Bab.10 Ucapan Menyakitkan Seorang Darrel

1452 Words
  Mendengar suara Shasa yang berteriak kencang sambil memelototkan kedua bola matanya tajam membuat sesosok Darrel langsung menghentikan aksinya itu.   Kini mereka berdua langsung saling adu tatapan dengan kedua bola mata yang saling melotot. Shasa sendiri langsung melipat kedua tangannya di depan d**a sambil membuang wajah cemburut.   “Kau bersihkan itu semua! Aku mau mandi,” ujar Darrel pada akhirnya. Pria itu akhirnya berjalan menuju ke meja makan untuk menaruh makanan yang telah dibelinya. Melihat piring dan gelas yang masih kotor di atas meja membuat Darrel hanya menghela napas panjang. “Ini juga sekalian cuci semua piringnya. Gunakan dishwaser saja kalau kau tidak bisa menggunakan manual,” titah Darrel, selanjutnya.   “Aku juga mau mandi karena dari siang belum mandi.”   “No no no. Kau bersihkan itu semua baru mandi.”   “Ta—“   “—Tidak ada bantahan, Clarisa!” potong Darrel, cepat dan penuh penegasan.   Merasa takut dengan sikap dominan dari Darrel membuat Clarisa langsung memilih untuk diam. Ia pun terpaksa mengambil sapu dan pengki untuk tempat sampah.   Merasa tidak pernah menyapu dalam hidupnya, Shasa merasa bingung caranya. Meski di kelas mendapatkan tugas piket, akan tetapi ia lebih memilih untuk membayar denda karena tidak menyapu.   “Ini gimana caranya?”   Shasa pun akhirnya mengingat-ingat salah satu asisten rumah tangga yang di Jakarta saat membersihkan rumah. Shasa akhirnya menyapu dengan ingatan yang dimiliki kalau sang ART menyapu seperti itu.   Kurang lebih dua puluh menitan, Shasa merasa lelah dan memilih untuk duduk di sofa sambil bersandar di punggung sofa.   Bertepatan dengan itu, Darrel keluar dengan tubuhnya yang sudah tampak segar juga wangi. Darrel yang memang sehabis keramas memilih mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang digosok-gosok perlahan hingga menambah kesan sangat keren di mata Shasa yang kini tengah terpana.   “Apa sudah selesai menyapunya?” tanya Darrel yang terus menggosok-gosok rambutnya.   Shasa mengangguk dengan senyum mengembang karena ia bisa menyapu seperti perempuan lain. “Tentu saja sudah selesai.”   Darrel tersenyum dan langsung mengecek ke arah seluruh lantai—ternyata masih kotor dan sangat berantakan. Semua itu membuat Darrel menghela napas panjang.   “Bagaimana? Aku hebat bukan bisa menyapu?”   “Hebat apa, hah! Ini masih sangat kotor, Clarisa!”   Disemprot oleh Darrel membuat wajah Shasa langsung menciut ketakutan. Darrel yang mengetahui perubahan ekspresi Shasa langsung merasa tak enak hati karena jika sudah seperti itu pasti akan ada tangis setelah ini.   “Ya sudah sana sebaiknya kau mandi saja,” titah Darrel, selanjutnya yang diangguki oleh Shasa.   Darrel yang merasa beban hidupnya bertambah hanya bisa menghela napas panjang karena semenjak kedatangan Shasa ke dalam hidupnya rasa emosi sering sekali meningkat.   Kini akhirnya Darrel menyapu dan mencuci piring yang berantakan di atas meja. Merasa lelah ia memilih untuk istirahat sambil menikmati minuman soft drink yang memang sudah ia stok banyak di kulkas.   Kurang lebih tiga puluh menitan menunggu Shasa mandi, akhirnya perempuan itu menampakkan batang hidungnya dengan rambut basah acak-acakan.   “Kau tidak sisiran, hah?” tanya Darrel emosi.   “Nanti nunggu setengah kering. Aku lupa membawa hair drier. Dan, perutku sangat lapar karena hanya memakan roti saja.”   Shasa langsung memegang perutnya dengan ekspresi yang sangat menggemaskan. Shasa bahkan tak menunggu persetujuan dari Darrel. Ia langsung saja berjalan menuju ke meja makan untuk menyantap makanan yang sudah tersaji di sana.   “Apa semua ini untukku?” tanya Shasa sedikit berteriak.   “Astaga, Clarisa. Tentu saja untuk diriku juga.”   “Kupikir ini semua memang dibeli untukku.”   “Ternyata kau kecil-kecil makannya banyak.”   “Lagipula aku mana kenyang kalau belum makan nasi. Jadi, itu sebabnya aku akan makan sangat banyak.”   Darrel tidak menanggapi celotehan perempuan itu. Darrel pun langsung mengambil bagian jatah makannya sebelum diambil oleh Shasa. Rasa-rasanya perempuan ini akan sangat tidak tahu malu jika mengambil makanan orang lain.   “Itu hati-hati rambutmu nanti jatuh.”   “Astaga, Darrel! Soal rambut saja kau perdebatkan.”   Darrel tidak menanggapi balasan dari Shasa yang mengomel. Pria itu kini lebih fokus untuk menyantap makan malamnya dengan diam.   Berbeda dengan Shasa yang terus mengoceh tiada henti. “Oh, iya. Password pintu apartemen ini apa?”   Darrel mengerutkan kening saat Shasa menanyakan soal password pintu. “Kenapa kau tiba-tiba menanyakan password pintu ini?”   Shasa langsung memutarkan bola matanya jengah. “Aku juga berhak tahu password pintu apartemen ini, kan? Secara aku juga tidak mungkin akan berdiam terus di sini. Aku butuh suasana luar, dan teman baru.”   