Joe melipat tangannya di bawah kepala dengan posisi miring untuk menatap Nazeela yang sedang mengenakan gaun tidurnya. Ia melihat adanya tanda kekasaran yang ia ciptakan tadi dan membuat tubuh Nazeela yang putih menjadi sedikit memar. Warna itu terlihat sangat kontras dengan warna kulit Nazeela yang mulus dan tidak tercela.
Ketika wanita itu selesai berpakaian dan naik ke atas tempat tidur, Joe menarik bantal di sebelahnya agar lebih dekat dengannya, lalu menepuknya seolah menyuruh Nazeela untuk tidur lebih dekat dengannya. Nazeela mengangguk dan langsung mendekati Joe.
Pria itu langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka, lalu memeluk tubuh Nazeela yang terasa lebih kecil dari sebelumnya. Ia merasa bahwa Nazeela kehilangan berat badan dan menjadi lebih kurus setelah memeluk wanita itu dan merasakan pinggang Nazeela yang semakin ramping.
"Kenapa kau semakin kurus?"
Nazeela mengangkat kepalanya agar sedikit tengadah dan menatap Joe, "Bukankah kau lebih suka wanita yang kurus?" tanyanya.
Joe mendorong kening wanita itu dengan pandangan menyepelekan, "Kapan aku mengatakan tipe idealku?" tanyanya.
"Kau tidak mengatakannya, hanya saja aku mengambil kesimpulan sendiri." dari caramu menatap Sabrina. Sambungnya dalam hati.
"Astaga Zee, aku tidak pernah mempermasalahkan ukuran badan. Lagipula kau lebih cantik jika sedikit lebih berisi seperti kemarin. Lebih enak untuk dipeluk."
"Tapi tidak untuk ditatap kan?" tanya Nazeela dengan sinis.
Joe mendekatkan wajahnya ke wajah Nazeela dan mengecup bibir wanita itu singkat, "Kenapa kau menggemaskan sekali Zee? Akhir-akhir ini sepertinya kau lebih ketus dari biasanya. Kau tidak mungkin hamil kan?"
"Memangnya kalau aku hamil, kau mau bertanggung jawab?" tanya Nazeela dengan sedikit bersemangat seolah ia merencanakan sesuatu dalam pikirannya.
Joe menangkap mimik dari wajah itu dan memutar bola matanya dengan malas, "Jangan memikirkan hal yang aneh di kepalamu."
"Memangnya kau bisa membaca pikiran orang?" tanya wanita itu sedikit terkejut.
"Siapapun bisa melihat wajahmu menunjukkan maksud apa, Zee. Wajahmu langsung menunjukkan rencana m***m yang jahat." tuding Joe dengan santai dan membuat Nazeela terkekeh, lalu merapatkan tubuhnya dan memeluk dadaa telanjangg Joe.
Nazeela menikmati keintimann itu dan mengusap dadaa Joe sambil merasakan debaran jantung pria itu yang terasa lebih cepat karena masih menikmati akhir permainann mereka tadi. Ia membayangkan permainann mereka tadi dan tersenyum kecil.
Sebenarnya pengakuan dan perlakuan Joe tadi sedikit mengejutkan bagi Nazeela karena ia tidak menduga kalau Joe yang terlihat pendiam dan tak nakal memiliki fantasii seperti itu dalam berhubungan. Ia mungkin merasa sedikit sakit di beberapa tempat di tubuhnya, tapi ia sangat menikmati apa yang pria itu lakukan padanya.
"Joe, kenapa kau memiliki fantasii seperti tadi? Temanmu melakukan hal itu kepada kekasihnya?"
Joe menggelengkan kepalanya dengan senyum kecil sekaligus geli sendiri mendengar ucapan Nazeela, "Tidak, Zee. Itu pemikiran pria biasa yang tidak kolot dalam permainann. Aku hanya ingin mencobanya. Pernah ada yang mengatakan padaku kalau percintaan seperti itu cocok dilakukan saat aku sedang stress."
"Benarkah? Tapi temanmu yang mengatakan itu bukan wanita kan? Kalian belum pernah praktek langsung kan?" tanyanya.
Joe mengecup bahu Nazeela dan menggelengkan kepalanya, "Trman yang kumaksud itu Efrat, Zee. Aku masih melakukannya denganmu. Aku tidak berani bermain dengan wanita lain." ujar Joe berusaha menjelaskan bahwa ia bukan pria senakal itu.
Nazeela terdiam sejenak, lalu ia mengangkat kepalanya dan kembali menatap Joe dengan mata menyipit untuk menyelidiki tatapan Joe, "Kau belum pernah melakukannya dengan wanita lain? Hanya denganku?" tanyanya memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
Joe menganggukkan kepalanya, "Memangnya aku bicara kurang jelas sampai kau mengulang pertanyaan yang sama?"
"Tidak, aku hanya tidak percaya saja kau masih melakukannya denganku saja. Bisa saja kau sudah melakukannya dengan wanita lain di luar sana. Atau mungkin melakukannya dengan rekan kerjamu." desis Nazeela saat teringat bahwa Joe pernah bersama dengan Sabrina saat mereka di kelab waktu itu, hanya saja ia tidak ingin mengungkitnya dengan menyebutkan nama. Ia hanya ingin kejujuran Joe.
"Kenapa kau suka sekali berpikir hal yang negatif seperti itu secara sepihak. Aku tidak berbohong tapi memang sejauh ini aku hanya melakukannya denganmu."
"Baiklah, aku percaya."
"Zee, apa kau tidak keberatan kalau aku memintamu melakukan ini denganku?"
Nazeela terkekeh geli, lalu menggelengkan kepalanya, "Aku akan merasa lebih punya harga diri jika kau yang memintanya, bukan aku. Aku akan bersedia asal suasana hatiku sedang baik, itu saja. Selebihnya kita bisa mendiskusikan hubungan seperti ini."
Tangan Joe terangkat, terulur ke kepala Nazeela dan mengusapnya dengan lembut beberapa kali, "Aku tidak masalah kalau kau yang memintanya, Zee. Kau tidak kehilangan harga diri di mataku hanya karena memintaku untuk itu."
"Itu pandanganku, Joe, tapi aku tidak bisa selalu meminta padamu. Kau juga harus mengatakan bahwa kau menginginkan ku agar aku tidak merasa bahwa hanya aku yang menginginkan ini terjadi diantara kita."
"Baiklah, aku akan mengutarakan keinginanku juga padamu, Zee." angguk Joe.
Nazeela memutar tubuhnya dan sedikit melonggarkan pelukan Joe, lalu ia membawa tangan pria itu ke perutnya setelah ia pada posisi memunggungi Joe. Joe tersenyum kecil melihat bagaimana wanita itu mengubah posisinya sendiri.
Tanpa mengatakan apapun, Joe bergerak maju dan semakin merapatkan tubuhnya hingga perutnya menyentuh punggung Nazeela. Joe juga menyentuh perut wanita itu dengan gemas.
"Joe, seandainya ada seorang wanita yang datang dan mengakui perasaannya padamu, apakah kau akan menerimanya? Kau pilih orang itu atau aku?"
"Apa yang kau katakan? Itu bukan sesuatu yang bisa dibuat jadi seandainya, Zee, karena aku tidak mengetahui siapa orangnya, maka aku tidak bisa menjawabnya."
"Lalu, bagaimana jika contohnya adalah aku dengan wanita yang kau sukai?"
Joe mengangkat bahunya, "Kalau itu, aku tidak bisa menjawabnya. Kita hanya perlu menikmati apa yang terjadi sekarang tanpa membanwa nama atau sosok lain yang bahkan tidak ada di sini."
"Aku hanya penasaran, Joe. Kalau bagaimanapun kau mungkin akan memilih wanita yang kau sukai dan meninggalkanku setelah semua hal yang kita lalui. Aku hanya berpikir agak panjang mengenai hal itu."
"Pikiranku terlalu sederhana, Zee. Aku ingin menikmati apa yang terjadi sekarang tanpa berpikir kau akan bersama siapa di masa depan."
"Itu karena kau tidak menyukaiku?" sementara aku menyukaimu sepihak. Desis Nazeela dalam hatinya.
"Aku menyukaimu, Zee, hanya saja aku tidak bisa memastikan apakah perasaan nyaman ini hanya sebagai teman atau aku menginginkan hubungan yang lebih denganmu."