Bab.7 Cewek Jorok Vs Cowok Bersih

1493 Words
  Kini fokusnya Darrel terbagi menjadi dua; ke depan menatap ke arah jalanan, dan menatap ke samping—ke arah Shasa yang tampak ingin memuntahkan seluruh isi perutnya.   Tidak ingin ada kotoran dalam mobilnya, Darrel pun langsung membanting stir ke bahu jalan dan menghentikan dengan cepat.   Buru-buru Darrel langsung menekan kunci mobilnya dan menyuruh Shasa keluar. “Cepat keluar!”   Shasa hanya menggeleng saja karena merasa lemas luar biasa dibawa ngebut oleh pria itu. Kaki sekaligus tangannya masih terasa gemetar.   “Clarisa, cepat keluar sebelum kau muntah di sini!” pekik Darrel, khawatir akan mobilnya yang terkena muntahan Shasa.   “A-a-hueeee.”   Belum selesai berbicara, Shasa sudah memuntahkan seluruh isi perutnya di dasbor mobil milik Darrel. Pria itu langsung melotot begitu sempurna kala melihat muntahan Shasa yang sangat menjijikan menurutnya.   “CLARISAAAA!!”   Darrel benar-benar menggeram kesal karena melihat mobil kesayangannya kotor. Darrel enggak suka kalau barang-barang miliknya itu kotor.   Tak butuh waktu lama, Darrel segera turun dari mobil dan membuka pintu mobil penumpang—menyeret tangan Shasa dengan paksa.   “Turun!” bentaknya, kesal.   “Darrel, perutku mual.”   “Aku tidak peduli, dan itu urusanmu!”   Merasa kesal membuat Darrel menyentak Shasa dengan kasar. Perempuan itu langsung berkaca-kaca yang membuat Darrel langsung merasa tidak tega.   Emosi yang sudah memuncak pun perlahan langsung turun karena Shasa langsung menangis. Darrel yang masih emosi hanya bisa mendongak—menatap langit karena merasa hidupnya sudah penuh drama semenjak kehadiran perempuan ini.   “Kenapa kau selalu menangis, hah?” tanya Darrel, kesal.   Shasa masih saja menangis sambil memegangi lengan tangannya yang dipegang kasar oleh Darrel barusan. Shasa yang biasa dimanja sejak kecil sangat terkejut dengan perlakuan dari Darrel yang sangat kasar kepadanya.   “Diamlah, oke soal dirimu yang muntah itu. Akan aku lupakan kesalahanmu.”   Kini Darrel mendecih kala melihat Shasa sudah diam dengan bola mata yang berbinar. Darrel benar-benar mengumpati hatinya yang tidak tega melihat perempuan menangis.   “Terus itu muntahannya gimana?” tanya Shasa, pelan.   “Biar aku bawa ke tempat pencucian mobil besok. Kau pulanglah menggunakan taksi.”   Shasa menggeleng—menolak untuk pulang sendirian. “Aku ingin bersamamu.”   “Hah! Apa-apaan kau berkata seperti itu,” sahut Darrel yang merasa berdebar mendengar ucapan Shasa barusan.   “Iya, aku takut kalau pulang sendirian. Apartemennya seram, dan aku takut hantu. Jadi aku mau ikut kemanapun kau pergi.”   “Hah! Menyusahkan saja!”   Kini Darrel langsung menelepon anak buahnya untuk membawa mobil lain ke lokasinya saat ini. Sambil menunggu kedatangan anak buahnya itu, Darrel pun memilih diam—memikirkan siapa yang sudah mengikutinya barusan.   “Darrel.”   Darrel diam tak bergeming. Pikirannya masih asyik berkelana memikirkan sesosok yang mengejarnya.   “Darrel!” panggil Shasa berteriak yang membuat Darrel mendengkus.   “Ada apa?”   “Kau sedang memikirkan apa? Kenapa kau mendadak diam saja?”   Darrel mendengkus kesal saat mendapat pertanyaan dari Shasa. “Selain jorok, cengeng, ternyata kau juga sangat ingin tahu urusan orang lain.”   Shasa hanya meringis saat melihat Darrel yang mengomel-ngomel akan kekurangan alias keburukannya itu. Shasa bahkan tak ragu untuk mendekati Darrel, namun pria itu tampak terus menjauhi karena merasa jijik akan dirinya.   “Kau kenapa, sih? Aku bersih sudah mandi, Darrel,” ujar Shasa, memberitahukan.   “Kau memang sudah mandi, akan tetapi kau bau muntahan.”   “Astaga, Darrel! Memangnya kau belum pernah muntah sampai merasa jijik dengan hal spele seperti itu?”   “Apa? Spele? Kau bilang muntahan itu spele? Yang benar saja, Clarisa! Itu hal yang luar biasa bagiku karena sangat menjijikan.”   Shasa yang merasa sakit hati akhirnya memilih untuk diam. Ia pun langsung membuang wajah agar tidak mellihat wajah menyebalkan dari Darrel Blaxton.   Namun, melihat tidak ada pergerakan apa-apa dari Darrel membuat Shasa merasa kesal sendiri. Ia pun akhirnya memaki Darrel dalam hati karena merasa sikap Darrel kurang peka.   Saat sedang kesal-kesalnya, datang mobil lain berwarna hitam yang menghampiri mereka berdiri. Shasa yang tidak tahu, dan kenal hanya bisa diam memperhatikan saat pria bertubuh tegap memberikan kunci mobil untuk Darrel.   “Ayo cepat naik.”   Shasa tersentak dengan ucapan Darrel yang tampak kesal. Dengan perasaan yang masih emosi, Shasa sengaja berjalan ke arah mobil berwarna hitam itu dengan menghentak-hentakan kakinya—pertanda kalau ia ngambek.   Saat sudah duduk di kursi penumpang, Shasa melirik sekilas dan memperhatikan ekspresi Darrel yang tampak diam saja.   “Benar-benar mirip Kak Mamat! Dingin sekaligus datar tak berekspresi,” batin Shasa berkomentar soal kepribadian Darrel.   Mobil pun kini mulai melaju menuju ke apartemen. Selama perjalanan pulang tidak ada obrolan yang tercipta di antara keduanya karena Shasa merasa lelah—hingga membuatnya tertidur tanpa sadar di dalam mobil.   Merasa baru akan sampai ke alam mimpi. Suara baritone seseorang membuatnya kaget hingga Shasa langsung terbangun.   “Turun! Jangan sampai kau tidur di mobilku hingga meneteskan air liurmu itu,” kecam Darrel, tegas.   Shasa masih belum sepenuhnya sadar hingga masih terbengong dengan wajahnya yang sangat konyol. Melihat Darrel sudah turun, membuat Shasa buru-buru turun dan mengejar Darrel yang terus berjalan tanpa memedulikan Shasa.   “Kau kenapa meninggalkan diriku, hm? Nanti kalau aku hilang gimana?” tanya Shasa mencoba untuk menggoda Darrel.   Namun, lagi-lagi Darrel hanya melirik sekilas dengan wajah datarnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.   Mendapat respon yang tidak sesuai membuat Shasa hanya mencebikkan bibir kesal. Ia pun hanya diam dan terus mengikuti langkah Darrel dengan mencoba untuk menghitung lantai apartemen.   Saat sedang fokus memperhatikan sekaligus menghitung lantai apartemen, Shasa terkejut kala tubuhnya menubruk Darrel. Dengan cepat Shasa mendongak dan terkejut saat tangan Darrel langsung membekapnya kencang.   “Hmmmppttt.”   “Sssstttt.”   “Hmmmpptt knenapha?”   “Ssssstt … jangan berisik. Diamlah,” titah Darrel, tegas.   Shasa pun akhirnya mengangguk saat tubuhnya dihimpit oleh Darrel di dalam pintu tangga gawat darurat. Jarak keduanya sangat dekat hingga membuat Shasa bisa mencium aroma parfum Darrel yang begitu sangat menenangkan.   Baru saja menikmati itu, tiba-tiba Shasa terkejut dengan Darrel yang melepaskan bekapan sekaligus pelukan di tubuhnya secara kasar.   “Cepat!” titahnya lagi.   “Darrel, ada apa? Kenapa kau sangat aneh sekali hari ini,” dumel Shasa yang masih bingung.   Darrel sendiri tidak memedulikan pertanyaan ataupun ocehan Shasa. Yang ia pikirkan hanya satu saat ini. Keselamatan orang-orang terdekatnya jika diketahui oleh para musuh bisnis under ground yang dikelolanya bersama sang daddy sekaligus saudaranya—Xander.   Tepat saat di depan unit apartemennya, Darrel langsung menarik Shasa dengan cepat hingga membuat tubuh perempuan itu menabrak d**a bidangnya.   “Darrel!” pekik Shasa kesal sekaligus kaget.   “Kau kenapa kalau jalan lama sekali, hah?”   “Aku tidak biasa jalan secepat kau. Lagian untuk apa jalan cepat-cepat, sih? Memangnya kalau menang akan dapat hadiah?”   Darrel lagi-lagi tidak menanggapi pertanyaan Shasa, ia lebih memilih untuk segera ke dalam kamar sambil memikirkan cara agar para musuhnya tidak mengetahui tempat tinggalnya saat ini. Apartemen ini sangatlah tidak aman karena para musuhnya sudah mengetahui hingga membuat Darrel harus segera pindah secepatnya.   Dan, lagi-lagi perempuan manja bernama Clarisa Daviela Azekiel membuatnya pusing. Bagaimanapun ia harus membawa perempuan itu untuk pindah juga. Jika ia meninggalkan perempuan itu, dan daddy mengetahui bisa-bisa dia akan mengamuk.   “Hah! Benar-benar gadis merepotkan!” dumel Darrel kesal. “Kira-kira musuhnya tadi melihat wajah Clarisa dengan jelas tidak, ya?” gumam Darrel bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Bagaimanapun ia takut jika wajah perempuan itu diketahui oleh sang musuh. Bisa-bisa Shasa yang tidak tahu apa-apa akan ikut terseret ke dalam permasalahan hidupnya lagi. Sial!   Tok! Tok! Tok!   “Darrel!”   “s**t! Gadis itu lagi!” dumel Darrel yang terkejut dengan ketukan dan panggilan dari Shasa.   Dengan malas, Darrel langsung membuka pintu kamarnya dengan wajah gahar. “Ada apa?”   “Em … aku mau minta tolong,” kata Shasa, mencicit.   “Tolong apa?”   “Belikan aku pembalut,” ujarnya sambil tersenyum lebar. Matanya bahkan menampilkan puppy eyes hingga membuat Darrel mendecih sebal.   “Kau beli saja sendiri.”   “Aku tidak tahu mini market di sini.”   “Kenapa kau tidak mempersiapkan itu, sih?”   “Aku tidak tahu akan datang lebih cepat. Sepertinya efek diriku terlalu lelah jadi—“   “Kau pergi saja sendiri! Cari tahu sana!” usir Darrel.   BLAM.   Pria itu bahkan langsung menutup pintu kamarnya dengan perasaan yang sangat begitu kesal. Belum satu bulan bahkan satu minggu, tapi hidupnya sudah dibuat emosi setiap saat oleh perempuan itu.   “Apa-apaan dia menyuruhku untuk membeli pembalut segala,” dumel Darrel.   Merasa emosinya seharian ini naik, Darrel memutuskan untuk segera tidur. Ia pun langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur. Namun, baru saja melangkah masuk kamar mandi. Pikiran soal musuhnya yang menguntit tiba-tiba terbayang. Pasalnya tadi salah satu anak buah sang musuh sudah berani mendatangi ke gedung apartemennya ini.   “Sial! Benar-benar membuat pekerjaan diriku nambah saja.”   Buru-buru Darrel keluar kamar, dan mengecek ke dalam kamar Shasa. Ternyata kamar itu kosong, dan semua itu membuat Darrel khawatir secara tidak sadar.   Bahkan Darrel membuka ponsel untuk menelepon Shasa, akan tetapi karena tidak memiliki nomor perempuan itu membuat Darrel mengumpat sepanjang koridor apartemen.   “Semoga saja dia tidak nyasar!” doa Darrel secara tidak langsung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD