Tiga Puluh

1565 Words
Joe tersenyum menatap penampilan Nazeela yang bisa membuatnya kagum malam ini. Wanita itu benar-benar cantik dan tampak anggun dengan long dress yang ia kenakan. Dress motif bunga-bunga itu sampai ke mata kaki, pinggangnya dihiasi tali pinggang dan bahunya terbuka menunjukkan betapa mulus kulit wanita itu. Nazeela mengangkat dress-nya ketika merasa kesulitan untuk berjalan dengan heelsnya. Ia takut kalau nantinya akan tersandung karena sulitnya ia berjalan. Dengan hati-hati ia menghampiri Joe yang sudah menunggunya. Jeo keluar dari mobil dan segera membukakan pintu untuk Nazeela masuk. Perlakuannya itu membuat Nazeela tersipu malu dan masuk ke mobil dengan perlahan. "Seharusnya kalau tidak nyaman, tidak perlu menggunakan dress yang sepanjang ini." ujar Joe memberi nasihat. Malam ini mereka akan datang ke acara perayaan pernikahan orang tua Hans. Orang tua Nazeela ternyata merupakan rekan kerja orang tua Hans, namun karena kesibukan orang tua Nazeela di luar negeri, maka mereka memberikan perintah supaya Nazeela yang mewakilkan. Nazeela sendiri tidak menduga bahwa orang tuanya dan orang tua Hans saling mengenal bahkan cukup akrab, apalagi ia tidak pernah dikenalkan pada mereka. Karena tak ingin pergi sendirian, maka Nazeela mengajak Joe dengan mengirimkan pesan dan ternyata pria itu menyanggupinya sebab tidak ada kesibukan. Nazeela membenahi posisi dress-nya dan melirik Joe, "Ini supaya aku terlihat seperti wanita dewasa." ujarnya menjelaskan alasan menggunakan long dress tersebut. "Memangnya kalau tidak menggunakan long dress seperti ini terlihat anak-anak? Kau memang sudah dewasa, bahkan tanpa menunjukkannya." ujar Joe. "Ihhh, kau ini protes karena aku tidak cantik? Atau karena aku terlihat gendut?" tanya Nazeela merasa agak kesal juga karena pakaiannya dikomentari oleh Joe padahal ia berusaha tampil maksimal, entah itu untuk orang lain atau khusus untuk Joe. Joe terkekeh dan mencubit pipi Nazeela dengan gemas melihat wanita itu merajuk, "Tidak. Kau cantik, sangat cantik terkhusus malam ini. Aku hanya berusaha memberi saran untuk kenyamananmu." "Benarkah? Tidak terlihat gendut?" "Tidak. Tubuhmu sangat bagus, Zee. Tidak terlalu kurus, tapi juga tidak begitu gendut. Bagiku itu tubuh ideal untuk wanita." "Aku merasa tersanjung dipuji seperti itu. Terima kasih." ujar Nazeela dengan senyum malu-malu. "Tidak perlu malu-malu, itu menjijikkan." kekeh Joe sendiri setelah melihat perubahan wajah Nazeela karena ia mengucapkan kalimat tersebut. *** Begitu tiba di depan sebuah hotel, Nazeela turun agar Joe bisa memarkirkan mobilnya dan tidak membuat Nazeela kerepotan jika harus berjalan dari parkiran. Sambil menunggu rpia itu, Nazeela berinisiatif agar masuk ke dalam lobi hotel dan tanpa sengaja menemukan Sabrina berada di sana sambil.bertanya pada resepsionist. Nazeela menyipitkan matanya dan melihat penampilan wanita itu, kemudian membandingkan dengan dirinya sendiri. Ia tidak merasa begitu buruk ketika berkaca di cermin kamar apartemennya, tapi kenapa setelah melihat gaya berpakaian Sabrina, ia jadi merasa rendah diri. Wanita itu tampil begitu cantik dan elegan meskipun hanya menggunakan dress berwarna hitam semata kaki, namun belahan nya sampai ke paha hingga mengekspos paha mulusnya dan membuat Nazeela mengakui dalam hati bahwa wanita itu juga seksi meski tubuhnya tidak seber-isi Nazeela. Nazeela segera kembali ke latar depan hotel dan menemui Joe yang berjalan masuk sambil membenahi pakaiannya agar tidak terlihat kusut atau berantakan. Wanita itu mendekat, kemudian menahan Joe dengan menunjukkan telapak tangan di depan pria itu, lalu ia maju merayakan tubuhnya pada Joe dan memperbaiki kerah baju pria itu. "Terima kasih." ujar Joe dengan senyum manisnya. Kini Nazeela semakin menyadari mengapa ia bisa sesuka itu kepada Joe, ternyata Joe memang sangat mempesona dan bisa menggaet wanita lain agar tertarik padanya. Daya pikat pria itu terlalu sulit ditolak. Tanpa diberi perintah atau kode apapun, Nazeela dengan senyum ruangnya langsung menggandeng lengan Joe sambil menatap pria itu yang secara kebetulan juga langsung menatapnya. Ketika melihat Joe tersenyum, Nazeela akhirnya mendapat Jawaban bahwa tak masalah bagi Joe jika mereka bergandengan. Mereka masuk sambil menyusuri barisan manusia yang juga berpakaian rapi seperti mereka. Sesekali Nazeela menganggukkan kepalanya dan menyapa beberapa orang yang ternyata ia kenal dan mereka berjumpa di sana. Bahkan tadi Nazeela sempat digoda oleh kenalan orang tuanya yang melihat ia dan Joe bergandengan. Kebanyakan mereka menduga Bahwa Joe adalah kekasihnya tanpa tahu bahwa hubungan Joe dan Nazeela hanya sebatas teman saja. Tidak ada yang spesial karena Joe belum berniat mengubahnya. "Kau harum sekali, Zee." ujar Joe ketika mereka sangat dekat di dalam lift, pasalnya memang keadaan lift sedang ramai sehingga posisi mereka menjadi lebih rapat. Nazeela sedikit tengadah dan menikmati menatap Joe dari bawahnya. Ia juga menikmati harum tubuh Joe yang sangat maskulin dan menyegarkan. Ketika lift sampai di lantai 5 dan terbuka, mereka keluar dan kembali bergendengan. Saat itu, secara kebetulan Sabrina kembali muncul dalam pandangan Nazeela dan kini saat ia tengah bersama dengan Joe. Pria itu menatap Sabrina cukup dalam dan lama. Saat Joe ingin melepaskan tangannya dari Nazeela, wanita itu malah mengeratkannya. Bisa Nazeela perhatikan kalau mata Sabrina sedang menatap ke arah tangannya dan Joe. Nazeela tidak berusaha menunjukkan tatapan permusuhan sekalipun ia tahu kalau Sabrina adalah saingan terberatnya, tapi ia tetap memamerkan senyum seolah sudah menang dan mendapatkan Joe. "Hai Sabrina." sapa nya dengan cukup ramah. "Hai." sapa Sabrina, "Aku permisi dulu untuk menemui Hans." ujarnya. "Oh iya." angguk Nazeela. "Ayo Joe, kita juga harus menemui orang tua Hans." ajak wanita itu pada Joe. Joe mengangguk, lalu mengikuti kecepatan langkah Nazeela yang tidak bisa terlalu cepat berjalan. Begitu melihat orang tua Hans, Nazeela semakin bersemangat mendekatinya, apalagi saat melihat Hans sedang berbincang dengan Sabrina. "Selamat malam Bibi dan Paman." sapa Nazeela. Ibu Hans langsung memeluk Nazeela. "Oh, ini Nazeela ya? Kau sangat mirip dengan ibumu." Ujar ibu Hans tersenyum sangat ramah menyapa Nazeela. "Iya, Bibi. Aku Nazeela, panggil Zee saja. Ibuku menitipkan pesan dan memberikan pesan ini." Nazeela memberikan ponselnya sambil menunjukkan pesan. "Ibu mengatakan ia akan mengirimkan kado besok." tambahnya. "Wah, aku terharu sekali membaca pesan ibumu." ujar ibu Hans. "Aku juga turut berbahagia atas anniversary pernikahan Bibi dan Paman. Semoga kalian selalu bahagia dan sukses dalam pekerjaannya." ujar Nazeela memberikan ucapan selamatnya. "Terima kasih nak. Dengan siapa kau datang? Ini kekasihmu?" "Ah, bukan, ini teman dekatku dan dia menemani aku ke sini." lalu Nazeela mendekatkan dirinya ke ibu Hans dan berbisik, "Doakan saja dia segera peka ya, Bibi." ujarnya. Ibu Hans terkekeh dan menepuk bahu Nazeela. Joe juga turut mengucapkan selamat kepada orang tua Hans dan mengaku sebagai teman Hans sekalipun mereka sudah tidak akrab. Orang tua Hans menyambut ucapan Joe dengan senang hati. "Ayo nikmati hidangan yang ada." ujar orang tua Hans. Nazeela dan Joe mendekati meja makan dan bergabung dengan tamu lain. *** Sabrina menarik nafasnya pelan-pelan, lalu menghembuskannya dengan perlahan juga sambil meyakinkan diri untuk menemui ibu Hans. Ia tahu bahwa ia sudah memberikan kesan yang buruk, tapi setidaknya ia juga tidak sepenuhnya salah karena ibu Hans juga memperlakukan dengan cara yang sama. "Kenapa? Memangnya segugup itu?" tanya Hans sambil menggenggam tangan kekasihnya. "Iya, aku takut ibumu menolak kedatanganku." "Aku akan menemanimu. Yang penting kau sudah berusaha menjadi calon menantu yang baik. Setidaknya jika Ibuku tidak menerima niat baikmu, ada Ayahku yang bisa menerima kebaikanmu." ujar Hans meyakinkan. Tapi tetap saja bagi Sabrina ibu Hans itu menbuatnya takut sekaligus kesalahan jika bertemu. "Paman, Bibi, selamat atas anniversary pernikahan kalian. Semoga kalian semakin bahagia bersama, panjang umur dan sukses dalam pekerjaan." ujar Sabrina dengan wajah seceria mungkin padahal jantungnya sedang berdebar tak tenang. Ayah Hans menerima ucapan selamat sambil memeluk Sabrina. Wanita itu memeluk ayah Hans dengan perasaan hangat. "Terima kasih calon menantu." Lalu ketika menyalami ibu Hans, Sabrina terpaksa menelan kekecewaan karena wanita patuh baya itu mengabaikannya. Andaikan saja tidak ada Hans, rasanya Sabrina ingin sekali memaki sekali lagi atas perbuatan ibu Hans yang membuatnya malu. "Aku harap di usia yang semakin tua ini, Bibi bisa semakin dewasa dan mengerti tata Krama." ujarnya berpesan tanpa mementingkan perasaan Hans ataupun ayah pria itu. Perasaannya jauh lebih penting. Lagipula itu memang harapannya untuk ibu Hans, jadi ia tidak salah kan berucap seperti itu. "Terima kasih atas kedatanganku sekalipun aku tidak begitu mengharapkannya." ujar ibu Hans. "Ibu, apa yang kau katakan? Bukankah ini hari bahagiamu dan Ayah? Kenapa menyakiti hati orang lain dengan perkataanmu." "Kau tidak tahu kan kalau wanita itu sebenarnya tidak punya sopan santun. Dia berusaha menutupinya di depanmu tapi di belakangmu dia menghina ku." ujar ibu Hans memanasi. "Aku percaya bahwa Sabrina tidak seburuk itu." belajar Hans. Sabrina tersenyum penuh kemenangan di depan ibu Hans. *** Sebelum acara penutup, orang tua Hans kembali menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada tamu undangan yang sudah turut hadir dalam acara yang mereka buat. Dan yang lebih mengejutkan adalah ketika ibu Hans menyampaikan bahwa Hans akan bertunangan dengan seorang wanita bernama Kyle. Bukan hanya bagi Nazeela, bagi Joe, bahkan bagi Hans dan Sabrina sendiri, itu juga mengejutkan mereka. Apalagi Hans, ia langsung mendekati ibunya dan melakukan protes sebab hal ini sama sekali tidak ada dalam perencanaan. Orang tuanya tidak mengatakan apa-apa tentang itu dan berdiskusi dengannya. "Apa yang Ibu katakan? Aku sama sekali tidak pernah menyetujui pertunangan atau hubungan apapun dengan Kyle." ujar Hans. "Apa yang kau lakukan? Ini malah mempermalukan kita jika Hans menolaknya. Kyle juga merasa malu. Apa kau tidak menghargai Sabrina sebagai kekasih Hans?" ujar ayah Hans menegur sang istri. Ia memang tidak pernah mengerti jalan pikiran istrinya itu. Hans mengamati sekitarnya lalu membungkuk, "Maafkan aku atas pengumuman barusan, tapi itu tidak benar. Aku memiliki kekasih dan akan menikah dengannya bukan dengan wanita lain." jelasnya. "Untuk apa kau menikahi Sabrina? Hubungan kalian tidak akan berhasil. Aku tidak akan membiarkan anakku menikahi wanita yang melakukan operasi plastik demi mengubah wajah buruk rupanya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD