Shasa yang memang memiliki sifat manja dan mudah baper hanya bisa mendengkus kesal saat ditinggal sendirian seperti ini oleh Darrel. Ia pun langsung bergegas menuju ke arah dapur untuk mencari sesuatu yang bisa diminum.
Saat membuka kulkas, matanya mencari-cari dan melihat-lihat semua isi kulkas yang kebanyakan diisi dengan minuman soft drink dan beberapa wine.
Shasa yang memang tidak biasa minum alkohol hanya mendengkus saja. Ia memang tak sejago dan sehebat kakaknya soal alkohol. Shasa sangat lemah dengan minuman ini, dan semua ini menurun dari sang mommy—Kaila—yang memang tidak jago meminum alkohol.
Tidak ada yang bisa diambil membuat Shasa merasa bingung. Ide gila akhirnya muncul di kepalanya untuk meminum sabun pencuci piring. Shasa sudah nekad akan mengakhiri hidupnya jika semua orang tampak membenci dirinya ini.
“Aku harus buat surat wasiat untuk daddy dan mommy,” ujar Shasa.
Shasa langsung berjalan ke arah kamar dan mengambil ponsel miliknya. Ia pun langsung merekam suaranya—mengucapkan surat wasiat—sebelum nanti ia mati karena minum sabun pencuci piring.
Shasa berdeham sejenak sebelum akhirnya merekam suaranya. “Daddy, Mommy, Kak Mamat, Shasa di sini mau meminta maaf sama kalian atas sikap dan tingkah laku Shasa selama ini. Maafkan Shasa yang sering menyebalkan di lingkungan keluarga. Terutama Shasa mau minta maaf sama mommy karena Shasa sering bikin mommy stress. Tapi, kalian bertiga tenang saja, oke. Shasa rasa-rasanya hidup di dunia ini hanya menjadi beban semua orang saja. Semua orang seperti membenci Shasa. Mungkin memang kehadiran Shasa di dunia ini sangat tidak diharapkan oleh siapapun. Maafin Shasa sekali lagi, Dad, Mom, Kak Mamat. Sampai ketemu di surga.”
Selesai mengucapkan itu, Shasa langsung mengirimkan ke nomor Melviano, Kaila, dan Matheo. Setelah mengecek semuanya sudah centang biru dua. Shasa bernapas lega, dan segera mematikan ponselnya.
“Sekarang giliran aku minum sabun, tapi rasanya pahit enggak, ya?” tampak keragu-raguan di wajah Shasa saat ini. Ia bingung antara ingin menelan sabun langsung atau dicampur dengan lainnya. “Apa ini akan langsung mati? Aduh, kenapa seluruh tubuhku menjadi merinding begini?”
Shasa yang berniat ingin bunuh diri justru merasa ketakutan sendiri kala membayangkan rasa sabun yang sangat pahit. Terlebih Shasa memiliki sifat yang gampang sekali baper, dan mudah tersinggungan.
Mengingat sejak kecil selalu dimanja dan semua jenis keinginannya selalu terpenuhi, Shasa merasa kaget saat berhadapan dengan Darrel yang memiliki sikap sangat keras kepadanya. Apalagi cara berbicara Darrel yang memang selalu teriak-teriak seperti membentaknya membuat Shasa merasa sakit hati.
Dengan hitungan satu dua tiga, Shasa langsung menenggak sabun pencuci piring dan ia langsung tersedak karena merasakan sangat pahit.
“Mommy …,” ringis Shasa sambil memegang lehernya kencang. “Uhuk … uhuk … uhuk.”
***
Di lain tempat Darrel baru saja mendaratkan bokongnya di kursi bartender. Ia mengerut bingung ketika ponselnya terus saja bergetar tiada henti.
Merasa kesal sendiri membuat Darrel segera melihat siapa yang sudah mengganggu kegiatan malamnya saat ini.
Ada nama sang daddy—Damian Blaxton—yang terpampang di sana tengah memanggilnya tiada henti. Sambil menelan ludahnya susah payah, Darrel langsung mengangkat panggilan itu.
“Ha—“
Baru saja benda pipih itu menempel di daun telinga. Darrel langsung mendapat amukan dan makian dari daddy-nya soal Shasa.
“Kau ini benar-benar tidak bisa diandalkan! Daddy menitipkan Shasa kepadamu karena percaya jika kau mampu menjaganya dengan baik. Akan tetapi mendengar kau menelantarkannya membuat Daddy benar-benar kecewa denganmu, Darrel. Sekarang kau cepat kembali ke apartemen sebelum terjadi sesuatu kepada gadis itu!”
“Tapi, Dad. Aku juga butuh hiburan. Tidak semuanya aku harus menemani dia selama 24 jam, kan?”
“Daddy bilang cepatlah kembali ke apartemen! Kalau kau tidak segera kembali ke apartemen, Daddy pastikan kalau nyawamu akan melayang, Darrel!”
“Kalau begitu bunuh saja diriku, Dad,” tantang Darrel, mulai terpancing emosi dari daddy-nya.
“Jangan egois, Darrel! Shasa tadi kirim voice note kepada Melvin, dan mengatakan jika anaknya dalam bahaya di apartemen. Cepat kau kembali dan cek kondisinya. Jangan lupa kabari Daddy setelah itu!”
Masih merasa enggan untuk kembali ke apartemen membuat Darrel hanya mendengkus saja saat daddy-nya memaksa untuk segera pulang.
“Darrel, aku tahu jika kau akan menipuku untuk pura-pura pulang. Jika terjadi sesuatu kepada Shasa, kau akan menyesal,” ancam Damian, tegas.
“Oke, Dad. Aku bakalan kembali ke apartemen sekarang juga.”
Nit.
Dengan cepat, Darrel langsung keluar kelab malam. Ia bahkan bertemu dengan perempuan yang sering dibooking tengah mengedipkan sebelah mata ke arahnya. Darrel hanya berdecak sebal karena tidak bisa bersenang-senang malam ini. Dan, semua itu gara-gara perempuan merepotkan bernama Clarisa Daviela Azekiel.
“Awas saja kau, Clarisa. Kupastikan setelah ini kau akan meminta kembali ke negaramu agar tidak lagi merepotkanku!” geram Darrel, emosi.
Darrel langsung memasuki mobilnya dengan mulut yang terus menggerutu karena kesal akan sikap Shasa yang mengadu kepada sang daddy. Bahkan ia akan memberikan pelajaran kepada perempuan manja itu setelah sampai nanti. Darrel kini tak segan-segan menggeber mesin mobilnya agar bisa melaju dengan cepat dan bisa sampai apartemen.
Tak membutuhkan waktu lama, Darrel sudah sampai di parkiran apartemen. Ia segera berjalan cepat menuju ke lift untuk membawanya ke lantai sepuluh.
Ting.
Sampai di lantai sepuluh, Darrel segera berjalan cepat ke arah pintu unitnya. Saat memencetkan kode password pintu apartemennya, dan kunci berhasil terbuka. Darrel langsung masuk dan berteriak memanggil nama perempuan itu.
“Clarisaaaa! Sialan kau mengadu kepada daddy-ku,” omel Darrel menerocos. “Clarisa!” panggil Darrel kembali karena belum mendapatkan sahutan apapun dari Shasa.
Darrel pun mengira jika Shasa kini tengah tertidur begitu pulas seperti biasa. Dengan rasa emosi yang menggebu-gebu, Darrel membuka pintu kamar perempuan itu dan ternyata tidak ada siapa-siapa alias zonk.
“Kemana dia?” gumam Darrel bingung.
Merasa haus karena berteriak-teriak memanggil nama Shasa membuat Darrel langsung melangkahkan kaki menuju dapur. Ia ingin mengambil soft drink dingin di dalam kulkas agar bisa melegakan tenggorokannya yang terasa kering.
Saat memasuki area dapur, Darrel terkejut kala melihat tubuh Shasa yang tergeletak di dekat cucian piring.
Buru-buru Darrel langsung berlari cepat dan menghampiri Shasa yang tergeletak di atas lantai. Mata Darrel melihat botol sabun pencuci piring yang tergeletak berceceran di dekat tangan Shasa.
“Astaga, Clarisa! Kau minum sabun, hah!” teriak Darrel yang langsung menepuk-nepuk pipi CLarisa.
Merasa jika Shasa hanya diam saja membuat hati Darrel langsung khawatir. Ia pun langsung menggotong tubuh Shasa dan berlari keluar apartemen untuk membawa tubuh perempuan itu ke rumah sakit terdekat.
Darrel langsung menaruh tubuh Shasa di samping kursi kemudi. Tak lupa juga ia memasangkan sabuk pengaman untuk Shasa. Darrel pun mengecek denyut nadi milik Shasa yang masih berdenyut, dan semua itu membuat Darrel bernapas lega.
“Dasar bodoh! Kenapa harus minum sabun segala!” omel Darrel, kesal.
Darrel yang memang jago menyetir tidak pernah takut jika mobilnya dalam kecepatan tinggi. Tak membutuhkan waktu lama, ia sudah sampai di depan rumah sakit yang dekat dengan apartemennya.
Dengan gerakan cepat pula petugas medis langsung membawa Shasa ke UGD untuk diperiksa. Darrel yang tidak ikutan masuk hanya bisa menghela napas panjang.
“Apa maksudnya minum sabun begitu, hah?” Darrel masih benar-benar bingung dengan sikap aneh dari Shasa yang sangat di luar dugaan.
Meski saat ini ia sangat khawatir, akan tetapi Darrel tidak suka menunjukkan secara terang-terangan atau berlebihan seperti kebanyakan orang.
Drrrt … drrrt … drrrt.
Ponselnya yang bergetar membuat Darrel semakin khawatir. Apalagi yang meneleponnya saat ini adalah; Melviano Azekiel—daddy dari Shasa.
Dengan satu tarikan napas panjang, Darrel pun segera mengangkat telepon dari uncle Melvin. Meski ia tak yakin setelah ini dirinya akan selamat.
“Halo, Uncle.
“Halo, Darrel. Tadi aku mendapatkan kiriman voice note dari Shasa, dan dia mengatakan jika—“
“Clarisa mencoba melakukan bunuh diri, Uncle.”
“Apa! Jadi benar dia bunuh diri seperti yang dikatakan di voice note?”
“Hm, maafkan diriku, Uncle.”
“Astaga! Lalu bagaimana kondisi putriku, Darrel? Gimana keadaan dia, hah?”
“Dia sedang ditangani oleh dokter.”
“Ck! Kau kenapa lalai menjaga putriku, Darrel! Benar-benar mengecewakan!” hardik Melviano terus menerus.
“Sorr—“
Nit.
Dimatikan secara sepihak membuat pikiran Darrel semakin kacau. Ia bahkan sudah menduga jika setelah ini akan ada telepon dari sang daddy yang akan kembali memakinya.
Drrrt … drrrt … drrrt.
Benar dugaan dan firasat dari Darrel jika setelah telepon dari uncle Melvin barusan, pasti disusul telepon dari sang daddy yang akan mengeluarkan makian versi seorang Damian Blaxton.
Merasa malas untuk berdebat membuat Darrel memilih untuk menolak panggilan itu. Darrel sudah bisa memprediksikan jika sang daddy akan lebih mengamuk jika panggilannya ditolak seperti ini.
“Maafkan aku, Dad. Aku sungguh lelah karena selalu disalahkan olehmu,” batin Darrel, kesal bercampur kecewa.