Beberapa hari setelah doa patah hatiku, setelah kamu terlalu banyak bertengkar dengan Mas Akbar, dan setelah kamu ikhlas tidak mendampingi kami lomba di tingkat eks karesidenan Surakarta. Aku belum melakukan apapunn untuk bisa memilikimu, aku tidak tahu bagaimana caranya tetapi keinginanku menggebu. Aku ingin selalu menghubungimu, yang sudah pasti akan selalu kamu balas, tetapi tidak cukup bahan percakapan yang aku siapkan. Tentu, aku juga ingin berbincang denganmu tetapi jantungku seolah tak mampu mengondisikan degupnya, serta bibirku yang terkadang hampir kehilangan kuncinya untuk tetap diam beberapa saat.
Aku senang sekarang sudah di Semarang, itu artinya kami menang di eks karesidenan kemarin, meski tanpa hadirmu. Intinya saja, aku senang telah menang dari perlombaan baris-berbaris. Harapanku sekarang tak hanya menang perlombaan baris-berbaris tetapi juga memenangkan perlombaan atas hatimu. Bisakah? Aku ingin bisa.
Kemarin kami sudah melaksanakan perlombaan tata upacara bendera, Mbak Dara. Entah berapa nilainya tetapi tidak rasanya kurang lengkap tanpa senyum dan pekik semangatmu di tepi lapangan. Tidak ada pelukmu di tengah pelik kita semua. Di tingkat eks karesidenan kamu tidak ada karena memang sengaja tidak berangkat untuk menghindari pertempuranku dengan Mas Akbar. Tetapi kali ini alasanmu berbeda, ada acara yang tidak bisa kamu tinggalkan ujarmu.
“Nggak ada Mbak Dara kaya nggak ada semangat ya?” gumam Risa di sebelahku dan langsung diiyakan oleh semua pasukanku.
“Tapi harusnya yang bilang gitu si Apta, Ris. Kenapa kamu?” tegur Fikri membuatku ingin sekali menyumpal mulutnya dengan kanebo kering.
“Kenapa gitu? Aku kan adiknya Mbak Dara juga, aku juga butuh semangat dari Mbak Dara. Sangat amat butuh. Aku sayang sama Mbak Dara tahu, Fik.”
“Ya, begitupun dengan Apta. Dia juga sayang sama Mbak Dara.”
“Kita semua kan sayang sama Mbak Dara.”
Risa tak sadar bahwa Fikri telah memberinya kode rahasia yang amat sangat jelas. Teman perempuanku ini sepertinya terlalu polos. Fikri berbicara tentangku sebagai seorang laki-laki, tetapi Risa membalas tentangku sebagai seorang adik.
“Oke, oke, Risa.” Fikri menghela napas lalu mendekatiku. “Semangat tanpa penyemangat, Bosku!”
Aku mengangguk saja. “Ayo berlaga sekali lagi, setelahnya kita bisa pulang dan menunjukkan piala itu pada Mbak Dara. Buktikan bahwa meski tanpa Mbak Dara, kita selalu mengingatnya dan berbuat baik sesuai instruksinya,” kataku memotivasi.
Semuanya mengangguk dan mulai berlaga.
Di sinilah, Mbak. Di GOR Satria Semarang, aku melakukan kesalahan, aku kurang berkonsentrasi, hingga dua kali aba-abaku harus diikuti oleh kata ulangi. Hampir saja dua aba-aba terlewat dan bisa jadi itulah malapetaka patah hati pertamaku. Pengumuman telah di sampaikan dan memang benar adanya, kami hanya mendapatka juara umum kedua serta beberapa piala juara terbaik di berbagai kategori. Mbak, aku kecewa dengan diriku sendiri, yang tidak bisa mengendalikan otakku terhadapmu. Aku gagal dan aku terlalu bodoh, sebut saja aku b***k cinta.
Kami menangis saat ini, Mbak. Tidak ada air mata yang mengering, alirannya cukup deras dan hati kami diselimuti badai. Tahun lalu kami juara umum pertama, lalu, mengapa kita kalah hari ini? Apa karena kami terlalu angkuh setelah menjadi juara? Apa kami kehilangan rasa syukur kami?
“Sudah, tak apa, Dik.” Salah satu senior menghibur kami tapi agaknya tak sebaik hiburanmu setiap kali kami terjatuh.
“Aku butuh Mbak Dara,” ucap Risa lirih.
“Iya,” sahut Fadhila dan Nisa bersamaan.
“Sangat.” Fikri pun tak mau kalah.
Apa yang mereka rasakan tak lebih dari apa yang aku rasakan. Aku bukan hanya butuh kalimatmu yang menghibur, tetapi aku butuh genggam tanganmu yang menguatkan, aku butuh senyummu yang menenangkan, dan aku butuh bahumu yang mampu membuatku sedikit amnesia.
“Ayo, kita ajak pembina pulang!” ajakku melangkah pergi. “Pulang, kita langsung ke rumah Mbak Dara!”
Aku tidak berpikir panjang, yang terpenting ialah aku menemuimu terlebih dahulu. Bahkann aku tidak menghubungimu lebih dulu, meminta perizinan untuk datang ke rumahmu. Justru kakak kelas yang berusaha menghubungimu. Mungkin karena semua masih terus menangis dan meratap, maka senior tahu betul siapa yang mampu meredakan semuanya, kamu, Mbak Dara Laksmi Sasmita.
***
Mbak, malam inikami sudah sampai di Karanganyar, kami, bukan, aku ingin sekali meluruhkan patahmu dan terobai oleh senyummu. Tetapi yang aku dapati hanyalah Mas Gayuh dan Mas Akbar yang ada di rumahmu. Sudah sejauh itukah sampai kekasihmu malam-malam begini masih di rumahmu? Apalah aku ini yang hanya anak SMK biasa, yang kalau keluar malam masih ditelepon orang tua.
Namun ternyata, bukan perkara itu yang sedikit meretakkan hatiku, tetapi kenyataan yang aku terima hari ini tak lain dan tak bukan hanyalah rasa sakit yang teramat dalam. Aku tidak pernah mau mengingat hari ini, tanggal berapa, tahun berapa, intinya aku patah.
“Mbak Dara lamaran?” tanya Andhika membuatku menoleh ke arahmu.
Bukan sebilah pisau atau pedang samurai yang mematahkan hatiku, bukan pula gergaji ataupun golok, melainkan sebuah cincin yang melingkar indah di jari manismu. Bukan pula mega mendung dan tangismu yang mematahkanku, melainkan senyum bahagiamu hari ini. Kenapa aku yang kalah dalam baris-berbaris hari ini, harus kalah pula dalam perlombaan hati? Lalu, aku bisa menang dalam bagian apa? Podium mana yang sedang Allah Swt. siapkan? Lalu, kapan aku bisa menginjak podium kemenangan itu?
“Beneran sudah lamaran, Mbak?” tanya Fikri di sampingku, membuatku terbangun dari angan kosong yang hanya omong kosong.
Nih, cincin, cincin, Mas!” Andhika mengangkat jari-jarimu tinggi-tinggi.
Setelah aku perhatikan lebih jeli lagi, di dinding terdapat beberapa dekorasi tulisan, D & G, maksudnya Dara & Gayuh? Lalu, apa yang kamu kenakan? Batik? Bahkan senada dengan yang Mas Gayuh kenakan tadi, sebelum dia kembali bertugas lagi. Sempat menjabat tanganku, tersenyum padaku, aku yakin bajumu senada dengannya.
Air mataku kembali jatuh, dadaku sesak, dan lidahku terlalu kelu untuk sekedar berteriak, mengeluarkan semua mendung dan badai yang tercipta, meremukkan pula hatiku yang terlanjur patah. Mbak, aku baru akan memulai langkahku tetapi sudah kamu diskualifikasi sebelum resmi mendaftarkan diri? Bagaimana bisa kamu sekejam itu denganku?
“Aku pulang aja!” ucapku menggendongtas ransel hitamku.
“Eh, Ta!” Fikri menghentikan aktivitasku.
“Ngapain juga di sini, Fik!” bentakku sangat keras.
Lalu, dirimu datang, menggenggam tanganku dan mengatakan agar aku menginap di sini. Kamu khawatir jika aku pulang jam segini dalam keadaan lelah, menangis dan patah. Kamu tahu aku patah, tapi kamu tidak tahu siapa yang sebenarnya membuatku merasa sangat patah. Mbak, bagaimana caranya aku bisa berkata jujur denganmu?
Bujuk rayumu membuatku menetap,baiklah aku tak pulang dan memilih untuk merenung hingga malam, di tempat yang akan aku tandai sebagai tempat patah hati terdalamku. Aku bukan tidak mau menutup mata dan mengistirahatkan hatiku, tetapi aku tak mampu. Jadilah aku hanya meratap di depan rumahmu, aku pun tidak menyangka akan kamu temani ratapanku selama lima menit. Meskipun yang kamu bicarakan adalah kekahalan lomba baris-berbaris, sementara balasanku adalah kekalahanku dalam lomba memilikimu.
Kita tidak sejalan dalam pikiran hari ini, tetapi aku cukup bahagia bisa mendengar kalimat semangatmu. Aku ingin sekali tidak menyerah, seperti katamu, tetapi tidak bisa. Cincin di jari manismu memaksaku untuk mundur teratur serta mengharamkan maju tak gentar. Aku telah memutuskan untuk berhenti berharap denganmu, kesempatanku telah hilang dan tak akan datang lagi, tetapi aku juga ingin menyampaikan sesuatu padamu.
“Seandainya Tuhan masih memberikan kesempatan sekali lagi untuk berjuang, aku akan berjuang dengan baik dan tak akan melepaskan.”
Apalah daya, kesempatanku berhenti pada bagian patah hati terdalamku.
Kenanglah aku dan jangan pernah mencariku lagi. Jika aku rindu, biarkan aku mencarimu, mengintip dari celah mana saja untuk sedikit mengobati rindu. Bahkan jika aku mampu berhenti mencintaimu, aku akan mengenang dirimu sebagai cinta terbaik yang pernah aku rasakan.