Darrel berdeham pelan. Ia langsung teringat soal Daniel yang dekat dengan Shasa semalam. “Oh … tetapi aku harap kau tidak membocorkan kepada siapapun soal tinggal di sini denganku.”   “Tentu saja, Darrel. Memangnya aku akan membocorkan ke siapa?”   “Kekasihmu mungkin.”   Shasa berdecak sebal jika diingatkan soal kisah cintanya. Shasa langsung teringat dengan kisah asmaranya dengan Danis yang berakhir tragis.   “Sial! Kenapa ia selalu bertemu dengan pria yang selalu berawalan huruf ‘D’ dalam hidupnya; Danis, Darrel, Daniel,” batin Shasa, berdecak.   Melihat Shasa yang justru melamun membuat Darrel langsung mengibaskan telapak tangan di depan wajah perempuan itu.   “Halo ….”   “Ck! Darrel.”   “Cepat dimakan, dan setelah itu akan aku kasih tahu password apartemen ini.”   “Asyik ….” Shasa langsung tersenyum senang kala Darrel akhirnya mengalah untuk memberitahukan password apartemen ini yang sebentar lagi akan dia tinggal. “Terima kasih, Darrel,” imbuh Shasa yang masih saja melengkungkan senyum senang.   Darrel hanya berdeham saja kala Shasa bersikap seperti itu. Jika saja Xander melihat ini semua, sudah pasti adiknya itu akan meledek dan membully-nya habis-habisan.   Terlebih Darrel tidak pernah merasa dekat dengan perempuan dalam kehidupan sehari-harinya. Ia bahkan merasa bingung harus merespon apa setiap ucapan dari Shasa. Ia bahkan dekat dengan perempuan jika memang sedang butuh untuk dipuaskan, dan itupun ia membayar mahal setelah terpuaskan birahinya sebagai pria normal.   “Satu minggu lagi kau sudah bisa masuk kuliah.”   “Whoa, akhirnya aku tidak akan mati kebosanan.”   “Pesanku hanya satu; jangan terlalu percaya dengan orang yang baru dikenal. Karena kau tidak tahu orang itu baik atau tidak.”   “Oke oke, Tuan Darrel.”   “Cih, apa-apaan kau memanggilku dengan sebutan Tuan segala.”   Shasa hanya tersenyum dan terkekeh jika melihat ekspresi Darrel yang sangat begitu kaku itu. Benar-benar seperti sang kakak. Namun, sekarang kakaknya menjadi pria bucin aliasnya b***k cinta.   Mereka berdua pun akhirnya selesai makan. Kali ini Darrel lebih memilih memasukan semua perangkat makannya ke dalam dishwaser karena akan terasa capek jika harus mencuci piring dua kali seperti ini.   Saat ini baik Darrel dan Shasa merasa bingung dan canggung sendiri. Namun, lebih ke pribadi Darrel yang merasa kebingungan jika ingin melakukan sesuatu jika di dalam apartemennya ada orang lain selain dirinya.   “Oh iya, ini nomor passwordnya,” ujar Darrel yang langsung menyebutkan nomor password pintu apartemennya kepada Shasa yang langsung diangguki oleh perempuan itu paham. “Pokoknya jangan sampai orang lain tahu jika kau tinggal bersamaku,” imbuh Darrel, tegas sekaligus mengingatkan agar Shasa tidak keceplosan di depan Daniel.   “Oke,” jawab Shasa sambil mengangkat ibu jarinya tanda oke. “Pasti kau takut kekasihmu marah, kan?”   Darrel tidak menjawab, melainkan pergi ke kamar untuk mengambil jaket kulit berwarna hitam dan segera keluar dengan mengambil kunci mobil yang memang tergeletak di laci nakas.   “Kau ingin ke mana?” tanya Shasa penasaran.   “Sekarang tugasmu selain membuat kotor apartemen ternyata menjadi seorang wartawan, hah?”   “Bukan begitu, Darrel. Tapi jika nanti Uncle Damian telepon dan tanya kau di mana lalu aku harus menjawab apa?”   Darrel mendengkus sebal jika diingatkan dengan sang daddy. Pasalnya jika berurusan sama orang paruh baya itu—Damian Blaxton—pasti semua permasalahan akan menjadi sangat rumit.   “Aku ingin pergi ke kelab malam. Kenapa memangnya?”   “Whoa, aku belum pernah pergi ke sana selama ini. Apa aku boleh ikut?”   “Tidak, kau pasti akan mengganggu dan merepotkanku. Di apartemen saja hidupmu sudah merepotkan apalagi jika ikut semua kegiatan yang kulakukan. Bisa-bisa hidupku akan merasa seperti di neraka.”   Ucapan Darrel yang panjang lebar itu membuat Shasa merasakan sakit hati. Ternyata kehadiran dirinya di apartemen Darrel hanya membuat pria itu kerepotan dan merasa tersiksa.   Jika hidupnya selalu menjadi beban orang lain seperti ini. Rasa-rasanya ia ingin mengakhiri hidup saja dibanding hidup pun akan merasa percuma.   “Sudahlah aku pergi dulu, dan kau tetap di sini.”   Darrel benar-benar pergi meninggalkan Shasa sendirian di apartemen. Tanpa dia ketahui jika Shasa pergi jauh ke Moskow untuk mengobati patah hatinya dan segala rasa frustasi yang ada. Akan tetap jika kehadirannya tak disambut baik oleh pria itu, bisa jadi pikiran nekad Shasa akan keluar seperti saat ini.   “Sepertinya jalan satu-satunya agar hidupku tak menjadi beban siapapun adalah kematian,” ucap Shasa dengan bibir bergetar—Shasa menangis setelah kepergian Darrel yang meninggalkannya sendirian di apartemen.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD