Dua Puluh Empat

1713 Words
Nazeela menatap Joe dengan bingung sejak tadi karena pria itu sepertinya sedang tidak dalam suasana hati yang baik. Wanita itu sudah berusaha mencairkan suasana yang terlalu hening diantara keduanya, tapi sayangnya Joe seperti kurang menanggapi dirinya. Bukan tanpa alasan Nazeela datang ke restoran keluarga Joe, tapi pria itu sendiri yang mengundangnya karena Nazeela sudah lama tidak berkunjung ke sana dan mumpung Joe juga sudah pulang dari kantor sore tadi. Tapi kalau seandainya Nazeela tahu bahwa dirinya akan dicuekin seperti ini, ia tidak akan memilih menyetujui ajakan Joe. Toh pria itu juga seperti tidak menyambut kedatanganya. Ia juga canggung kalau beberapa kali sangat memaksakan untuk ditanggapi, tapi diamnya Joe membuatnya tak nyaman. Tadi Nazeela sempat berbincang dengan ibu dan ayahnya Joe, tapi sayangnya mereka sedang terburu-buru pulang karena malam ini ada kegiatan mengunjungi pernikahan anak dari teman mereka. Setelah itu, jadilah akhirnya Nazeela berdua saja dengan Joe dan ditemani dengan kopi di hadapan masing-masing. Akhir-akhir ini Nazeela agak sedikit menyukai kopi hingga beberapa waktu terus saja memesan kopi ketika ingin minum. Rasa pahit dari kopi seperti membuat perasaan tertentu untuk mengubah mood Nazeela. "Joe, kalau kau tidak berniat mengajakku bertemu, sebaiknya aku pulang. Aku bisa menggunakan waktuku untuk bekerja di apartemen." "Tidak, aku ingin mengobrol saja. Lagipula kita sudah lama tidak bertemu kan?" Nazeela memutar bola matanya dengan malas, "Itu karena kau tidak pernah lagi menyempatkan waktu untuk membalas pesanku. Kau sudah sibuk dengan wanita lain." Joe melotot menatap Nazeela dengan tidak setuju, "Aku memang sibuk, tapi bukan karena sibuk dengan wanita lain. Aku benar-benar sibuk beradaptasi karena mereka semua memandangku sebelah mata hanya karena aku masuk dengan nama kakekku." "Benarkah?" tanya Nazeela agak terkejut mendengar fakta itu. Nazeela memang orang yang mudah melupakan fakta sebelumnya jika sudah dialihkan seperti ini, apalagi itu membuatnya menjadi prihatin pada Joe. "Iya, ini sedikit berat untukku. Itu sebabnya aku butuh teman berbincang." ujar Joe. Nazeela memutar matanya dengan malas setelah mendengar jawaban Joe. Kenapa pria itu selalu terus terang seperti ini dan membuatnya menjadi kecewa karena sebelumnya ia sudah berharap bahwa pria itu mengajaknya bertemu karena merindukannya. "Ya sudah, katakan segala keluhanmu. Jangan membuang waktuku." desis Nazeela balas terus terang. Joe menatap wanita itu dengan bingung, "Ya ampun, kenapa kau menjadi segalak ini? Seolah-olah kau hendak mengangkat meja ini dan melemparkannya padaku." "Iya, aku sedang sensitif dan sulit mengendalikan emosiku." "Memangnya kau ada masalah apa? Kau bisa menceritakannya padaku." Nazeela menyipitkan matanya, "Joe, kau membuatku bingung. Sekali waktu kau bersikap soelah tidak peduli, lalu di waktu lainnya kau seolah peduli dan membuatku merasa tersentuh. Kau menyebalkan, Joe." Joe terkekeh dan menatap wajah merajuk Nazeela dengan gemas karena ia sudah lama tidak melihat dan berinteraksi dengan wanita itu. Ia menopang dagunya dan menatap sekitarnya, lalu melihat keberadaan Abbas dan tersenyum kecil. "Oh ya, seingatku kau pernah berinteraksi dengan Abbas di Kelab waktu itu." "Lalu?" "Dia mengatakan padaku kalau dia menyukaimu dan ingin mendekatimu. Kau tidak berniat mendekatinya?" "Bagaimana kalau aku mendekati Loy, adikmu? Kau tidak berniat mendekatkan aku dengannya?" tanya Nazeela asal. Joe meremas tangannya setelah teringat dengan ucapan Loy beberapa waktu lalu yang mengatakan pria itu ingin mendekati Nazeela dan kini mendengar hal yang sama dari Nazeela dan membuatnya berpikir keras. "Kau tidak menjalin hubungan dengan Loy tanpa sepengetahuanku kan, Zee?" "Memangnya kenapa? Kau cemburu?" tanya Nazeela dengan mata menyipit sinis dan tersenyum picik sendiri beranggapan bahwa dugaannya benar. Joe menggelengkan kepalanya dan menoyor kepala Nazeela dengan gemas, "Kenapa kau kegeeran seperti ini? Apa alasannya aku harus cemburu pada Loy?" desisnya. Nazeela mengangguk malas, "Lalu kenapa kau bertanya sepeti itu?" "Karena Loy juga mengatakan hal yang sama." "Sungguh? Kau tidak berbohong kan?" tanya Nazeela lebih terkejut karena tak menduga bahwa ucapan asalnya tadi sudah pernah diucapkan Loy lebih dulu pada Joe. Itu cukup mengejutkan karena sslama ini Nazeela merasa canggung saat bertemu dengan Loy tanpa sengaja di rumah keluarga Adkey maupun di luar tanpa sengaja. Bahkan saya mereka bertemu saja, Nazeela merasa canggung karena pandangan Loy yang membuatnya terintimidasi. Pria itu mungkin tidak bermaksud membuatnya terintimidasi, tapi memang pandangan Loy cukup tajam saat melihatnya. Atau lebih tepatnya itu hanya perasaan Nazeela saja karena ia mudah kegeeran. Sebenarnya ucapan Joe tadi agak sulit dipercaya mengingat seidkitnya interaksi antara Nazeela dengan Loy dan tak ada hubungan komunikasi lewat aplikasi apapun. Hal itu sedikit tidak mungkin karena Loy sepertinya tidak memiliki alasan untuk mengatakan itu pada Joe. "Heh. Memangnya aku memiliki gampang penipu. Aku benar-benar jujur. Kalau kau tidak percaya, coba saja tanyakan pada Kay, dia pasti mengiyakan ucapan ku ini." "Untuk apa adikmu berkata seprti itu?" "Aku tidak tahu. Memangnya aku ini bisa membaca isi hati orang lain." Nazeela menepuk jidatnya dengan cukup kuat seolah ia baru mengingat sesuatu yang ia lupakan sebelumnya, "Ah iya, aku lupa kalau kau adalah orang yang paling tidak peka yang pernah ku kenal." "Aku tidak peka tentang apa?" tanya Joe tak terima. "Sudahlah Joe. Coba saja tanyakan pada keluargamu. Mereka pasti setuju dengan ucapanku ini kalau kau memang tidak peka." "Kalau memang aku yang tidak peka, baiklah, aku minta maaf." "Sudahlah, meminta maaf tanpa alasan yang kau tidak ketahui terdengar sangat menyebalkan bagiku." desis Nazeela. Permintaan maaf Joe malah membuatnya semakin kesal karena pria itu cinta maaf tanpa menyadari kesalahannya. Itu hanya akan membuat Nazeela merasa pria itu terus bersalah dan akan minta maaf lagi tanpa mengetahui alasannya, kemudian mengulang lagi. *** Nazeela dan Joe sudah cukup lama mengobrol, bahkan hingga restoran hampir tutup. Setelah awalnya canggung dan terasa menyebalkan, akhirnya mereka lupa waktu karena semakin banyak pembicaraan lainnya dari yang penting sampai tidak penting. Nazeela memutuskan pulang bukan karena ia mulai bosan berbincang dengan Jor, tapi karena pria itu mulai merecokinya untuk segera pulang agar tidak perlu begadang dan mencari penyakit. Awalnya Nazeela menolak, tapi berkahir dengan mengangguk karena tak ingin lagi mendengar ucapan Joe yang terus mengingatkan untuk pulang seolah pria itu sudah bosan berbicara dengannya atau mungkin akan menemui wanita lain setelah menemuinya. Mungkin ini adalah pemikiran yang sangat negatif, tapi ia tak bisa juga berpikiran positif setelah melihat bagaimana pria itu mulai melupakan kedekatan mereka dan fokus pada wanita yang baru, yaitu Sabrina--si kekasih Hans yang tidak setia menurut Nazeela. *** Sepanjang perjalanan menuju apartemen, Nazeela meremas tasnya dan melirik ke arah Joe beberapa kali. Pria itu terlihat sangat fokus pada jalanan, tapi sebenarnya ia menyadari kalau Nazeela sejak tadi sudah memperhatikannya dalam diam. Ia membiarkan saja apa yang dilakukan wanita itu dan tidak berniat menegurnya sama sekali. Selain itu, ia juga menyadari kalau Nazeela sangat gelisah sejak tadi. Ia masih memilih diam dan menunggu wanita itu berbicara sendiri mengenai kegelisahannya. Semakin dekat dengan apartemennya, Nazeela malah semakin gelisah dan tidak tenang karena akan segera berpisah dan tidak sempat mengutarakan keinginannya untuk menahan Joe lebih lama. Begitu tiba di basement gedung apartement, Nazeela merangkul lengan Joe dan menatap pria itu dengan sedikit ragu sebelum keluar dari mobil. Ia sudah berpikir banyak dan penuh pertimbangan dengan cukup cepat untuk mengutarakan isi hatinya, "Joe?" "Hm?" Joe hanya berdeham saja sebagai tanggapan, tapi matanya menatap Nazeela seolah bertanya "Ada apa?" dari gerik matanya. “Aku merindukanmu, Joe.” Ujarnya saat mata mereka bertemu selama 5 detik. Memendam bukan keahlian Nazeela. Joe tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya mengerti dengan ucapan Nazeela dan tatapan gadis itu. Ia segera melepas tangan Nazeela dan membuka pintu mobil untuk keluar, disusul dengan Nazeela yang tersenyum penuh kemenangan karena Joe mengerti kode darinya dan menanggapinya sesuai keinginan Nazeela. Begitu masuk ke dalam apartemen, Nazeela segera meletakkan tasnya sembarangan dan meraih handuknya yang terjemur, kemudian menatap Joe yang sedang mengamati apartemennya untuk sejenak, “Aku mandi dulu.” Ujarnya sedikit terburu-buru. Joe mendekati Nazeela dengan senyum yang jelas tersungging di bibirnya, “Aku juga ingin mandi sekarang.” Goda pria itu tanpa malu. Nazeela menggigit bibirnya dan menyembunyikan wajahnya yang merona hanya karena ucapan Joe seperti itu. Ia jadi berkesimpulan bahwa bukan hanya dirinya saja yang merindukan Joe, tapi pria itu juga merindukannya. Dengan senang hati, ia menarik tangan Joe masuk ke dalam kamar mandi untuk sama-sama berendam dalam bath up. Tidak butuh waktu lama bagi Joe untuk menelanjangi dirinya, bahkan sekalipun ia sambil memperhatikan Nazeela yang membuka baju di sudut lain. Melihat tubuh yang begitu sempurna berada di depannya membuatnya sangat takjub, terlebih pemilik tubuh sempurna itu sedang tersenyum malu. Ia tidak berhenti memperhatikan setiap bagian dari tubuh itu, terlebih ketika Nazeela berjalan menuju bath-up dengan langkah menggoda yang kentara jelas. Joe berdeham dengan sedikit tertahan saat merasakan tenggorokannya semakin mengering ketika melihat Nazeela menungging saat mengisi bath-up dengan air dan sabun. Nazeela yang mendengar dehaman itu, menoleh kepada Joe dengan senyum miring, “Apa ini terlalu menggoda?” tanyanya. “Kau benar-benar nakal, Zee.” Ujar Joe, tapi langkahnya mendekati gadis itu dan meletakkan tangannya di punggung telanjang Zee yang dingin. Nazeela berdiri selagi air dalam bath-up terisi. Ia berdiri semakin dekat dengan Joe dan tangannya menyentuh kedua bahu Joe dengan gerakan sensuall dan berakhir dengan melingkari leher pria itu. Joe tidak ingin menunggu lebih lama untuk memagut bibir merah menggoda milik Nazeela hingga ia langsung menyerang bertubi-tubi dan memberikan pagutan yang luar biasa bergairahh. Nazeela meremas rambut Joe saat merasakan bibir pria itu berpindah dari bibirnya ke leher yang sangat sensitive untuk merangsangg setiap bagian dari dirinya untuk menegang. Ia mengalungkan tangannya di leher pria itu saat Joe dengan santai mengangkatnya ke bath up dan meletakkan gadis itu dengan mudah. Joe menindih gadis itu dan tetap berusaha mengecup setiap bagian dari Nazeela yang bisa ia lihat, sentuh dan rasakan. Nazeela melenguh terus-menerus ketika Joe tak henti-hentinya memanjakan tubuhnya, terlebih ketika pria itu menurunkan kepalanya hingga berhadapan dengan bagian inti Nazeela. “Joe, aku tidak bisa seperti ini.” Desis Nazeela tak kuat hingga tubuhnya sering kali melengkung. "Bisakah kita melakukannya dengan sedikit lebih kasar, Zee? Apa itu akan menyakitimu?" tanya Joe. Ditengah nafasnya yang masih terengah-engah, Nazeela menatap Joe dan menggelengkan kepalanya, "Aku tidak apa-apa. Perlakukan aku seperti yang ada dalam fantasimu, Joe. Aku ingin melakukan apa yang ada dalam pikiranmu." ujar Nazeela penuh persetujuan. Joe tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan snenag hati melakukan sesuai persetujuan dari Nazeela. Ia ingin menciptakan malam yang sangat sulit untuk mereka jelaskan karena permainan yang akan memabukkan. Ada banyak sekali fantasi nakal dalam kepala Joe yang ingin ia lakukan dan malam ini ia mendapat kesempatan untuk mewujudkannya, maka ia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD