bc

THE DARK HALSTON

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
heir/heiress
bxg
bold
city
like
intro-logo
Blurb

Maxim Dark Halston, adalah penerus keluarga Halston. Seperti namanya, jiwa Maxim gelap layaknya hutan yang tak tersentuh.Hingga di suatu malam, matanya tertuju pada seorang gadis yang tidak banyak bicara dan berekspresi. Ia tertarik, namun ia tidak berkata bahwa ia mencintainya, justru ia berkata bahwa itu miliknya.Apakah perasaan itu membawa kebahagiaan atau malah kehancuran? Bagaimana kisah selanjutnya? Yuk kepoin!

chap-preview
Free preview
Nama Yang Gelap
Sepasang kaki jenjang berbalut heels hitam, melangkah perlahan menuruni tangga rumah besar bergaya klasik itu. Tak! Tak! Tak! Setiap langkah terdengar pelan, teratur, seolah ritmenya sudah dihafal sejak lama. Tidak tergesa dan tidak ragu. Anggun namun bukan karena keinginan, melainkan karena kebiasaan. Ia adalah Valeria Greta Louis. Gaun sederhana berwarna krem membingkai tubuhnya dengan indah. Rambut dark brown panjang bergelombang jatuh hingga sepinggang, terurai begitu saja tanpa hiasan yang berlebihan. Wajahnya cantik—jenis kecantikan yang tidak mencolok, tidak memaksa untuk dilihat, tetapi tetap membuat mata berhenti memandanginya. Tatapannya teduh, nyaris kosong, seakan pikirannya selalu berada di tempat lain. Valeria bukan gadis berisik. Ia tidak banyak bicara, tidak suka menjadi pusat perhatian, dan tidak pernah melawan. Penurut. Itulah kata yang paling sering dilekatkan orang tuanya padanya. Bukan karena ia tidak punya pendapat, melainkan karena ia sudah terlalu lelah untuk mengutarakannya. Bahkan untuk mengutarakan pendapat pun, ia tidak pernah di dengar. Tugasnya hanya patuh dan selalu patuh. Di dinding tangga, tergantung dua foto besar dalam bingkai emas. Foto Valeria dan seorang gadis lain yang wajahnya nyaris sama persis. Rambut, senyum, bahkan lekuk mata mereka serupa. Bedanya hanya satu, senyum di foto itu terasa sangat hidup. Vinica Grace Louis. Saudara kembarnya. Separuh jiwanya yang telah pergi. Tragedi kecelakaan tunggal itu merenggut nyawa Vinica setahun lalu. Sejak hari itu, rumah ini luas namun terasa lebih sempit, lebih sunyi, dan lebih dingin. Valeria tidak pernah benar-benar menangis di depan siapa pun, ia hanya diam… dan kehilangan. “Valeria?” Suara ibunya, Vivian Louis, memanggil dari ruang tamu. Nada suaranya lembut tapi selalu terdengar formal, justru seperti berbicara dengan rekan bisnis bukan anak sendiri. Valeria melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga terakhir, lalu berjalan menuju ruang tamu. Di sana, ayahnya Dax Louis duduk dengan setelan jas rapi meski masih pagi. Tablet di tangannya menampilkan grafik dan angka-angka yang tak pernah jauh dari kehidupannya. “Ya, Mom?” jawab Valeria pelan. “Duduk lah,” ucap Dax tanpa menatapnya. Valeria mengangguk. Ia duduk di sofa di hadapan kedua orang tuanya, punggungnya tegak, tangannya terlipat rapi di pangkuan. Posisi yang sama seperti setiap kali mereka ingin membicarakan sesuatu yang penting dan biasanya, sesuatu yang tidak bisa ia tolak. Vivian saling berpandangan singkat dengan Dax, lalu tersenyum tipis. “Kau tahu, Valeria? Ada seseorang yang tertarik padamu.” Alis Valeria sedikit berkerut. Bukan karena terkejut, tebih kepada rasa asing. “Siapa?” tanyanya datar. “Seseorang yang melihatmu saat perayaan ulang tahun perusahaan dua malam lalu,” jawab Vivian. Dua malam yang lalu. Valeria mengingatnya dengan jelas. Aula megah, lampu kristal, gaun-gaun mahal, tawa palsu, dan percakapan bisnis yang tak pernah benar-benar selesai. Ia berdiri di sisi orang tuanya sepanjang malam, tersenyum seperlunya, berbicara seperlunya. Banyak mata menatapnya tapi tak satu pun benar-benar ia pedulikan. “Namanya Maxim Dark Halston,” ucap Dax akhirnya. Nama itu jatuh begitu saja… namun terasa berat. Valeria menelan ludah. Entah mengapa, jantungnya berdenyut lebih lambat, seolah tubuhnya bereaksi lebih dulu sebelum pikirannya sempat mencerna. “Dia penerus keluarga Halston,” lanjut Dax. “Rekan bisnis lama perusahaan Louis, Maxim tertarik mengenalmu lebih dekat.” Vivian menyambung dengan nada yang lebih halus, “Lebih tepatnya… ke arah yang serius.” Kata itu terdengar seperti keputusan final, bukan kemungkinan. Valeria menatap kedua orang tuanya. Wajah mereka tenang, bahkan puas seakan masa depannya adalah proyek yang berhasil disepakati. Berbicara pun terasa percuma. “Mom, Dad... kalian atur saja,” ucap Valeria akhirnya. Suaranya tenang, nyaris tak beremosi. “Kalian tahu… aku selalu menurut.” Senyum Dax mengembang. “Bagus, jawabanmu sesuai dengan harapanku.” Valeria mengangguk pelan. Tidak ada perdebatan, tidak ada pertanyaan lanjutan. Ia sudah tahu, apa pun yang ia katakan tidak akan mengubah apa pun. “Kalau begitu aku berangkat,” ucapnya sambil berdiri. “Mom, Dad.” Ia berjalan menuju pintu keluar tanpa menoleh lagi. Begitu pintu tertutup, Dax tertawa kecil. “Aku senang Valeria tidak membantah, hubungan dengan Halston akan memperluas jaringan perusahaan kita.” Vivian ikut tersenyum, meski ada sesuatu yang samar di matanya—ragu, mungkin. Namun ia memilih diam. Mobil melaju di jalanan kota yang tidak terlalu ramai. Valeria duduk di kursi belakang, menatap keluar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun. Supir mengemudi dengan tenang, tidak berani mengajak bicara. Valeria memang tidak memiliki teman. Di universitas, ia dikenal sebagai gadis tercantik, terpintar, dan paling misterius. Banyak yang mencoba mendekat, namun ia selalu menjaga jarak. Bukan karena sombong, melainkan karena ia tidak tahu bagaimana caranya membiarkan orang masuk. Beberapa orang pernah menertawakannya. “Gadis pendatang baru dari masa lalu,” kata mereka. Kaku, terlalu tenang dan terlalu asing. Valeria tidak peduli. Sejak Vinica meninggal, dunia Valeria seolah kehilangan warna. Vinica adalah satu-satunya teman, satu-satunya tempat ia benar-benar berbicara tanpa merasa dinilai. Kehilangan Vinica berarti kehilangan separuh dirinya sendiri. Orang tuanya? Mereka sibuk dengan pekerjaan, relasi, dan reputasi. Tentang anak? Uang selalu dianggap cukup, tanpa memberikan perhatian. Valeria tidak pasrah, ia hanya… lelah. Menolak hanya akan memperpanjang pembicaraan. Ujungnya akan tetap sama, yaitu tetap pada keputusan orang tuanya. Maka ia memilih diam, mengikuti arus dan menjaga jarak dari perasaan. Mobil berhenti di depan gedung universitas. “Terima kasih,” ucap Valeria pelan sebelum turun. Ia melangkah masuk ke gedung kampus, menuju kelasnya dan seperti biasa, ia selalu sendiri. Duduk di bangku yang sama, mencatat dengan rapi, menjawab pertanyaan dosen dengan tepat, lalu pergi sebelum siapa pun sempat mengajaknya berbicara. Ritme hidupnya selalu sama. Bangun pagi. Kuliah. Pulang. Belajar. Diam. Kadang, ia keluar rumah hanya untuk berjalan tanpa tujuan, mencari ketenangan yang selalu terasa semakin menjauh. Maxim Dark Halston. Nama itu kembali terlintas di pikirannya. Entah pria seperti apa dia, entah masa depan seperti apa yang menantinya. Valeria tidak berharap apa pun, karena berharap hanya akan melahirkan kekecewaan. Ia hanya ingin tetap seperti ini. Sendiri, tenang dan tanpa gangguan. Namun ia tidak tahu… beberapa pertemuan memang ditakdirkan untuk menghancurkan kesunyian yang paling dijaga. Dan nama itu— terlalu gelap untuk sekadar lewat begitu saja.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Pengacara Itu Mantan Suamiku

read
5.2K
bc

TERNODA

read
200.5K
bc

Kali kedua

read
219.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.9K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
42.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
20.0K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook