Bab.6 Selalu Mendebatkan Hal Apapun

1208 Words
  Shasa merasa senang karena Darrel sudah mau berbicara banyak kepadanya. Tidak seperti awal-awal saat bertemu di bandara yang tampak sangat ketus.   Setelah memilih setelah dress terusan, Shasa langsung keluar dengan senyum yang sangat begitu mengembang.   “Ayo,” ajak Shasa bersemangat.   “Kau ingin pergi ke pesta?”   “Hah? Memang ada pesta malam ini?” Shasa justru bertanya balik karena merasa bingung dengan pernyataan atau pertanyaan dari Darrel. “Kenapa kau baru bilang kita akan pergi pesta?”   Darrel langsung mendengkus sebal mendengar Shasa yang salah paham. Rasa-rasanya Darrel ingin membedah otak dari perempuan itu yang sedikit lola.   “Pakaian yang kau kenakan seperti akan pergi ke pesta,” ujar Darrel, menjelaskan.   “Oh … aku hanya mengambil pakaian yang paling atas saja. Soalnya belum sempat bongkar koper. Masih merasa lelah sekali.”   “Ya sudahlah kalau begitu cepat pergi,” putus Darrel pada akhirnya.   Mereka berdua pun akhirnya mulai berjalan menyusuri koridor apartemen. Shasa yang memang baru pertama kali bahkan tampak seperti orang yang sangat norak.   “Kenapa kau memilih bangunan apartemen yang tampak seram ini?” tanya Shasa merasa merinding sendiri melihat bangunan apartemen—tempat tinggal Darrel—yang tampak tua.   Merasa takut membuat Shasa lebih merapatkan diri ke tubuh Darrel hingga membuat pria itu tampak risih.   “Kau kenapa?” tanya Darrel bingung.   “Aku takut di sini ada pocong atau kuntilanak.”   Darrel langsung mengeryit bingung saat Shasa menjawab ucapan dengan nama yang sangat aneh. Bahkan, Darrel baru pertama kali mendengar nama itu.   “Apa itu? Makanan?”   Shasa mendesah panjang karena Darrel memang bukan orang Indonesia yang otomatis tidak akan mengetahui jenis-jenis hantu di negaranya. “Itu nama-nama hantu di Indonesia.”   “Kupikir itu jenis makanan. Padahal aku ingin mencobanya.” Darrel hanya menanggapi ucapan Shasa dengan sangat datar.   Shasa yang masih parno terus menempel kepada Darrel. Kepalanya pun langsung berpikir soal hantu luar negeri. “Apa kau tidak takut dengan hantu?” tanya Shasa penasaran.   “Aku tidak terlalu percaya hal yang seperti itu.”   “Jadi kau tidak mempercayai-nya?”   Darrel hanya mengangkat kedua bahunya saja. Shasa melihat itu langsung mendecih. Hatinya bahkan langsung memberikan sumpah serapah kepada Darrel agar pria itu segera melihat penampakan.   Namun, mengingat sikap arogan dan ketus dari Darrel membuat Shasa menjadi sangat tidak yakin jika pria itu akan takut. Jangan-jangan hantunya yang akan takut dengan dia lagi.   Saat sampai di parkiran, Shasa langsung saja masuk—duduk di kursi penumpang yang di depan—samping Darrel.   “Kau ingin makan apa?” tanya Darrel tampak malas.   “Apa saja yang penting enak.”   “Semua makanan enak. Lidahmu saja yang bermasalah.”   “Enak saja, masakanmu tadi tidak enak. Rasanya sangat asin,” balas Shasa membantah.   Darrel tidak menyahuti ucapan Shasa. Pria itu kini lebih memilih untuk fokus menyetir ke depan—menatap jalanan meski dalam hatinya sangat dongkol.   Darrel pun akhirnya memilih ke restoran Korea. Semoga saja lidah perempuan itu mau menerima masakan Korea. Lagian sama-sama masakan Asia.   “Whoa, aku jadi ingin memakan kimchi seperti para Oppa yang kiwoyo,” gumam Shasa yang tersipu-sipu sendiri membayangkan para idolanya itu.   Saat sudah memarkirkan mobilnya. Darrel langsung menoleh menatap Shasa yang masih tampak terkagum-kagum hanya dengan memandangi sebuah banner yang terdapat gambar sederet actor negeri gingseng itu.   “Turunlah! Semoga restoran ini cocok untuk lidahmu yang aneh,” celetuk Darrel.   “Tentu saja akan cocok karena ini restoran dari negeri para pria tampan!” balas Shasa tak mau kalah.   Darrel hanya mendengkus saja saat melihat keberanian dari Shasa. Darrel sudah berpikir jika perempuan itu akan diam menurut atau lemah seperti pada awal bertemu di bandara. Nyatanya perempuan itu sangat bar-bar sekali dalam berbicara.   Saat sudah turun dari mobil, Shasa langsung masuk ke restoran tanpa memedulikan Darrel yang masih berdiri di samping mobil.   Bahkan Shasa tak malu-malu menyapa pelayan restoran itu dengan menggunakan bahasa korea yang ia pahami dan mengerti.   “Dia berbicara apa?” gumam Darrel yang mulai melangkahkan kaki untuk memasuki restoran.   Melihat Shasa yang sudah duduk sambil memilih-milih menu makanan membuat Darrel mendengkus sebal. Pria itu pun terpaksa langsung duduk di depan Shasa dengan wajah suram.   “Darrel, kau ingin pesan apa?” tanya Shasa—meski mata dan tangan sibuk menatap ke buku menu.   “Tidak, kau saja yang pesan. Aku sudah makan dan masih kenyang.”   “Ya sudah kalau begitu.”   Kini Shasa menyebutkan semua jenis menu makanan yang dipesannya. Darrel yang mendengar hanya melongo saja.   “Kau seriusan memesan itu semua, hah?”   “Hm, memangnya kenapa?”   “Memangnya perutmu muat menampung itu semua? Badanmu kecil tapi makanmu sangat banyak.”   “Hei, jangan deskriminasi.”   “Aku tidak deskriminasi, hanya sedang mengeluarkan pendapat.”   “Terserah kau saja.”   Kurang lebih dua puluh menitan menunggu dengan saling diam satu sama lain, kini pesanan Shasa datang. Perempuan itu langsung tersenyum semringah dan mengucapkan kata terima kasih dalam bahas korea.   Setelah semua pesanan itu datang, Shasa langsung melahap seperti drama yang sering ditontonnya. Tak lupa juga kepalanya ia angguk-anggukan karena menikmati makanan yang tengah disantapnya.   “Kenapa kau kalau makan berisik sekali?”   “Aku tidak berisik. Ini hanya sebagai ekspresiku karena menikmati makanan yang sangat lezat.”   “Terserah kau sajalah.”   Kini Darrel tidak lagi berkomentar kepada Shasa. Rasanya sangat lelah sekali mengomentari hal aneh yang dilakukan perempuan itu. Dan, selalu saja perempuan itu membantah ucapannya.   Kurang lebih satu jam menemani Shasa makan, Darrel benar-benar merasa kesal luar biasa karena cara makan Shasa sangatlah lambat.   “Kau kalau makan lambat sekali.”   “Kenapa, sih, kau selalu berkomentar pedas tentangku.”   Darrel tak menanggapi, ia lebih memilih masuk mobil dan ingin segera sampai apartemen. Darrel tahu jika perempuan itu tengah memaki dan mengumpati dengan bahasa alien yang tidak ia tahu artinya.   “Dasar cowok menyebalkan. Bisanya misuh-misuh terus, mana wajah kaku macam kanebo kering pula,” gerutu Shasa menggunakan bahas Indonesia yang membuatnya puas karena Darrel tidak tahu artinya.   Darrel benar-benar tidak memedulikan karena ia mulai fokus menyetir. Namun, di pertengahan jalan ia melihat ke arah spion—memperhatikan sebuah mobil yang terus mengikutinya terus menerus sejak keberangkatannya tadi. Merasa ada yang tidak beres membuat Darrel langsung menggeberkan mesin mobil miliknya untuk melaju cepat.   “Darrel, kenapa kau menaikkan kecepatannya? Aku takut,” protes Shasa yang mencari-cari sabuk pengaman.   “Tidak usah banyak protes. Cepatlah pakai sabuk pengamanmu,” titah Darrel, tegas.   Kepalanya bahkan terus melirik ke spion dan bisa menyimpulkan jika mobil di belakang memang sudah menguntitnya sejak tadi.   “Darreeeeeeellll,” teriak Shasa saat kecepatan mobil Darrel sangat di luar prediksinya. Bahkan selama menaiki mobil dengan daddy dan Matheo—sang kakak—belum pernah mengendarai dengan kecepatan seperti ini.   Shasa hanya bisa berdoa dalam hati agar bisa diberi keselamatan saat ini karena Darrel menyetir seperti orang yang sedang kerasukan.   “Kau kalau mau mati mendingan sendiri saja! Tidak usah mengajak-ngajak diriku!” teriak Shasa memprotes.   Perut yang baru diisi langsung terasa mual. Bahkan saat ini rasanya ingin memuntahkan semua isi yang berada di dalam perutnya.   “Darrel, aku ingin muntah,” ujar Shasa memberitahukan dengan ekspresi orang yang akan muntah. “Huuee ….”   “Jangan muntah dimobilku!” pekik Darrel melarang. “Tahanlah sebentar lagi! Jika kau berani mengotori mobilku akan aku pastikan nyawamu melayang sekarang juga!” ancam Darrel, tegas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD