←6

1227 Words
Bagian 6 LEPASKAN DIA! “Kita seri. Kamu membantuku menghindari mantan istriku dan aku membantumu melepaskan diri dari mantan pacarmu.” - Arya Herlambang - Suasana makan malam yang biasanya ramai dengan ocehan Tasya, kini terasa sepi. Hanya terdengar suara denting sendok dan garpu yang beradu di atas piring. Setelah kejadian hari itu, Tasya berubah menjadi sangat pendiam dan murung. “Tasya, besok Oma ada keperluan dari pagi sampai sore jadi Tasya diantar jemput sekolah sama Papa ya!” kata Mayang setelah selesai makan. “Gak mau ah! Tasya gak mau diantar jemput Papa,” jawabnya dengan ketus. Arya yang sudah selesai menyantap menu makan malamnya masih diam dan belum ingin memberikan komentar. Dia menunggu gadis kecil itu melanjutkan kalimatnya, karena bukan Tasya namanya jika hanya mengucapkan satu kalimat saja. Tasya mulai melirik ke arah papanya. Dalam hati, Arya menghitung mundur dan menebak bahwa sebentar lagi putrinya itu akan kembali berbicara. “Tasya mau diantar jemput Papa ke sekolah, tapi dengan satu syarat. Besok pulang sekolah Papa mau antar Tasya ke rumah Tante Kharisma atau ke rumah kosnya Bu Raline? Tasya udah kangen sama Tante Kharisma, tapi pengen juga nengok Bu Raline karena udah dua hari gak ngajar. Papa pilih mana?” Arya tampak terpikir sejenak lalu memberikan jawaban, “Papa pilih ATAU.” “Hah, kok pilih atau sih? Pilihannya Papa mau antar ke rumah Tante Kharisma SAMA Papa antar ke rumah kos Bu Raline. Mana ada pilihan ATAU!” protes Tasya. “Hmm, pilih SAMA.” Tasya mulai hilang kesabaran dan menyesal mau kembali berbicara pada papanya yang sedikit menyebalkan malam ini. “Oma, bukannya seorang dokter itu harusnya pintar ya? Tasya heran kenapa Papa bisa jadi dokter?” ujar gadis kecil itu. rya dan Mayang tertawa mendengar pertanyaan Tasya. “Papa itu memang pintar kok, buktinya bisa jadi dokter spesialis. Dan juga pandai menyembunyikan perasaan,” ucap Mayang sambil melirik ke arah Arya. Lelaki itu pura-pura tidak mendengar dan bangkit dari duduknya sambil membawa piring kotor menuju dapur. Dia sengaja menghindar dan membiarkan ibunya menghadapi pertanyaan lanjutan dari Tasya yang pasti akan meminta penjelasan. Pikiran Arya sedikit terganggu dengan pernyataan dari putrinya bahwa Raline sudah dua hari tidak mengajar. Apakah mungkin Raline sakit atau dia kabur atau ada hal buruk yang dialaminya? Lelaki berlesung pipi itu melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 19.45. Lalu dia sedikit berlari menuju kamar dan mengambil kunci mobilnya. “Kamu mau kemana?” tanya Mayang heran saat melihat anak sulungnya terburu-buru memakai jaket. “Rumah teman,” jawab Arya dengan singkat. *** Raline memutuskan untuk keluar mencari angin segar di taman sekitar rumah kosnya. Dia duduk di atas ayunan seorang diri seperti biasa. Setelah dua hari puas menangis sambil mengurung diri di kamar, kini dia ingin mulai menata hatinya kembali untuk menerima kenyataan ini. Pikirannya kembali teringat pada Lita, sahabat yang sangat dia percayai yang ternyata telah mengkhianatinya. Sore tadi wanita itu meminta izin masuk ke kamar Raline untuk meminta maaf. Lita pun menangis menyesali perbuatannya dengan Ivan. Dia bahkan berlutut di hadapan Raline untuk mau membujuk Ivan agar lelaki itu mau bertanggung jawab. “Raline,” panggil seorang lelaki yang datang dari arah belakang. Gadis itu menoleh, ternyata orang yang dia tunggu telah tiba. Ivan terlihat kusut sekali, berbeda dengan biasanya yang selalu terlihat rapi dan terawat. Dia berjalan mendekat lalu bersandar pada tiang ayunan. “Makasih ya udah datang. Aku mau minta tolong, Van.” “Minta tolong apa?” ”Tolong, menikahlah dengan Lita! Terserah kapan waktunya, yang pasti kamu tetap harus tanggung jawab!” Ivan terdiam. Awalnya dia senang sekali ketika Raline tiba-tiba menghubunginya untuk datang ke taman ini dan mengira gadis itu akan menarik kembali ucapannya. “Apa bisa kita lupakan Lita dan tetap menikah? Aku gak yakin dia benar-benar hamil anakku!” “Apa?! Memangnya segampang itu memaafkan orang yang telah jelas-jelas berkhianat? Lita itu memang hamil, aku lihat sendiri hasil tesnya dan dengar dia muntah-muntah setiap pagi, Aku mohon, kita selesaikan di sini. Sampai kapan pun aku gak akan pernah nikah sama kamu. Pergilah dari hidupku dan berbahagialah dengan Lita!” Setelah itu, Raline beranjak dan pergi meninggalkan Ivan. Namun, Ivan berusaha mencegahnya dan terus mengikuti Raline karena merasa pembicaraan mereka belum selesai. “Raline, tolong dengarkan aku! Ibuku punya penyakit jantung dan aku gak mau beliau kecewa kalau tahu masalah ini. Kita tetap harus nikah!” Raline terus berjalan dengan cepat tanpa menghiraukan ucapan Ivan. “Raline, dengarkan aku!” teriak Ivan sambil menarik tangan Raline agar dia mau berbalik. Di saat yang bersamaan, mobil Arya berhenti di samping mereka. Arya membuka pintu penumpang dan meminta Raline untuk masuk. Raline hendak melangkah, tetapi Ivan tetap memegangi tangannya bahkan dengan lebih kencang. “Lepaskan aku!” pinta Raline sambil berusaha menarik tangannya. Arya mulai geram melihat perlakuan Ivan pada Raline. Dia bergegas keluar dari mobil dan menghampiri keduanya. “Sepertinya besok Anda harus memeriksakan diri ke dokter THT. Apa perlu saya bantu daftarkan?” ucap Arya dengan tatapan tajamnya pada Ivan. “Dokter Arya?” Ivan tampak terkejut melihat sosok Arya dan segera melepaskan tangan Raline. Dalam hatinya, dia bertanya-tanya apa hubungan dokter itu dengan Raline karena sepertinya gadis itu pun sedikit terkejut dengan kehadiran Arya. “Lepaskan dia atau saya sendiri yang akan membuat ibumu mengalami serangan jantung!” Sejak awal Arya memang merasa pernah bertemu Ivan beberapa kali, tetapi dia tidak ingat di mana. Tanpa sengaja dokter itu mendengar bahwa ibu Ivan memiliki penyakit jantung, sehingga dia teringat pada salah satu pasiennya yang tidak lain adalah ibu Ivan. Bhuk! Ivan melayangkan sebuah pukulan tepat di wajah Arya hingga membuat darah keluar dari sudut bibirnya. “Dokter macam apa Anda yang menggunakan profesinya untuk mengancam orang lain?” Belum puas dengan satu pukulan, Ivan menarik jaket Arya dan bersiap untuk kembali memukulnya. “Jangan!” Raline berteriak. Dia menghalangi tubuh Arya dan hampir saja terkena pukulan Ivan. “Tolong pergi sekarang juga! Aku mohon, Ivan.” Arya hendak membalas, tetapi gadis itu mencegah dengan terus memegangi lengannya. Raline tetap berada di antara mereka, menghalangi agar tidak ada yang memukul atau dipukul. Ivan tentu saja merasa cemburu. “Pergi sekarang juga atau aku akan berteriak minta tolong!” seru Raline sambil menatap Ivan. Dengan terpaksa lelaki itu pergi meninggalkan Arya dan Raline. Arya mengusap darah yang keluar dari bibirnya dan meringis menahan perih. Setelah memastikan Ivan pergi, Raline melihat luka pada wajah Arya dan mulai panik. “Maaf, ini semua salahku! Aku benar-benar minta maaf,” ucap Raline yang sudah tidak dapat membendung air matanya. Entah kenapa dia sudah tidak malu lagi menyembunyikan kesedihannya di hadapan Arya. “Gak usah minta maaf, Raline! Cuma luka kecil. Paling aku butuh es batu buat ngompres atau minum obat pereda nyeri kalau sakitnya gak hilang. Gimana keadaan kamu, apa tanganmu sakit?” Raline baru menyadari sesuatu, sejak tadi tangan kirinya masih terus memegangi lengan Arya. Dia menjadi salah tingkah dan mundur selangkah menjauhi Arya. “Jadi sekarang kita seri ya!” kata Arya sambil tersenyum tipis. “Maksudnya?” “Kamu membantuku menghindari mantan istriku dan aku membantumu melepaskan diri dari mantan pacarmu.” “Baiklah, kita seri. Terima kasih atas bantuan Pak Arya. Saya permisi, Pak.” Raut wajah Raline kembali redup. Arya dapat melihat hal itu dan rasanya dia tidak mau Raline menanggung kesedihannya seorang diri. “Hei, Raline! Memangnya siapa yang mengizinkan kamu pergi? Aku belum selesai bicara.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD