Di dalam ruang tamu yang kecil di apartemen Daniel, suasana terasa begitu mencekam. Semua orang yang ada disana bisa merasakan tekanan yang begitu kental hingga nyaris terasa bisa disentuh. Daniel melirik anggota tim khususnya satu per satu, yang berdiri dengan posisi sempurna di hadapannya. Setiap tatapan tajamnya melewati prajuritnya, secara spontan mereka tak mampu menahan diri untuk tidak menunduk dalam. “Bicara.” Hanya satu kata dingin tanpa nada yang dikatakan oleh Daniel, tetapi matanya menatap tajam pada Hendri. Sayangnya prajurit muda itu belum setara dengan Daniel, wibawa yang dirasakannya begitu menekan sehingga bagaikan bendungan bocor, tiba-tiba saja seluruh pengakuan mengalir lancar dari mulut Hendri yang hanya mampu menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Lapor Komandan, keja

