Kenyataan Yang Semakin Gila

2780 Words
Memasuki bulan Maret 2019, semakin habis waktu persiapan untuk perlombaan baris-berbaris serta tata upacara bendera di tingkat eks-Karesidenan Surakarta. Empat hari lagi menuju pertandingan, yang artinya hanya tersisa 2 hari lagi untuk latihan secara penuh. Latihan masih sama seperti yang lalu, meski materi baris-berbarisnya bertambah dengan variasi dan tata upacara bendera. Aku baru saja keluar dari kamar mandi ketika mendengar suara motormu dan benar, kamu baru saja memasuki gerbang sekolah dengan motor matic-mu. Bergegaslah kaki ini untuk menghampirimu, cepat-cepat ingin melihat wajahmu yang haram bagiku. “Ta, kaya ngejar jodoh ya? Cepet amat,” tegur salah satu temanku yang baru saja keluar dari ruang guru. “Kaya ngejar jodoh.”  “Emang iya,” jawabku terus berlari. Aku yakin temanku itu mengumpat setelah jawabanku, aku bukan tipe orang yang diperbudak cinta selama ini, tetapi akhirnya diperbudak hanya karena perasaan gilaku untukmu. Dengan napas yang masih menderu aku mulai memelankan lariku, melangkah pelan mengatur napas. Hingga tepat pada waktunya. “Habis bimbingan, Mbak?” “Astagfirullah!” menepuk keras lenganku berkali-kali. “Kaget sih, Ta! Tiba-tiba muncul!” Perasaanku yang tiba-tiba muncul, kalau kemunculanku ini memang aku sengaja, Mbak. Pada akhirnya kamu mengeluh perihal rasa kantukmu, maka wajar, bukan? Jika aku memberimu nasihat agar kamu beristirahat saja dan tidur di basecamp. Wajar juga seorang adik mengatakan itu, tapi perhatianku kali ini bukan adik kepada kakaknya tetapi laki-laki kepada perempuannya. Ah, sepertinya percuma, anggapanmu tetaplah sama. Toh, pikirmu juga tidak mau meniggalkan kewajibanmu melatih kita semua. “Mbak itu kalau diperhatikan nggak pernah nurut. Mentang-mentang aku hanya anak kecil!” ketusku menjauhinya. Latihan hari ini berpindah dari lapangan tenis menuju lapangan sepak bola mini, dari baris-berbaris berganti menjadi tata upacara bendera. Di mana aku, Risa dan Febri sebagai pengibar bendera, Fikri sebagai pemimpin barisan kelas XII, dan yang lain pun medapatkan tugasnya masing-masing. “Mbak Dara rindu kasur di rumah nih kayanya,” tegur Fikri yang sudah ada di posisinya sebagai pemimpin barisan. Tepat ketika kamu mulai memejamkan matamu, sebelum geladi yang sesungguhnya dimulai, setelah kami berlatih secara individu. “Upacara pengibaran bendera...” pembawa acara telah memulai upacara pengibaran, tetapi fokusku belum terkumpul, masih menatapmu yang layu. Singkat waktu tibalah giliranku untuk mengibarkan bendera, melakukan lagkah tegap sembari melirikmu di sisi kananku. Berulang kali hampir terjatuh karena kantukmu, aku hanya takut kepalamu terbentur tepian lapangan yang lancip atau justru bibirmu mencium tanah lapangan yang sedikit basah oleh sisa hujan semalam. “Eh, Mbak Dara!” Risa spontan memanggil namamu ketika kamu hampir tersungkur untuk kesekian kalinya.  “Aduh, ha ha, ngantuk berat aku,” keluhmu masih bisa tertawa ringan. Aku, Febri, dan Risa hanya tersenyum, mungkin semuanya juga. Ketika geladi sudah berjalan, katamu tak boleh ada suara lain selain yang sudah menjadi ketentuan. Maka kami semua fokus pada tugas kami, tidak, maksudku hanya aku yang tidak fokus tapi tetap melaksanakan tugasku. “Mbak Dara!” pekik Risa lagi sebab kamu kembali menutup matamu, dan itu tepat ketika aku duduk dan menawarkan bahuku untukmu. Seandainya kita ialah pasangan romantis laiknya Inggit dan Bung Karno atau mungkin mirip pasangan Nabi Muhammad SAW dengan Siti Khodijah, mungkin aku akan sangat bahagia. Sayangnya kita hanya dua sejoli yang tidak mungkin bersama lantaran angka lima menjadi pembeda. Menurut sudut pandangku ini memang terlalu banyak kata seandainya, aku ulang terus menerus kata seandainya. Sebab  hanya itu yang aku pikirkan, seandainya menjadi nyata. Namun kenyataannya kata yang selalu ada di tengah-tengah kita adalah ketidakmungkinan. Maka biarkan saja jika aku mengandai. “Benderanya jadi setengah tiang, Coy! Untung bukan merah putih, bisa disuruh push up kita, dikira sedang berkabung,” keluh Febri. “Ssssttt, istirahat saja dulu,” kataku dengan suara lirih. Febri dan Risa akhirnya mengibarkan bendera latihan itu hingga ke atas. Sementara yang lainnya mulai menepi, lumayan mendapatkan semenit atau dua menit untuk beristirahat. “Dasar, modus!” tegur Fikri mendekat. “Orang kalau bahasa psikologinya kena oedipus complex ya gitu,” lanjutnya membuatku memicingkan mata ingin membunuhnya. Namun apakah benar aku mengidap oedipus complex hanya karena aku jatuh cinta denganmu, Mbak Dara? Sebelumnya aku pun normal-normal saja, menyukai seorang perempuan yang sebaya atau bahkan lebih muda. Memang baru kamu perempuan selisih lima yang membuatku jatuh cinta. “Oedipus Complex itu apa, Fik?” tanya Risa tepat ketika aku menemukan ponselmu di sampingku. Aku memilih diam saja setelah menemukan ponselmu di dekatku, mengutak-atik dan malah muncul ide, mengambil foto kita berdua dan memasangnya untuk instastory di akun instagramku. “Fik, ambil foto, Fik,” ucapku pada Fikri, membuat Risa mengangkat kedua alisnya. “Malah foto,” tegur Fadhila, anak kelas X. “Oedipus Complex itu kecenderungan seorang laki-laki menyukai perempuan yang jauh lebih tua daripada usianya. Pencetusnya Bapak Psikologi, yaitu Sigmund Freud,” jelas Fikri sembari mengambil foto. Risa malah bertepuk tangan dan menggeleng-nggelengkan kepala. Mungkin dia tidak menyangka Fikri yang tidak pernah tertarik perihal psikologi bisa tahu Bapak Psikologi dan arti dari oedipus complex itu sendiri. “Kok bisa kamu tahu tentang itu ya, Fik?” Masih dengan wajah herannya. “Tahulah. Aku pernah nonton acara TV, Tonight Show, terus ada salah satu host-nya menyebutkan oedipus complex pas ada pertanyaan apakah jarak usia antar pasangan itu penting. Ya penasaran kan aku, saking penasarannya ya aku browsing oedipus complex itu apa. Makanya, Ris, kalau nonton TV itu ya jangan asal nonton drama tapi nggak mau tahu isi, manfaat, ilmu dan pesan moral yang terkandung di dalamnya. Nonton asal nonton aja sih.” Sungguh Fikri ini makhluk paling songong dan sok tahu di dunia, tetapi aku selalu menikmati peran dan karakternya yang semacam itu. Mungkin hanya Risa yang sering tidak nyaman dengan tingkah polah Fikri, tatapannya selalu bosan dan kesal. “Tapi kalau menurut penjelasan Mas Fikri. Mbak Dara kan jaraknya sama Mas Apta cuma lima tahunan, nggak jauh itu sih,” seru Andhika, anak kelas X. “Iya kan, nggak jauh kan? Si Fikri aja tuh suka ngatain seenak jidatnya,” sambarku dan semua langsung menoleh serta menatapku aneh. Benar-benar hening, hanya suara angin dan daun yang bergesekan. “Astagfrullah!” tatapan itu berganti pada seru kagetmu. Terima kasih, Mbak Dara terbangun di waktu yang tepat. Seandainya kamu bangun sedikit terlambat, mungkin mereka semua sudah mengejekku saat ini. Mengejekku oedipus complex, mengejekku terlalu baper karena bercandaanmu yang aku masukkan ke dalam perasaan, atau yang lebih parah lagi. Walaupun sebenarnya, oedipus complex itu tidak salah. “Mimpi buruk, Mbak? Sampai kaget gitu,” tanyaku untuk mengalihkan perhatian teman-teman. Kejadian selanjutnya tidak ingin aku ceritakan, sebab ada Mas Gayuh sebagai topik pembahasan. Mengapa harus mengandai Mas Gayuh yang menjadi bahumu, Mbak? Ah, susahlah, memang aku hanya anak kecil bagimu. *** Purnama sudah berjalan ketika aku sampai di rumah, setelah ketiduran di basecamp dan setelah mengantarmu pulang, aku merasa beruntung. Hari ini boleh kamu membahas Mas Gayuh, mengandai, seandainya Mas Gayuh yang menjadi bahu untuk tidurmu, namun kenyataannya aku yang menjadi bahu. Apalah artinya andai tanpa menjadi realita. Tentu aku sedikit lupa bahwa aku pun mengandai untuk mendapatkanmu. “Kok baru pulang, Mas? Memangnya kalau latihan harus sampai semalam ini?” tanya Ibu menyambutku yang langsung duduk setelah meletakkan sepatu di tempatnya. “Tadi nganter pelatihku dulu, Bu. Orangnya keibuan banget, Bu. Benar-benar memperhatikan kesehatan kita sampai hal yang paling kecil.” “Ya bagus.” Mulai hari inilah aku selalu menceritakan semua tentangmu pada Ibuku. Mungkin Ibu juga berpikir hal yang sama denganmu, aku hanya anak kecil yang menceritakan perihal pelatih baris-berbarisnya. Padahal aku adalah laki-laki yang menceritakan perihal perempuan yang dicintai pada Ibunya. Aku bisa mengerti dari tatapan Ibu yang biasa saja. “Loyal ya berarti Mbak Dara itu, Mas?” tanya Ibu sembari menjahit celanaku yang bolong. Mengangguk. “Iya, sudah cantik, baik, perhatian sama adik-adiknya, sama aku juga, Bu” ceritaku mengulang serta meringkas cerita sebelumnya. “Iya, orang kamu juga adiknya.” Menghela napas panjang. Sebelum mandi, aku sempatkan untuk membuka gawai pintarku, sebab sejak tadi sepertinya bergetar akibat notifikasi yang masuk. Memang benar, puluhan notifikasi dari grup dan i********: membeludak. Sudah aku duga ini akan terjadi, dan sudah aku duga kamu pasti akan menelponku sebentar lagi. Namun sebelum itu, aku yang akan menelponmu lebih dulu. “Halo, Apta, kamu bikin instastory apa? Gempar itu!” Sudah sesuai dengan apa yang aku duga. Kamu pasti akan memprotes semua yang aku lakukan. Tapi sedikitpun aku tidak merasa bersalah hari ini. Entah kenapa, aku justru sangat menikmati permainannya. Aku menunggu Mas Akbar memberikan laporan pada kekasihmu, dan aku menunggu segala jenis peperangan yang akan terjadi. Sama sekali aku tidak peduli dengan anggapan orang-orang di luar sana, penggemar maupun pembenciku, aku tidak peduli dengan anggapan mereka. Maka jika suatu saat kamu membaca tulisan ini dan kamu kesal atas tingkahku hari ini. Aku tetap tidak menyesal pernah melakukan hal konyol apalagi dengan imbuhan kata-kata yang menurutku terlalu diperbudak cinta, terlalu anak kecil, bukan cerminan cinta yang dewasa. “Bahuku? Bahkan jika kau minta jiwa ragaku, ia akan selalu ada untukmu @darasas” tulisku dalam instastory itu. “Jangan dihapus ya, Mbak? Biarkan saja, hitung-hitung bantu aku lah, Mbak. Fans semakin ngeri, semakin risih aku jadinya. Siapa tahu dengan sandiwara itu mereka mau mundur dan tidak mengganggu aku lagi.” Sejujurnya permohonanku bukan untuk itu, penggemar? Aku memang tidak menyukai tingkah polah mereka yang selalu mengirim pesan dan mengajak foto setiap kali bertemu dalam suatu acara. Tetapi malam ini, aku lebih ingin memasang story itu karena aku ingin, setidaknya sehari saja aku seolah sedang memilikimu.  “Oke, nggak dihapus, tapi aku mau lihat dulu seberapa parah instastory-mu itu. kalau parah besok push up 100 kali ya?” Aku harus kembali bersandiwara, mengeluh tidak menginginkan hukuman darimu. Padahal, aku tidak peduli dengan itu semua. Mengapa? Karena aku yakin, kamu tidak cukup tegas untuk menghukum adik kelasmu sebanyak itu. Usai berbagai negosiasi, akhirnya kamu biarkan inststory itu bertahan hingga 24 jam. Hal sederhana, kenangan sederhana yang mahal harganya bagiku. Mungkin di masa yang akan datang tidak lagi bisa aku dapatkan. “Siapa itu tadi, Mas? Sebut-sebut fans segala, memangnya Mas