Dengan gerakan tenang, Daniel mengangkat sendoknya dan mencicipi makanannya. Rasanya tidak berubah, masih sama seperti dulu. Dia pun mengangguk. Wanita di depannya tersenyum manis dan wajahnya terlihat penuh kerinduan. “Aku ingat, saat pertama kali kita bertemu, kau juga memesan menu ini. Aku tidak pernah bisa melupakan kencan pertama kita itu. Saat itu, kau hanya terdiam dan terus meminum wine yang kupesan. Wajahmu yang memerah karena mabuk, sangat lucu sekali.” Saat itu, Daniel muda, hampir tidak pernah melanggar aturan tentara, baik minum alkohol maupun merokok. Hanya saja, saat itu, Jasmine merasa pria yang bisa minum minuman keras adalah pria yang keren dan pemberani. Sehingga mau tak mau, Daniel terpaksa meminumnya di depan wanita itu. Tiba-tiba, Jasmine mengulurkan tangannya da

