Canduku

1538 Words
26 Februari 2019—lorong ruang 25, 26, dan 27 gedung paling belakang di SMK Negeri 2 Karanganyar. Malam menjelang pukul 20.00 WIB, usai mengaji bersama di masjid sekolah. Aku berjalan di sampingmu, memegang ponsel dengan flashlight yang menyala, penerang jalanku dan jalanmu. Iya, kamu yang terlalu fokus membalas pesan singkat dari kekasihmu, bahkan tersenyum untuk seseorang yang raganya tidak di depan matamu. Cemburu itu rasanya bagaimana? Apa dengan sedikit bumbu kesal, sesendok perasaan iri, dan sejumput keegoisan? Jika iya, maka aku sedang dalam keadaan cemburu sekarang. Tak apa, risiko cinta sendirian adalah mencemburui dalam diam. Terus memperhatikan langkahmu yang tidak lurus, seringkali hampir keluar dari jalur jalan. Entah hampir menabrak dinding ruangan atau pagar rendah di tepi lorong sekolah. Kamu tak pernah takut akan terluka, kamu hanya takut waktu luang yang negara berikan pada kekasihmu terbuang sia-sia. Maka wajar jika kamu sibuk tertawa oleh pesan singkat yang kekasihmu kirimkan daripada memperhatikan tubuhmu yang bisa saja terluka. Apakah jatuh cinta bersama-sama selalu semembahagiakan itu? “Hati-hati,” kataku menarik lenganmu sebab untuk yang kedua kalinya wajah cantikmu hampir mencium dinding ruang 26. “He he.” Tawa ringanmu sungguh hangat mendekapku. Sayang tawa itu tak sepenuhnya milikku. “Eh, aku masuk ruang 26,” ucapmu sebab ruang 26 sudah terlewat. Bukan aku tidak mau mengingatkanmu bahwa ruang 26 yang menjadi tujuanmu telah terlewat. Aku hanya sangat menikmati saat-saat berdua denganmu. Mengapa mencintaimu bisa seegois ini? “Selamat malam, Beb. Semoga tidurmu nyenyak, jangan lupa bermimpi tentangku, tentang aku dan kamu yang biasa disebut kita,” godamu dengan wajah manis seolah kita dalam angka yang sama. Tidak, yang lebih menyakitkan adalah seolah kita dalam naungan perasaan yang sama.  Aku tersenyum. “Selamat malam, Mbak. Seandainya kata kita ialah realita.” “Apa?” Menggeleng, membiarkanmu masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu. Laiknya aku melihatmu menutup rapat pintu hatimu, membiarkanku di luar sendirian tanpa teman dan tanpa balas perasaan. Entah sudah berapa kali harus aku jelaskan bahwa cinta ini hanya sendirian. “Apta,” panggil Fikri dan Risa dari ujung barat. Risa, salah satu anggota Patriakara, salah satu pasukan yang aku pimpin. Hanya menoleh. “Mas Akbar minta kita ngadain sarasehan dulu sebelum tidur,” ujar Risa. Mas Akbar, calon adik iparmu alias adik kandung dari kekasihmu, seniorku saat ini. Aku mengangguk. “Bukannya kata Mbak Dara langsung tidur? Kok beda perintah begini sih, Ta?” protes Risa. “Mbak Dara itu pelatih dari alumni, pasti kalah juga perintahnya dengan perintah dari pelatih kelas XII,” ungkap Fikri. “Ih, aku sudah ngantuk,” keluh Risa. “Toh, sarasehan ini ada baiknya kok, Ris. Kamu mungkin masih merasa ada beberapa gerakan yang belum tepat. Iya, kan? Kamu masih mengeluh tentang Julian yang langkahnya terkadang mendahului. Daripada mengeluh denganku lebih baik berbicara langsung dengan orangnya,” jelasku melangkah menuju ke ruang 27. “Iya sih. Padahal sudah ingin menyusul Mbak Dara tidur.” Malam ini jadilah kami melakukan sarasehan dari pukul 20.16 WIB hingga pukul 21.31 WIB. Entah jam tanganku tepat waktu dengan jam google atau sedikit melenceng, tapi begitulah adanya jarum jam itu menunjukkan waktu. Lampu ruangan mati, semua pasukan yang totalnya berjumlah 20 orang mulai merangkak menata tempat tidurnya. Bukan kasur, bantal, dan selimut, hanya tas sebagai bantal, sarung sebagai selimut dan beralaskan tikar masjid. Sementara senior kelas XII berpindah tempat menuju ruang 25 untuk menyemir sepatu dan menyetrika seragam kami. Saat semua mata terlelap, aku hanya memejam dengan kepura-puraan. Bagaimana tawamu membaca pesan singkat itu, bagaimana matamu berbinar, dan bagaimana pipi merahmu begitu merona di bawah cahaya. Aku benci semua hal itu, sebab tawamu, binar matamu, dan pipi merahmu bukan untukku. Kamu benar-benar candu bagiku, layaknya kafeina dalam biji kopi dan daun teh, nikmat, namun dapat merusak jika terlalu banyak dikonsumsi. Kamu pun begitu, aku menikmati bayangmu tetapi semakin banyak bayangmu  dalam pikiranku, semakin rusak pula kesehatan mentalku. “Astagfirullah,” gumamku merangkak keluar, tepat ketika jam dinding di balik remang ruang 27 menunjukkan pukul 22.19 WIB. Sudah sangat terlambat untuk tidur bagi seorang siswa yang besok pagi harus memperjuangkan nama baik sekolahnya. Duduk di tepi teras ruang 27, menatap ke depan, ke arah hutan mini milik sekolah dengan plakat larangan berburu. Hutan yang sangat mini sejujurnya, hanya ada beberapa pohon tinggi namun tak besar, beberapa suara jangkrik dan beberapa tanaman hias. Hembus angin dan suara jangkrik seolah mentertawakanku yang jatuh cinta sendirian. Jatuh cinta denganmu membuatku terlalu melankolis, lebih melankolis dibandingkan ungkapan seorang Sapardi Djoko Damono dan Kahlil Gibran melalui puisi-puisinya. Sesekali menatap ponselku yang penuh dengan pesan singkat dari perempuan-perempuan sekolah lain. Sekadar mengucapkan selamat bertanding untuk esok, atau sampai jumpa esok hari. Terkadang aku heran, aku tidak secerdas Habibie, tidak sekarismatik Bung Karno, tidak selembut Bung Hatta, pun tidak setegas Pak Harto, memang sedikit tampan meski tak setampan Pak Susilo Bambang Yudhoyono. Tetapi perempuan-perempuan banyak yang mendekatiku, dari yang cantik nan manis, hingga yang sederhana. Sayangnya tak semenarik dirimu yang membuatku gila. “Magnet apa yang sebenarnya kamu genggam saat ini, Mbak?” gumamku menatap cahaya bulan di antara dahan pepohonan. “Ta,” panggilmu benar-benar mengagetkan lamunanku. “Mbak.” Membenarkan posisiku, tepat ketika dirimu memilih duduk di samping kananku dengan mata yang sedikit layu. “Nggak tidur?” Menggeleng. “Kecanduan Sasmita, eh, kafeina,” ungkapku sembari tertawa. “Kamu ini, Ta. Sudah Mbak bilang jangan dulu minum minuman yang aneh-aneh. Besok kamu tampil, bagaimana bisa kamu justru minum kopi? Kamu ini Danton, pemimpin, ketua bagi teman-temanmu yang lain. Kalau kamu gagal mengatur dirimu sendiri, kamu juga bisa gagal mengatur orang lain, Ta. Kamu sudah dewasa, menjelang 17 tahun, kan? Tidak mungkin harus selalu dibimbing.” Aku diam. Sungguh tidak ingin menjawab atau menyampaikan alibi apapun, sebab kafeina itu ialah dirimu bukan kafeina di dalam kopi. Dirimu yang membuatku candu dan lupa caranya terlelap dalam tidurku. Tak mungkin aku jelaskan itu sekarang atau bahkan nanti, biar menjadi rahasia hingga Tuhan menghendakinya atau hingga kamu menemukan tulisan memalukan ini.  “Ha ha, itu apa lagi?” Menunjuk papan larangan jauh di depan sana. “Dilarang berburu? Hutan mini sekecil ini mana ada hewan yang bisa diburu? Tidak mungkin ada macan, singa,  atau gajah kan? Yang ada hanya jangkrik, semut, dan ulat bulu.” Tertawa kecil. Aku tidak membenarkan kalimatmu, aku mentertawakan dirimu yang sok tahu. Mungkin benar tidak ada macan, singa, atau gajah yang biasa diburu kulit hingga gadingnya. Tetapi ada satu hewan yang bisa membuatmu takjub akan sorot matanya yang tajam. Menangkup kepalamu, mengarahkan ke arah atas sebelah kiri. “Tak ada singa, tapi ada hantu,” kataku tertawa. “Hantu?” Mimik wajahmu ketakutan. “Burung hantu.” Binar matamu berubah, tersenyum tipis, sedikit takjub. Burung hantu berwarna putih dengan paduan cokelat muda, guru di sini bilang itu jenis Serak Jawa. Amat sangat indah dan sayang jika diburu. “Keren banget,” pujimu semakin berbinar ketika sorot rembulan menambah jelas pandanganmu pada burung itu. “Ada dua tapi yang satunya entah ke mana,” kataku memang sudah hafal. “Kamu terlalu sering tidur di sekolah sampai tahu ada berapa hewan di sini.” “Iya, dan aku terlalu sering memperhatikanmu sampai tahu ada t**i lalat kecil di bawah matamu.” “Ish, aku semenarik itu ya? Sampai-sampai sering kamu perhatikan.” Mengangguk. Aku tahu, pikirmu ini hanya sebuah candaan dariku. “Kamu tidur gih, nanti dimarahin senior loh!” “Sudah biasa, apalagi adik ipar Mbak Dara itu. Akhir-akhir ini sering sekali marah sama aku. Entah apa yang merasukinya. Mungkin karena aku sering jalan berdua dengan Mbak Dara.” “Ah, dia juga tahu kok kalau kita hanya bercanda, Mas Gayuh juga tahu. Dia tahu aku bersikap begini sama kamu juga karena penggemar kamu yang agresif itu, biar dia tidak mengganggumu lagi. Jadi bukan karena aku sering bareng sama kamu, tapi karena kamu banyak salah.” Bukankah alasan lainnya adalah menghibur dirimu yang kesepian? Apapun alasannya, aku mulai menikmatinya.  “Mungkin, Mbak. Kenapa nggak tidur?” “Tadi sudah tidur, tapi Mas Gayuh telepon minta ditemenin jaga.” Menoleh ke arahmu. “Dia yang punya tugas menjaga negara, kenapa harus memintamu terlibat juga?” “Kamu tidak akan tahu betapa romantisnya menemani seorang tentara menjaga negaranya.” Menarik napas panjang. “Romantis itu tidak selalu dengan mengorbankan waktu istirahat, kepentingan pribadi, dan hak asasi manusia.” Dahimu mengernyit. “Hakmu untuk bisa beristirahat dengan damai di negeri ini dan kewajibannya mengorbankan masa muda untuk kedamaian negaranya.” “Tentara juga manusia, dia punya hak untuk beristirahat dengan damai di negeri ini tetapi tidak bisa. Sebab mereka selalu menjaga tidur kita semua. Apa salahnya menemani mereka?” “Kalau seorang tentara mengeluhkan itu, seharusnya dia berpikir dua kali sebelum masuk tentara. Itu sudah menjadi konsekuensi ketika mereka memutuskan bergabung dengan tentara dan mengorbankan masa mudanya untuk mengabdi pada negeri ini. Tapi tak masalah jika itu pendapatmu. Toh, dia kekasihmu, sesuka hatimu mau mengorbankan apapun yang bisa kamu korbankan,” kataku melangkah masuk ke dalam ruang 27, meninggalkanmu sendirian yang masih mematung. Percayalah saat ini aku masih memperhatikanmu dari balik pintu yang sedikit memiliki celah. Sekian menit sampai akhirnya kamu berlari kecil menuju ruang 26. Aku yakin kamu ketakutan di luar sendirian meski di ruang 25 masih cukup gaduh oleh suara senior. “Selamat malam, Mbak Dara. Semoga tidurmu nyenyak malam ini.”   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD