Shasa kini tengah misuh-misuh sendiri saat menyusuri koridor apartemen sendirian. Terlebih ia sendiri memiliki jiwa yang sangat penakut luar biasa akan hal ghaib. Namun, saat sampai lobby, ia tak sengaja menabrak seorang pria hingga tubuhnya terjatuh ke lantai.
“Maaf, tidak sengaja.”
“Oh … tidak apa-apa.”
“Maaf, tadi saya benar-benar tidak sengaja.”
“Oh, saya tidak apa-apa.”
Buru-buru Shasa bangun dan dibantu oleh pria itu yang mengulurkan tangannya untuk dipegang oleh Shasa.
“Apa kau tidak apa-apa?” tanya Pria itu merasa khawatir.
Shasa menggeleng sambil tersenyum manis. “Tidak apa-apa.”
“Em … memangnya kau ingin kemana tengah malam begini?”
“Ke mini market. Ada sesuatu yang harus saya beli.”
“Tapi, perempuan secantik kau berjalan sendirian akan sangat bahaya. Ini sudah pukul dua dini hari. Tidak baik berjalan sendirian.”
Shasa bahkan tampak bimbang. Akan tetapi ia butuh pembalut saat ini. Tidak mungkin menunggu matahari terbit. Bisa-bisa Darrel akan mengomel karena sprei-nya kotor penuh darah nanti.
“Mau saya temani?” tawar pria itu selanjutnya.
“Memangnya tidak merepotkanmu?”
“Oh tentu saja tidak. Kebetulan saya juga sedang butuh sesuatu.”
Shasa tampak berpikir. Menimbang-nimbang ajakan pria asing itu. “Emm ….”
“Perkenalkan nama saya Daniel Moreno, kau bisa panggil saya Daniel.” Daniel langsung mengulurkan tangan untuk menanti jabatan tangan dari Shasa—pertanda menerima perkenalan awal.
Shasa langsung menerima uluran tangan Daniel—menjawab perkenalan dari pria asing bernama Daniel itu.
“Clarisa, kau bisa memanggilku Shasa.”
Daniel mengangguk-angguk paham, pria itu menelisik tubuh Shasa dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Sepertinya kau bukan asli warga negera sini?” tanya Daniel, penuh dengan hati-hati.
“Saya orang Indonesia.”
“Oh … pantas saja wajahmu seperti perempuan-perempuan Asia pada umumnya, akan tetapi kau memiliki daya tarik sendiri yang membuat para pria ingin berkenalan.”
“Seperti dirimu contohnya?” ledek Shasa terkekeh renyah.
“Yups, kurang lebih pria seperti saya.”
Shasa hanya tersenyum saja, namun ia mengangguk sebagai tanda menerima usulan dari Daniel yang ingin menemani dirinya pergi ke mini market terdekat.
Akhirnya mereka berdua kini jalan bersama dengan saling mengobrol-obrol kecil seperti seorang teman. Shasa merasa senang karena telah memiliki kenalan di negara ini selain Darrel. Jadi jika terjadi apa-apa akan dirinya nanti, atau saat Darrel mengusirnya akan ada Daniel yang akan menolong.
Saat tiba di mini market yang memang jaraknya tidak jauh dari apartemen, Shasa langsung mencari-cari di mana letak pembalut itu berada.
Di saat sudah menemukannya, ia segera mengambil dan ingin membayar, namun dengan cepat pula Daniel segera mencegah.
“Biar saya saja yang membayar ini semua.”
“Ta—“
“—Hitung-hitung sebagai ucapan maaf saya,” potong Daniel cepat.
Shasa pun hanya tersenyum saja saat Daniel berkata seperti itu. Shasa pun akhirnya menerima dengan senang hati saat Daniel membayarkan semua belanjaannya.
Saat sudah selesai, mereka berdua langsung keluar mini market dan dilanjut mengobrol sepanjang jalan hingga tak terasa mereka berdua sampai ke lobby apartemen.
“Daniel, terima kasih atas traktirannya.”
“Abaikan hal itu. Lagipula total belanjamu tidak banyak. Dan, itu hitung-hitung sebagai permintaan maafku.”
“Sebenarnya tidak usah seperti ini, saya sudah memaafkan.”
“Tidak masalah, Clarisa—Uh, Shasa.” Daniel terkekeh renyah yang disusul oleh tawa Shasa yang sama renyahnya—hingga mereka berdua tidak menyadari jika ada satu pasang mata yang tengah mengawasi dari jarak jauh.
Kini Shasa berjalan menuju lift, akan tetapi Daniel tidak ikut masuk yang membuat Shasa mengerut bingung. “Kau tidak ikutan masuk?”
“No, saya tadi ke sini hanya sedang bermain ke unit teman. Jadi, saya harus pulang.”
Shasa terkejut, dan segera keluar lift untuk meminta maaf karena sudah membuat Daniel kerepotan dengan mengantarnya ke apartemen pulang pergi.
“Daniel, maafkan diriku tidak tahu akan hal ini. Pasti dirimu tadi akan pulang, ya?” tanya Shasa dengan suara yang sangat tidak enak.
“Tidak masalah, Shasa. Lagipula mobilku memang parkir di sini. Jadi otomatis memang harus kembali bukan? Kau tenang saja, ya.”
Shasa tersenyum lega saat Daniel sangat bersikap baik kepadanya. Shasa bahkan sangat bersukur bertemu dengan pria sebaik Daniel di first impression-nya.
“Oh iya, saya boleh meminta nomor ponselmu?”
“Tentu saja boleh, Daniel. Kebetulan diriku belum memiliki teman di sini.”
Akhirnya mereka berdua saling bertukar nomor ponsel. Setelah saling memberikan, mereka berdua langsung pamit pergi satu sama lain karena waktu terus berputar hingga menunjukkan pukul setengah tiga pagi.
Shasa yang merasa senang sampai melupakan rasa takutnya saat melewati koridor apartemen menuju ke unitnya yang sangat sepi.
Mengingat tidak tahu kunci apartemen unit milik Darrel, Shasa terpaksa menekan bel dengan sangat tidak sabaran. Namun, bertepatan dengan itu ada sesosok pria yang membuat diri Shasa terkejut.
“Astaga, Darrel! Kau membuatku kaget!”
Selesai memencet kode pintu apartemennya, Darrel langsung masuk tanpa mengeluarkan sepatah katapun hingga masuk ke dalam kamarnya.
“Darrel, kau habis dari ma—“
BLAM.
Shasa langsung tersentak kala pertanyaan yang diajukan justru dibalas oleh debuman suara pintu yang sangat kencang.
Melihat sikap aneh Darrel membuat Shasa langsung mengangkat kedua bahunya masa bodoh. Ia pun langsung ikut masuk ke dalam kamarnya.
Saat merasakan ponselnya bergetar, Shasa langsung melihat dan tersenyum lebar melihat chat yang dikirimkan oleh Daniel.
Merasa harus segera memakai pembalut membuat Shasa langsung bergegas ke kamar mandi. Setelah selesai dari kamar mandi, ia membalas chat dari Daniel, dan menguncapkan selamat istirahat sebelum akhirnya Shasa benar-benar tertidur karena sangat lelah.
Berbeda kondisi saat ini, Darrel—tengah merasa gelisah. Terlebih ia melihat Shasa dekat dengan Daniel—salah satu musuhnya dalam berbisnis.
“Kenapa Clarisa harus kenal dengan Daniel, hah!” gumam Darrel, pusing.
Merasa bahaya akan mengintai Shasa membuat Darrel sengaja tak menegur ataupun mendekati Shasa saat melihat perempuan itu terjatuh di lobby apartemen. Darrel lebih memilih bersembunyi agar Daniel tidak mengetahui jika Shasa adalah perempuan yang dekat dengannya. Akan sangat bahaya jika Daniel mengetahui itu.
“Semoga perempuan itu tidak menyebut namaku saat berkenalan dengan Daniel,” batin Darrel, was-was.
Merasa pusing sekaligus sangat lelah membuat Darrel memilih untuk istirahat. Ia akan membahas ini besok saja dengan perempuan itu—memastikan dia tidak menyebut-nyebut namanya di depan Daniel.
***
Suara getaran ponsel begitu mengganggu tidur Shasa yang begitu sangat nyenyak. Apalagi ia baru saja mendapatkan tamu bulanan di hari pertama hingga membuatnya malas untuk bangun.
Merasa suara ponselnya sangat mengganggu, ia pun terpaksa meraba-raba ke atas nakas dan menggeser tombol hijau tanpa melihat siapa peneleponnya.
“Halo, Little baby,” sapa seseorang di seberang telepon sana.
Shasa langsung tersenyum lebar kala mendengar suara yang sangat dirindukannya. Shasa benar-benar kangen suara ini.