←3

1297 Words
Bagian 3 HOME VISIT “Entah kenapa, semakin dipandang wajahnya tampak semakin menarik.” - Arya Herlambang - Usai jam praktik selesai, Arya bergegas berjalan menuju ke parkiran. Akhir pekan ini, dia terpaksa mengambil jadwal praktik pengganti. Lelaki berlesung pipi itu harus segera tiba di rumah karena akan ada program home visityang baru pertama kali bagi Tasya. Rencananya wali kelas Tasya akan datang ke rumah sekitar pukul 10.30 nanti. Setelah memarkirkan mobil di depan pintu pagar, Arya masuk ke dalam rumah dengan berlari. Ternyata, guru Tasya masih belum datang. Putrinya tampak sedang menunggu di ruang tamu sambil mengobrol dengan seseorang melalui panggilan video. “Assalamu’alaikum, Tuan Putri,” sapa Arya saat masuk. “Wa’alaikumussalam,” sahut Tasya tanpa melepas perhatiannya dari layar ponsel yang sedang dia pegang. Arya memperhatikan Tasya yang asyik mengobrol dan melirik pada wajah yang terpampang pada layar ponsel itu. “Tante Zaskia serius mau pulang bulan depan? Tasya mau dibawain oleh-olehnya cokelat, boneka, hmm … apa lagi ya. Pokoknya yang bagus-bagus deh! Tasya percaya sama seleranya Tante.” Dari perkataan Tasya itu, Arya menjadi tahu bawa putrinya itu sedang menelepon Zaskia. Mereka memang sangat akrab, bahkan Tasya sudah seperti anak Zaskia karena sejak kecil gadis kecil itu sudah diasuh oleh oma dan tantenya itu. Saat ini Zaskia masih berada di Malang dan baru menyelesaikan studinya di sana. Tasya segera mengakhiri sambungan telepon dengan tantenya setelah mendengar suara seseorang yang mengucapkan salam. Dia keluar dan menyambut gurunya yang baru saja tiba. “Pa, ini Bu Raline udah datang,” ucap Tasya saat mereka masuk ke ruang tamu. Guru Tasya itu memberikan senyuman tipis lalu menganggukkan kepala. Ini kali kedua Arya bertemu dengannya dan dia merasa sangat gugup. Tasya menarik tangan Arya hingga membuatnya kembali tersadar. “Bu Raline, silakan duduk! Tasya senang Ibu mau main ke rumah Tasya.” Wajah gadis kecil itu tampak ceria. Raline tersenyum. “Alhamdulilah, Ibu juga senang. Tapi maaf ya, Ibu datang terlambat karena tadi agak lama nunggu ojegnya. Pak Bakti juga gak bisa ikut ke sini.” Tak lama, Mayang datang membawa beberapa cangkir teh manis dan kue untuk disuguhkan di meja. Beliau memang sudah mengenal Raline karena lebih sering datang ke sekolah Tasya dibandingkan dengan Arya. Biasanya Arya hanya mengantar atau menjemput Tasya bila ibunya itu berhalangan. Raline mulai membuka obrolan dengan menanyakan kabar dan kegiatan sehari-hari Tasya di rumah. Dia juga memberikan laporan perkembangan kognitif dan motorik Tasya di sekolah. Menurutnya, Tasya merupakan anak yang ceria dan kritis. Dia juga memiliki wawasan yang lebih luas dibandingkan teman-temannya. Mungkin wajar saja karena Tasya memiliki kebiasaan dibacakan buku oleh Mayang atau Arya setiap malam sebelum tidur. Kemampuan membacanya juga sudah cukup baik walaupun masih belum terlalu lancar. Arya terus memperhatikan Raline saat dia berbicara. Sesekali ada seulas senyuman manis dari bibir perempuan itu. “Entah kenapa, semakin dipandang wajahnya tampak semakin menarik,” ujar Arya dalam hati. Namun, dia langsung menggelengkan kepalanya agar tidak larut dalam pesona ibu guru itu. Raline juga membawa beberapa hasil karya yang dibuat oleh Tasya. Keunggulan yang dimiliki anak itu adalah dia suka sekali menggambar dan sepertinya sudah bisa memiliki konsep gambar yang ingin dibuat. Ada satu gambar yang menarik perhatian Arya, lalu dia mengambil kertas gambar itu. Tasya menggambar pemandangan sebuah taman yang terlihat sepi walaupun ada beberapa permainan di sana. Ada sebuah ayunan yang sedang dinaiki oleh seorang anak perempuan dan seorang wanita berdiri di belakangnya yang siap membantu mendorong ayunan itu. “Ini Tasya yang gambar?” tanya Arya pada Tasya yang duduk di samping Raline. “Iya, Pa. Di situ ‘kan ada nama Tasya yang tulisannya kecil di bawah. Itu ceritanya Tasya lagi main ayunan dan Bu Raline yang dorong Tasya. Bagus ‘kan?” “Bagus! Tasya punya bakat menggambar kayaknya nih!” puji Arya sambil memandangi gambar putrinya itu. “Tasya ‘kan diajarin Bu Raline! Bu Raline juga bagus gambarannya, Pa.” Arya dan Mayang saling menatap setelah mendengar jawaban Tasya. Mereka merasa senang melihat Tasya yang sangat akrab dengan gurunya itu. Namun, Arya merasa gambar ini seperti menyimpan sebuah pesan bahwa putrinya itu merasa kesepian. Kemudian Raline memohon izin untuk melihat kondisi kamar Tasya. Arya membiarkan Tasya dan omanya yang menemani Raline, sedangkan dia menunggu di ruang tamu. Tiba-tiba ponsel Arya berdering, ada nama Imelda yang muncul pada layarnya. Panggilan telepon itu dia tolak, tetapi Imelda terus menerus mencoba menghubunginya. Dengan terpaksa, akhirnya panggilan itu dia terima. “Arya, kamu di rumah ‘kan? Aku lagi otwmau ke sana,” ucap Imelda tanpa basa-basi ketika panggilan itu tersambung. “Maaf, sebentar lagi aku juga mau keluar bawa Tasya. Kamu gak usah kesini!” jawab Arya ketus. “Aku mau ketemu Tasya, mau ngasih hadiah buat anakku.” Arya tidak ingin Tasya bertemu dengan ibunya lagi. Tanpa menghiraukan ocehan Imelda, lelaki itu menutup telepon karena melihat Tasya dan Raline kembali ke ruang tamu disusul oleh Mayang di belakang mereka. “Pa, Bu Raline mau pamit pulang. Kita antar Bu Raline, yuk! Kasihan kalau harus nunggu ojeg lagi,” ajak Tasya. “Terima kasih, Salihah. Bu Raline mau jalan aja sampai depan komplek biar sehat,” kata Raline seraya mengusap kepala Tasya. “Kalau mau sehat, Bu Raline harus sering-sering ngobrol sama Papa Tasya! Papa ‘kan dokter, tugasnya mengobati dan menjaga kesehatan orang-orang.” Raline tertawa mendengar ocehan Tasya yang memang sering tidak terduga. Mayang memberikan kode agar Arya mau mengantarkan Raline pulang. Hati dan pikirannya sedikit bertentangan. Ada keinginan dalam hati Arya untuk mengantar, tetapi pikirannya menolak karena khawatir akan menjadi fitnah. Namun, ketika dia teringat pada Imelda yang tadi menelepon, Arya berpikir untuk memanfaatkan kesempatan ini. Tasya menarik tangan Raline setelah dia berpamitan pada Mayang. Kali ini Raline tidak bisa menolak lagi. “Mari, Bu Raline, kami antar!” Arya berdiri, lalu berjalan menuju mobil. Kemudian dia membukakan pintu penumpang untuk Tasya yang sudah menjadi kebiasaan bila akan bepergian dengannya. Tiba-tiba sebuah mobil menepi di belakang mobil Arya dan menyalakan klaksonnya. Saat melihat orang yang keluar dari mobil itu, Tasya langsung bersembunyi di belakang tubuh Raline. “Tasya gak mau ketemu Mama!” ujar Tasya gemetaran. Arya dapat mendengar ucapan Tasya dengan jelas. Otaknya berpikir cepat untuk bisa menyelamatkan Tasya dari Imelda. Dia segera meminta putrinya untuk duduk di kursi belakang, lalu menutup pintu mobil. Imelda berjalan cepat dan berusaha membuka kembali pintu mobil yang dihalangi oleh Arya. “Tasya, Mama bawa hadiah buat kamu. Tasya keluar dulu dong, Sayang! Mama pengen peluk kamu. Mama kangen Tasya,” bujuk Imelda sambil mengetuk-ngetuk kaca. “Cukup bagus juga acting-nya!” kata Arya dalam hati. Sebenarnya Arya merasa tidak enak pada Raline karena harus menyaksikan drama ini. Tanpa menunggu lama, dia membuka pintu depan dan menatap ke arah Raline. “Raline, masuklah!” pintanya. Ibu guru itu hanya bergeming, merasa bingung harus berbuat apa. Arya harap keberadaannya di sini dapat membuat Imelda cemburu. “Sayang, ayo, kita berangkat!” ucap Arya lebih keras. Raline dan Imelda tampak terkejut mendengarnya. Kemudian Raline menuruti perintah Arya, dia masuk ke dalam mobil tanpa melihat wajah lelaki itu sedikit pun. Sebelum menutup pintu, Arya sempat menaikkan bagian bawah rok yang dipakai Raline karena khawatir akan terjepit. Jantung Arya berdebar sangat kencang saat dia sudah berada di sampingnya dan menyalakan mesin mobil. Mereka meninggalkan Imelda yang masih berdiri di tempatnya. Suasana di dalam mobil terasa sangat canggung. Mereka bertiga seperti sibuk dengan pikiran masing-masing. Arya berharap Imelda akan salah paham terhadap kehadiran Raline sehingga berhenti untuk mengganggunya. Tasya yang biasanya sangat cerewet, tiba-tiba saja menjadi pendiam. Arya tahu bahwa Tasya terlalu takut untuk bertemu dengan ibunya. Ibu yang sangat asing baginya, yang bahkan tidak dikenalnya. Susah payah Arya membantu putrinya melupakan masa-masa yang sempat dia lewati bersama Imelda, masa-masa ketika dia selalu ditolak dan merasa tidak disayangi oleh ibu kandungnya sendiri. “Pa, Tasya mau punya mama baru!” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD