Bab.5 Perempuan Manja

1167 Words
  Darrel benar-benar tidak habis pikir dengan perempuan itu. Padahal ia hanya berbicara apa adanya—mengutarakan rasa ketidaksukaannya. Namun, entah kenapa justru ditanggapi salah oleh perempuan itu.   Kalau soal suara ia memang tidak bisa lemah lembut seperti pria kebanyakan. Darrel Blaxton akan berbicara dengan apa yang tidak disukai dan sukai. Ia paling benci yang namanya pura-pura dan sandiwara seperti kebanyakan pria yang akan berlaku lemah lembut meski di belakang sang perempuan akan bersikap berengsek.   “Aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya mengutarakan pendapatku saja.”   Tidak mendapat respon apapun membuat Darrel merasa frustasi sendiri. Ia pun menggoyangkan bahu Shasa agar perempuan itu mau mendongak.   “Aku sungguh tidak berniat untuk membentakmu tadi. Aku hanya—“   “—Tidak apa-apa. Aku yang salah di sini karena kurang tahu diri sebagai tamu.”   “Sukurlah kalau kau menyadari itu.”   Baru saja selesai mengucapkan itu, kening Darrel dibuat terkejut oleh tindakan Shasa yang tiba-tiba saja bangkit dari tempat duduknya.   “Kau ingin ke mana?” tanya Darrel yang mau tak mau ikut berdiri dan mengikuti langkah Sasha yang ingin masuk ke dalam kamar. “Kau tidak jadi makan? Kau mau tidur lagi, hah? Yang benar saja, nanti diriku kena ceramah Daddy kalau begini,” cerocos Darrel tiada henti hingga sampai ia tidak menyadari jika Sasha sudah masuk kamar dan menutup pintu.   Blam.   “Hah? Bahkan dia bertindak tidak sopan denganku?” Darrel mulai menggerutu dan kesal karena usahanya membeli makan tidak direspon dengan baik.   Kini Darrel berdecak sebal karena sikap Shasa yang gampang sekali tersinggung. Darrel yang sudah merasa pusing lebih memilih kembali ke meja makan untuk menghabiskan semua makanan yang dibelinya.   Selesai makan, Darrel segera membersihkan semua perangkat makannya untuk dimasukkan ke dishwaser. Baru saja berbalik badan, Darrel dibuat terkejut dengan kehadiran Shasa yang tengah berdiri dengan wajah lebih segar.   Darrel bahkan melihat penampilan Shasa dari ujung rambut hingga ujung kaki. Perempuan itu kini tengah menggunakan handuk kecil di kepalanya. Mungkin habis menggunakan shampo, akan tetapi kenapa perempuan itu keluar dengan menggunakan bathdrobe saja? Memangnya dia tidak takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nanti? Terlebih dia tinggal bersama pria dewasa yang sangat normal.   “Aku lihat di meja semua makanan tidak ada. Kau pindahkan kemana?” tanya Shasa dengan suara lembut.   “Hah?” Darrel bahkan kini tampak seperti orang bodoh. Ia langsung memejamkan matanya sendiri karena terlalu fokus dengan kaki jenjang perempuan di depannya yang sangat terlihat menggoda.   Shit!   “Makanan di meja ke mana? Aku lapar,” ujar memberitahu dengan memegang bagian perutnya dengan gaya yang sangat kekanak-kanakan sekali.   Darrel pun terkesiap dan baru menyadari jika Shasa lapar. Astaga, kenapa tadi ia habiskan sendiri makanannya? Darrel sudah berpikir jika perempuan itu merajuk dan tidak akan keluar untuk makan. Nyatanya?   “Aku tadi mandi sebentar untuk membersihkan seluruh tubuhku agar kau tidak mengomel kembali. Jadi sekarang aku boleh makan?”   Darrel langsung menggaruk rambut belakangnya yang tidak gatal sama sekali. Ia pun berdeham pelan sambil memikirkan cara berbicara kepada perempuan itu agar tidak membuatnya menangis kembali.   “Makanannya habis,” jawab Darrel tapi tersenyum kaku. “Tapi, kau tenang saja. Aku akan memasak spageti untukmu. Jadi kau sebaiknya duduk saja biar aku buatkan.”   Kini Darrel langsung mendorong Shasa untuk duduk di kursi makan. Sedangkan Darrel kembali ke arah dapur untuk menyiapkan bahan masakan.   “Sial! Kenapa aku jadi repot-repot memasak begini,” gerutu Darrel dalam hati.   Tak disangka saat Darrel mendongak dan melirik ke arah meja makan, mata Shasa pun tengah menatapnya—memperhatikan—semua itu membuat Darrel langsung merasa salah tingkah sendiri. Selama tinggal di apartemen tidak pernah sedikit pun kegiatan memasaknya diperhatikan oleh orang.   Darrel pun berdeham kecil untuk menetralkan rasa gugupnya. Ia bahkan tanpa sadar sering mencuri pandang ke arah Shasa.   “Apa kau ingin minum kopi?”   Shasa menggeleng sebagai jawaban.   “Ya sudah minumnya air mineral saja.”   “Aku ingin cokelat panas.”   Darrel terkejut dan menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Perempuan itu benar-benar membuatnya jantungan. Permintaannya benar-benar tidak terduga.   “Aku tidak memiliki cokelat,” jawab Darrel sambil memperhatikan ekspresi Shasa—takut menangis kembali seperti tadi. Namun, setelah perempuan itu tersenyum membuat Darrel merasa plong juga lega.   “Kalau begitu air mineral saja tidak apa-apa.”   Entah kenapa Darrel saat ini merasa sedang menghadapi malaikat maut. Semua yang dilakukan dan ucapan yang terlontar dari bibir perempuan itu benar-benar membuatnya kaget.   Tak membutuhkan waktu lama akhirnya spageti itu jadi. Darrel segera menghidangkan di depan Shasa. Darrel menunggu respon dari perempuan itu atas masakannya.   “Kok spagetinya lembek banget? Mana tidak seperti buatan Mommy pula,” protes Shasa tanpa sadar.   Darrel rasanya ingin menelan perempuan itu hidup-hidup jika seperti ini. Sudah dibuatkan makanan bukannya memuji dan mengucapkan terima kasih malahan protes yang dilontarkan.   “Kalau tidak suka buang saja,” jawab Darrel sarkas.   Merasa kesal membuat Darrel langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia bahkan melihat Shasa sekilas sebelum pergi meninggalkan perempuan itu tanpa kata.   “Dasar perempuan menyebalkan!” gerutu Darrel yang langsung memasuki kamarnya dengan perasaan yang sangat begitu kesal.   Berbeda dengan Shasa yang masih menatap dan memandangi spageti buatan Darrel. Benar-benar masakan yang sangat tidak menarik. Bahkan tidak ada tambahan apapun. Jika begini Shasa langsung teringat Kaila—sang mommy.   “Shasa kangen Mom,” rengeknya menangis.   Belum pernah merantau ataupun hidup jauh dari orangtua membuat Shasa terasa berat. Terlebih saat ini ia tidak bisa menyuruh siapapun untuk membuatkan makanan dan minuman kesukaannya.   “Pengin cokelat panas,” lirihnya.   Merasa lapar membuat Shasa mencoba makan spageti buatan Darrel yang rasanya sangat ambyar. Shasa bahkan langsung terbatuk-batuk karena terasa sangat asin.   Buru-buru Shasa langsung menyambar air mineral dan menengguknya hingga tandas. “Rasanya asin banget,” komentar Shasa sambil bergindik ngeri jika harus makan sepiring spageti asin.   Merasa lapar, namun ia tidak bisa memasak membuat Shasa berdecak sebal. Setidaknya ia harus mengetahui restoran terdekat untuk mengisi perutnya sebelum tidur.   Dengan kaki yang sengaja dihentak-hentakkan Shasa mencoba mendekati kamar Darrel—mengetuk dan memanggil nama Darrel tanpa ampun.   Tok! Tok! Tok!   “Darrel, buka pintu. Aku lapar.”   Tok! Tok! Tok!   “Darrel, aku lapar.”   Merasa tidak direspon membuat Shasa kesal, ia pun langsung memikirkan cara agar pria menyebalkan itu mau membuka pintu.   “Aku lapar! Spageti buatanmu tidak enak, Darrel! Di mana lokasi restoran terdekat, hah! Kalau kau tidak keluar akan aku telepon Uncle Damian dan mengadu jika kau tidak memberiku ma—“   Ceklek.   “Udah berani mengancam, eh?”   Shasa meringis saja tanpa memedulikan ekspresi kesal dari Darrel. Shasa bahkan langsung memegang perutnya sendiri sambil diusap-usap. “Aku lapar, Darrel. Spagetimu tidak enak,” ucapnya sambil meringis.   “Hah, merepotkan!” bentak Darrel, kesal. “Cepat ganti bajumu kita ke restoran,” lanjut Darrel memutuskan untuk pergi ke restoran daripada harus terkena ceramah sang daddy.   Shasa tersenyum penuh kemenangan. Perempuan itu berjingkrak senang, dan langsung segera berlari ke dalam kamarnya untuk menggunakan pakaian seperi yang Darrel perintahkan.   “Kalau lama akan aku tinggal!” ancam Darrel berteriak. “s**t! Rasanya mau istirahat tidak bisa gara-gara ada perempuan astral itu,” imbuh Darrel, mengumpat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD