Doa Patah Hati

2084 Words
“Urusan pribadi itu tidak perlu memengaruhi urusan organisasi. Lagian percuma mau menjelaskan sampai berbusa juga nggak ngerti!” sindirmu di bawah papan tulis sembari memainkan ponsel.  Iya, sejak tadi kamu tidak pernah berhenti bertengkar dengan Mas Akbar. Saling sindir hanya karena berbeda anggapan. Kamu menanggap aku ini adikmu, maka biasa saja jika aku dan kamu begitu dekat. Tetapi anggapanku dan Mas Akbar sama, aku ini laki-laki yang jatuh hati dengan seorang perempuan. Hei, ini saking lancangnya cinta, ia tidak mengenal angka lima yang menjadi pembeda.  Aku mematung di depan ruang 1 yang sedikit menjorok ke barat, maka kehadiranku tidak nampak olehmu atau oleh teman-temanku. Niatku malam ini tidak berlari terlalu jauh darimu, aku juga tidak ingin meninggalkan kewajibanku untuk melaksanakan sarasehan malam bersama yang lain. Hanya saja, mendengar celetuk amarahmu membuatku mengurungkan niat.  Langkah kakiku memilih pergi ke gedung paling belakang, menikmati hutan mini bersama burung hantu yang sorot matanya selalu tajam. Aku tahu banyak cerita horor tentang sekolah ini, di beberapa titik yang memang selalu memiliki suasana mengerikan tersendiri. Tapi tak masalah bagiku, kalau pun ada yang mau menampakkan diri, tak apa, aku justru merasa senang ada yang menemani.  Di ujung lorong gedung timur itu, katanya ada perempuan biasa berjalan di sana. Tak apa, ke sini saja, temani aku. Di lantai atas gedung paling belakang ini, katanya ada anak kecil suka mainan kursi kelas, tak apa, turun saja, temani aku. Aku persilakan daripada aku merasa kesepian dan merutuki diriku sendiri.  Akan tetapi, sepi menyadarkan bahwa aku masih cukup labil untuk bertingkah, masih cukup labil untuk menyikapi perasaanku sendiri. Mbak, aku bingung, kenapa dalam suatu waktu perasaan ini rasanya menggebu? Lalu, kenapa dalam waktu yang lain aku merasa amat sangat bersalah memiliki perasaan gila ini? Seperti sekarang, rasanya aku tak ada kelayakan untuk memiliki perasaan ini dan merasa bodoh telah melakukan banyak hal bersamamu.  Aku menyesali bahuku untuk tempat tidurmu dua kali, aku menyesali telah memasang foto tidurmu di i********: stories, aku menyesal mengakuimu sebagai kekasihku, aku menyesal mendoakanmu patah hati agar dapat bersamaku. Aku terlalu jahat untuk itu semua, aku terlalu gila untuk itu semua, aku tak memiliki cukup banyak mental yang sehat. Dan aku menyebabkan semua kekacauan ini terjadi.  Seandainya saja aku tidak jatuh hati denganmu, seandainya saja aku tidak mengakuimu sebagai kekasihku, seandainya saja aku tidak bercanda denganmu, seandainya saja aku tidak memasang foto itu, bahkan seandainya aku tidak dekat denganmu. Semua kegaduhan ini pasti tidak akan terjadi. Aku tetap menjadi Apta yang fokus pada kejuaraan baris-berbarisnya, aku tetap menjadi Apta yang bersuara lantang di tanah lapang, bukan senyummu di penghujung latihan. Iya, semua berbicara perihal seandainya. Namun seseorang pernah mengatakan, menyesal tidak pernah datang tepat waktu atau lebih awal, ia selalu terlambat.  Beginilah aku di balik menghilangnya diriku malam ini. Maaf tidak hadir pada sarasehan malam ini, Mbak. Tidak perlu mencariku dan tidak perlu bertanya apa masalahku. Semua yang membuatku menghilang tak lain dan tak bukan ialah perasaan labilku terhadapmu. Benar kata Fikri, aku tidak dewasa dalam menyikapi cinta.  Diam, membuka-tutup menu gawai pintarku. Tidak ada kerjaan kecuali memperbanyak helaan napas, tidak pula ada kerjaan lain selain menyesal. Baiklah, semuanya akan kucoba, tidak lagi bertingkah labil dan kenak-kanakan. Berusaha untuk tetap tenang, tetap percaya bahwa perasaan ini mudah hilang kapan saja. Mana ada anak kecil dan pelatih baris-berbarisnya bisa bersama? Tidak ada.  Setelah aku merasa bosan dan mulai berdamai, pun waktu sudah sangat lama untuk berdiam diri meninggalkan sarasehan, aku kembali. Berjalan menyusuri lorong demi lorong, melewati gedung demi gedung. Meski tak bisa melihat mereka seperti paranormal ataupun indigo, aku selalu merinding berjalan sendirian di sekolah ini. Entahlah, mungkin terpengaruh cerita-cerita horor yang sering kudengar, maka sering timbul halusinasi. Semakin dekat dengan area yang digunakan untuk karantina, di ruang 1, 2, dan 3. Namun, harus melewati lorong di bawah perpustakaan yang baru, gelap, lampu mati, tetapi di beberapa tempat lain lampu menyala, sedikit remang sudah lebih baik. Baru menginjakkan kaki di area lapangan upacara. Aku melihat dirimu berjongkok di tengah lorong gelap, remang yang samar-samar terhalang oleh daun-daun pohon di tepi lapangan upacara. Terdengar lirih suara isak tangismu bersamaan dengan lantunan istighfar.  Aku melihat ke arah tiang bendera, ingat ceritamu di awal tahun ini. Kamu bercerita bahwa pernah mengalami hal ganjil di lapangan upacara, khususnya yang berhubungan dengan tiang bendera dan lonceng besi tradisional di sebelahnya. Kala itu, kamu juga mengatakan bahwa kejadian itu masih selalu terbayang meski sekarang kamu merasa sudah lebih pemberani. Ternyata memang tidak sepemberani ceritamu.  Tiang bendera itu bergerak-gerak di saat semua pohon di sekitarnya begitu tenang. Ini pertama kalinya aku melihat hal yang semengerikan itu dan sangat nyata, bahkan suara-suara yang tidak mungkin itu hasil kerjaan manusia. Tak ada satupun manusia di tiang bendera ataupun lonceng besi tradisional itu. Tapi kenapa bisa berbunyi sejelas itu? Aku bergegas melangkah, mendekatimu dan merengkuhmu. Maaf tapi pikirku hanya untuk menenangkanmu, agar kamu tidak terus-menerus terbayang dengan apa yang terjadi di hadapanmu. Tubuhmu lemas sekali, deru napasmu nampak ketakutan, dan pelukmu begitu hangat.  “Hey, kenapa?” tanyaku sok tidak tahu. Jika aku katakan aku tahu, kamu pasti semakin takut dan panik.  Pelukmu semakin erat, dan dengan bisikan setan aku merasa nyaman. Aku tahu ini salah, tapi tidak ada pilihan lain kecuali melakukan kekhilafan. “Istighfar, istighfar dulu, nggak apa-apa,” kataku lagi untuk menenangkan.  “Aku takut, itu bel besinya bunyi,” keluhmu bersama isak tangis serta kepalamu yang membenam di dadaku.  Suara itu memang amat sangat jelas, tapi bagaimanapun aku seorang laki-laki yang berkeinginan melindungimu dan Tuhan telah memberikan kesempatan. Maka aku gunakan untuk menunjukkan bahwa aku memang laki-laki, bukan adik yang mencintai kakaknya.  Dalam dekapku, kamu terus mengeluh ketakutan dan berusaha menenangkan isak tangismu sendiri. Entah ini halusinasi kita yang sama atau hal semacam itu memang ada, biarkan saja, aku cukup menikmati dekapmu yang menjadi khilafku.  Teng... teng... teng... Akhirnya aku mendengar lagi apa yang kamu takutkan. Aku berusaha menengok ke belakang, melihat ke arah sumber suara itu berasal dan aku yakin, masih tidak ada siapapun di sana. Mataku masih sangat bagus untuk melihat dengan jelas ke arah yang jauh, lampu juga masih sangat terang untuk menyorot tempat itu. Jika memang benar ini hanya halusinasimu, bagaimana bisa aku juga merasakan serta mendengar hal yang sama. Menghela napas panjang. Aku juga punya sisi takut meskipun garang di lapangan sebagai komandan peleton. Tetapi rasa takutku tak pantas kamu ketahui, terlalu memalukan. Bagaimana bisa seorang laki-laki menunjukkan kelemahannya di depan perempuan yang dia cintai. Itu tidak mungkin dilakukan.  “Eh, Mbak Dara!” suara cempreng Risa akhirnya menggantikan suara bel besi itu. “Kamu apain Mbak Dara?” tanya Fikri, aku rasa dia mulai mendekat.  “Kita ke sana dulu ya? Jangan lihat ke arah tiang bendera,” kataku menuntunmu untuk kembali ke depan ruang 1.  Dekap eratmu sungguh seperti dekapan anak kecil pada seseorang yang dianggap bisa melindunginya dari rasa takut. Maka jujur, malam ini aku benar-benar merasa bahwa aku laki-laki untukmu, bukan adik kelas yang, ya, hanya dianggap adik.  “Mbak Dara!” Mas Akbar datang dari ruang 3. “Kamu apain?” pertanyaan yang lebih persis bentakan marah. Aku tahu, berhari-hari ini dia amat sangat sensitif terhadapku. Terlebih tragedi i********: stories itu dan tragedi lain antara aku serta dirimu. Terkadang aku benci dengan sikap galaknya, tapi aku tidak bisa melawan apapun. Ah, entah sampai kapan harus aku ulang kalimat yang sama. Mas Akbar memintaku untuk melepasmu. Aku mau daripada masalah ini semakin berlarut sementara besok sudah lomba. Tetapi kamu benar-benar tidak mau melepasku, dan itu satu keuntungan yang lebih dari laba perusahaan rokok bagiku. Meskipun aku tahu, ujung dari pelukanmu adalah masalah. Tak apa, teruskan saja.  Hampir tengah malam ketika bulan tak bulat sempurna di atas sana. Aku berjalan sendirian ke kamar mandi di bengkel pemesinan, kamar mandi paling bersih dan nyaman untuk anak laki-laki. Sebenarnya takut, karena harus melewati tiang bendera dan lonceng besi yang horor tadi. Tetapi tidak mugkin juga harus membangunkan temanku hanya untuk buang air kecil. Aku ini seorang komandan peleton, pemimpin mereka, mana mungkin aku menjadi penakut di depan mereka? Gengsi sekali. Namun, di tengah jalan, aku dapati sesuatu yang menakutkan, agaknya ini lebih horor dibandingkan hantu itu sendiri. Tatapan mata Mas Akbar seperti ingin sekali membunuhku. Entahlah, sejak kamu memelukku, tatapan mata itu semakin mengerikan. Tentu, tentu ubun-ubunnya tengah mendidih dan aku telah berhasil memendungkan amarahnya.  “Kita bicara dulu!”  “Bicara apa, Mas?” Mas Akbar menarikku ke utara kamar mandi bengkel pemesinan. Tidak dengan genggaman yang lembut, tentu, kekuatannya sebagai laki-laki digunakan secara penuh hanya untuk menarikku. Dia yang selama ini aku kenal sebagai kakak kelas yang penuh perhatian, tegas dan mengagumkan, kini sudah tidak lagi. “Kamu suka sama Mbak Dara, kan? Kalau memang kamu tidak mau dipeluk Mbak Dara, seharusnya kamu lepaskan.”  Aku membisu. “Aku dan kamu itu sama-sama laki-laki. Kamu dan Mas Gayuh juga sama-sama laki-laki. Aku tahu dari tatapanmu, aku tidak bodoh. Mas Gayuh juga tahu dari caramu bersikap, dia tidak begitu bodoh.” Menelan ludahku sendiri. “Berulang kali sudah aku katakan jauhi Mbak Dara, jangan dekat-dekat lagi dan jangan menganggap Mbak Dara itu seorang perempuan, karena dia menganggapmu hanya seorang adik kelas biasa!”  Mengapa seseorang yang jatuh cintanya saja tidak direncanakan, tapi dipaksa untuk membunuh perasaannya? Mengapa aku yang tidak tahu bagaimana caranya perasaan ini datang, tapi dipaksa untuk berhenti dan pergi? Mengapa harus aku yang dipaksa sementara cinta datang bukan dariku, sementara rasa suka dan kagum juga bukan datang dariku? Mengapa harus aku? Mas Akbar hendak pergi setelah kepalan tangannya hampir memukul wajahku.  “Memangnya aku salah kalau jatuh cinta dengan Mbak Dara, Mas?” Berbalik. Sorot merah amarahnya begitu jelas di bawah lampu. “Iya, aku jatuh cinta sama Mbak Dara. Terus kenapa? Apa yang salah?” “Sssihhh!” mendesis kesal. “Kamu harus sadar diri,” menunjuk d**a sebelah kiriku. “Aku sadar kok, Mas. Aku hanya anak SMK kelas XI yang cita-citanya jadi apa juga belum jelas. Dibandingkan dengan Mas Gayuh yang merupakan seorang tentara, pasukan elit, mapan, tampan. Aku cukup tahu diri!” “Kalau kamu tahu diri, seharusnya kamu tidak jatuh cinta dengan Mbak Dara!” Menghela napas. “Mas Akbar yang nggak sadar!” Aku mendorongnya untuk menjauh, lalu aku masuk ke dalam kamar mandi. Tapi sayangnnya, langkahku di tahan hingga kami saling dorong di depan kamar mandi.  Mbak, aku bahkan tidak sengaja jatuh cinta denganmu, bahkan niat saja tidak ada. Lalu, bagaimana caranya aku harus berhenti sementara memulainya saja aku tidak merencakannya? Tolong beri tahu aku jika kamu tahu jawabannya.   “Mas!” bentakku mendorongnya mundur. “Kita sudah bukan anak SD lagi! Cinta itu perasaan paling tidak tahu diri. Aku juga tidak bisa mengendalikan. Tadinya aku tahu diri untuk tidak memiliki Mbak Dara, tapi maaf, sekarang aku berpikir sebaliknya!” “Maksudmu apa?” pekik Mas Akbar hampir memecah tengah malam ini. “Minta Mas Gayuh untuk menjaga Mbak Dara dengan baik!” Langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya.  Aku membiarkan air kran mengalir, bahkan meski bak mandi sudah penuh, ember hitam di pojokan juga sudah penuh dengan air. Tidak peduli seberapa banyak pajak PDAM yang harus dibayar oleh sekolah ini. Aku hanya merasa sangat direndahkan hari ini.  Tentu, Mbak. Aku tahu, bahwa aku hanyalah seorang siswa SMK yang cita-cita saja belum ada. Tetapi aku juga manusia, aku juga laki-laki dan aku memiliki hak yang sama dengan laki-laki lain untuk memperjuangkan perasaanku sendiri. Aku tidak suka diremehkan dan direndahkan semacam ini.  Mbak, izinkan aku memanjatkan doa yang kejam bagimu, di tempat yang kotor ini. Aku berharap suatu saat kamu patah hati, aku berharap suatu saat kamu menangis, dan aku akan datang kepadamu. Entah seberapa lama kamu menangis hingga bah air mata itu mengering, entah seberapa susahnya aku membuatmu tersenyum, apapun itu akan kulakukan. Bahkan jika aku masih tetap dianggap tidak waras.  Jika sebelumnya aku menyerah atas dirimu, aku benar-benar berani menantang meski putih abu-abuku tidak pernah sebanding dengan doreng merah darah milik kekasihmu.  Hal yang mungkin tak banyak orang tahu tentangku, termasuk dirimu. Aku adalah orang paling kompetitif setelah aku dijatuhkan. Aku tahu keinginan memilikimu itu salah, tetapi perasaanku tidak pernah salah. Siapapun bisa mencintai manusia mana saja meski tidak ada kemauan atau niatan, karena cinta memang selancang itu. Sekarang, oleh karena orang-orang telah merendahkanku, aku berencana untuk memilikimu.  Jika saja suatu saat nanti kamu patah hati, ingatlah bahwa saat itu Allah Swt. telah mengabulkan doaku. Doa yang aku panjatkan dengan penuh amarah, dengan keinginan untuk menang, dengan gebuan yang mengerikan, dan tentu di tempat kotor semacam ini.  Terima kasih untuk pelukmu hari ini, bersiaplah untuk segala pelik yang akan terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD