat Shasa ingin menendang mobil itu. Namun, niat buruknya langsung ia urungkan.
Shasa pun segera berjalan ke belakang untuk menaruh koper di bagasi. Bahkan saat menaruh koper Shasa tak henti-hentinya menggerutu karena anaknya Uncle Damian sangat menjengkelkan sekali.
Tin!
Mendengar klakson mobil yang dibunyikan pun membuat bibir Shasa mengerucut sebal. Memangnya dia tidak mikir apa kalau ia sangat capek habis melakukan perjalanan lama yang menghabiskan waktu 16 jam 25 menit ini. Apalagi harus transit dulu yang membuatnya malas.
Buru-buru Shasa langsung membuka pintu penumpang dan memakai sabuk pengaman. Wajahnya langsung ia tekuk karena melihat Darrel yang tak menunjukkan sikap bersahabat dengannya.
Sepanjang perjalanan pun hanya diisi keheningan saja. Baik Shasa dan Darrel sama-sama diam. Keduanya tidak ada yang membuka obrolan sama sekali.
Ckiiiiit.
“Sial!” umpat Darrel saat akan menabrak orang yang sedang menyebrang jalan tanpa melihat lampu lalu lintas. “Dasar bodoh sekali itu orang. Kenapa menyebrang tidak memencet lampu penyebrangan, sih.”
Mendengar Darrel yang menggerutu pun membuat Shasa berdecih dalam hati. Entah kenapa kesan pertama yang didapat Shasa saat ini adalah; Darrel pria emosian, pria menyebalkan, pria kasar karena memukul-mukul setir terus karena tidak sabaran, dan yang pasti Shasa malas berteman dan interaksi dengan dia.
Tak lama mereka sampai di sebuah apartemen di kawasan Moskow. Darrel segera memakirkan mobilnya dengan penuh rasa emosi yang memuncak. Belum apa-apa pikirannya sudah pusing duluan dengan perempuan yang duduk di sampingnya.
“Bagaimana caranya agar bisa menyingkirkan perempuan ini tanpa diketahui oleh Daddy?” batin Darrel, kesal.