Kini setelah mengabaikan panggilan dari sang daddy, Darrel lebih memilih untuk masuk ke dalam ruang UGD yang terdapat Shasa.
Darrel bersukur dan bernapas lega karena kondisi Shasa tidak apa-apa. Perempuan itu hanya meminum sabun cuci piring dengan jumlah yang sangat sedikit hingga gampang dinetralkan. Mungkin jika diukur hanya meminum sekitar satu sendok teh saja. Namun, mengingat sifat Shasa yang manja hingga hal seperti ini saja dibuat besar olehnya.
“Sukurlah kau tidak apa-apa.”
Shasa menoleh sejenak dan membuang wajahnya kembali untuk menghindari tatapan dari Darrel yang memang sedang menatapnya tanpa berkedip.
“Memangnya di apartemen tidak ada air sampai kau minum sabun pencuci piring segala, hah?” sindir Darrel masih tak habis pikir dengan tindakan yang dilakukan oleh Shasa.
Shasa hanya diam saja mendengar serangkaian cerocosan dari Darrel. Ia masih merasa sakit hati dengan kata-kata pria itu.
“Kau tahu tidak? Gara-gara kau meminum sabun cuci piring, Daddy sampai meneleponku dan menyuruhku segera kembali. Kau bisa tidak, sih, sehari saja jangan membuat hidupku pusing,” omel Darrel panjang lebar meluapkan kekesalannya.
Shasa lagi-lagi hanya diam saja. Di saat sedang sakit begini bukannya dihibur atau diperhatikan ia justru mendapat omelan sepanjang rel kereta api oleh Darrel. Rasa-rasanya ia langsung merindukan suasana Jakarta—terutama keluarga yang selalu memperhatikan segala kondisi yang dirasakan.
Melihat tidak ada respon dari Shasa membuat seorang Darrel hanya menghela napas panjang. Ia pun akhirnya keluar ruangan UGD—menuju ke bagian administrasi—agar Shasa segera mendapatkan ruangan rawat inap meski sebetulnya dia tidak apa-apa, namun untuk memastikan kondisinya benar-benar sehat, Darrel memilih untuk menginap selama tiga hari agar bisa dipantau oleh dokter.
Selesai mengurus semuanya, Shasa langsung dipindahkan ke ruangan VVIP rumah sakit. Darrel langsung memilih duduk di sofa ruangan kamar rawat inap dengan wajah dingin dan datar seperti biasa.
Setidaknya jika ia membooking ruangan rawat inap, ia bisa ikutan istirahat jika memang harus menjaga perempuan itu.
“Kau kenapa, sih, dari tadi diam saja? Memangnya minum sabun cuci piring buat kau jadi bisu, hah?”
“Aku males berdebat.”
“Siapa juga yang ngajak berdebat.”
“Kau.”
“Enak saja. Diriku hanya mengutarakan—“
“Apa? Kau sejak tadi terus-terusan mengomeli diriku dan menyalahkanku terus menerus tiada henti.”
“Karena kau memang salah dan sangat gegabah, Clarisa.”
“Shasa! Panggil diriku Shasa.”
Darrel mendengkus karena perempuan itu memprotes soal nama panggilan yang diucapkannya. “Terserah kau saja.”
“Sebaiknya kau pergi saja kalau merasa diriku hanya menjadi beban dan merepotkanmu.”
Darrel sudah membuka mulutnya untuk menjawab ucapan Shasa, akan tetapi melihat wajah sendu dan sedih perempuan itu membuat Darrel langsung mengurungkan niatnya. Ia pun langsung merasa tidak enak hati sudah berkata kasar kepada Shasa. Lagipula apapun yang dikatakan hanya bentuk feedback dari sikap dan kelakuan Shasa selama ini.
“Sudahlah lupakan saja.”
Darrel akhirnya memilih untuk tiduran di sofa rumah sakit. Mengingat bentuk tubuhnya yang tinggi besar membuat kaki Darrel menjuntai ke lantai. Pria itu mulai memejamkan matanya sambil berpikir soal menghadapi Shasa ke depan agar bisa lebih sabar lagi.
Lain hal dengan Shasa yang lebih memilih untuk merenung. Jika Darrel masih saja merasa kerepotan dengan kehadiran dirinya, Shasa akan memilih untuk hidup terpisah dan fokus untuk kuliah saja. Mungkin ini juga yang akan membuat hidupnya lebih baik, dan Darrel pun akan merasa baik tanpa beban dari dirinya.
“Darrel,” panggil Shasa, pelan.
Darrel tak merespon. Matanya masih saja terpejam, meski Shasa tahu jika pria itu tidaklah benar-benar tidur melainkan hanya berpura-pura saja.
“Darrel, aku mau bicara penting.”
Darrel langsung mendengkus sebal. Ia saat ini membuka mata, namun masih dengan posisinya yang rebahan di atas sofa dengan posisi yang sangat tidak nyaman.
“Aku mau tinggal sendiri. Maksudnya, aku mau mencari apartemen sendiri hingga mulai saat ini tidak akan bikin repot lagi,” ucap Shasa, sedih.
Darrel hanya mendengkus saja sebagai respon. Jika Shasa hidup sendirian, yang ada nyawanya terancam oleh daddy-nya.
“Kau bisa kembali ke apartemen ataupun melanjutkan aktifitas yang membuatmu senang. Aku bisa di sini sendirian sampai dokter mengizinkan pulang nanti. Kau tenang saja, aku tidak akan merepotkanmu lagi.”
“Tidak usah aneh-aneh, Clarisa.”
“Ta—“
“Jika kau memilih pindah atau menginginkan tinggal sendiri. Itu sama saja aku menyerahkan nyawaku untuk dihabisi oleh daddy-ku sendiri. Tidak usah aneh-aneh. Cukup jalani saja apa yang kau inginkan, namun tidak usah terlalu ikut campur soal urusanku.”
Shasa menelan ludahnya sendiri saat mendengar pernyataan dari Darrel. Entah kenapa yang dilakukannya saat ini selalu salah di mata pria itu.
“Aku tidak ingin merepotkanmu lagi.”
“Justru kau akan semakin merepotkan jika hidup terpisah dariku. Pasti daddy akan lebih sering menelepon untuk terus mengawasimu.”
Shasa lagi-lagi hanya menelan ludahnya sendiri saat mendengar jawaban Darrel. Shasa masih tidak paham kenapa daddy-nya dengan Uncle Damian sangat ingin sekali ia dan Darrel dekat. Padahal secara garis besar ia dan Darrel saling bertolak belakang.
Merasa akan percuma jika dilanjut untuk membicarakan soal keniatan dirinya yang ingin hidup terpisah, Shasa memilih untuk tidur saja agar besok segera pulih—meski saat ini ia juga sudah sehat, hanya saja tenggorokannya masih terasa ada rasa sabun.
***
Hari ini Darrel sengaja tidak masuk kantor karena lebih memilih untuk mengurusi Shasa di rumah sakit. Sejak tadi pagi bangun hingga sore ini, Darrel dan Shasa sama-sama diam satu sama lain. Keduanya tidak ada yang mengeluarkan suara ataupun mengajak berbicara.
Darrel yang membeli makanan pun lebih memilih menaruh di atas meja nakas samping ranjang tanpa berkata apapun. Soal dia mau makan atau tidak bukan urusannya. Intinya ia sudah memberikan makan yang memenuhi gizi yang seimbang.
“Darrel, kapan aku akan pulang?” akhirnya Shasa menekan egonya untuk mengajak Darrel berbicara. Bahkan makanan dari pihak rumah sakit dan yang dibelikan Darrel pun tidak Shasa makan. Ia benar-benar mengandalkan vitamin saja saat ini—melalui infus.
“Mungkin kalau kau makan akan lebih cepat untuk pulang.”
Shasa menelan ludahnya sendiri kala Darrel menyindir soal makan. Ia tahu jika Darrel akan terus menyindir jika makanan yang sudah dia beli tidak dimakan. Shasa pun akhirnya menggerutu soal sikap Darrel yang sangat pendendam itu.
“Oke, aku akan makan. Bisa minta tolong ambilkan makanan itu?”
Darrel tak menjawab pertanyaan Shasa, namun pria itu bergerak jalan menuju ke dekat ranjang Shasa. Tak lupa Darrel mengambilkan makanan yang sudah dibelinya. Membuka makanan itu dan menyerahkan makanan itu kepada Shasa.
“Bisa makan sendiri, kan?”
“Bisa, tapi tanganku masih terasa lemas.”
Darrel mendengkus kala mendengar alasan yang terlontar dari Shasa. Dengan perasaan kesal akhirnya Darrel menyuapi Shasa makan.
Saat satu suapan itu masuk ke mulut Shasa, Darrel merasakan perasaan yang sangat aneh di hatinya. Ia merasa kesal, akan tetapi juga tidak tega melihat perempuan itu sakit.
“Kau kenapa melakukan aksi konyol itu, hah?” tanya Darrel di sela-sela menyuapi Shasa makan sore.
Shasa diam.
“Apa kau sudah bosan hidup?” tanya Darrel selanjutnya sambil terus menyuapi Shasa dengan sangat telaten.
“Soalnya kau marah-marah terus denganku.”
“Apa? Kau melakukan aksi konyol itu karena diriku?” Darrel langsung merasa tidak terima jika yang dilakukan oleh Shasa karena ulahnya. Dengan cepat pula Darrel menyanggah tuduhan dari Shasa. “Ini pasti alasanmu saja, kan?” tuding Darrel tak terima.
Shasa tak berani menjawab, ia justru mengalihkan tatapannya. Dan, bertepatan dengan itu pula ruang rawat inapnya terbuka yang menampilkan sesosok Damian Blaxton dengan wajah garangnya.
“Uncle,” sapa Shasa tersenyum lebar menyambut kedatangan Damian saat ini.
Berbeda dengan Damian yang langsung berjalan cepat dan langsung menghajar putranya—membuat Shasa langsung menjerit kaget.
BUGH.
“AAAA, Uncle,” pekik Shasa, gemetar ketakutan.
Darrel yang dipukul hanya diam saja. Piring yang tengah dipegangnya pun terlempar jauh dan pecah berserakan. Tak hanya itu saja, hidungnya bahkan mengeluarkan darah segar saat ini.
“Kau benar-benar mengecewakan Daddy, Darrel!” bentak Damian, lantang.
Darrel bahkan diam saja saat sang daddy mencengkeram kerah bajunya dengan sangat kencang. Bibirnya bahkan tersenyum tipis saat melihat wajah Damian yang diliputi oleh emosi yang begitu menggebu.
“Kau benar-benar anak yang tidak bisa diandalkan! Hidupmu selalu membuatku pusing! Menjaga anak perempuan satu saja tidak bisa, hah! Kau harus tahu, Darrel! Daddy sangat tidak enak dengan Melvin jika kau sangat lalai dan tidak bisa diandalkan untuk menjaga Shasa!” teriak Damian yang masih diliputi emosi yang begitu tinggi.
BUGH.
Shasa yang melihat Darrel dipukul habis-habisan oleh uncle Damian hanya bisa menangis tersendu-sendu saja. Ini semua karena ulahnya—sampai akhirnya Darrel yang terkena dampak atas perbuatannya ini.
Kedua tangan Shasa bahkan sangat gemetar saat ini. Apalagi melihat Darrel yang tidak melawan sama sekali saat dihajar habis-habisan seperti itu.
“Uncle ….” Suara Shasa sangat gemetar. Air matanya benar-benar tumpah ruah saat ini karena melihat secara langsung bagaimana Damian memperlakukan Darrel begitu sangat keras. “Darrel tidak bersalah,” tambah Shasa dengan suara yang masih gemetar ketakutan.
Damian yang masih emosi hanya bisa mengatur napasnya yang masih terasa tersengal. Tatapan matanya begitu tajam ke arah Darrel—anaknya.
Terlebih saat mendapat kabar dari Melviano soal Shasa yang mencoba bunuh diri membuatnya langsung terbang ke Moskow tanpa berpikir panjang lagi. Pikirannya saat terbang ke Moskow hanya ingin menghajar putranya sampai puas karena dari dulu sikap Darrel selalu saja sudah diatur.
“Daddy sudah izinkanmu tinggal di Moskow, Darrel. Namun, Daddy hanya meminta satu permintaan dalam dirimu selama ini untuk menjaga Shasa, akan tetapi kau justru lalai menjaganya. Apa susahnya bersikap lembut dan baik kepadanya, hah! Kau harus bisa lebih lembut kepada perempuan, Darrel. Jangan kau samakan dia dengan para jalang yang menghangatkan ranjangmu!” bentak Damian masih meluapkan emosinya.
“Daddy kurang mengerti akan diriku. Yang Daddy kasih pengertian hanya Xander saja. Sejak kecil diriku selalu mengalah kepada Xander. Namun, jika aku berbuat salah sedikit saja kau akan marah seperti kehilangan uang jutaan dollar.”
BUGH.
“Bicara apa kau, hah!”
Shasa semakin menangis melihat perdebatan kedua pria di depannya. Shasa yang tidak tega dengan sikap Damian kepada Darrel membuatnya nekad untuk melepaskan infus yang berisi vitamin itu.
Shasa kini berdiri tepat di depan Darrel—merentangkan kedua tangannya untuk melindungi pria itu.
“Jangan pukuli Darrel lagi, Uncle. Shasa mohon sama Uncle. Darrel tidak bersalah soal ini.”
Damian mendengkus melihat Shasa yang membela anaknya. Namun, hati kecilnya sangat bahagia melihat interaksi kedua orang itu yang mulai saling peduli.
Agar tidak ketahuan, Damian tetap menampakkan wajah datar dan garangnya. Ia berdeham sejenak sebelum mengucapkan kata-kata lainnya. “Karena kau yang meminta aku berhenti menghajar anak k*****t ini, sudah pasti akan aku turuti cantik,” ucap Damian dengan suara yang sangat lembut.
“Terima kasih, Uncle.”
“Hah! Perasaanku benar-benar panas jika melihat anak itu!” Damian langsung bergegas pergi dari ruangan rawat inap Shasa. Namun, sebelum keluar dari kamar rawat inap ia menyempatkan diri menoleh dan tersenyum saat melihat sikap Shasa yang begitu sweet.
Mengingat hanya tinggal berdua membuat Shasa langsung berbalik badan menatap Darrel yang bonyok akibat pukulan dari uncle Damian. Telapak tangan Shasa pun langsung mengusap sudut bibir itu lembut, akan tetapi Darrel segera menolak dengan menyingkirkannya sangat kasar.
“Tidak usah sok peduli denganku!” ujar Darrel, ketus.