Apta punya fans?” tanya Ibu membereskan gulungan benang dan jarum-jarumnya. “Mbak Dara, Bu. Begini-begini anakmu ini punya banyak fans, Bu.” “Iya? Ibu tidak percaya.” “Tapi aku juga tidak menyukainya kok, Bu. Sekarang kalau ada kegiatan di luar sekolah, lomba atau mungkin kegiatan Paskibra Kabupaten, pasti banyak yang minta foto. Nggak suka,” keluhku. “Untungnya bulan-bulan ini ada Mbak Dara sih, Bu. Jadi ada yang jagain.” Ibu hanya diam tidak menanggapi. Ingin sekali rasanya mengatakan pada Ibu, bahwa Mbak Dara yang aku ceritakan malam ini ialah perempuan yang membuatku jatuh cinta sendirian. Bahkan aku juga berpikir agar Ibu membawaku ke Psikolog atau Psikiater atau apalah itu, untuk memastikan, apakah aku penderita oedipus complex atau hanya merasa terlalu dekat denganmu. *** Arunika telah berganti dengan terik panas matahari, bersiap membakar kulit sawo matangku dan tentu, siang hariku akan penuh drama. Tatapan mata penuh kebencian itu melekat sempurna pada sepasang bola mata milik Mas Akbar. Aku yang berusaha membuat masalah untuk hubungan Mas Gayuh denganmu, tetapi dia yang paling marah denganku. Mungkin dia terlalu menginginkan kamu menjadi kakak iparnya. “Maunya apa gitu?” tanya Mas Gayuh di dalam basecamp, usai menjalankan salat Zuhur. “Apa, Mas?” tanyaku memang tidak mengerti. “Latihan sekarang?” lekas berdiri dari tempatku duduk setelah mengenakan sepatu. “Maksudmu bikin story kemarin apa?” Aku diam. Lebih memilih diam tepatnya. Aku tahu aku salah, dan memang itu kesengajaan, mau dikata apa lagi? “Kamu suka sama Mbak Dara?” Hanya sanggup menggigit bibir bawahku. Aku masih sangat menikmati semua hal yang aku lalui bersamamu, pelatih baris-berbarisku. Jika saja aku mengatakan yang sebenarnya, tentu aku mampu, dengan membuang semua rasa maluku. Sayangnya aku lebih takut akan kenyataan bahwa bisa saja kamu menjauh. “Mbak Dara kemarin itu ngantuk berat, Mas. Pas kita geladi, Mbak Dara hampir jatuh karena ngantuk. Apta meminjamkan bahunya,” jelas Fikri lebih pandai melindungiku. “Terus difoto, gitu?” Mas Akbar masih menantangku, meski Fikri yang menjelaskan. Tetap saja aku diam, aku benar-benar hanya ingin diam. Yang aku harapkan bukan kekeruhan semacam ini, tetapi kekeruhan pada hubunganmu dengan kekasihmu. Tak apa jika kamu mengatakan aku terlalu jahat. Sedianya, cinta memang begitu gila menyapa, hingga timbul perbuatan-perbuatan di luar akal kedewasaan. “Jawab kamu! Maumu apa?” Mbak, seandainya kamu ada di sini dan Mas Akbar tidak berhenti bertanya, aku akan menjawab, “Yang aku mau adalah memilikimu!”, dengan amat sangat tegas lalu aku ingin menghilang saja sebelum menyaksikanmu meninggalkanku lebih dulu. “Kan tadi aku sudah menjelaskan, Mas. Kemarin itu Mbak Dara ngantuk banget, sampai mau tidur di lapangan. Karena takut jatuh, Apta langsung memberikan bahunya, tepat sebelum Mbak Dara benar-benar jatuh karena tertidur,” jelas Fikri dengan nada yang jelas sekali menahan sabar. “Aku tidak meminta penjelasanmu ya, Fik!” bentak Mas Akbar. “Kamu itu modus banget, Ta! Pakai bikin story segala. Maunya apa? Biar Mas Gayuh dan Mbak Dara putus, terus kamu masuk ngajak jadian Mbak Dara? Mimpi kamu! Kamu itu hanya dianggap adik sama Mbak Dara!” Pikiran Mas Akbar sungguh sangat dramatis sekali, memang aku ingin hubungan Mas Gayuh denganmu sedikit gaduh, putus pun itu lebih menyenangkan bagiku. Tetapi membuat story ini sampai berpikir untuk memilikimu, masuk sebagai penengah dalam peperanganmu dengan Mas Gayuh. Itu sesuatu yang terlalu didramatisir. Toh, Mas Akbar sendiri tahu, itu seperti impian. Yang awalnya aku ingin acuh tak acuh, semakin lama justru membuatku kesal dengan kalimatnya. Jika dia kekasihmu, aku akan selalu diam. Aku tahu seragam putih abu-abu tidak bisa setara dengan seragam doreng kekasihmu. Itu masih terlalu jauh untuk menyamai. Mengangkat kepalaku lalu menunduk, hanya merasa semakin kesal saja. Lantas mengangkat kepalaku lagi, aku harus mencari kalimat yang tepat untuk mengakhiri semuanya. Menoleh, namun yang aku dapati bukan kalimat yang tepat untuk diungkapkan, justru dirimu yang berdiri, bersandar pada pintu dengan kedua tangan terlipat di depan d**a. Kamu cantik hari ini, rambut pendekmu masih sama dan wajah tegasmu tiada beda. “Aku hanya memberikan bahu karena Mbak Dara hampir terjatuh dalam keadaan tidur. Mbak Dara ngantuk kaya gitu juga karena nemenin Mas Gayuh juga, kan?” Ya memang hanya tebakanku, tapi aku rasa 50% benar, sebab 50% selebihnya aku yakin dia mengerjakan skripsinya. “Hanya itu niatku, Mas. Memangnya salah seorang adik memberikan perhatian sama kakaknya?” Terasa sedikit sesak. Friendzone? Itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan anggapan bahwa aku ini hanya anak kecil. Lebih baik dianggap teman sebab masih bisa dipertimbangkan, tetapi dianggap anak kecil, sepertinya hanya 1% kesempatan untuk bisa dipertimbangkan. “Ya tapi tidak usah dibikin story! Kaya sengaja banget gitu, biar Mbak Dara sama Mas Gayuh berantem.” Tepat sekali. “Kalau aku memang hanya adiknya, kenapa takut banget aku merusak hubungan mereka sih, Mas?” tantangku lebih berani lagi. Kurasa benar, aku semakin gila akibat perasaan konyolku ini padamu. Aku kehilangan akal untuk berpikir dewasa, aku kehilangan akal untuk menghormati seniorku, aku kehilangan semua akal sehatku. “Aku anak SMK, dia tentara. Dia sudah matang, aku baru saja menjelang. Kalau pikiran Mas Akbar aku bikin story bisa merusak hubungan mereka, berarti aku memang berpotensi  sekali membuat Mbak Dara jatuh hati, Mas. Katanya aku hanya adiknya loh!” Sedikit bernada sombong. “Songong kamu ya!” Gerak tangan Mas Akbar hendak menamparku. “Bukan songong, Mas. Mas Akbar sendiri yang memperjelas. Kenapa takut banget sih, Mas?” “Hah, bukan, aku hanya tidak ingin kamu semakin melunjak. Ingat saja, kamu ini hanya adiknya Mbak Da...” “Kaya gini targetnya juara?” tantangmu masih dengan gaya yang sama. “Latihan!” Suaramu keras sekali, tidak pernah sebelumnya aku mendengar bentakanmu sekeras ini. Apa kamu benar-benar marah padaku? Maaf, tetapi itulah wujud kegilaanku atas dirimu. Tak apa dibilang berlebihan, kenyataannya beginilah cinta tanpa kehalalan. Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan dengan Mas Akbar setelah aku dan yang lainya pergi, tetapi samar-samar kudengar suaramu yang meninggi. Biarlah aku segila ini, aku tidak akan menyesal. Harus berapa kali aku ulangi bahwa aku tidak pernah menyesali. Sore hari ketika azan Asar berkumandang, semua langkah kaki berjalan menemui Sang Pencipta, Mas Akbar berjalan di sebelahku, bersama Fikri di belakangku. “Kamu nggak suka kan sama Mbak Dara?” tanya Mas Akbar. “Dia kakak yang baik untuk kita semua, Mas.” “Aku peringatkan sekali lagi, jangan membuat masalah serupa atau yang lebih parah dari itu. bahkan meskipun alasannya untuk melindungi dirimu dari para penggemarmu itu. Kamu bukan artis yang harus membuat sandiwara agar dikejar atau tidak terlalu dikejar fans. Kamu ini hanya manusia biasa, tidak ada apa-apanya!” Tersenyum tipis. Mas Akbar benar, Mbak. Tidak ada sesuatu yang harus aku banggakan, banyaknya penggemar tidak berarti apapun. Toh, di mata Allah Swt. kita semua ini sama, hanya manusia kerdil yang penuh dengan dosa dan dusta. Kamu lah yang memandangku berbeda, tidak setara denganmu. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD