←8

1961 Words
Bagian 8 SALAH TINGKAH “Berhentilah menangisi dia! Air matamu terlalu berharga untuk seorang lelaki pengkhianat.” - Arya Herlambang - Raline menangkap bayangan seseorang yang terlihat berjalan memasuki pintu gerbang rumah kosnya tidak lama setelah dia keluar dari mobil. Namun, gadis itu tetap berjalan seperti biasa sambil memikirkan siapa yang tadi dilihatnya. Dia kira Arya hanya akan membukakan pintu mobil saja, tapi ternyata lelaki berkacamata itu mengikutinya berjalan di belakang tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Setelah memastikan Raline masuk, Arya berpamitan dan kembali ke mobilnya. “Raline, kamu dari mana?” tanya Lita yang tiba-tiba yang sudah ada di belakangnya saat dia menutup pintu. “Dari luar, ketemu teman,” jawab Raline singkat kemudian berlalu meninggalkan sahabatnya. Lita merasa ada yang aneh dengan Raline. Sebagai sahabatnya, dia tahu bahwa Raline tidak memiliki teman dekat lelaki selain Ivan dan lelaki tadi jelas bukan Ivan. Dia bahkan sempat berpikir bahwa Raline sendiri pun mungkin saja diam-diam memiliki selingkuhan. Raline kembali teringat pada bayangan yang tadi dilihatnya. Dia menjadi curiga pada Lita yang sepertinya tahu bahwa dirinya mengobrol dengan Arya. Lalu dia kembali membalikkan badannya. “Oh, ya! Aku sempat ketemu Ivan tadi. Aku udah bilang kalau semuanya telah berakhir dan aku minta dia untuk nikah sama kamu. Permintaan kamu udah aku penuhi dan aku gak akan mengganggu hubungan kalian. Semoga kalian bisa hidup bahagia.” “Raline …,” ucap Lita lirih. Entah dia harus menjawab apa setelah mendengar ucapan Raline yang terakhir. Raline meninggalkan Lita dan segera masuk ke kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memandang ke arah langit-langit kamar. Beberapa tetes bulir bening mengalir tanpa bisa dia kendalikan. Raline tidak bisa terus membohongi dirinya sendiri bahwa dia akan baik-baik saja. Namun, sebenarnya dia pun merasakan sakit yang teramat sakit dalam hatinya ketika membayangkan Ivan yang seharusnya akan menjadi suaminya, tapi malah harus menikahi sahabatnya sendiri akibat pengkhianatan mereka. Sebuah notifikasi muncul pada layar ponselnya, ada pesan dari nomor yang belum dia simpan. Raline meraih ponselnya dan segera membaca pesan itu. “Segera tidur, berhentilah menangisi dia! Air matamu terlalu berharga untuk seorang lelaki pengkhianat.” Raline melihat foto profil seseorang yang mengirimkan pesan itu dan dia segera tahu siapa orangnya. Lelaki yang ternyata berasal dari masa lalunya yang akhir-akhir ini muncul dan menawarkan sebuah hubungan simbiosis mutualisme dengannya. Raline mengabaikan pesan itu dan memejamkan mata untuk melupakan semua yang terjadi hari ini. *** Setelah melakukan tawar menawar yang cukup memakan waktu lama, akhirnya Tasya bersedia diantar oleh Arya ke sekolah. Mereka sepakat untuk menjenguk Raline setelah pulang sekolah nanti jika dia masih belum kembali mengajar. Sedangkan jika ibu guru itu sudah kembali maka Tasya hanya bisa mengobrol dengan Kharisma melalui panggilan video. Arya sengaja mencari alasan dengan mengatakan bahwa Kharisma harus beristirahat total di masa kehamilannya saat ini sehingga tidak diperbolehkan keluar oleh Rama. Arya tidak mau mengambil risiko. Dia sedang berusaha melupakan Kharisma dan berjanji tidak akan lagi datang ke kedai kopi dengan sengaja untuk sekedar memandang istri sahabatnya itu dari kejauhan. Ditambah dengan alasan lain yang menurutnya sangat penting, yaitu dia tidak ingin Imelda sampai tahu tentang Kharisma. Sesampainya di parkiran dekat gerbang sekolah, Arya tersenyum lebar hingga lesung pipinya terbentuk. Raline sudah tampak berdiri menyambut anak-anak kelas satu yang datang. Tidak ada raut wajah kesedihan yang terlihat saat ibu guru itu bertemu dengan anak muridnya. Sesekali dia mengangkat tangannya untuk melakukan tos sambil tertawa. “Pa, kok tumben Papa diam aja? Gak bantu Tasya lepas sabuk pengaman nih?” Pertanyaan Tasya membuat Arya tersadar. Dia langsung membuka pintu dan keluar dari mobil hingga membuat putrinya heran dengan tingkah Arya yang tidak seperti biasanya. “Silakan, Tuan Putri,” ucap Arya sambil mengulurkan tangannya dengan posisi sedikit menunduk. Tasya keluar dari mobil dan dia melihat ibu gurunya sudah melambaikan tangan padanya. “Pa, itu Bu Raline masuk! Yeesss Tasya seneng akhirnya ketemu Bu Raline lagi dan bisa ngobrol sama Tante Kharisma. Nanti siang yang jemput Papa ‘kan?” “Iya, insya Allah Papa yang jemput. Selama Papa belum datang, Tasya tetap sama Bu Raline ya! Semoga hari ini menyenangkan. Semangat!” “Semangat!” Arya dan Tasya sama-sama mengangkat kepalan tangan untuk saling memberikan semangat. Raline memperhatikan mereka dengan perasaan yang dia sendiri tidak mengerti. Senyumnya kembali terbit saat melihat Tasya berlari ke arahnya lalu mencium takzim punggung tangannya. “Bu Raline, hari ini Tasya senang banget bisa ketemu Ibu lagi dan diantar jemputnya sama Papa. Tuh Papa masih di sana!” ucap Tasya dengan semringah sambil menunjuk ke arah Arya. Raline mengalihkan pandangannya ke arah Arya dengan sedikit malu-malu, sedangkan lelaki itu masih berdiri tidak jauh dari mobilnya sambil tersenyum. Walau rasanya sedikit canggung, Raline memaksakan diri untuk membalas senyumannya. Dalam hati, dia berdoa agar dokter itu tidak datang menghampirinya dan segera pergi saja dari sekolah. *** Waktu telah menunjukkan pukul 13.30, bel tanda pulang telah berbunyi. Seperti biasa, guru kelas satu dan kelas dua akan mengantar siswa-siswi hingga ke gerbang sekolah untuk memastikan mereka telah dijemput oleh orang tuanya masing-masing. Kali ini Raline meminta Bakti, guru yang menjadi partner-nya sebagai wali kelas satu untuk bertugas. Dia tidak ingin kembali bertemu dengan Arya ketika datang untuk menjemput Tasya. Sekitar tiga puluh menit telah berlalu, tetapi Arya masih belum datang. Tasya sudah salah tingkah dari mulai berdiri, duduk, kemudian berjalan-jalan sambil memetik bunga hingga dia merasa bosan menunggu. Bakti masih setia menemaninya dengan duduk di pos satpam sambil sesekali mengecek ponselnya karena dia pun menunggu kabar dari Mayang yang biasanya akan menghubungi bila telat menjemput. Saat mendengar suara mesin mobil di parkiran, Tasya berjalan ke arah pintu gerbang untuk melihat apakah itu papanya yang datang. Seorang wanita keluar dari mobil itu dan seketika Tasya langsung berlari dan menarik tangan Bakti untuk segera masuk kembali ke kelas. “Tasya, ada apa? Kok Tasya seperti ketakutan begitu?” tanya Bakti sambil mengikuti Tasya dari belakang. “Pokoknya kita harus ke kelas lagi Pak, nanti Tasya cerita di kelas,” jawab Tasya panik. Sesampainya di kelas, Tasya duduk di sebelah Raline dengan napas terengah-engah. Lalu dia membuka tasnya untuk mengambil air minum. Raline menatap ke arah Bakti seolah meminta penjelasan, tetapi dia segera mengangkat kedua bahunya karena masih belum mengerti apa yang terjadi. “Tadi Tasya lihat di parkiran ada Mama, Tasya gak mau dijemput Mama. Kalau Papa gak datang, mending Tasya nginep di sekolah aja deh!” Raline mengusap punggung Tasya untuk menenangkannya. Bakti mulai mengerti kondisinya karena dia juga tahu bahwa Tasya tidak diasuh oleh ibu kandungnya. “Tasya tetap di sini dengan Bu Raline ya, biar Pak Bakti yang menemui mamanya Tasya,” ucap Bakti sambil mengusap kepala anak muridnya itu. “Tapi tolong jangan bilang Tasya masih di sini ya, Pak! Tasya takut ketemu Mama.” Bakti hanya mengangguk dan berlalu meninggalkan kelas. Raline sungguh tidak tega memandangi wajah Tasya yang terlihat sangat ketakutan seperti ketika melakukan home visitbeberapa waktu lalu. “Boleh Ibu tahu, kenapa Tasya gak mau ketemu Mama?” tanya Raline dengan hati-hati. “Sejak kecil Tasya diasuh Papa, Opa, Oma dan Tante Zaskia. Tasya gak kenal sama Mama yang gak sayang sama Tasya.” Akhirnya air mata yang sedari tadi ditahan oleh gadis kecil itu menetes dengan sendirinya. Tasya menutup wajahnya karena dia merasa malu harus menangis di hadapan gurunya. Selama ini Tasya dikenal sebagai anak yang ceria, tidak pernah menangis walaupun kadang ada temannya yang meledek karena dia lebih sering diantar jemput oleh omanya. Raline memeluk Tasya dengan erat dan kembali mengusap-usap punggungnya. Hal itu justru semakin membuat Tasya menangis dalam pelukan Raline. “Tasya tahu siapa aja yang tulus sayang sama Tasya, seperti Papa, Oma, Tante Zaskia, Tante Kharisma, Om Pangeran. Kalau Opa sekarang udah meninggal. Tapi kalau Mama, Tasya gak tahu karena dari dulu jarang ketemu Mama. Mama gak pernah mau main bareng Tasya, gak mau bacain buku untuk Tasya, bahkan sering bentak-bentak Tasya. Waktu Papa dan Mama pisah, Tasya masih kecil dan gak ngerti apa-apa.” Tasya melepaskan pelukannya dan mengusap air mata di pipinya. Dia merasa lebih tenang setelah mendapatkan pelukan dari Raline. “Tante Zaskia dan Tante Kharisma itu siapa?” tanya Raline lagi. “Tante Zaskia itu adiknya Papa. Kalau Tante Kharisma itu temannya Papa, istrinya Om Pangeran.” “Om Pangeran?” tanya Raline sambil mengerutkan dahinya. Tasya sedikit tertawa mendengar Raline menanyakan tentang seseorang yang dia sebut Om Pangeran. “Om Pangeran itu namanya Om Rama, suaminya Tante Kharisma dan teman Papa juga sih. Tasya manggil Om Rama jadi Om Pangeran karena dia ganteng dan cocok banget sama Tante Kharisma yang cantik.” “Ih, Tasya kecil-kecil tahu yang ganteng ya!” goda Raline sambil mencubit pipi gadis kecil itu dengan gemas. Sedikit banyak, Raline menjadi tahu tentang keluarga Tasya. Namun, dia kembali teringat pada ucapan Arya yang mengatakan bahwa perempuan yang dicintainya itu telah menjadi istri orang lain. Raline sempat berpikir bahwa perempuan itu adalah yang baru saja diceritakan oleh Tasya. Pada saat yang bersamaan, Bakti kembali ke parkiran dan sudah menyiapkan jawaban jika ucapan Tasya itu benar. Ketika sampai di dekat pos satpam, Bakti melihat seorang wanita yang berpakaian formal dengan menjinjing tas impor merek terkenal. Semua orang yang melihatnya pasti akan tahu jika wanita itu berasal dari kelas atas. “Pak, maaf apakah kelas satu sudah bubar? Saya ibunya Tasya dan mau jemput Tasya, Pak,” kata Imelda dengan sopan. “Mohon maaf, Bu. Kelas satu sudah bubar sejak pukul 13.30 tadi. Sekarang hanya tinggal kelas tiga sampai kelas enam yang belum bubar,” jawab Bakti. Imelda melirik jam tangannya dan sudah lebih dari pukul 14.30. Kali ini dia gagal lagi untuk bertemu dengan putri kandungnya. Akhirnya, Imelda pun berpamitan pada Bakti dan meninggalkan sekolah itu. Tidak lama setelah mobil Imelda melaju, Arya datang dan segera memarkirkan mobilnya. Dia menyadari jika mantan istrinya itu baru saja pergi. Lelaki berkacamata itu bergegas lari memasuki sekolah. “Pak, saya mau jemput anak saya siswi kelas satu yang bernama Tasya. Apa dia sudah ada yang jemput?” tanya Arya saat berpapasan dengan Bakti. Melihat raut wajah Arya yang terlihat cemas, Bakti meminta Arya untuk mengikutinya karena khawatir wanita yang mengaku sebagai ibu Tasya tadi masih berada di sekitar sini. Ternyata Bakti mengajak Arya untuk menjemput Tasya langsung ke kelasnya. Di sana gadis kecil itu masih duduk berdampingan dengan Raline sambil mewarnai sebuah gambar. Arya bernapas lega karena ternyata Imelda tidak berhasil menjemput putrinya. Dia memandangi Tasya yang terlihat nyaman berada di dekat Raline. “Assalamu’alaikum,” ucap Arya sambil berjalan mendekat. “Wa’alaikumussalam. Papa kok telat banget sih jemputnya?” Arya tahu, pasti Tasya akan merasa kesal dan marah. Melihat mata dan hidung Tasya yang memerah, dia juga tahu bahwa putrinya itu baru saja menangis karena Imelda telah datang untuk mencoba menjemputnya. Arya berlutut dan memeluk Tasya saat putrinya itu mendekat. “Maafkan Papa, Sayang. Papa telat jemput karena tadi ada pasien darurat di IGD. Papa salah karena lupa nelepon Bu Raline atau Pak Bakti sebelumnya, ponsel Papa baterainya habis. Papa janji, insya Allahlain kali gak akan telat lagi.” Ketika memeluk Tasya, tanpa sengaja Arya melihat Raline yang sedang memandangnya. Raline buru-buru menunduk saat pandangan mereka bertemu. Kemudian dia berpura-pura merapikan semua perlengkapan milik Tasya yang tadi dia keluarkan untuk mewarnai agar anak muridnya itu bisa segera pulang. “Kita pulang bareng ya, Bu Raline. Mumpung Papa yang jemput! Boleh ‘kan, Pa?” Arya mengangguk sambil tersenyum dan kembali menatap Raline. Entah kenapa, dia merasa gemas melihat wajah Raline yang terlihat gugup itu. Tanpa menunggu jawaban, Tasya menarik tangan ibu gurunya. Raline sempat menolak, tetapi Tasya tetap memaksanya untuk ikut. Arya berjalan lebih dulu disusul oleh Tasya dan Raline di belakangnya yang berjalan sambil bergandengan tangan. Saat keluar dari pintu gerbang, langkah Arya terhenti setelah melihat seseorang yang sedang duduk santai di atas motor. Arya menoleh ke belakang, tetapi ternyata Raline pun sudah melihatnya. “Ivan?!” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD