Dual Puluh Sembilan

1419 Words
Rencana kepulangan Nazeela ke rumah orang tuanya batal karena ternyata semua tidak sesuai dengan apa yang sudah ia rencanakan. Ia tidak menduga bahwa akhirnya malam ini ia malah berakhir di kamar Kay bersama gadis itu dan berbaring di atas ranjang Kay sambil menatap langit-langit kamar. Tadinya ia ingin pulang, namun tak pa diduga hujan deras yang cukup panjang menghadang perjalanannya dan membuat Ela mengusulkan agar Nazeela menginap saja dan tidur bersama Kay. Jalanan akan licin dan membuat mereka kesulitan menembus jalanan. Tidak mau merepotkan lebih banyak, Nazeela terpaksa menyetujui tawaran Ela dan akhirnya benar-benar menginap untuk pertama kalinya di rumah itu. Joe mengatakan bahwa dirinya tidak pulang karena kakeknya juga menahannya di ke di mana Wikler. Meski sedikit merasa kecewa, tapi Nazeela tidak ingin ambil pusing hanya karena tidak bertemu sekali dengan Joe ketika di rumah pria itu. Ia bisa menemui Joe di mana saja di luar rumah, sementara menikmati kehangatan keluarga Joe adalah waktu yang sangat ia butuhkan. "Zee, kau belum tidur kan?" tanya Kay ketika merasa dirinya kesulitan menutup mata karena sebuah pesan yang membuatnya tersenyum. "Belum. Kenapa?" tanya Nazeela tanpa mengubah posisinya tidur. Mereka tidur saling memunggungi sehingga tidak bisa mengetahui satu sama lain sedang melakukan apa. "Menurutmu kencan dengan pria yang lebih muda itu bagaimana?" tanyanya. Nazeela memutar tubuhnya dan mencolek lengan Kay, "Jadi kekasih mu usianya lebih muda?" tanyanya menggoda gadis itu. Kay menggelengkan kepala dengan cepat, "Tidak. Aku hanya bertanya saja." "Benarkah? Bukan karena ia sudah mengungkapkan perasaannya?" Kay menganggukkan kepalanya agak ragu karena takut Nazeela akan mengejeknya, "Sebenarnya dia sudah mengungkapkannya, hanya saja aku masih perlu waktu untuk mempertimbangkannya. Menurutmu bagaimana?" "Kenapa kau bertanya padaku? Kau sendiri sudah cukup baik dalam memutuskan sesuatu di usiamu sekarang ini kan. Kalau memang kau menyukainya dan mengharapkan hubungan lebih diantara kalian, maka tidak ada salahnya juga kan menerimanya. Tapi kalau kau tidak berminat, lebih baik segera menolaknya sebelum ia menunggu terlalu lama." "Aku tidak tahu apakah ini perasaan suka atau tidak. Setiap kali ia mengirimku pesan, aku merasa agak bersemangat untuk membalasnya karena ia cukup menyenangkan dan bisa membawa suasana baik. Hanya saja usia kami yang terpaut 2 tahun membuatku merasa perlu memperyimbangkan lagi." "Kenapa? Kau malu karena ia lebih muda darimu?" Kay menganggukkan kepalanya dengan jujur. Tidak ada yang perlu ia tutupi dari fakta perasaannya. Ia memang malu berhubungan dengan yang lebih muda sekalipun tampan. "Teman-temanku akan mengejekku jika aku melakukan hubungan seperti itu. Mereka belum merasakan perasaan berbunga dengan pria yang lebih muda." desis Kay. "Kau juga berani mengatakan itu setelah merasakannyakan." ejek Nazeela, tapi tak bisa dipungkiri bahwa apa yang Nazeela ucapkan memang benar. Dulu Kay sangat anti dekat dengan pria yang umurnya berada di bawahnya. "Memangnya kau menyukai pria mudah?" tanya Kay kembali. Nazeela menggelengkan kepalanya dengan kekehan geli, "Karena aku belum pernah merasakannya, maka untuk sekarang kukatakan aku tidak ingin berhubungan dengan pria yang usianya di bawahku. Aku ingin pria yang usianya lebih tua atau paling tidak sebaya denganku." jelas Nazeela. "Ah, payah. Aku curhat pada orang yang salah." ujar Kay dengan sedikit kesal. Nazeela terkekeh, "Aku tidak mengejekmu kan. Aku hanya mengutarakan pendapatku." "Tapi pendapatmu tidak seperti yang aku inginkan, Zee." "Apa aku harus berbohong demi menyenangkanmu?" "Iya." angguk Kay. Nazeela terkekeh dan memukul lengan Kay dengan tangannya. "Sudahlah, pergi tidur. Membahas pria tidak akan ada habisnya. Aku juga akan selalu menyambut dengan menceritakan kisahku." ujar Nazeela dan memilih memunggungi Kay lagi sambil menarik selimutnya. *** Loy sibuk mengganti siaran televisinya sambil meneguk minumannya. Saat ini ia berada di ruang keluarga, menonton televisi sendirian dan ditemani dengan beberapa camilan serta minuman bersoda. Sebenarnya Loy bisa membeli televisi sendiri di kamarnya, tapi ayahnya akan marah dan mengatakan pemborosan jika mereka melakukan itu. Akhirnya Loy mengalah dan menuruti keinginan ayahnya untuk mengirit. Sebenarnya Loy memiliki kesulitan tersendiri untuk tidur. Sebagai artis, ia memiliki banyak kegiatan yang berlangsung sampai malam, dan kini hal itu menjadi kebiasaan yang belum bisa ia ubah. Matanya masih merasa berat untuk tertutup sekalipun airnya terlihat terus. Ketika mendengar suara langkah seseorang mendekat, Loy memutar kepalanya dan melihat orang tersebut, yang ternyata adalah Nazeela. Padahal wanita itu sudah berusaha tidak membuat suara langkah berlebihan, tapi pada akhirnya ia malah tertangkap basah juga. "Mau ke mana?" tanya Loy. Nazeela sedikit merasa menyesal, kenapa ia bangun saat Loy masih bangun. Dengan sedikit terpaksa, ia akhirnya menghampiri sofa dan duduk di sana, "Aku merasa lapar dan ingin melihat adanya camilan di kulkas." ujarnya sambil melirik seluruh camilan yang ada di meja Loy. Loy melihat pandangan wanita itu, "Makanlah yang ada di depanmu. Yang di kulkas sudah kukeluarkan karena aku juga butuh tenaga untuk begadang." Nazeela membuka camilan tersebut tanpa banyak berpikir lagi, "Kenapa kau begadang?" tangan Nazeela. "Karena mataku belum mau memejamkan matanya." "Ya, aku juga belum bisa tidur, di sini terasa asing dan canggung untukku." ujar Nazeela dengan sedikit ragu sembari memperhatikan ekspresi wajah Loy. "Kenapa kau merasa canggung? Kau kan sudah terbiasa berinteraksi dengan keluarga kami." Nazeela meneguk ludahnya dan berusaha menelan kata-katanya karena yang ada di dalam hatinya adalah, 'ini karena aku berinteraksi denganmu. Tatapanmu paling membuat canggung di sini.' tapi ia tidak berani mengutarakannya. Takutnya tiba-tiba Loy menariknya ke kamar mandi dan menceburkan kepalanya ke dalam bathup. "Ini karena pertama kalinya aku menginap." "Dan karena tidak ada Joe?" tanya Loy. Nazeela terkekeh kecil dan menganggukkan kepalanya, "Iya itu juga. Memang aku datang karena undangan Bibi Ela, tapi tetap saja kalau tidak ada Joe terasa aneh." Setelah itu tidak ada pembicaraan apapun Karena Loy tidak menanggapi ucapan Nazeela. Akhirnya dengan sedikit keberanian yang wanita itu kumpulkan, ia bertanya pada Loy, "Bagaimana pekerjaanmu?" Loy tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu dan Nazeela cukup menyadarinya hingga membuatnya bingung alasan Loy bisa tersenyum tipis hanya karena pertanyaannya barusan, "Tidak ada yang menarik. Aku sibuk latihan dan terus mengontrol makan supaya berat badanku tidak naik." "Yeah, itu sangat buruk. Bukankah kau juga melakukan gym?" tanya Nazeela sambil memperhatikan tubuh Loy yang sepertinya semakin terbentuk meski Nazeela tidak pernah melihat perut dan otot pria itu. "Iya, aku melakukannya, kalau tidak orang tidak akan tertarik melihat model yang tidak memiliki otot-otot seksi dan perut kotak-kotak." "Yang terpenting adalah kesehatanmu." "Benarkah? Menurut siapa itu penting?" tanya Loy. Nazeela mengernyit, apa masih perlu dipertanyakan?, "Tentu saja untukmu sendiri dan pastinya untuk orang tua dan orang terdekatmu." "Kau sendiri? Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Loy kembali sambil memperhatikan Nazeela yang mengubah posisinya menjadi berbaring di atas sofa. Nazeela ikut memperhatikan siaran yang tampil di televisi sembari sesekali memasukkan tangannya ke dalam bungkus camilan, lalu menjawab, "Aku punya waktu sebulan lagi untuk menyelesaikan pekerjaanku." "Menurutmu menyenangkan bekerja dengan apa yang kau minati?" "Tidak sepenuhnya, tapi aku harus bertanggung jawab atas pilihanku sendiri kan. Sekali waktu akan terasa menyenangkan, di waktu lain akan terasa sulit dan membuat lelah. Lagipula semua pekerjaan ada masa seperti itu, jadi tidak masalah." "Sangat dewasa." puji Loy. Nazeela menyipitkan matanya menatap pria itu dengan cukup tajam mendengar pujian entah hinaan dari Loy, "Kau memuji atau menghinaku. Aku malah merasa seperti baru saja berbicara dengan yang lebih tua. Caramu berbicara seperti kau lebih dewasa dibandingkan aku. Untuk berbicara denganmu saja aku merasa perlu berhati-hati." ungkap wanita itu terang-terangan pada akhirnya. Loy terbelalak tak percaya untuk sepersekian detik, lalu akhirnya malah tertawa karena melihat wajah Nazeela yang menurutnya menggemaskan ketika sedang mengomel seperti barusan. Hal itu membuatnya merasa bahwa mereka seolah sudah cukup akrab. "Jadi maksudmu aku yang membuatmu canggung?" tanya Loy begitu menangkap maksud ucapan Nazeela. "Sedikit." Jawab Nazeela akhirnya pasrah saja, toh ia sudah telanjur mengutarakan semuanya. "Aku ini tipe pria yang menyenangkan." "Tapi tidak untukku." "Itu karena kita belum punya kesempatan untuk dekat." jawab Loy membuat Nazeela berdecih. "Untuk apa kita dekat? Untuk menjalin hubungan antara calon adik ipar dengan calon kakak ipar?" tanya Nazeela dengan percaya diri yang berlebihan. "Pergilah tidur." usir Loy setelah melihat jam dan malam yang semakin larut. Nazeela tidak menuruti perintah Loy dan tetap.menonton televisi sampai matanya merasa kantuk dan secara perlahan ia malah tertidur di atas sofa tanpa Loy sadari. Pria itu menyadarinya begitu mendengar suara bungkus camilan yang terjatuh ke lantai dan membuat isinya berantakan. Ia menghela nafas kasar dan menatap Nazeela dengan tajam, "Kenapa semua wanita sulit sekali diatur. Aku sudah mengatakan untuk tidur di kamar, tapi dia malah menambah pekerjaanku untuk membersihkan makanan yang terjatuh ke lantai." ujarnya mengomel pada dirinya sendiri karena Nazeela tidak akan mendengar ucapannya. Di tengah kegiatan membersihkan camilan yang tumpah, Loy mendengar Nazeela berbicara dalam tidurnya dan mengatakan kalimat yang membuatnya tersenyum geli, yaitu, "Sering-seringlah tersenyum Loy supaya aku tidak takut."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD