Bab.4 Pria Perfeksionis

1307 Words
  Shasa langsung masuk ke kamar apartemen yang sudah Darrel sediakan. Pria itu sejak tadi tidak pernah mengajaknya berbicara sedikit pun melainkan hanya mendumel sendiri atas kekesalan yang entah ia sendiri tidak tahu apa penyebabnya.   Saat mulai ingin menidurkan diri, tiba-tiba Shasa langsung terlonjak kaget karena Darrel membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk ataupun mengucapkan kata permisi.   “Darrel,” gumam Shasa masih mencoba bersikap ramah tamah.   “Aku di sini hanya ingin mengingatkanmu jika hidup di luar tidak ada yang namanya asisten rumah tangga seperti kehidupanmu dulu. Jadi jika kau butuh dan ingin sesuatu lakukan sendiri, dan jangan pernah merepotkan orang lain.”   Ucapan Darrel benar-benar membuat relung hati Shasa merasa sakit. Pria itu bahkan bukan hanya ketus saja melainkan ucapannya sangat pedas.   “Iya, Darrel.”   “Satu lagi, aku tidak suka kotor! Jadi pastikan apartemen ini selalu bersih.”   Shasa langsung mengangguk paham, ia bahkan merasa canggung saat Darrel terus menatapnya dengan sangat intens seperti sedang menguliti tubuhnya.   Saat Darrel sudah berbalik badan tanpa menutup pintunya kembali. Shasa langsung berjalan cepat menuju ke arah pintu untuk menutup dan mengunci.   Saat sudah terkunci, Shasa langsung memilih kembali untuk istirahat karena ia merasakan sangat jetlag melakukan perjalanan sangat jauh seperti ini.   Bahkan Shasa sudah tidak memedulikan dirinya untuk bersih-bersih terlebih dulu. Perut yang merasa lapar pun ia abaikan saja karena tidur lebih penting.   ***   Di tempat lain Darrel sedang mengatur strategi agar perempuan bernama Clarisa Daviela Azekiel ini bisa cepat-cepat hengkang dari apartemennya. Apalagi Darrel sangat tidak menyukai sikap dan perilaku Shasa yang sangat lemah di matanya.   “s**t!” umpat Darrel kesal.   Merasa pusing dengan semua ini membuat Darrel segera pergi meninggalkan apartemennya dan pergi menuju ke rumah sang kakek. Darrel akan berdiskusi soal bisnis yang digeluti sang kakek itu. Meski hubungan kakek-nya dengan sang daddy sangat tidak harmonis, namun Darrel tidak pernah kehilangan sedikit pun kasih sayang dari mereka.   Selama perjalanan menuju ke rumah sang kakek, Darrel terus memikirkan Shasa secara tidak langsung. Ia benar-benar malas harus bersikap lembut dengan perempuan itu.   “Ck! Menyusahkan saja!” gerutu Darrel.   Terpaksa ia langsung memutar balik mobilnya, dan lebih memilih pergi ke salah satu restoran untuk membeli makanan.   Apalagi Darrel mengingat ancaman daddy-nya yang jika ketahuan ia menelantarkan Shasa pasti semua hal yang diinginkan akan selalu ditentang termasuk hidup di Moskow ini.   Darrel yang sudah bersusah payah membujuk sang daddy untuk mengizinkan hidup di Moskow bersama sang kakek harus banyak melewati tantangan dari Damian. Sukurnya Darrel berhasil melewati itu semua hingga ia bisa bebas hidup di Rusia ini.   Getaran ponselnya kini sangat mengganggu hingga membuat Darrel langsung berdecak sebal. Namun, saat melihat sang penelepon ia segera menggeser tombol berwarna hijau untuk menjawab panggilan tersebut.   “Halo, Mom.”   “Halo sayang, bagaimana kabarmu, Nak? Sudah lama tidak menghubungi Mommy.”   “Hehe, Darrel lagi sibuk, Mom.”   “Hem … sampai tidak ingat dengan Mommy-mu yang cantik ini, hm?”   Darrel hanya meringis saja saat sang mommy sudah merajuk seperti ini. Darrel sangat menghormati perempuan yang sudah merawatnya sejak bayi ini. Darrel bahkan sangat menyayangi perempuan ini melebihi nyawanya sendiri.   “Aku pasti selalu ingat denganmu, Mom. Tidak mungkin aku bisa lupa akan pesonamu.”   “Ah … sukurlah kalau begitu. Oh iya, ngomong-ngomong apa anaknya Uncle Melvin sudah datang? Kata Daddy-mu dia sudah terbang menuju ke sana.”   “Dia sudah datang, Mom. Sekarang aku sedang di restoran membeli makanan untuk dia.”   “Sukurlah kalau begitu. Kau baik-baik dengan dia, ya.”   “Akan aku usahakan, Mom.”   “Darrel ….”   “Iya, oke, Mom.”   Darrel yang terlalu peka akan perasaan sang mommy pun tahu jika sudah memanggil namanya dengan nada seperti itu tandanya perempuan itu tengah memohon dan merajuk kepadanya.   Merasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Darrel memutuskan panggilan telepon dengan sang mommy karena pesanan makanannya sudah jadi.   Dengan cepat Darrel membayar semua makanan itu dan segera bergegas pergi menuju ke apartemennya. Niat untuk berkunjung ke rumah sang kakek pun ia gagalkan karena teringat dengan Shasa yang belum ia kasih makan.   “Benar-benar merepotkan!” gerutu Darrel lagi soal kedatangan Shasa yang berada di sisinya.   ***   Saat tiba di apartemen, Darrel langsung membawa makanan itu ke meja makan. Ia pun segera menekan knop pintu Shasa yang ternyata terkunci. Semua itu membuat Darrel mengeryitkan kening bingung dan berdecak kesal.   “Kenapa harus dikunci segala? Memangnya saya maling?”   Meski kesal dengan tingkah Shasa, namun Darrel langsung mengetuk pintu pelan hingga kencang karena tidak ada jawaban dari perempuan itu.   Tok! Tok! Tok!   “Clarisa! Open the door!”   Tok! Tok! Tok!   “Clarisa!”   Merasa tidak ada sahutan apapun membuat Darrel langsung mencari kunci duplikat yang ia simpan di kamarnya. Dengan cepat Darrel memasukkan kunci itu, namun lagi-lagi tidak bisa karena kunci didalam masih tergantung.   Tak kehabisan akal, Darrel langsung memasukkan kawat kecil untuk menjatuhkan kunci yang berada di di dalam.   Saat berhasil, Darrel segera membuka pintu itu dan matanya langsung terkejut dengan Shasa yang tengah tertidur pulas dengan pakaian yang digunakan untuk perjalanan barusan. Bahkan perempuan itu tidur masih mengenakan sepatu.   Tidak suka dengan yang berbau jorok, Darrel hanya menggeram kesal. Ia segera berjalan mendekati ranjang dan bertolak pinggang di depan tubuh Shasa yang masih saja tertidur.   “Ekhem! Clarisa! Wake up!”   Masih tetap sudah dibangunkan membuat Darrel benar-benar emosi dan mendengkus kesal. Pria itu akhirnya mengguncang lengan Shasa cukup kencang.   “Bangun!”   Merasa kaget membuat Shasa langsung membuka mata dan terkesiap saat melihat Darrel berada di depan matanya dengan posisi wajah yang sangat dekat.   “Da-Darrel,” cicit Shasa, deg-degan.   Darrel hanya berdecak saat mendengar respon dari perempuan itu. Buru-buru ia langsung menjauhkan kepalanya dan menatap tajam ke arah Shasa yang masih saja tampak kelimpungan.   “A-ada apa, Darrel? Kenapa kau bisa masuk?” tanya Shasa heran. Pasalnya sebelum tidur ia sudah mengunci pintu kamarnya, namun kenapa Darrel bisa masuk? Apa dia mendobrak pintu itu? Namun, kenapa telinganya tidak mendengar suara apapun.   “Aku ke sini ingin menyuruhmu makan. Lagipula aku malas berdebat dengan Daddy-ku jika dia mengetahui aku belum memberimu makan.”   “Em … Ta—“   “Aku tidak suka ditolak! Cepatlah keluar kamar, dan makan. Aku sudah membelikan makanan untukmu dan itu harganya tidak murah.”   Darrel terus mengoceh sambil berjalan keluar kamar. Shasa yang masih merasa belum sadar seratus persen hanya bisa mendesah pasrah dan ia pun segera turun dari ranjang.   Saat sudah keluar kamar, Shasa melihat Darrel yang tampak sedang menyiapkan makanan di meja. Buru-buru Shasa langsung duduk.   “Kau tidak cuci muka?”   Shasa menoleh sambil mengerutkan kening bingung. “Memang kenapa?”   “Astaga! Kau jorok sekali, hah! Kupikir kau tadi sedang mandi untuk membersihkan diri karena sudah melakukan perjalanan jauh. Faktanya kau malahan tidur dengan pakaian itu. Memangnya kau tidak merasa gatal? Setidaknya bersih-bersih tubuhmu jika sehabis berpergian. Kau tahu? Berapa banyak kuman yang menempel pada tubuhmu itu. Terus sekarang kau bangun tidur langsung ingin makan tanpa mencuci muka dan sikat gigi terlebih dulu? Astaga, mimpi apa aku kemarin sampai dititipkan oleh Daddy begini.”   Mendengar semua komentar Darrel yang menyakitkan hanya membuat Shasa menuduk tanpa berniat mendongak. Hatinya terasa sangat sakit ketika kehadirannya tanpa disambut dengan terbuka oleh pria itu.   Shasa pikir setelah ia pergi jauh dari Jakarta, rasa sakit dalam hatinya akan terobati atas pernikahan kakak sepupunya itu. Faktanya, ia tetap mendapatkan rasa sakit hati seperti ini meski dilakukan dari orang yang berbeda.   “Hei, kenapa kau menunduk terus?” tanya Darrel penasaran.   Merasa penasaran akhirnya Darrel menunduk untuk melihat Shasa. Darrel terkejut saat melihat banyak air mata yang mengalir di pipi perempuan itu. “Astaga, kau menangis? Kau menangis kenapa? Apa gara-gara aku mengutarakan ketidaksukaanku itu?” Darrel pun langsung memijit pelipisnya sendiri karena merasa pening. Belum apa-apa ia sudah dibuat stress oleh perempuan bernama Clarisa Daviela Azekiel ini. Rasanya Darrel tidak akan sanggup jika setiap hari harus seperti ini. Bisa-bisa ia akan mati berdiri kalau begini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD