Bab.13 Mulai Saling Peduli

1403 Words
  Shasa merasa sedih sekaligus tak enak hati melihat wajah Darrel yang terluka akibat dirinya yang akan melakukan aksi bunuh diri itu. Terlebih apa yang dilakukan uncle Damian sangat membuatnya begitu syok. Pria itu benar-benar sangat niat terbang sejauh ini dari Los Angeles ke Moskow hanya untuk menghajar anaknya demi dirinya.   “Darrel, aku minta maaf. Ini semua gara-gara—“   “Sekarang kau tahu, kan, bagaimana Daddy-ku jika mengamuk.”   “Maaf, Darrel,” lirih Shasa dengan suara yang bergetar.   Melihat dan mendengar Shasa yang menangis justru semakin membuat kepala Darrel pusing. Ia takut jika daddy-nya akan salah paham lagi jika melihat Shasa menangis seperti itu.   Dengan berat hati akhirnya Darrel segera berdiri dari posisi duduknya. Pria itu berjalan mendekat ke arah Shasa yang masih saja berdiri dengan seluruh tubuh bergetar.   Sebelum menarik dan memeluk Shasa ke dalam dekapannya, Darrel mencoba membuang napas sejenak.   Kini Darrel sudah berhasil memeluk Shasa. Tangannya mengusap lembut kepala Shasa. “Jangan nangis lagi. Nanti Daddy salah sangka, dan aku dihajar lagi olehnya.”   Hiks … hiks … hiks.   “Maafkan aku, Darrel. Gara-gara sikapku yang sangat gegabah, kau menjadi korban di sini.”   Darrel terkekeh yang membuat Shasa terpaksa mendongak untuk melihat ekspresi pria kaku itu tengah tertawa.   “Memangnya ada yang lucu?” tanya Shasa begitu polosnya.   “Kau yang lucu. Akhirnya setelah berdebat sejak semalam, kau mengakui kesalahanmu juga.”   Shasa mendengkus kesal mendengar Darrel yang sangat jujur akan perkataannya. Merasa sebal pun akhirnya Shasa berani mencubit pinggang Darrel dengan gemas.   “Aduh! Kau mencubitku, hm?”   “Karena kau menyebalkan,” sahut Shasa dengan wajah juteknya.   “Astaga, baru saja aku bangga akan pengakuanmu. Tapi, kenapa sekarang menjadi menyebalkan lagi?”   “Kau yang menyebalkan bukan diriku, Darrel.”   “Enak saja, kau yang menyebalkan karena gampang sekali menangis.”   Merasa diledek terus menerus membuat Shasa kesal sekaligus geram kepada Darrel. Akhirnya Shasa pun terus melayangkan cubitan di pinggang Darrel dengan kencang yang membuat pria itu merintih kesakitan.   “Aduh, sakit Clarisa.”   “Biarin aja, wlee.”   “Sakit, Clarisa.”   Darrel yang merasa geli dicubit Shasa akhirnya berbalik membalas dengan menggelitiki pinggang Shasa dengan kencang yang membuat tubuh Shasa bergerak tak karuan.   Kini mereka berdua saling adu cubit dan gelitikan satu sama lain yang membuat keduanya tertawa begitu renyah tanpa mereka sadari.   “Darrel, ampun … hentikan, ini sangat geli sekali,” pinta Shasa kepada Darrel agar pria itu menghentikan gelitikannya.   Tanpa mereka sadari, aksi keduanya terpantau oleh mata seseorang. Siapa lagi kalau bukan Damian yang melihat itu semua sambil tersenyum senang. Ternyata pukulan dirinya membawa pengaruh yang sangat baik, dan jika Melviano melihat sekaligus mendengar ini pasti dia akan sangat bahagia.   Baik Shasa dan Darrel masih saja terus balas membalas meski Shasa sudah mengangkat kedua tangan minta ampun. Namun, Darrel terlalu senang dan semangat menggelitiki Shasa sampai tak sadar jika ia sudah memeluk tubuh perempuan itu cukup lama.   Tanpa disadari pun mereka kini sudah berdiri dekat dengan sofa yang membuat kaki Darrel tersandung kala ingin mundur—membuat tubuhnya terjatuh di atas sofa dengan posisi Darrel yang duduk dengan Shasa yang ikut jatuh di atasnya.   Jarak wajah mereka saat ini benar-benar sangat dekat. Bahkan mereka berdua bisa merasakan deru napas mereka masing-masing. Shasa yang merasa salah tingkah pun langsung mencoba bergegas untuk berdiri dari posisinya yang sangat akward itu.   Namun, tanpa disadari jika Darrel menahan tubuh itu untuk tetap dipelukanya. “Darrel,” gumam Shasa dengan suara yang menyerupai sebuah bisikan. Shasa merasakan jika tindakan Darrel saat ini sangatlah aneh.   “Sebentar saja,” sahutnya dengan suara yang sama-sama terdengar serak.   Shasa yang merasa bingung dengan sikap Darrel hanya bisa menurut saja. Perempuan itu pun memilih untuk menjatuhkan kepalanya di d**a bidang milik Darrel. Di sana—Shasa—mendengar suara degupan jantung Darrel yang begitu sangat cepat. Tanpa disadari, Shasa tersenyum tipis.   “Terima kasih, sekarang kau boleh berdiri,” ujar Darrel membuat Shasa terkejut.   Masih dengan wajah yang tampak kecewa, Shasa menatap Darrel sebal. Baru saja merasakan suara Irama detakan jantung Darrel, pria itu justru menyuruhnya segera berdiri.   “Badanmu kecil-kecil ternyata sangat berat, awwww,” ledek Darrel selanjutnya yang membuat Shasa mendengkus sebal.   “Ihhh … Darrel!”   Dengan cepat pula Shasa langsung berdiri dengan wajah muram. Ia berjalan menuju ke arah ranjang. Matanya melihat tiang infus—bibirnya meringis melihat selang yang tergantung terombang-ambing karena aksinya yang ingin melindungi Darrel dari pukulan Uncle Damian.   “Biar aku panggil perawat,” celetuk Darrel tiba-tiba.   “Tidak usah! Aku sudah sembuh, dan ingin pulang hari ini.”   “Tapi aku sudah membooking selama tiga hari.”   “Apa? Kau gila, Darrel! Aku hanya meminum sabun pencuci piring sedikit saja kemarin karena rasanya pahit.”   “Kalau manis namanya air gula.”   Shasa berdecak kala mendengar jawaban dari Darrel. Pria itu bahkan sudah pergi dengan gaya dingin dan datar seperti biasanya. Bahkan pria itu seperti tidak merasakan kejadian apapun barusan. Lain hal dengan Shasa yang masih tersipu malu dan sedikit merona kala mengingat momen dirinya jatuh di atas Darrel—sampai pria itu menahannya sejenak tadi.   “Apa, sih, maksudnya Darrel tadi?” gumam Shasa bertanya-tanya pada dirinya sendiri.   Tak membutuhkan waktu lama, datang Darrel bersama seorang perawat yang akan memasangkan selang infus yang berisi vitamin untuk dipasangkan kembali ke lengan Shasa.   Rasanya ingin memprotes agar segera pulang dari rumah sakit ini, akan tetapi mendengar jika Darrel sudah membooking selama tiga hari rasanya kasihan jika tidak digunakan.   Setelah sudah terpasang dan perawat itu pergi. Kini di dalam kamar hanya ada Shasa dan Darrel. Mereka berdua langsung mengalami kondisi dejavu saat ini. Mereka benar-benar merasakan akward momen.   “Darrel, aku minta maaf soal ta—“   “Lupakan hal itu, Sha.”   “Sha?” Shasa langsung memastikan ucapan dari Darrel barusan yang memanggil dirinya dengan sebutan ‘Sha’ dan itu sangat membuat hatinya bahagia.   “Ya namamu Clarisa, jadi Sha, kan?”   “Shasa, right.”   “Terserah kau saja. Aku hanya memanggil sesuai namamu saja.”   Shasa mendengkus sebal kala Darrel sangat sulit untuk diberitahukan. Padahal jika memanggil nama dengan sebutan ‘Shasa’ itu menandakan jika ia sangat welcome, dan menandakan sudah akrab. Karena sapaan ‘Shasa’ diperuntukkan untuk orang-orang dekat dalam hidupnya.   “Ya sudah kalau begitu. Aku hanya memberimu kemudahan memanggil namaku saja. Kalau Clarisa terlalu panjang, jadi aku sarankan kau memanggil diriku dengan Shasa seperti yang lain.”   “Aku tidak suka disamakan, jadi aku ingin berbeda sendiri.”   “Terserah kau saja kalau begitu, Darrel. Huh, keras kepala,” gerutu Shasa mengomeli Darrel.   Aksi perdebatan mereka pun akhirnya terhenti oleh kedatangan seorang pria paruh baya yang sangat Shasa cintai juga sayangi. Siapa lagi kalau bukan Melviano Azekiel sang daddy.   “Daddy ….”   Shasa benar-benar tak menyangka jika daddy-nya akan ke sini—Moskow—hanya untuk menemuinya karena sebuah voice note yang dikirimkannya kemarin.   “Daddy kenapa ke sini?” tanya Shasa saat Melviano memeluk tubuhnya dengan penuh kasih sayang.   “Daddy khawatir denganmu, little baby.”   “Namun, kau harusnya tidak perlu jauh-jauh terbang ke sini, Dad. Pekerjaanmu pasti sangat banyak saat ini.”   “Jangan pernah berkata seperti itu sayang. Apapun yang menyangkut dirimu akan selalu penting dan utama untukku.”   “I’m sorry, Dad. I’ve made you worry.”   Melviano hanya menggeleng—tidak setuju dengan ucapan dari Shasa yang terus menyalahkan dirinya sendiri. Bagi seorang ayah seperti Melviano. kebahagiaan yang paling utama saat ini; melihat para anak-anaknya hidup bahagia.   Bahkan kini Melviano terus memeluk Shasa dengan sangat erat dan posesif. Setelah cukup lama, Melviano melepaskan pelukan itu dan menoleh ke belakang yang terdapat Damian beserta Darrel yang sedang berdiri melihat sikap Melviano yang penuh kasih sayang kepada Shasa.   “Aku di sini mau meminta maaf kepada kau, Dam—terutama Darrel. Maafkan jika putriku membuat kalian repot. Mungkin aku bakalan bawa Shasa pulang.”   “Mel—“   “Dam, aku tahu soal dirimu yang menginginkan jika anak-anak kita dekat—dan bisa menjalani hubungan lebih. Namun, melihat kejadian ini membuat diriku sangat parno. Aku takut kehilangan putriku.”   Baik Darrel dan Shasa langsung sama-sama terkejut dengan ucapan yang dilontarkan oleh Melviano barusan. Tanpa sadar kedua bola mata Darrel dan Shasa kini saling menatap satu sama lain. Menyiratkan jika mereka berdua sama-sama terkejut akan perjodohan yang dilakukan secara tidak langsung oleh kedua orangtua mereka.   “Apa ini alasan Daddy mengizinkan aku pergi jauh ke Moskow karena ingin menjodohkanku dengan Darrel, begitu?” tanya Shasa memastikan arti ucapan Melviano—daddy-nya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD