Tiga hari kemudian. Sierra sedang duduk termenung di depan ruang perawatan menunggu Franklin. Ia menatap kertas hasil pemeriksaannya sendiri dengan kebingungan. Dia sangat heran kenapa antibodi ini bisa ada ditubuhnya. Pilihannya hanya dua kemungkinan, zat ini sudah ada di dalam tubuhnya sejak lama, dan serangan virus kali ini membuatnya bereaksi atau mungkin ada seseorang yang memberikan pada dirinya. Jika pilihan kedua, siapa orangnya? Dan kenapa dia yang diberikan? Berbagai pertanyaan berputar di kepala Sierra tanpa adanya satupun jawaban yang bisa ia pikirkan. “Wah, wah, ternyata berita itu benar. Kau sudah sadar. Bahkan darahmu mengandung antibodi. Hebat sekali.” Suara sinis seorang perempuan terdengar bersamaan dengan suara tepuk tangan yang jelas sebagai sindiran terdengar di loro

