Tiga Puluh Satu

1468 Words
"Untuk apa kau menikahi Sabrina? Hubungan kalian tidak akan berhasil. Aku tidak akan membiarkan anakku menikahi wanita yang melakukan operasi plastik demi mengubah wajah buruk rupanya." Sabrina menegang dan langsung menundukkan kepalanya. Ia tiba-tiba merasa semua orang sedang menatap rendah dirinya dan menganggapnya hanyalah sampah yang menjijikkan setelah mendengar ucapan ibu Hans. Tiba-tiba saja dalam kepalanya tengiang-ngiang seluruh cacian makian yang pernah ia dengar terlontar dari mulut orang di sekitarnya. "Apa maksudmu? Jangan membuat malu di acaramu sendiri." tegur ayah Hans sambil menarik istrinya. "Ah, sudahlah, tidak perlu menghentikan ku." desis ibu Hans sambil menghempaskan tangan suaminya. Ayah Hans membungkukkan tubuhnya sambil meminta maaf sebesar-besarnya atas kejadian yang mengganggu itu, lalu memberi salah penutup sekaligus mengaburkan supaya tamu undangan segera keluar. Beberapa diantara mereka menurut karena tidak begitu penasaran dengan apa yang terjadi, tapi masih banyak juga yang menunggu drama tersebut berjalan. Kyle datang dan mendekati Sabrina dengan senyum sinisnya, "Pantas saja aku merasa tidak asing dengan wajah itu, ternyata itu adalah wajah wanita yang dulunya sangat malang. Sekarang kau merasa percaya diri dengan wajah palsumu itu?" desisnya sambil mendorong bahu Sabrina. Sabrina tidak dapat melawan karena tiba-tiba saja kakinya lemah, kepalanya terasa panas dan rasanya ia ingin melarikan diri dari sana, tapi kakinya seolah tidak dapat bergerak. Semua kejadian pahit yang e pernah terjadi di masa lalu terbayang di kepalanya dan membuatnya ketakutan. Hans menghampiri kekasihnya itu dan langsung memegang bahunya. Ia juga mengangkat dagu Sabrina agar wanita itu menatapnya, "Kau tidak apa-apa?" tanyanya. Sabrina menatap Hans dan seketika air matanya menetes begitu saja dan membuat tubuhnya semakin lemah. Hans menarik wanita itu ke dalam pelukannya dan mengusap punggung yang bergetar itu dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Bahkan bibirnya sesekali mengecup puncak kepala Sabrina. Kyle menarik Hans setelah merasa adegan itu terlalu berlebihan, "Hans, kau ini calon suamiku." Bibir Hans tersungging dengan sinis, "Kau tidak merasa malu mengatakan itu karena memaksakan ibuku mempermalukan kekasihku." "Aku tidak memaksa Bibi melakukan apapun. Memangnya kau tidak malu jika menikah dengan wanita berwajah palsu sepertinya? Kau hanya akan mempermalukan keluargamu sendiri." ujar Kyle dengan sangat lantang. Kalau bukan karena Kyle adalah wanita, Hans mungkin sudah melayangkan tinjunya pada Kyle dan membuat bibir itu berhenti berbicara semua omong kosong. "Aku dan keluargaku akan lebih malu lagi jika sampai wanita sepertimu yang menjadi istriku." desis Hans dengan tajam, tak peduli jika ucapannya membuat hati Kyle terluka. "Dasar wanita palsu, jalangg, kau hanya merebut calon suami orang. Aku pastikan kau akan memilih mundur sendiri. Jangan harap kau bisa menikahi Hans." maki Kyle. Hans menutup telinga Sabrina dan menatap wanita itu untuk memberikan kekuatan, sayangnya Sabrina malah semakin menangis sampai tersedu-sedu. Kenapa rasanya sakit sekali dipermalukan seperti itu oleh ibu Hans dan Kyle. Mereka melakukannya di depan semua orang seolah Sabrina tidak memiliki harga diri. Mereka menjatuhkan dan mempermalukan Sabrina sampai wanita itu merasa kecil sekali untuk bergabung dengan orang lain. Sslama ini Sabrina sudah berusaha menguatkan dirinya dan memperbaiki mentalnya yang terganggu karena hinaan terhadap wajah buruk rupanya dulu, tapi seketika hancur karena fakta itu diketahui oleh ibu Hans dan Kyle. Sejak sekolah menengah, Sabrina memang menjadi target bully teman-temannya sampai rasanya ia ingin bunuh diri dan mengakhiri hidupnya. Kyle dan teman-teman wanita itu terus memberikan cobaan hidup yang berat untuk Sabrina sampai rasanya Sabrina menyesal telah lahir sebagai manusia. Wajahnya yang tak begitu cantik dan kepercayaan diri yang minim membuat teman-teman semasa sekolah memperlakukannya seperti b***k dan menginjak-injaknya layaknya sampah. Itu adalah pengalaman menyakitkan baginya dan tambah pernah ia duga kalau kejadian seperti itu akan terulang lagi. "Aku akan mengantar mu pulang." ujar Hans. Sabrina menggelengkan kepalanya dan melepaskan tangan Hans dari wajahnya, "Sudahlah Hans. Aku tidak ingin berhubungan lagi denganmu. Lebih baik kita mengakhiri semuanya." ujar Sabrina secara sepihak memutuskan hubungan mereka. "Aku tidak mau." tolak Hans. "Aku lelah Hans. Aku tidak ingin lagi berhubungan denganmu, keluargamu atau bahkan orang terdekatmu. Aku malu." "Malu tentang apa Sa?" "Yang ibumu dan Kyle katakan memang benar. Wajah ini palsu, ini adalah hasil operasi plastik karena aku tidak percaya diri dengan wajahku yang menjijikkan." Hans meremas bahu Sabrina dengan cukup kuat, "Jangan berbicara seperti itu Sa. Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Aku tidak akan berpisah denganmu. Aku tidak peduli apa yang kau lakukan untuk mempercantik diri, itu terserahmu." Sabrina menggelengkan kepalanya, "Tidak. Aku tetap ingin berpisah sekalipun kau menolaknya. Aku benci terus diremehkan dan dihina. aku tidak ingin bertemu dengan ibumu lagi. Aku tidak mau." Sabrina masih kekeuh meminta berpisah dari Hans karena rasa sakit hatinya. Hans membulatkan matanya tak percaya dengan ucapan wanita itu, "Apa maksudmu Sa? Hanya karena ini kau meminta kita berpisah?" Sabrina berdecih, tak menyangka bahwa Hans baru saja menyepelekan perasaannya. Ia mendorong tubuh pria itu dan meninggalkan suaranya, "Hanya ini kau bilang? Apa kau tahu bagaimana aku berusaha sabar menerima hinaan itu? Apa kau tahu bagaimana aku berusaha kuat memijakkan kakiku pada tanah untuk tetap berdiri tegak? Apa kau tahu bagaimana aku bisa mengangkat kepalaku untuk menatap orang-orang disekitarku? Apa kau tahu bagaimana caraku mengembalikan kewarasanku setelah depresi karena hinaan itu? Kau tidak tahu Hans. Jangan pernah menyepelekan apa yang aku rasakan dan alami." ujarnya sebelum meninggalkan semua orang yanga dan di ruang acara. Hans berusaha mengejar langkah Sabrina, tapi ia keduluan oleh Joe. Nazeela yang ditinggalkan oleh Joe, menahan tangan Hans dan berkata, "Tidak usah dikejar dulu. Sabrina butuh waktu." ujarnya, lalu ia menyusul Joe dan Sabrina. Nazeela mendekati dua insan manusia yang sedang berdebat itu. Ketika Joe menarik tangan Sabrina, wanita itu langsung marah dan menatap Joe dengan tajam hingga membuat Joe bingung arti dari tatapan itu. Dengan cukup kasar, Sabrina menghempaskan tangan Joe dari tangannya, "Tidak usah sok peduli padaku. Kau senang kan melihat hubunganku dengan Hans berantakan?" ujarnya sangat sinis dan kecewa secara bersamaan. "Kau ini kenapa?" tanya Joe mengutarakan kebingungannya. Sabrina mendorong d**a Joe, "Kau kan yang memberitahukan fakta itu kepada ibunya Hans? Itu kan rencanamu. Menghancurkan hubunganku dengan Hans supaya perasaanmu terbalas?" Joe berdecih sinis mendengarnya, "Kenapa kau jadi se percaya diri ini? Kau pikir aku mau menggunakan trik murahan seperti itu? Aku memang menyukaimu, tapi aku tidak pernah berniat merusak hubungan kalian menggunakan masa lalumu." Nazeela mengepalkan tangannya mendengar pengakuan barusan dan itu dari bibir Joe sendiri, tepat di hadapannya. Ia tersenyum bodoh, tak menyangka jika Joe masih tetap menganggap tidak ada yang spesial dari mereka dan lebih memilih Sabrina. Nazeela mendekati Joe dan menarik lengan pria itu cukup kasar karena merasa marah, "Joe, kau tega berkata seperti itu kepasa pria lain saat kau dekat denganku?" "Kita hanya teman, Zee. Tidak ada perasaan apapun dan hubungan yang spesial. Kau jelas tahu kalau kau juga tidak memiliki perasaan apapun pada ku kan?" ujar Joe. “Aku mencintaimu Joe, sungguh. Selama ini aku membuatnya seolah candaan karena itu caraku untuk mendekatkan diri padamu. Bisakah melihatku sekali saja sebagai seorang wanita, bukan sekadar teman.” Ujar Zee dengan lirih. “Aku hanya menganggapmu teman, Zee, tidak seharusnya kau menganggap semuanya menjadi seserius ini. Aku mencintai wanita lain dan itu adalah dia.” Tunjuk Joe pada wanita yang ia suka. Sabrina. Hans memperhatikan mereka dan tak bisa berkata-kata menyadari Joe seperti tidak menghargai pertemanan mereka, padahal selama ini Hans berusaha menahan diri dengan membiarkan kedekatan Joe dengan Sabrina karena ia percaya pada kekasihnya itu. Ia percaya bahwa Sabrina akan setia padanya. Hans mendekati Joe dan langsung menarik kerah baju pria itu, “Kau tidak tahu malu mengatakan itu di depanku dan Zee?" tanyanya. Hans jelas tahu kalau Nazeela itu cukup dekat dengan Joe untuk sebutan teman. Hans menatap Sabrina, "Sekarang katakan padaku, kau memilih Joe atau aku?” tanya Hans pada Sabrina. Sabrina menundukkan kepalanya dan menggigit bibirnya melihat tatapan tajam Hans, lalu ia menatap Joe dan berkata, “Maaf Joe, tapi aku tidak mencintaimu. Lebih baik kau memilihnya dan aku akan memperjuangkan hubunganku dengan Hans kembali. Jangan merusak pertemananmu dengan Hans dan Zee hanya karena aku, sebab aku tidak bisa membalas perasaanmu.” Jelas Sabrina meski ia sadar bahwa tadi ia sudah meminta putus dari Hans. Melihat ada wanita lain terluka karena perasaan Joe untuknya, ia jadi merasa harus bijaksana dalam mengambil keputusan. Ia tidak ingin menyakiti wanita lain untuk menjaga perasaannya. Biarlah untuk kali ini ia mengatakan itu pada Hans, tapi nanti ia akan kembali menjaga jarak dulu dengan pria itu atas apa yang terjadi tadi. "Aku memang mencintaimu Joe, tapi maaf, kau sudah mengecewakanku dengan mengharapkan wanita lain. Aku tidak bodoh hanya karena perasaanku padamu. Lebih baik kita tidak usah bertemu lagi. Aku benci melihatmu." desis Nazeela dan memutuskan pergi meninggalkan mereka mrmbawa perasaannya yang tersakiti dan hatinya yang terluka sangat dalam. Ia menangis setelah mengucapkan kalimat tadi pada Joe. Ia menangis karena bersikap sok kuat padahal ia ingin sekali menjambak rambut Sabrina sekalipun bukan wanita itu yang menginginkan Joe menyukainya. Ia membenci mereka semua dan ia benci karena malam ini adalah malam terburuknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD