Hangat Menuju Beku

1674 Words
“Dia berpindah dari seorang tentara ke kamu, hanya dalam waktu yang singkat. Tentara, sementereng itu ditinggalkan demi anak SMK. Seberapa mahal dia?” ucap salah satu dari tiga perempuan setelah memakimu di hadapanku. Hari ini adalah hari yang paling memukul untukku. Kedatangan tiga orang perempuan untuk menemui dan memakimu adalah hal yang tidak aku inginkan. Benar aku menikmati, tapi bagaimana bisa aku membiarkan orang lain menganggapmu murahan? Tiga orang penggemarku itu datang hanya untuk mencari kebenaran lalu memakimu. Aku yang salah telah melibatkanmu, dan telah terlalu  jauh jatuh hati padamu. Tetapi tetap kamulah yang membelaku, kamu yang tetap biasa saja seolah melindungiku. Jujur, aku tidak menyukainya. Mengapa tidak kamu biarkan aku benar-benar melindungimu dan kamu menjadi lemah di hadapanku? Mengapa harus aku yang selalu menjadi anak kecil? Maaf, itu hanya keegoisanku. Mulai hari ini sudah aku tentukan untuk tidak lagi bermain atau bersandiwara denganmu. Mari kita kembali seperti kita di tahun 2018 lalu, tidak dekat, dan tidak banyak berinteraksi. Aku takut ada perempuan sekolah lain yang datang lagi untuk memakimu. Cukuplah hari ini mereka bisa menelponmu, menemuimu dan mengumpatmu sesuka hati mereka. Rasanya sudah cukup kamu melindungiku, biarkan aku yang melindungimu dengn caraku sendiri. Jika ada orang mengatakan membunuh tanpa menyentuh, bisakah aku melindungimu tanpa menyentuh? Biarkan saja semua yang aku rasakan menjadi rahasia yang terpendam. Sebab semakin aku biarkan menyeruak, semakin mengerikan pula perasaanku padamu. Aku hanya berharap semoga aku sanggup, itu saja. Hari-hari setelahnya adalah hari yang paling suram bagiku. Jika saja kamu ada di posisiku, lalu terpaksa menjauh bahkan bersikap dingin pada Mas Gayuh, apa kamu mampu, Mbak? Rasanya tidak. Aku hanya bisa merendah sebagai jalan menghibur diri. Misalkan, aku ini hanya anak SMK, tidak mungkin mampu bersaing dengan tentara, atau mungkin aku ini hanya sebatas kagum saja, pada akhirnya juga akan berpaling ketika menemukan yang lainnya. Benar, aku berusaha untuk yakin bahwa suatu saat nanti aku tidak melupakanmu, tetapi aku melupakan rasaku bersama kenangannya. Aku berharap itu terjadi. “Apta,” panggilmu duduk di depan pos satpam. Hari ini kamu tidak mengendarai motormu sendiri, memilih naik ojek online, lagi-lagi atas alasan kesehatan. Aku hanya menoleh saja, namun tetap menghentikan motorku. “Aku nebeng ya, lumayan hemat ongkos,” katamu mendekat. “Aku mau ke alun-alun dulu,” tolakku kembali melajukan sepeda motorku. Entahlah, mungkin kamu kecewa, atau mengumpat bahwa aku adik kelas yang tidak tahu sopan santun, menyepelekan dan lain sebagainya. Tak apa, aku bukan bermaksud mengabaikanmu sebagai seseorang yang lebih tua, aku hanya berusaha mengabaikan perasaanku atas dirimu. Arah jalan pulangku ke timur, tetapi demi mengabaikanmu aku memilih jalan ke barat. Hingga beberapa teman-temanku terheran-heran. Bahkan Fikri yang harusnya ke arah timur juga memilih untuk mengikutiku. “Apta nggak sopan sama Mbak Dara!” pekik Risa di belakangku, cukup jauh tetapi suara cemprengnya masih terdengar. Laju motor matic-nya tentu tidak bisa mengimbangi laju motor Vixion-ku. Aku tak bergeming. “Woy!” Fikri berusaha mengejar lalu kami berhenti di belokan jalan, arah untuk memutar jalan. Jadi jalur kami tadi, dari barat, belok ke selatan, memang begitu arah dari SMK menuju Alun-alun Karanganyar, namun setelah sampai di belakang RSUD kami belok ke timur. “Kenapa sih, Fik? Teriak-teriak!” bentakku ketika dia berhenti di samping kananku di belakang RSUD Kabupaten Karanganyar. “Kelihatan banget kamu jauhin Mbak Dara kali, Ta!” “Ya memang, yang hangat itu sekarang menjadi beku. Ini hidupku, Fik, tidak semua urusan hidupku harus kamu tahu dan kamu atur!” Fikri menghela napas. “Oke, tapi alasannya apa? Perasaan kamu? Harus ya perasaan itu membuat kamu berlaku tidak sopan pada pelatihmu sendiri? Cinta seharusnya mendewasakan bukan menciptakaan keburukan!” Aku mengerlingkan mataku. “Mendewasakan? Iya, mencintai Mbak Dara pada akhirnya memang mendewasakan. Jika aku tetap bermain-main dengan perasaanku, bercanda dan bersandiwara seperti biasanya, aku mungkin bahagia, tetapi itu semua mendatangkan keburukan, Fik. Kamu tidak tahu kan kemarin Mbak Dara dilabrak anak SMA? Sampai kapan cinta itu si perempuan yang selalu melindungi? Lalu kapan aku berganti posisi untuk melindungi? Sudahlah, ini hidupku!” Fikri masih mematung di belakang ketika aku meninggalkannya, melaju cepat secepat-cepatnya. Matahari sudah tenggelam, sudah waktunya beristirahat dari segala macam aktivitas yang melelahkan, waktunya bergulat dengan tugas-tugas yang telah ditinggalkan. Lapangan jalan, pelajaran tidak boleh ketinggalan. Seperti yang selalu kamu ajarkan. *** “Ah, contohnya ya kemarin itu, Mbak. Kutipan quotes gitu tapi galau. Soal kepura-puraan yang akhirnya menjadi sebuah kejujuran sehingga tidak mampu berhenti dari kepura-puraan yang dia mulai,” jelas Nisa membuatku memelankan langkah kakiku, sedikit sulit mencerna kalimatnya. “Kemarin?” tanyamu bingung. Tentu saja kamu bingung, tak akan pernah muncul status itu di WhatsAppmu. “Di aku nggak ada deh, Nis. Iya, kemarin Apta bikin story tapi lagi makan bakso sama adiknya.” Menahan amarahku pada Nisa, anak kelas X yang ternyata doyan ghibah di balik wajah polosnya. Kenapa pula anak perempuan doyan sekali ghibah? Padahal itu sama saja dengan memakan bangkai saudaranya sendiri. “Ha ha ha. Disembunyikan, Mbak Dara disembunyikan.” Ternyata Risa lebih parah, semakin memperkeruh keadaan yang ada. Aku langsung maju, mengimbangi langkah empat orang perempuan, kamu, Risa, Nisa dan Fadhila. Lalu kupukul kepala Risa, pelan, tentu tidak menyakitkan. Balasan atas mulutnya yang semakin memperkeruh keadaan. Tetapi kamu membelanya, menegurku untuk tidak memukul perempuan semacam itu. “Ta, emang Mbak salah apa sampai-sampai story kamu aja Mbak nggak boleh lihat?” tanyamu mengikuti langkahku. “Aku tidak menyembunyikan, Mbak. Kemarin juga lihat story-ku kan?” “Tapi satu doang.” “Ya memang hanya satu.” “Tapi kata anak-anak kemarin kamu bikin story petikan qoutes kok.” “Enggak!” “Iya ih!” “Bodo lah! Wudhu sana!” bentakku mengambil air wudhu. 26 Maret 2019, aku ketahuan menyembunyikan status WhatsAppku darimu. Aku hanya tidak mau mencuri perhatianmu karena statusku yang penuh dengan kata-kata bijak namun galaunya tingkat Dewa. Biasanya kamu begitu, memberikan perhatian pada adik-adikmu yang terlihat galau, agar mereka bercerita dan kamu memberikan hiburan atau solusinya. Tidak mungkin aku yang galau berat karenamu tetapi yang memberikan solusi atau menghibur adalah kamu, yang ada aku semakin terlihat menyedihkan. Sholat Magrib selesai, maaf, tak ada namamu dalam doaku hari ini. Hari ini memang sedang karantina, besok sudah bertempur lagi melawan kontingen lain dari Solo, Boyolali, Wonogiri, Sragen dan Klaten, anggota Eks Karesidenan Surakarta. Kamu tahu, karantina memang tradisi sejak dulu sebelum perlombaan, guna menghindari berbagai macam hal yang tidak diinginkan. “Ta, topi latihanmu kemarin ketinggalan di tempat wudhu,” kata salah satu temanku, anak Rohis yang jarang pulang karena memilih tidur di sekolah, maklum rumahnya jauh dan transportasi umum sedikit sulit. “Oh, Ya Allah, dicariin juga,” kataku mengambil topi lusuh ini. Temanku ini menceritakan kalau dia menemukan topi ini dan teman-temannya yang lain mengatakan bahwa itu milikku. Memang, memang topi ini milikku. Warna hitamnya sudah memudar oleh terik matahari selama latihan. Tidak lagi hitam melainkan abu-abu. Wajar juga jika temanku ini menyarankan agar aku membeli topi yang baru. “Banyak kenangannya,” balasku. Ini bukan hanya tentang baris-berbaris, tetapi juga tentang saksi bisu perasaan gilaku padamu. Tidak mungkin aku berganti yang baru hari ini atau membuangnya saja. Meskipun selusuh ini, aku akan menyimpannya sampai aku merasa bosan mengingatmu. Aku berjalan pergi namun langkahku kembali ditemani olehmu. “Berharga banget ya topinya?” “Iya,” jawabku berusaha untuk beku. “Bisa buat mahar calon istri kalau berharga bagimu, ha ha ha. Kalau calon istrinya mau sih.” “Kamu mau?” tawarku benar-benar tanpa pikir panjang. “Ha ha ha. Boleh lah.” “Tunggu saja kalau aku sudah seperti Mas Gayuh, aku temui kedua orang tuamu saat itu juga!” Kamu pasti menganggapnya sebuah lelucon, maka hari ini juga aku anggap semuanya hanya lelucon. Tidak ada yang tahu pasti di masa depan apakah aku masih mencintaimu atau akhirnya menyadari bahwa perasaanku sebatas kekaguman saja. “Eh, tapi seriusan ini, kenapa sih Mbak harus disembunyikan?” “Nggak ada yang menyembunyikan.” “Masa? Coba pinjam ponselmu. Sekalian kan setelah ini ponselmu Mbak yang bawa.” “Nggak usah, biar dikumpulkan sama yang lainnya aja.” Sudah tradisi setiap karantina ponsel semua peserta harus dikumpulkan, agar semua fokus dan tidak terganggu oleh suara sumbang di luar sana. “Nanti juga Mbak yang bawa.” “Biar dibawa Mas Robi aja.” “Ih ayolah! Besok juga Mbak pakai buat siaran langsung di Instagram.” “Emang ponselmu kenapa?” tepat ketika kami berhenti di depan ruang 1. Sebenarnya aku tahu kondisi ponselmu. Masih saja ponsel rusak begitu dipelihara. Apa yang mau kamu katakan? Karena banyak kenangan dengan Mas Gayuh yang sayang sekali terhapus? Aku justru berharap demikian. “Layarnya mati separuh.” “Oh, pakai punya yang lain saja.” “Pelit banget sih, Ta!” bentakmu kesal. Dan aku masih sangat menyukai raut wajah itu. Kenapa kamu bisa semanis itu? “Kalau aku minta hatimu, kamu kasih nggak?” tantangku lebih dalam dari yang sebelumnya. “Ha ha ha, ya enggaklah. Sudah ada Mas Gayuh, penuh ini.” Kamu ini Dara Laksmi Sasmita atau seorang ninja yang pandai memainkan samurainya? Sepertinya kamu lebih mirip ninja, pintar sekali mengarahkan samuraimu untuk melukaiku. Jika saja ketangkasan ninja mengolah samurainya diperlombakan, mungkin kamu juaranya. “Berarti kamu juga pelit!” Dan kamu memprotesku, bahkan mengumpat tentang aku yang kehilangan sopan santun beberapa hari ini. Berlaku dingin padamu dalam beberapa kesempatan, mengabaikan, dan tidak acuh. “Ya Tuhan, drama apalagi ini?” seru Fikri di tempat duduknya. “Anak kaya gitu mana tahu sopan santun sama yang lebih tua!” pekik Mas Akbar dengan nada bencinya. Jika saja dia bukan seniorku, mungkin sudah kuseret ke lapangan upacara sekarang juga. “Sabar,” bisik Fikri di dekatku. Aku masih cukup waras untuk tidak melakukan kekerasan. Aku masih ingat dengan Tuhan yang menciptakanku dengan kelembutan, aku masih ingat ayah dan ibuku yang merawatku dengan kelembutan, dan aku masih ingat perhatianmu yang tanpa kekerasan. Maaf, sungguh maaf jika kamu katakan aku tak sopan, aku terlalu banyak mengabaikan pelatihku. Aku hanya ingin membeku usai hangat bersamamu. Mengapa? Karena aku tahu, kamu dan aku tak akan menjadi kita. Impianku boleh saja tak ada kadaluarsa, tetapi keinginanku tentangmu ada batasnya.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD