Kini mendapatkan pertanyaan seperti itu membuat seorang Melviano langsung diam membisu. Pria itu mulai kebingungan kala putrinya terus-menerus menatap penuh tuntutan agar segera dijawab.
“Katakan, Dad. Apa ini alasanmu mengizinkanku pergi sejauh ini? Padahal yang aku tahu, kau tidak akan segampang ini untuk melepaskan putrimu ini pergi jauh-jauh.”
Merasa ada kekecewaan di wajah Shasa, Melviano langsung memegang kedua telapak tangan putrinya erat. Menciumnya sebentar kemudian ia taruh di dadanya. “Daddy melakukan ini demi kebaikanmu.”
“Kebaikan apa?”
“Agar kau bisa mendapatkan sosok suami yang baik, dan bisa melindungimu, Sha. Jadi jika suatu saat Daddy tiada, Daddy sudah merasa lega dan tenang karena putri kesayangan Daddy sudah berada di tangan orang yang tepat.”
“Tapi, Dad—“
“—Sssst … lupakan, Danis, oke. Dia sudah berbahagia dengan perempuan yang dicintainya. Mungkin ini juga alasan Tuhan memisahkanmu dengan Danis karena tahu akan ada Darrel yang akan mengobati sekaligus menjagamu.”
Shasa mendengar itu langsung tak bisa berkata-kata lagi. Matanya langsung melirik untuk menatap ke arah Darrel yang masih diam—merasa syok akan perjodohan ini—bukan hanya dia saja melainkan ia juga syok.
“Tapi, aku dan Darrel—“
“Bisa pelan-pelan, Shasa,” sela Damian cepat. “Kalian bisa saling mengenal satu sama lain dulu agar bisa mendapatkan misteri yang ada. Uncle sangat yakin sekali meski Darrel sangat cuek dan pedas jika berbicara, akan tetapi dia memiliki pribadi yang penyayang,” imbuh Damian panjang lebar.
Mendengar itu Shasa rasanya ingin muntah sekali. Darrel itu bukan hanya bermulut pedas saja melainkan memiliki jiwa yang sangat tega dan suka marah-marah. Rasa-rasanya Shasa tidak sanggup memiliki hubungan dengan pria kaku itu. Lagipula tipe pria idaman Shasa itu yang manis, lembut, dan romantis seperti … Da—sudahlah lupakan saja.
Kini Darrel berdeham pelan sebelum mulai menimbrung obrolan soal perjodohan yang jelas-jelas ia tidak ketahui sama sekali soal ini. “Maaf sekali, Dad. Tapi, kau tahu sendiri jika diriku belum bisa berkomitmen dengan siapapun.”
“Bisa pelan-pelan, Darrel. Lagipula Shasa juga masih ingin berkuliah lagi, dan kau bisa menggunakan waktu ini untuk saling mengenal satu sama lain,” jawab Damian, tegas.
“Dad, ta—“
“Daddy tidak mau mendengar bantahan apapun!” tegas Damian, telak.
Darrel merasa percuma saja jika melawan soal ini kepada Damian. Pria paruh baya itu pasti akan terus bersiteguh dengan pendiriannya ini. Terpaksa Darrel langsung menyetujui untuk menjalani proses perjodohan konyol dengan gadis manja yang tampak sedang berpikir itu.
“Uncle, minta maaf kepadamu, Darrel. Mungkin nanti Shasa akan ting—“
“Biarkan dia tinggal sama saya, Uncle. Bagaimanapun dia calon istri saya, kan?” sahut Darrel membuat semua orang yang di sana terkejut—terutama Shasa.
Shasa tampak menatap ke arah Darrel penuh banyak pertanyaan soal ucapannya itu. Apa maksudnya pria itu berkata demikian? Jadi dia setuju soal perjodohan ini? Apa-apaan, sih.
“Jadi kau setuju soal perjodohan ini?” tanya Damian dan Melviano kompak.
Darrel mengangguk dengan mengeluarkan senyum menyeringai dengan tatapan mata ke arah Shasa penuh misteri.
“Sukurlah, akhirnya kau setuju,” balas Damian selanjutnya.
“Tentu saja aku setuju, Dad. Shasa perempuan cantik, dan sangat … sek—“
“Ekhem! Jangan macam-macam sebelum menikah!” ancam Melviano, tegas. “Akan aku penggal kepalamu jika berbuat macam-macam kepada putriku,” imbuhnya lagi kala Melviano bisa membaca otak c***l dari Darrel. Sebrengsek-brengseknya seorang Melviano, ia tidak akan rela dan sudi jika putrinya dirusak sebelum menikah.
Di saat ketiga pria itu tengah saling melempar ucapan satu sama lain. Berbeda dengan Shasa yang masih diam membisu dengan pikiran melayang ke mana-mana.
Jujur saja ia masih belum siap dijodohkan seperti ini. Kenapa pula nasib dirinya seperti sang mommy dulu. Shasa ingin seperti Kak Matheo yang memilih calon pendampingnya sendiri.
***
Kini pada akhirnya setelah infus vitamin habis, Shasa dan Darrel pergi ke bandara untuk mengantar kepulangan para daddy ke negaranya masing-masing.
Melviano yang akan pulang ke Indonesia, sedangkan Damian akan pulang ke Los Angeles. Darrel sejak tadi terus saja memegang telapak tangan Shasa dengan erat yang membuat sang empu merasa risih sendiri.
“Pokoknya Uncle minta kau harus tetap jagain Shasa, ya, Darrel. Perlakukan dia dengan baik, kalau tidak dia akan Uncle ambil nanti jika kejadian ini terjadi lagi,” pesan Melviano sebelum benar-benar Check-in.
“Pasti dong Uncle. Darrel pasti akan jagain Clarisa dengan baik.”
“Thanks you, Darrel.”
Melviano langsung memeluk Darrel dan menepuk-nepuk punggung pria itu. Setelah semuanya beres, dan tidak ada lagi masalah. Kedua para daddy benar-benar pergi.
Kini Darrel langsung menoleh ke samping—menatap Shasa yang tampak sedih ditinggal uncle Melviano itu. Batinnya mendecih karena sikap Shasa yang pura-pura kuat dan tegar sejak dari rumah sakit sampai bandara. Padahal hatinya kian menangis itu perempuan.
“Sudahlah calon istri, sebaiknya kita pulang,” ajak Darrel meledek.
Mendengar itu membuat Shasa mendengkus. Ia segera melepaskan genggaman tangan Darrel yang sangat erat. “Lepaskan genggaman tanganmu! Aku malas dekat-dekat denganmu.”
“WOW calon istri, kau kenapa sungguh menyebalkan, hm?”
“Berhenti memanggil seperti itu, Darrel!” geram Shasa kesal.
“Aku hanya sedang memerankan karakterku saja.”
“Ck! Sudahlah, sebaiknya kita bersikap biasa saja seperti awal-awal. Tidak usah berubah menjadi sangat berlebihan seperti ini. Aku jijik mendengarnya.”
“Wah wah wah akan aku laporkan ini ke Uncle Melvin jika putrinya yang menolak perjodohan ini.”
Merasa diancam oleh Darrel membuat Shasa geram sendiri. Kenapa sekarang kondisinya sangat terbalik? Biasanya ia yang akan mengancam, entah kenapa sekarang jadi Darrel. Benar-benar menyebalkan.
“Aku heran denganmu, kenapa juga kau menerima perjodohan konyol ini? Jelas-jelas diri kita berbeda, Darrel.”
“Tentu saja kita berbeda. Aku pria, dan kau perempuan yang akan melahirkan anak-anakku.”
“Ihhh … mimpi saja kau!”
Shasa langsung berjalan cepat menuju ke arah parkiran bandara dengan mulut yang masih saja misuh-misuh kepada Darrel yang mendadak sangat berubah ini. Ada apa dengan otak pria itu, sih?
“Calon istri! Kau meninggalkan calon suamimu berjalan sendiri, hm?” teriak Darrel meledek.
Entah kenapa meledek Shasa membuat hatinya merasa bahagia. Terlebih melihat wajah tidak terima dari perempuan itu yang sangat begitu imut juga konyol. Mungkin dengan sering-sering meledek perempuan itu sampai risih akan membuat dia segera pergi dan hengkang dengan sendirinya. Dengan begini ia tidak akan menjadi sasaran sang daddy untuk disalahkan karena perempuan itu sendiri yang akan menyerah dengan semua ini. Ya, Darrel akan menyingkirkan Shasa dari hidupnya dengan cara halus saja jika cara kasar tidak mempan, dan justru merugikannya.
Kini setelah sampai di parkiran bandara, Darrel dan Shasa langsung memasuki mobil. Tidak ada obrolan sama sekali yang membuat Shasa semakin bingung akan sikap Darrel yang sangat gampang berubah.
“Darrel.”
“Ya.”
“Kau tidak serius menerima perjodohan ini, kan?” tanya Shasa hati-hati.
“Kenapa tidak serius? Kedua orang tua kita sangat menginginkan ini, kan? Kenapa tidak kita kabulkan saja keinginan mereka?”
“Yang benar saja, Darrel. Aku tidak mencintaimu sama sekali.”
“Kau pikir aku mencintaimu begitu?”
“Lalu kenapa kau menerimanya kalau begitu?”
“Aku hanya mencari aman dan tidak ingin membuat mereka berlama-lama di sini jika kita berdua menolak. Kau harus bisa baca pikiran mereka, Clarisa. Kau sudah besar harusnya paham dan mengerti.”
“Jadi kau mengiyakan ini semua karena ingin mencari aman saja tanpa benar-benar menerima?”
“Tentu saja. Memangnya kau berpikir aku bahagia menerima perjodohan sialan ini? Tidak sama sekali, dan kau bukan tipe-ku.”
Jawaban Darrel sangat menohok hatinya hingga membuat Shasa mendengkus. “Kau juga bukan tipeku.”
“Ya sudah kalau begitu. Kita jalani saja kehidupan masing-masing seperti biasa. Jika kau ingin hidup di apartemen sendiri silakan saja, asal tidak usah dikit-dikit telepon Daddy-mu.”
Shasa berdecak sebal. Ternyata benar saja jika sikap Darrel barusan hanya kamuflase untuk menipu keadaan di depan para daddy. Dasar pria berengsek.
“Memangnya kau berharap jika aku menerima ini dengan serius?”
“Hah! Tidak kok. Aku tidak berpikir seperti itu."
“Ya sudah kita jalani saja kehidupan masing-masing. Oh, satu lagi yang ingin aku katakan kepadamu. Tolong kurangi rasa penasaran dan keingintahuanmu tentang kehidupanku. Itu benar-benar sangat mengganggu, dan tidak sopan.”
Selalu disalahkan seperti biasa membuat Shasa hanya diam saja. Meski ia terkadang bar-bar dulunya, namun dengan seringnya ia patah hati saat ini membuat pribadi seorang Shasa menjadi pendiam dan sangat introvert.
Melihat jika Darrel masih merasa enggan untuk direpotkan membuat Shasa berpikir untuk hidup sendirian saja di apartemen.
“Kalau begitu besok aku akan cari apartemen sendiri agar kau bisa tenang hidup sendiri dan sesukamu.”
“Tidak usah! Kau tetap tinggal di apartemenku saja.”
“Kenapa begitu? Lalu kita tetap hidup bersama begitu? Meski kau tahu sendiri pasti kita berdua akan terus berantem dan berdebat?”
“Tentu saja aku yang akan keluar dari apartemen itu. Kau tenang saja, aku bakalan keluar dari apartemen itu dan tinggal bersama grandpa.”
Shasa tidak menyahuti ucapan Darrel yang terakhir. Ia lebih memilih diam, dan masa bodoh akan tindakan yang dilakukan oleh Darrel.
“Terserah kau saja, Darrel. Tujuanku ke Moskow hanya untuk mengobati rasa luka dan sakitku karena Danis menikah dengan Kak Senja,” batin Shasa, sedih sekaligus kecewa berat dengan fakta yang terjadi dalam hidupnya.